alexametrics
23.2 C
Madura
Thursday, January 20, 2022

Sri Rahayu Ningsih, Penderita Kelainan Jantung

Semua anak ingin hidup sehat, menikmati mata pelajaran di sekolah, ngaji di langgar, bermain dan tersenyum ria bersama anak seusianya. Tapi sayang, hal itu tidak dirasakan gadis kecil bernama lengkap Sri Rahayu Ningsih.

MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

GADIS yang akrab dipanggil Ayu ini mengidap penyakit kelainan jantung sejak usianya masih setahun. Ditambah, memasuki usia dua tahun, anak kelahiran 6 Maret 2012 ini harus kehilangan orang tuanya.

Langit mendung disertai gerimis menemani perjalanan saya menuju rumah Ayu. Seolah-olah, langit paham bahwa anak kecil yang akan saya jumpai benar-benar diselimuti kesedihan.

            ”Jangan terburu-buru, Mas. Ayu masih tidur. Pelan-pelan, jalan licin, yang penting selamat dan bisa berjumpa dengan kami,” pesan singkat via WhatsApp dari teman saya, Moh. Hasib, 36, sekaligus tetangga dekat Ayu.

Tepat pukul 08.32, saya benar-benar sampai di rumah Ayu. Hasib, yang sejak tadi menungu, langsung tersenyum menyambut kedatangan saya. Kami pun bersalaman layaknya kawan karib. Padahal, kami saling mengenal lewat sambungan telepon kurang lebih tiga hari lalu. Itu pun karena gadis kecil bernama Ayu ini.

Baca Juga :  Rumah sekaligus Dapur dan Kandang Ayam

Hasib pun membawa saya masuk ke rumah Ayu. Anak perempuan yang butuh bantuan oksigen untuk bernapas itu rupanya sudah bangun. Ayu terlihat malu, barangkali bertanya-tanya untuk apa saya ke sini.

Ayu terbaring di atas kasur sambil menghirup oksigen ditemani bibinya. Sejak ditinggal ayah-ibunya, gadis yang kini duduk di kelas 3 MI Annajah, Matanair, Kecamatan Rubaru, ini diasuh dan tinggal dengan bibinya. ”Saya yang mengasuhnya, sudah seperti anak kandung sendiri,” terang Halima.

Halima, bibi Ayu, lalu bercerita. Menurut dia, Ayu sudah sering dibawa ke rumah sakit. Biaya yang harus dikeluarkan tiap kali check-up tidak sedikit, minimal satu juta. ”Sudah sering saya bawa ke rumah sakit, Mas,” lanjut Halima.

Berdasar hasil pemeriksaan dokter, anak dari pasangan almarhum Ridawi dan almarhumah Aisyah ini jantungnya membengkak dan paru-parunya kotor. Penyebabnya pun belum diketahui.

Perawatan Ayu yang terakhir di rumah sakit menghabiskan biaya belasan juta. Saat itu, Halima harus mencari pinjaman uang untuk membayar. ”Suami saya kuli bangunan tidak mampu kalau pakai BPJS karena bukan hanya satu orang,” imbuhnya.

Saya dan Hasib mengangguk, turut merasakan beban dan ujian berat yang menimpa Ayu. Hasib sesekali menimpali, akan sangat senang jika ada orang yang bersedia dan turut membantu kebutuhan Ayu. ”Dia harus dioperasi, tapi biayanya belum ada,” ujarnya.

Baca Juga :  202 SD tanpa Perpustakaan

Nyaris satu tahun Ayu tidak pergi ke sekolah. Dia terbaring ditemani boneka dan tabung oksigen. Harga oksigen per tabung, kata Halima, Rp 100 ribu. Tapi, kadang juga dapat diskon.

 

”Dalam dua puluh hari, Ayu sudah menghabiskan 29 tabung oksigen,” ungkapnya sambil menahan air mata.

Sementara Ayu menyimak pembicaraan kami. Dalam mata kecilnya terpancar harapan akan kehidupan dan keriangan sebagaimana anak kecil yang tak butuh memahami hal yang ditertawakannya.

Kabid Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Sumenep H. Rasadi menyarankan supaya pengasuh Ayu atau bibinya segera datang ke kantornya. Menurut dia, pihaknya siap memfasilitasi.

”Sebenarnya ini bukan wilayah saya, tapi tidak jadi masalah. Silakan datang ke kantor, menghadap Kadis, dan bawa surat keterangan dari kepala desa,” katanya.

Menurut Rasadi, yang bisa dibantu instansinya biasanya hanya peserta BPJS. ”Secepatnya, kasihan anaknya,” pungkasnya. (c3)

Semua anak ingin hidup sehat, menikmati mata pelajaran di sekolah, ngaji di langgar, bermain dan tersenyum ria bersama anak seusianya. Tapi sayang, hal itu tidak dirasakan gadis kecil bernama lengkap Sri Rahayu Ningsih.

MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

GADIS yang akrab dipanggil Ayu ini mengidap penyakit kelainan jantung sejak usianya masih setahun. Ditambah, memasuki usia dua tahun, anak kelahiran 6 Maret 2012 ini harus kehilangan orang tuanya.

Langit mendung disertai gerimis menemani perjalanan saya menuju rumah Ayu. Seolah-olah, langit paham bahwa anak kecil yang akan saya jumpai benar-benar diselimuti kesedihan.

            ”Jangan terburu-buru, Mas. Ayu masih tidur. Pelan-pelan, jalan licin, yang penting selamat dan bisa berjumpa dengan kami,” pesan singkat via WhatsApp dari teman saya, Moh. Hasib, 36, sekaligus tetangga dekat Ayu.

Tepat pukul 08.32, saya benar-benar sampai di rumah Ayu. Hasib, yang sejak tadi menungu, langsung tersenyum menyambut kedatangan saya. Kami pun bersalaman layaknya kawan karib. Padahal, kami saling mengenal lewat sambungan telepon kurang lebih tiga hari lalu. Itu pun karena gadis kecil bernama Ayu ini.

Baca Juga :  Siswa SMK Mambaul Ulum Bata-Bata┬áCiptakan Bahan Bakar┬ádari Plastik

Hasib pun membawa saya masuk ke rumah Ayu. Anak perempuan yang butuh bantuan oksigen untuk bernapas itu rupanya sudah bangun. Ayu terlihat malu, barangkali bertanya-tanya untuk apa saya ke sini.

Ayu terbaring di atas kasur sambil menghirup oksigen ditemani bibinya. Sejak ditinggal ayah-ibunya, gadis yang kini duduk di kelas 3 MI Annajah, Matanair, Kecamatan Rubaru, ini diasuh dan tinggal dengan bibinya. ”Saya yang mengasuhnya, sudah seperti anak kandung sendiri,” terang Halima.

Halima, bibi Ayu, lalu bercerita. Menurut dia, Ayu sudah sering dibawa ke rumah sakit. Biaya yang harus dikeluarkan tiap kali check-up tidak sedikit, minimal satu juta. ”Sudah sering saya bawa ke rumah sakit, Mas,” lanjut Halima.

Berdasar hasil pemeriksaan dokter, anak dari pasangan almarhum Ridawi dan almarhumah Aisyah ini jantungnya membengkak dan paru-parunya kotor. Penyebabnya pun belum diketahui.

Perawatan Ayu yang terakhir di rumah sakit menghabiskan biaya belasan juta. Saat itu, Halima harus mencari pinjaman uang untuk membayar. ”Suami saya kuli bangunan tidak mampu kalau pakai BPJS karena bukan hanya satu orang,” imbuhnya.

Saya dan Hasib mengangguk, turut merasakan beban dan ujian berat yang menimpa Ayu. Hasib sesekali menimpali, akan sangat senang jika ada orang yang bersedia dan turut membantu kebutuhan Ayu. ”Dia harus dioperasi, tapi biayanya belum ada,” ujarnya.

Baca Juga :  Sepuluh Penderita Meninggal

Nyaris satu tahun Ayu tidak pergi ke sekolah. Dia terbaring ditemani boneka dan tabung oksigen. Harga oksigen per tabung, kata Halima, Rp 100 ribu. Tapi, kadang juga dapat diskon.

 

”Dalam dua puluh hari, Ayu sudah menghabiskan 29 tabung oksigen,” ungkapnya sambil menahan air mata.

Sementara Ayu menyimak pembicaraan kami. Dalam mata kecilnya terpancar harapan akan kehidupan dan keriangan sebagaimana anak kecil yang tak butuh memahami hal yang ditertawakannya.

Kabid Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Sumenep H. Rasadi menyarankan supaya pengasuh Ayu atau bibinya segera datang ke kantornya. Menurut dia, pihaknya siap memfasilitasi.

”Sebenarnya ini bukan wilayah saya, tapi tidak jadi masalah. Silakan datang ke kantor, menghadap Kadis, dan bawa surat keterangan dari kepala desa,” katanya.

Menurut Rasadi, yang bisa dibantu instansinya biasanya hanya peserta BPJS. ”Secepatnya, kasihan anaknya,” pungkasnya. (c3)

Most Read

Artikel Terbaru