alexametrics
24 C
Madura
Wednesday, May 25, 2022

Terinspirasi Tukang Sapu di Pesantren, Ciptakan Metode Gerobak

KH. Mohammad Basthomi Tibyan adalah seorang kiai di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Kiai Basthomi merupakan satu dari sepuluh kiai yang duduk di Majlis ‘Awan. Selain menduduki jabatan penting tersebut, suami Nyai Faiqoh Bariroh Idris ini merupakan Guru Master Kaligrafi yang berhasil menciptakan Metode Gerobak. Seperti apa metode tersebut?

RUMAH yang berada di sisi timur Ponpes Al-Amien Prenduan itu tampak luas dan bersih. Seperti rumah kiai pada umumnya, terdapat satu set kursi yang diletakkan di teras rumah. Tapi ada yang berbeda dengan rumah Kiai Basthomi. Di rumah tersebut beberapa bagian dinding dihiasi gambar pemandangan dan kaligrafi.

Pemandangan tersebut tentu saja sangat wajar. Pasalnya, Kiai Basthomi dikenal sebagai khotot atau pelukis kaligrafi. ”Saya niat takzim kepada Al-Qur’an,” ungkap kepada tim Acabis JPRM saat ditanya kenapa dia mendalami seni kaligrafi, Rabu (14/4).

Dijelaskan, sikap takzim atau hormat terhadap Al-Qur’an ada banyak cara. Yakni, dengan cara membaca Al-Qur’an dengan baik. Mengamalkan Al-Qur’an dengan baik. Memperlakukan Al-Qur’an dengan baik. Ada pula yang menuliskannya dengan baik.

”Jadi saya ingin hormat pada Al-Qur’an. Menjaga nash Al-Qur’an. Selain itu ada hadis yang nengatakan husnul kitabah min mafatihir rizki. Jadi, tulisan baik itu merupakan sebagian pembuka rizki,” terang kiai kelahiran April 1976 itu.

Kiai Basthomi awalnya belajar kaligrafi ketika nyantri di Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan. Saat itu dia belajar ke Ustad Suroto. Itu ketika dirinya masih kelas V madrasah ibtidaiyah (MI). Karena memiliki bakat, ketika duduk di kelas VI MI, Kiai Basthomi sudah dipercaya menjadi asisten Ustad Suroto.

”Kelas VI MI saya diperbantukan Ustad Suroto untuk mengoreksi karya peserta yang belajar. Bisa saja karena waktu itu tidak ada lagi,” ungkapnya dengan nada merendah.

Baca Juga :  Kiai Zawawi Imron saat Bertemu Haji Idi

Tak hanya menjadi asisten. Kiai Basthomi kala itu sudah dipercaya membuat kaligrafi untuk beberapa masjid di Madura. Salah satunya masjid di Kecamatan Camplong, Sampang. Saat ini kaligrafi hasil goresan tangan kiai 45 tahun itu sudah tidak terhitung di masjid-masjid, baik yang ada di Madura maupun luar Pulau Garam.

Dari karya-karyanya itu pula Kiai Basthomi bisa membiayai kebutuhan saat nyantri di beberapa pondok pesantren. Dia mengenyam pendidikan di pondok pesantren selama 17 tahun. ”13 tahunnya saya cari nafkah sendiri dengan perantara seni yang saya miliki,” ucap kiai yang juga sempat mondok di Ponpes Al Anwar, Rembang, Jateng, dan Ponpes PIQ Singosari, Malang, itu.

Di samping menambah ilmu agama dengan belajar ke beberapa pondok pesantren, Ki Basthomi juga terus mengasah kemampuan di bidang kaligrafi. Selepas belajar kepada Ustad Suroto, dia belajar kepada Ustad Athoilah di Jombang dan Ustad Feri di Jawa Barat.

Hingga pada suatu ketika Kiai Basthomi mendapat kesempatan bertemu langsung dengan Syaikh Bil’id ketika ulama itu berkunjung ke Jakarta. Syaikh Bil’id sendiri merupakan seorang hakim kaligrafi internasional asal Turki.

Dari Syaikh Bil’id inilah Kiai Basthomi mendapat sanad untuk khat Naskhi. ”Saya memang memilih khat Naskhi. Kata Ustad Suroto, jika dimulai dari khat Naskhi belajar ke khat yang lain itu lebih mudah. Kata beliau begitu,” ucap Kiai Basthomi yang sangat menghormati para gurunya itu.

Kiai Basthomi kemudian menjelaskan, dalam kaligrafi secara umum terdapat enam jenis khat. Diurut dari yang paling mudah, menurut dia, yakni khat Riq’ah, khat Farisi, khat Diwani, khat Naskhi, khat Tsuluts, dan khat Kufi. ”Sebenarnya khat Kufi bisa dikatakan mudah. Kalau khat riq’ah itu yang kotak-kotak. Jadi simpel sekali. Penulisannya juga paling cepat,” jelas kiai yang sudah dikaruniai enam anak itu.

Baca Juga :  Ambil Keputusan Gila Yang Tidak Berdasar

Kemampuan Kiai Basthomi ini mendapat penghargaan dari Ponpes Al-Amien Prenduan. Dia dinobatkan sebagai Guru Master Kaligrafi di ponpes modern tersebut. Tak hanya itu, dia juga mengarang buku Metode Gerobak Cara Cepat Tulis Arab.

”Pembelajaran siswa di sini memakai buku metode gerobak. Ini metode cepat tulis Arab. Saya terinspirasi oleh Pak Dur, tukang sapu di Al-Amien Prenduan. Saat itu beliau bawa gerobak, ternyata gambar gerobak itu ada rumus,” ungkapnya menjelaskan isi buku bersampul hijau kombinasi biru itu.

Menurut dia, gambar gerobak bisa mewakili seluruh cara mengarsir. Ketika Kiai Basthomi mengajar kaligrafi, pasti meminta siswa untuk mengarsir. Baik arsir dari bawah ke atas atau sebaliknya. Dari kanan ke kiri atau sebaliknya. Lalu, melingkar searah jarum jam, lalu kebalikannya dan membuat silang 45 derajat.

”Garis yang ada di gerobak mencakup postur seluruh huruf hijaiyah. Garis pertama bisa menjadi alif lam, kaf, tho. Untuk yang ke samping, bisa jadi ba dan kaf. Untuk yang nomor tiga bisa ke atas sambungan alif, sambungan lam, dan seterusnya. Setelah jilid 1, ada latihan menulisnya. Lalu jilid 2,” terang Kiai Basthomi menjelaskan buku terbitan 2008 itu.

Dengan metode gerobak tersebut, siswa di awal pembelajaran diminta menggambar gerobak sesuai petunjuk dalam buku. ”Bikin gerobak aja dulu berikut gambar orangnya. Kalau sudah bisa bikin gerobak, gampang sekali bikin kaligrafi, karena ini pemanasan. Ini mengajarkan kelenturan. Semuanya sudah terwakili dengan metode ini,” paparnya. 

KH. Mohammad Basthomi Tibyan adalah seorang kiai di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Kiai Basthomi merupakan satu dari sepuluh kiai yang duduk di Majlis ‘Awan. Selain menduduki jabatan penting tersebut, suami Nyai Faiqoh Bariroh Idris ini merupakan Guru Master Kaligrafi yang berhasil menciptakan Metode Gerobak. Seperti apa metode tersebut?

RUMAH yang berada di sisi timur Ponpes Al-Amien Prenduan itu tampak luas dan bersih. Seperti rumah kiai pada umumnya, terdapat satu set kursi yang diletakkan di teras rumah. Tapi ada yang berbeda dengan rumah Kiai Basthomi. Di rumah tersebut beberapa bagian dinding dihiasi gambar pemandangan dan kaligrafi.

Pemandangan tersebut tentu saja sangat wajar. Pasalnya, Kiai Basthomi dikenal sebagai khotot atau pelukis kaligrafi. ”Saya niat takzim kepada Al-Qur’an,” ungkap kepada tim Acabis JPRM saat ditanya kenapa dia mendalami seni kaligrafi, Rabu (14/4).


Dijelaskan, sikap takzim atau hormat terhadap Al-Qur’an ada banyak cara. Yakni, dengan cara membaca Al-Qur’an dengan baik. Mengamalkan Al-Qur’an dengan baik. Memperlakukan Al-Qur’an dengan baik. Ada pula yang menuliskannya dengan baik.

”Jadi saya ingin hormat pada Al-Qur’an. Menjaga nash Al-Qur’an. Selain itu ada hadis yang nengatakan husnul kitabah min mafatihir rizki. Jadi, tulisan baik itu merupakan sebagian pembuka rizki,” terang kiai kelahiran April 1976 itu.

Kiai Basthomi awalnya belajar kaligrafi ketika nyantri di Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan. Saat itu dia belajar ke Ustad Suroto. Itu ketika dirinya masih kelas V madrasah ibtidaiyah (MI). Karena memiliki bakat, ketika duduk di kelas VI MI, Kiai Basthomi sudah dipercaya menjadi asisten Ustad Suroto.

”Kelas VI MI saya diperbantukan Ustad Suroto untuk mengoreksi karya peserta yang belajar. Bisa saja karena waktu itu tidak ada lagi,” ungkapnya dengan nada merendah.

Baca Juga :  AKP Musihram Berbagi Pengalaman pada HUT Ke-74 Brigade Mobil

Tak hanya menjadi asisten. Kiai Basthomi kala itu sudah dipercaya membuat kaligrafi untuk beberapa masjid di Madura. Salah satunya masjid di Kecamatan Camplong, Sampang. Saat ini kaligrafi hasil goresan tangan kiai 45 tahun itu sudah tidak terhitung di masjid-masjid, baik yang ada di Madura maupun luar Pulau Garam.

Dari karya-karyanya itu pula Kiai Basthomi bisa membiayai kebutuhan saat nyantri di beberapa pondok pesantren. Dia mengenyam pendidikan di pondok pesantren selama 17 tahun. ”13 tahunnya saya cari nafkah sendiri dengan perantara seni yang saya miliki,” ucap kiai yang juga sempat mondok di Ponpes Al Anwar, Rembang, Jateng, dan Ponpes PIQ Singosari, Malang, itu.

Di samping menambah ilmu agama dengan belajar ke beberapa pondok pesantren, Ki Basthomi juga terus mengasah kemampuan di bidang kaligrafi. Selepas belajar kepada Ustad Suroto, dia belajar kepada Ustad Athoilah di Jombang dan Ustad Feri di Jawa Barat.

Hingga pada suatu ketika Kiai Basthomi mendapat kesempatan bertemu langsung dengan Syaikh Bil’id ketika ulama itu berkunjung ke Jakarta. Syaikh Bil’id sendiri merupakan seorang hakim kaligrafi internasional asal Turki.

Dari Syaikh Bil’id inilah Kiai Basthomi mendapat sanad untuk khat Naskhi. ”Saya memang memilih khat Naskhi. Kata Ustad Suroto, jika dimulai dari khat Naskhi belajar ke khat yang lain itu lebih mudah. Kata beliau begitu,” ucap Kiai Basthomi yang sangat menghormati para gurunya itu.

Kiai Basthomi kemudian menjelaskan, dalam kaligrafi secara umum terdapat enam jenis khat. Diurut dari yang paling mudah, menurut dia, yakni khat Riq’ah, khat Farisi, khat Diwani, khat Naskhi, khat Tsuluts, dan khat Kufi. ”Sebenarnya khat Kufi bisa dikatakan mudah. Kalau khat riq’ah itu yang kotak-kotak. Jadi simpel sekali. Penulisannya juga paling cepat,” jelas kiai yang sudah dikaruniai enam anak itu.

Baca Juga :  Jajal Seluruh Rute si Bongsor di Nusantara

Kemampuan Kiai Basthomi ini mendapat penghargaan dari Ponpes Al-Amien Prenduan. Dia dinobatkan sebagai Guru Master Kaligrafi di ponpes modern tersebut. Tak hanya itu, dia juga mengarang buku Metode Gerobak Cara Cepat Tulis Arab.

”Pembelajaran siswa di sini memakai buku metode gerobak. Ini metode cepat tulis Arab. Saya terinspirasi oleh Pak Dur, tukang sapu di Al-Amien Prenduan. Saat itu beliau bawa gerobak, ternyata gambar gerobak itu ada rumus,” ungkapnya menjelaskan isi buku bersampul hijau kombinasi biru itu.

Menurut dia, gambar gerobak bisa mewakili seluruh cara mengarsir. Ketika Kiai Basthomi mengajar kaligrafi, pasti meminta siswa untuk mengarsir. Baik arsir dari bawah ke atas atau sebaliknya. Dari kanan ke kiri atau sebaliknya. Lalu, melingkar searah jarum jam, lalu kebalikannya dan membuat silang 45 derajat.

”Garis yang ada di gerobak mencakup postur seluruh huruf hijaiyah. Garis pertama bisa menjadi alif lam, kaf, tho. Untuk yang ke samping, bisa jadi ba dan kaf. Untuk yang nomor tiga bisa ke atas sambungan alif, sambungan lam, dan seterusnya. Setelah jilid 1, ada latihan menulisnya. Lalu jilid 2,” terang Kiai Basthomi menjelaskan buku terbitan 2008 itu.

Dengan metode gerobak tersebut, siswa di awal pembelajaran diminta menggambar gerobak sesuai petunjuk dalam buku. ”Bikin gerobak aja dulu berikut gambar orangnya. Kalau sudah bisa bikin gerobak, gampang sekali bikin kaligrafi, karena ini pemanasan. Ini mengajarkan kelenturan. Semuanya sudah terwakili dengan metode ini,” paparnya. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/