alexametrics
21.1 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

Berbincang dengan Penulis Cilik Yasmin NF dan AN Nasyraa

SUMENEP – Banyak sastrawan nasional dari Sumenep. Bukan hanya penulis senior, penulis-penulis belia juga berkecambah. Salah satunya, Yasmin Nadila Fachrunnisa (Yasmin NF), 9, dan Alvian Noor Nasyraa (AN Nasyraa), 8, yang sudah melahirkan kumpulan cerita Siti dan Peri Gigi.

Yasmin NF dan AN Nasyraa tak jauh beda dengan teman-teman sebayanya. Gaya bicaranya masih terbata-bata. Tapi di balik sikap lugunya, siswa yang duduk di bangku kelas III dan II SDN Kapedi I, Kecamatan Bluto, Sumenep, ini memiliki bakat menulis.

Yasmin lahir 20 Februari 2009. Dia merupakan anak pertama dari pasangan Ach. Subari dan Sri Hartatik. Meski usianya baru sembilan tahun, bocah yang memiliki cita-cita menjadi dokter ini sudah punya puluhan karya berupa cerita pendek (cerpen).

Dari puluhan cerita itu, 16 cerpen di antaranya termaktub dalam buku Siti dan Peri Gigi yang diterbitkan oleh Rumah Literasi Sumenep. ”Saya suka menulis sejak kelas II. Sekarang saya kelas III dan mau naik kelas IV,” terang Yasmin.

Dalam sehari, Yasmin terkadang bisa menyelesaikan satu cerpen. Tema yang ditulisnya sesuai dengan pengalaman sehari-hari. Hal itu bisa dilihat dari judul beberapa cerita yang dimuat di buku Siti dan Peri Gigi.

Kancil Sang Pahlawan; Anak Yang Nakal; dan Aku Bangga pada Ibuku merupakan cerita yang ditulis berdasarkan pengalaman Yasmin. Baik pengalaman sehari-hari ataupun pengalaman saat dia menelusuri berbagai buku bacaan yang tersedia di sekolah.

Ada pula cerita berjudul Akhir dari Kesombongan Siti; Bulan dan Mega; Kena Batunya; Anak Nakal dan Hotel yang Angker; Kancil dan Buaya; Kejutan untuk Ani; dan Mermaid. Kemudian, Pangeran dan Sang Putri; Manusia Anjing; Beringin Angker; Si Raja Jajan; Villa Angker; dan Penulis Cilik.

Baca Juga :  Empat Tahun Raih Penghargaan karena Berprestasi

”Dari 16 judul ceita itu, saya paling suka yang berjudul Penulis Cilik. Sebab ada pengalaman saya di cerita tersebut,” paparnya.

Sama seperti Yasmin, AN Nasyraa atau yang akrab disapa Acha juga hobi menulis sejak kelas II. Saat ini dia duduk di kelas II akhir dan sebentar lagi akan naik kelas III. Sejak awal kelas II dia menulis dan terus menulis.

Di buku ini, Acha menyumbang enam judul cerita pendek. Yakni, Liburan Sekolah; Misteri di Tengah Hutan; dan Pangeran Kodok. Kemudian, Gajah dan Kerbau Bento; Biji Emas dan Anak Lelaki; dan Siti dan Peri Gigi.

Dari enam judul cerpen itu, Acha mengaku paling senang dengan Liburan Sekolah. ”Soalnya itu merupakan cerita pengalaman saya waktu liburan. Saya senang karena bisa menuliskannya menjadi cerita,” tegasnya.

Acha lahir 28 Juli 2009. Dia merupakan putri dari pasangan Supiyanto dan Rumsiyah. Seperti juga Yasmin, Acha ingin menjadi dokter. Kelak dia ingin jadi dokter yang nenulis. ”Suatu hari nanti saya ingin menulis satu buku sendiri,” ungkap Acha. Keinginan ini juga dimiliki oleh Yasmin.

Bakat Yasmin dan Acha ini tidaklah muncul secara tiba-tiba. Ada sosok yang berperan penting di dalamnya. Sosok itu bernama Widayanti. Dia merupakan guru kelas II SDN Kapedi I, Kecamatan Bluto. Perempuan inilah yang menemukan bakat Yasmin dan Acha.

Baca Juga :  Pengarang Buku Sastra di Tengah Kesibukan Mengajar Mahasiswa (3)

”Saya melihat dari anak saya siapa yang punya bakat dalam menulis,” kata Widayanti kepada Jawa Pos Radar Madura. ”Pertama, saya pancing mereka dengan menyediakan buku-buku bacaan di kelas. Saat itu saya sediakan sudut literasi kelas. Saya lihat siapa yang paling rajin membaca,” jelasnya.

”Berdasarkan keyakinan saya, anak yang lebih cenderung suka membaca pasti bisa menulis. Kemudian, saya lihat Yasmin suka sekali membaca. Ketika ada buku baru, dia yang paling awal menikmatinya,” tambahnya.

Peristiwa itu terjadi tahun lalu saat Yasmin masih duduk di kelas II. Saat itu juga dia meminta Yasmin untuk menulis. Meski pada awalnya Yasmin tidak yakin dengan dirinya sendiri, tapi Widayanti tetap berupaya membujuknya.

Ketika Yasmin naik kelas III, Widayanti kembali mencari siswa yang berbakat menulis di kelas II. Ketemulah dia dengan Acha. Acha menurutnya punya ketekunan yang lebih dalam membaca dibanding dengan teman-temannya yang lain.

”Anak itu suka membaca, suka nonton TV. Apa yang mereka dengarkan, apa yang mereka baca, itu yang saya suruh tulis,” urainya.

Widayanti yakin bahwa ke depan akan banyak Yasmin dan Acha lain yang bisa menjadi penulis cilik. Mereka ada di berbagai tempat, di berbagai sekolah. Hanya para guru yang belum menemukan bakat mereka.

”Buku Siti dan Peri Gigi ini tidak lahir secara instan. Mereka menulis sejak tahun lalu. Karya mereka saya kumpulkan satu-satu dan kemudian saya pilih karya yang terbaik,” tukasnya.

 

SUMENEP – Banyak sastrawan nasional dari Sumenep. Bukan hanya penulis senior, penulis-penulis belia juga berkecambah. Salah satunya, Yasmin Nadila Fachrunnisa (Yasmin NF), 9, dan Alvian Noor Nasyraa (AN Nasyraa), 8, yang sudah melahirkan kumpulan cerita Siti dan Peri Gigi.

Yasmin NF dan AN Nasyraa tak jauh beda dengan teman-teman sebayanya. Gaya bicaranya masih terbata-bata. Tapi di balik sikap lugunya, siswa yang duduk di bangku kelas III dan II SDN Kapedi I, Kecamatan Bluto, Sumenep, ini memiliki bakat menulis.

Yasmin lahir 20 Februari 2009. Dia merupakan anak pertama dari pasangan Ach. Subari dan Sri Hartatik. Meski usianya baru sembilan tahun, bocah yang memiliki cita-cita menjadi dokter ini sudah punya puluhan karya berupa cerita pendek (cerpen).


Dari puluhan cerita itu, 16 cerpen di antaranya termaktub dalam buku Siti dan Peri Gigi yang diterbitkan oleh Rumah Literasi Sumenep. ”Saya suka menulis sejak kelas II. Sekarang saya kelas III dan mau naik kelas IV,” terang Yasmin.

Dalam sehari, Yasmin terkadang bisa menyelesaikan satu cerpen. Tema yang ditulisnya sesuai dengan pengalaman sehari-hari. Hal itu bisa dilihat dari judul beberapa cerita yang dimuat di buku Siti dan Peri Gigi.

Kancil Sang Pahlawan; Anak Yang Nakal; dan Aku Bangga pada Ibuku merupakan cerita yang ditulis berdasarkan pengalaman Yasmin. Baik pengalaman sehari-hari ataupun pengalaman saat dia menelusuri berbagai buku bacaan yang tersedia di sekolah.

Ada pula cerita berjudul Akhir dari Kesombongan Siti; Bulan dan Mega; Kena Batunya; Anak Nakal dan Hotel yang Angker; Kancil dan Buaya; Kejutan untuk Ani; dan Mermaid. Kemudian, Pangeran dan Sang Putri; Manusia Anjing; Beringin Angker; Si Raja Jajan; Villa Angker; dan Penulis Cilik.

Baca Juga :  Setelah Tangani Pasien Persalinan, Forkopimca Ikut Lamar Calon Istri

”Dari 16 judul ceita itu, saya paling suka yang berjudul Penulis Cilik. Sebab ada pengalaman saya di cerita tersebut,” paparnya.

Sama seperti Yasmin, AN Nasyraa atau yang akrab disapa Acha juga hobi menulis sejak kelas II. Saat ini dia duduk di kelas II akhir dan sebentar lagi akan naik kelas III. Sejak awal kelas II dia menulis dan terus menulis.

Di buku ini, Acha menyumbang enam judul cerita pendek. Yakni, Liburan Sekolah; Misteri di Tengah Hutan; dan Pangeran Kodok. Kemudian, Gajah dan Kerbau Bento; Biji Emas dan Anak Lelaki; dan Siti dan Peri Gigi.

Dari enam judul cerpen itu, Acha mengaku paling senang dengan Liburan Sekolah. ”Soalnya itu merupakan cerita pengalaman saya waktu liburan. Saya senang karena bisa menuliskannya menjadi cerita,” tegasnya.

Acha lahir 28 Juli 2009. Dia merupakan putri dari pasangan Supiyanto dan Rumsiyah. Seperti juga Yasmin, Acha ingin menjadi dokter. Kelak dia ingin jadi dokter yang nenulis. ”Suatu hari nanti saya ingin menulis satu buku sendiri,” ungkap Acha. Keinginan ini juga dimiliki oleh Yasmin.

Bakat Yasmin dan Acha ini tidaklah muncul secara tiba-tiba. Ada sosok yang berperan penting di dalamnya. Sosok itu bernama Widayanti. Dia merupakan guru kelas II SDN Kapedi I, Kecamatan Bluto. Perempuan inilah yang menemukan bakat Yasmin dan Acha.

Baca Juga :  Garda Terdepan Petugas Kemanusiaan Cegah Covid-19 (3-Habis)

”Saya melihat dari anak saya siapa yang punya bakat dalam menulis,” kata Widayanti kepada Jawa Pos Radar Madura. ”Pertama, saya pancing mereka dengan menyediakan buku-buku bacaan di kelas. Saat itu saya sediakan sudut literasi kelas. Saya lihat siapa yang paling rajin membaca,” jelasnya.

”Berdasarkan keyakinan saya, anak yang lebih cenderung suka membaca pasti bisa menulis. Kemudian, saya lihat Yasmin suka sekali membaca. Ketika ada buku baru, dia yang paling awal menikmatinya,” tambahnya.

Peristiwa itu terjadi tahun lalu saat Yasmin masih duduk di kelas II. Saat itu juga dia meminta Yasmin untuk menulis. Meski pada awalnya Yasmin tidak yakin dengan dirinya sendiri, tapi Widayanti tetap berupaya membujuknya.

Ketika Yasmin naik kelas III, Widayanti kembali mencari siswa yang berbakat menulis di kelas II. Ketemulah dia dengan Acha. Acha menurutnya punya ketekunan yang lebih dalam membaca dibanding dengan teman-temannya yang lain.

”Anak itu suka membaca, suka nonton TV. Apa yang mereka dengarkan, apa yang mereka baca, itu yang saya suruh tulis,” urainya.

Widayanti yakin bahwa ke depan akan banyak Yasmin dan Acha lain yang bisa menjadi penulis cilik. Mereka ada di berbagai tempat, di berbagai sekolah. Hanya para guru yang belum menemukan bakat mereka.

”Buku Siti dan Peri Gigi ini tidak lahir secara instan. Mereka menulis sejak tahun lalu. Karya mereka saya kumpulkan satu-satu dan kemudian saya pilih karya yang terbaik,” tukasnya.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/