Selasa, 26 Oct 2021
Radar Madura
Home / Features
icon featured
Features

Batu Kombung Menginspirasi Sugat Ibnu Ali Produksi Batik Kontemporer

06 Oktober 2021, 21: 43: 57 WIB | editor : Abdul Basri

Batu Kombung Menginspirasi Sugat Ibnu Ali Produksi Batik Kontemporer

BATIK: Sugat Ibnu Ali menunjukkan hasil produksi batik kontemporer di Galeri Kombung Batik di Dusun Kombung Barat, Desa Ellak Daya, Kecamatan Lenteng, Sumenep, Jumat (1/10). (MOH. JUNAIDI/RadarMadura.id)

Share this      

Sebagai guru, Sugat merasa tertekan. Saat pelajaran membatik, siswa hanya melihat gambar. Mereka belum pernah mempraktikkan. Rasa penasaran itu menuntut Sugat memutar otak.

MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

BATIK sudah terkenal. Bahkan hingga negara-negara Eropa. Meskipun dalam sejarahnya ada banyak klaim dari negara lain, toh Indonesia sudah sah ditetapkan sebagai pemilik.

Baca juga: Lulusan Pesantren yang Jadi Langganan Juara Debat Tingkat Nasional

Batik merupakan salah satu bentuk kerajinan yang punya nilai seni dan estetika tinggi. Meski sebagai pakaian tradisional, batik menjadi pakaian wajib ketika acara-acara besar. Bahkan, acara kedinasan dan kebangsaan sekalipun.

Indonesia memiliki banyak motif batik. Tentunya mempunyai nilai filosofis masing-masing. Tidak berlebihan jika proses membatik juga disebut sebagai kerja kesenian, yang sama-sama mengedepankan nalar penciptaan. Kompleks, bukan?

Dalam banyak literatur disebutkan bahwa batik berasal dari bahasa Jawa. Pencatatan mengenai batik belum diketahui secara pasti. Peneliti G.P. Rouffaer menyebutkan, teknik membatik kali pertama kemungkinan diperkenalkan oleh orang India dan Sri Lanka sekitar abad keenam dan ketujuh. Mereka rata-rata berprosfesi sebagai pedagang yang mendarat di pantai-pantai Indonesia. Salah satunya, di pesisir Madura.

Batik Madura tidak hanya menampilkan keindahan, tetapi juga mencerminkan watak masyarakatnya. Misalnya, sikap pemberani, ketegasan, dan kedisiplinan orang Madura. Semua muncul dalam berbagai penjelajahan batik Madura.

Batik Madura kemudian berkembang melalui afiliasi budaya yang beragam. Melalui karakternya yang dinilai lebih dinamis, egalitarian, kesukuan, dan serba praktis, batik Madura mampu tampil berbeda, tapi eksis.

Seiring berjalannya waktu, batik Madura juga mengalami perkembangan. Dari yang semula klasik dengan tampilan bunga, burung, dan perahu, kini juga menerima desain kontemporer. Para pelaku menyebut batik bercorak abstrak.

Salah satu dari sekian batik abstrak asli Sumenep yakni Kombung Batik. Pusat batik tulis ini berada di Dusun Kombung Barat, Desa Ellak Daya, Kecamatan Lenteng. Penggagas Kombung Batik Sugat Ibnu Ali menceritakan bahwa batik itu diciptakan dengan berpijak pada dusun tempat dia tinggal.

Dia terinspirasi dari batu kombung yang mayoritas menyebar di dusun tersebut. Bersama kawan-kawannya, pria 36 tahun itu kemudian menjadikannya sebagai pijakan dalam membatik.

”Awalnya, saya ini mendapat tekanan dari siswa. Kebetulan saya mengajar kesenian di satu lembaga. Saat pelajaran membatik, siswa-siswa penasaran karena mereka hanya melihat gambar, tapi belum pernah mempraktikkan,” turunya kepada Jawa Pos Radar Madura di Galeri Kombung Batik, Jumat (1/10).

Dari situlah Sugat beserta siswanya melakukan studi ke Pakandangan. Di Kecamatan Bluto itu keilmuan batik Sugat mulai tumbuh. Akhirnya, dia memutuskan untuk mendirikan rumah produksi. Selain untuk mengisi waktu senggang, juga agar produktif dan kreatif.

Sugat menceritakan, ide batik kombung itu berangkat dari sebuah batu. Di dusunnya rata-rata batunya adalah batu kombung, batu putih yang memiliki serat. Dari situ Sugat melakukan eksplorasi, baik dari serat, tekstur, hingga menjadi batik kombung. ”Jadi, bisa disebut batik ini berpijak pada batu kombung,” tegasnya.

Batik-batik yang diproduksi rata-rata bercorak abstrak. Batik abstrak atau yang lebih dikenal dengan sebutan kontemporer ini lebih menekankan pada penjelajahan ide. Tak ubahnya seorang pelukis. Dengan begitu, punya perbedaan dengan batik Madura yang sudah pakem.

Sugat dan kawan-kawannya berupaya merombak pakem, tapi bukan berarti jauh meninggalkan. Menurut dia, batik abstrak ini lebih ekspresif dan pembuatannya sekali saja.

Pada kesempatan berbeda, seniman Turmedzi Djaka juga menegaskan bahwa membesarkan batik kontemporer sama halnya membesarkan batik pakem Madura. Dengan adanya batik kontemporer, batik konvensional justru akan semakin jelas dan semakin kuat. Sebab, untuk yang tidak pakem sudah ada salurannya sendiri. Jadi, bukan berarti merusak pakem.

Batik abstrak lebih menekankan pada eksplorasi dan pola kreativitas yang dibangun. Karena itu, hasilnya berbeda-beda. ”Tetapi, untuk saat ini, kami belum menemukan satu metode membatik yang bisa menggabungkan antara yang klasik (berpakem) dan kontemporer. Kami akan mencoba ke arah sana,” tuturnya.

Kombung Batik masih dikelola secara mandiri. Latar belakang tenaga kerjanya dari dari beragam lintas disiplin. Ada yang mahasiswa, pemain teater, dan pelajar. ”Jadi, kami memberikan fasilitas bagi mereka agar bisa bekerja dari luar. Yang terpenting, target produksi per minggunya tercapai,” jelas Sugat.

Meski dikelola secara mandiri, Kombung Batik mempunyai pasar tersendiri. Walaupun awal-awal menemui kesulitan karena secara garapan dan desain dinilai nge-pop dan kontras. Sebab, batik kontemporer belum banyak dikenal luas oleh masyarakat.

”Semua jenis batik punya pangsanya sendiri-sendiri. Tapi, saat ini batik kontemporer mulai dilirik dan diminati berbagai kalangan,” tambah pria yang mendampingi Kompolan Kesenian Lenteng (Kalenteng) itu.

Pemasaran Kombung Batik lebih mengandalkan platform digital. Mulai Facebook, Instagram, dan lainnya. Cara itu dilakukan untuk mengikuti perkembangan zaman yang tidak bisa berpaku pada cara lama.

Sejak berdiri pada 2017, Kombung Batik sudah punya capaian gemilang. Yaitu, juara pertama lomba batik pada Hari Jadi Sumenep 2019. Pernah juga mengikuti Festival Batik Indonesia di Grand City Surabaya 2020. Kombung Batik juga dipercaya menjadi salah satu dari produk pameran batik di tempat yang sama pada 2021.

”Di pameran itulah, batik kami laku keras dan banyak diminati pengunjung. Lebih-lebih para penyuka batik dan akademisi,” papar lelaki berkcamata putih itu.

Sugat Ibnu Ali adalah lelaki asal Dusun Kombung, Desa Ellak Daya, Kecamatan Lenteng. Sebelum membatik, dia menggandrungi seni lukis. Juga punya minat tinggi terhadap kesenian. Terutama seni peran.

”Saya kerja serabutan. Terutama dalam kesenian. Baik seni pertunjuklan, lukis, dan lainnya.Tapi, kemudian lukisan kurang diminati. Itu dalam pandangan pragmatis saya. Akhirnya, 2017 itulah jadi catatan penting bagi saya dan Kombung Batik ini,” tandasnya.

Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menetapkan batik sebagai bagian kekayaan warisan budaya Indonesia pada 2 Oktober 2009 di Abu Dhabi. Dari situlah, 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009.

(mr/luq/bas/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia