alexametrics
21.1 C
Madura
Friday, July 1, 2022

Ngobrol Perjalanan Musik Bersama Hendra Gemma Dominan 

BANGKALAN – Hendra Gemma Dominan adalah pegawai negeri yang berjiwa seni. Dia menjabat Kabid Kebudayaan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bangkalan. Dia memiliki catatan mengenai perkembangan musik musik kontemporer di Kota Salak.

Musik telah mendarah daging bagi sebagian masyarakat Bangkalan. Penguasa Keraton Bangkalan Sultan Abdul Kadirun duhulu memiliki Gamelan Ratna Dumilah. Di era 1970 hingga 1980-an, Bangkalan memiliki grup band pelat merah berjuluk CakraNada. Dikomando R. P. Su’udin Achmad sebagai drummer. Salah seorang putra daerah sekaligus pewaris trah keningratan keraton.

Bersinergi membentuk grup musik kontemporer di lingkungan Pemkab bersama R. P. Hamid Mustari yang saat itu berposisi sebagai gitaris. Ramli sebagai vokalis, Puan sebagai bassis, dan Hasan Tedja sebagai keyboardis.

”Ada Om Majid Asnoen juga vokalis sekaligus perkusi dan Om Wahed di bagian saxophone,” kata putra dari R. P. Su’udin Achmad ini dalam perbincangan dengan Jawa Pos Radar Madura di pojok gedung DPRD Bangkalan beberapa waktu lalu.

Beberapa penghargaan festival musik tingkat lokal maupun provinsi pernah diraih. Termasuk, penampilan rutin musisi lain dan melibatkan pelaku seni tradisi seperti Usman Jati. CakraNada TVRI stasiun Surabaya pada 1970 hingga 1980-an.

Komponis legendaris Bangkalan M. Irsyad juga punya reputasi skala nasional. Seniman ini, kata Hendra, merupakan pendidik senior musik yang peduli memajukan lagu-lagu Madura lewat media musik vokal maupun musik keroncong. Seperti M. Thoib, Musleh, dan Chairul Huda.

Beberapa nama populer dalam dunia tarik suara/vokal di Bangkalan, di antaranya, M. Gufron, Lilik Ipung, dan Evie Gaffar. ”Bakat-bakat alam macam Om Dibyo dan Om Rudi Cristna yang menjadikan Bangkalan saat itu sangat disegani di dunia musik. Terutama di Madura,” kenangnya.

Baca Juga :  Risau di Rantau, Perantau Ini Surati Bupati Sumenep

Generasi seniman musik juga ingat masa keemasan rock era 80-an. Bangkalan pernah menjadi kiblat musik Madura event konser dan pentas musisi band papan atas nasional. Seperti Elpamas (Elek-Elek Pandaan, Mas), Red Spider, dan Ita Rasio (Ita Purnamasari). Band Andromedha juga beberapa kali meramaikan panggung belantika musik rock di Bangkalan.

”Dulu musik modern yang populer 80 dan 90-an itu musik rock. Band angkatan muda tahun 80-an bergenre rock seperti CA. Rock Band,” tutur kolektor ribuan album lagu band lokal hingga internasional dalam 3.000 keping CD dan 1.000 kaset pita itu.

CA Rock Band saat itu berada di bawah bimbingan R.P. Su’udin Achmad. Dikomando musisi sekaligus promotor Imin Syaputra. Bangkalan juga punya Band Dynamic yang berprestasi dilingkup rocker Jawa Timur.

Hingga dekade 90-an, banyak tercatat band muda seperti Metal God dikomando Jon Dawet dan kawan-kawan (dkk), Hexas oleh Handoko dkk, Sailor yang dikomando Pa’i dkk, dan band Bodo’ah yang digerakkan Anto dkk. ”Saat itu band saya bersama teman-teman Red Angel,” kata pria penyuka akik itu.

Band-band baru kemudian bermunculan. Di antaranya, Warna Band dikomando Usman dkk dan Adek Band dipimpin Ace dkk. Di era 2000-an, band-band anak muda Bangkalan juga tidak kalah dengan para seniornya. Ada beberapa band macam CA. Rock Junior dikomando Hendra dkk, Band 1127  dipimpin Yanto dkk, Green Word dikomando Wijaya dkk, dan Step + (plus) rintisan Joe dkk.

”Banyak yang tidak sempat kami sebutkan satu per satu. Ini membuktikan bahwa generasi muda tetap intens dan mampu bersaing di kancah permusikan baik dalam event festival maupun persaingan kekaryaan,” tuturnya.

Baca Juga :  Mimpi Masa Kecil Jadi Kenyataan

Sementara itu, masyarakat Madura mencintai genre musik Melayu dan dangdut sejak dulu. Beberapa talenta yang cukup populer di antaranya Andi KDI, Dahlia KDI, Ana KDI, Ita KDI, serta pedangdut lain. Sebelum itu, ada Ali Usman, Endang Maemunah, dan Anies Fitria yang meramaikan pentas musik dangdut nasional.

Di sisi lain, ada seniman yang konsentrasi dalam jenis musik yang tidak begitu populer. Seperti band balada yang dikomando Cakung dkk. Pelestarian kekayaan dan kearifan lokal juga masih terlihat. Kelompok-kelompok hadrah di beberapa pesantren masih eksis. Juga berkembang pada komunitas di luar pesantren.

Musik lokal juga tetap dipopulerkan. Misalnya, dilakukan komposer Adrian Pawitra dalam upaya melestarikan dan mengembangkan musik dan lagu Madura. Adrian banyak meng-compose hingga memproduksi album dan menerbitkan buku kumpulan lagu-lagu Madura.

Pemusik tradisi seperti Sudarsono dengan Tarara yang dipimpinnya tetap berproses. Belum lagi beberapa musisi muda Bangkalan yang memperoleh sentuhan akademisi seperti Memet CH. Slamet yang sudah menasional dengan Gang Sadewa ISI Jogja, Zoel Mistorhify dengan Sonoseni ISI Solo, almarhum Badrus besutan IKJ, Rama Cristna IKJ,  Omy ISI Jogja,  Panji ISI Jogja, Rifal ISI Jogja, dan banyak lagi seniman dengan sentuhan akademis. ”Sangat jelas memberi warna dalam memajukan seni musik di Bangkalan,” ujarnya.

Pada perkembangannya, pemusik Bangkalan banyak mengikuti beragam jenis. Menurut Hendra, mau musik tradisi, rock, pop, dangdut, kontemporer, tidak ada alasan untuk tidak dikembangkan.

”Mohon maaf jika saya tidak dapat menyebut seniman secara keseluruhan atau pencapaian prestasi karya tanpa mengurangi rasa hormat pada seniman yang terlewatkan,” tandasnya.

BANGKALAN – Hendra Gemma Dominan adalah pegawai negeri yang berjiwa seni. Dia menjabat Kabid Kebudayaan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bangkalan. Dia memiliki catatan mengenai perkembangan musik musik kontemporer di Kota Salak.

Musik telah mendarah daging bagi sebagian masyarakat Bangkalan. Penguasa Keraton Bangkalan Sultan Abdul Kadirun duhulu memiliki Gamelan Ratna Dumilah. Di era 1970 hingga 1980-an, Bangkalan memiliki grup band pelat merah berjuluk CakraNada. Dikomando R. P. Su’udin Achmad sebagai drummer. Salah seorang putra daerah sekaligus pewaris trah keningratan keraton.

Bersinergi membentuk grup musik kontemporer di lingkungan Pemkab bersama R. P. Hamid Mustari yang saat itu berposisi sebagai gitaris. Ramli sebagai vokalis, Puan sebagai bassis, dan Hasan Tedja sebagai keyboardis.


”Ada Om Majid Asnoen juga vokalis sekaligus perkusi dan Om Wahed di bagian saxophone,” kata putra dari R. P. Su’udin Achmad ini dalam perbincangan dengan Jawa Pos Radar Madura di pojok gedung DPRD Bangkalan beberapa waktu lalu.

Beberapa penghargaan festival musik tingkat lokal maupun provinsi pernah diraih. Termasuk, penampilan rutin musisi lain dan melibatkan pelaku seni tradisi seperti Usman Jati. CakraNada TVRI stasiun Surabaya pada 1970 hingga 1980-an.

Komponis legendaris Bangkalan M. Irsyad juga punya reputasi skala nasional. Seniman ini, kata Hendra, merupakan pendidik senior musik yang peduli memajukan lagu-lagu Madura lewat media musik vokal maupun musik keroncong. Seperti M. Thoib, Musleh, dan Chairul Huda.

Beberapa nama populer dalam dunia tarik suara/vokal di Bangkalan, di antaranya, M. Gufron, Lilik Ipung, dan Evie Gaffar. ”Bakat-bakat alam macam Om Dibyo dan Om Rudi Cristna yang menjadikan Bangkalan saat itu sangat disegani di dunia musik. Terutama di Madura,” kenangnya.

Baca Juga :  Samudin-Supiyah: Suami Lumpuh, Istri Stroke Bertahun-tahun

Generasi seniman musik juga ingat masa keemasan rock era 80-an. Bangkalan pernah menjadi kiblat musik Madura event konser dan pentas musisi band papan atas nasional. Seperti Elpamas (Elek-Elek Pandaan, Mas), Red Spider, dan Ita Rasio (Ita Purnamasari). Band Andromedha juga beberapa kali meramaikan panggung belantika musik rock di Bangkalan.

”Dulu musik modern yang populer 80 dan 90-an itu musik rock. Band angkatan muda tahun 80-an bergenre rock seperti CA. Rock Band,” tutur kolektor ribuan album lagu band lokal hingga internasional dalam 3.000 keping CD dan 1.000 kaset pita itu.

CA Rock Band saat itu berada di bawah bimbingan R.P. Su’udin Achmad. Dikomando musisi sekaligus promotor Imin Syaputra. Bangkalan juga punya Band Dynamic yang berprestasi dilingkup rocker Jawa Timur.

Hingga dekade 90-an, banyak tercatat band muda seperti Metal God dikomando Jon Dawet dan kawan-kawan (dkk), Hexas oleh Handoko dkk, Sailor yang dikomando Pa’i dkk, dan band Bodo’ah yang digerakkan Anto dkk. ”Saat itu band saya bersama teman-teman Red Angel,” kata pria penyuka akik itu.

Band-band baru kemudian bermunculan. Di antaranya, Warna Band dikomando Usman dkk dan Adek Band dipimpin Ace dkk. Di era 2000-an, band-band anak muda Bangkalan juga tidak kalah dengan para seniornya. Ada beberapa band macam CA. Rock Junior dikomando Hendra dkk, Band 1127  dipimpin Yanto dkk, Green Word dikomando Wijaya dkk, dan Step + (plus) rintisan Joe dkk.

”Banyak yang tidak sempat kami sebutkan satu per satu. Ini membuktikan bahwa generasi muda tetap intens dan mampu bersaing di kancah permusikan baik dalam event festival maupun persaingan kekaryaan,” tuturnya.

Baca Juga :  Mimpi Masa Kecil Jadi Kenyataan

Sementara itu, masyarakat Madura mencintai genre musik Melayu dan dangdut sejak dulu. Beberapa talenta yang cukup populer di antaranya Andi KDI, Dahlia KDI, Ana KDI, Ita KDI, serta pedangdut lain. Sebelum itu, ada Ali Usman, Endang Maemunah, dan Anies Fitria yang meramaikan pentas musik dangdut nasional.

Di sisi lain, ada seniman yang konsentrasi dalam jenis musik yang tidak begitu populer. Seperti band balada yang dikomando Cakung dkk. Pelestarian kekayaan dan kearifan lokal juga masih terlihat. Kelompok-kelompok hadrah di beberapa pesantren masih eksis. Juga berkembang pada komunitas di luar pesantren.

Musik lokal juga tetap dipopulerkan. Misalnya, dilakukan komposer Adrian Pawitra dalam upaya melestarikan dan mengembangkan musik dan lagu Madura. Adrian banyak meng-compose hingga memproduksi album dan menerbitkan buku kumpulan lagu-lagu Madura.

Pemusik tradisi seperti Sudarsono dengan Tarara yang dipimpinnya tetap berproses. Belum lagi beberapa musisi muda Bangkalan yang memperoleh sentuhan akademisi seperti Memet CH. Slamet yang sudah menasional dengan Gang Sadewa ISI Jogja, Zoel Mistorhify dengan Sonoseni ISI Solo, almarhum Badrus besutan IKJ, Rama Cristna IKJ,  Omy ISI Jogja,  Panji ISI Jogja, Rifal ISI Jogja, dan banyak lagi seniman dengan sentuhan akademis. ”Sangat jelas memberi warna dalam memajukan seni musik di Bangkalan,” ujarnya.

Pada perkembangannya, pemusik Bangkalan banyak mengikuti beragam jenis. Menurut Hendra, mau musik tradisi, rock, pop, dangdut, kontemporer, tidak ada alasan untuk tidak dikembangkan.

”Mohon maaf jika saya tidak dapat menyebut seniman secara keseluruhan atau pencapaian prestasi karya tanpa mengurangi rasa hormat pada seniman yang terlewatkan,” tandasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/