alexametrics
21 C
Madura
Tuesday, May 17, 2022

Keluh Kesah Penjual Buku di Era Digital

PAMEKASAN – Situasi Toko Buku Aku Makin Cerdas (AMC) di Jalan Mandilaras terlihat lengang Senin (4/11). Hanya ada satu dua orang yang keluar masuk. Mereka melihat-lihat buku yang terpampang di beberapa rak.

Sambil menunggu pembeli, Aang Khunaifi mengutak-atik laptop. Petugas AMC itu melihat data penjualan buku selama sebulan terakhir. Sambil lalu dia menceritakan keluh kesah berbisnis buku di era digital kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Penjualan buku saat ini mengalami penurunan cukup drastis. Menurun 50 persen dibandingkan dua tahun lalu. Bisnis buku saat ini tidak lagi menjanjikan. ”Dulu saya bisa mencapai omzet sekitar  Rp 70 juta per bulan. Sekarang sudah tidak lagi,” terangnya.

Buku yang stagnan atau tidak tersentuh pembeli tentang motivasi. Atau, buku yang memang tidak direkomendasikan sekolah atau perguruan tinggi. Yang masih dibeli buku-buku penunjang pendidikan. ”Itu pun kadang ketika hanya ada tugas seperti skripsi. Relatif masih ada sirkulasi,” terangnya.

Baca Juga :  Koleksi Depo Arsip Paling Banyak Naskah Peninggalan Belanda

Mahasiswa dan pelajar biasa hanya membeli buku yang diwajibkan guru atau dosen untuk melakukan kajian tema-tema tertentu. Dulu, kata dia, ada segmen khusus karyawan, pegawai, guru, dan sebagainya. ”Ibu-ibu yang butuh resep masakan tinggal beli. Sekarang sudah tidak ada. Mereka mungkin tinggal buka Google,” keluhnya.

Dosen STAI Al-Khairat itu menjelaskan, jumlah pembeli menurun karena buku mulai tergantikan dengan teknologi atau gadget. Masyarakat lebih mudah membaca di Google. Namun, dia khawatir masyarakat hanya senang membuka Facebook, WhatsApp, Twitter. Dengan begitu, lalai dan tidak gemar membaca.

”Kita tidak memastikan 100 persen teknologi menjadikan penyebab turunnya minat beli buku. Tapi minat baca tidak naik drastis sebagaimana naiknya beli masyarakat terhadap gadget sehingga buku ditinggal,” terangnya.

Menurut Aang, pembeli buku sepi tidak hanya terjadi di Pamekasan. Berbagi toko di Jatim juga mengali nasib serupa. Bahkan, di kota-kota besar mulai sepi. ”Banyak toko buku tutup. Kalau berbicara laba mungkin ada. Tapi tidak lagi besar,” ungkapnya.

Baca Juga :  Perpustakaan Sumenep Buktikan Kualitas Pelayanan

Kendati demikian dia tidak putus asa. Apalagi berencana gulung tikar. Bagi dia, jualan buku bukan hanya hitung-hitungan bisnis. Ada visi mulia lain di balik itu. Jualan buku juga sebagai upaya gerakan untuk memfasilitasi masyarakat gemar membaca.

”Di kota maju, minat bacanya luar biasa. Pamekasan sebagai Kota Pendidikan juga harus baik minat bacanya. Kalau disuruh memilih, pasti lebih memilih bisnis lain karena lakunya lebih cepat. Buku lebih lambat,” kata pria bermodal sekitar Rp 900 juta untuk bisnis buku itu.

Buku yang dijual ada yang murni dibeli sendiri. Ada yang menggunakan skema kerja sama dengan penerbit atau distributor. ”Kalau hanya mengandalkan distributor atau penerbit, koleksinya sedikit. Kami juga membeli buku walaupun risikonya tidak laku atau menjadi modal yang mengendap,” pungkasnya.

PAMEKASAN – Situasi Toko Buku Aku Makin Cerdas (AMC) di Jalan Mandilaras terlihat lengang Senin (4/11). Hanya ada satu dua orang yang keluar masuk. Mereka melihat-lihat buku yang terpampang di beberapa rak.

Sambil menunggu pembeli, Aang Khunaifi mengutak-atik laptop. Petugas AMC itu melihat data penjualan buku selama sebulan terakhir. Sambil lalu dia menceritakan keluh kesah berbisnis buku di era digital kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Penjualan buku saat ini mengalami penurunan cukup drastis. Menurun 50 persen dibandingkan dua tahun lalu. Bisnis buku saat ini tidak lagi menjanjikan. ”Dulu saya bisa mencapai omzet sekitar  Rp 70 juta per bulan. Sekarang sudah tidak lagi,” terangnya.

Buku yang stagnan atau tidak tersentuh pembeli tentang motivasi. Atau, buku yang memang tidak direkomendasikan sekolah atau perguruan tinggi. Yang masih dibeli buku-buku penunjang pendidikan. ”Itu pun kadang ketika hanya ada tugas seperti skripsi. Relatif masih ada sirkulasi,” terangnya.

Baca Juga :  Komitmen AKBP Didit Bambang Wibowo Saputro Jaga Kondisivitas

Mahasiswa dan pelajar biasa hanya membeli buku yang diwajibkan guru atau dosen untuk melakukan kajian tema-tema tertentu. Dulu, kata dia, ada segmen khusus karyawan, pegawai, guru, dan sebagainya. ”Ibu-ibu yang butuh resep masakan tinggal beli. Sekarang sudah tidak ada. Mereka mungkin tinggal buka Google,” keluhnya.

Dosen STAI Al-Khairat itu menjelaskan, jumlah pembeli menurun karena buku mulai tergantikan dengan teknologi atau gadget. Masyarakat lebih mudah membaca di Google. Namun, dia khawatir masyarakat hanya senang membuka Facebook, WhatsApp, Twitter. Dengan begitu, lalai dan tidak gemar membaca.

”Kita tidak memastikan 100 persen teknologi menjadikan penyebab turunnya minat beli buku. Tapi minat baca tidak naik drastis sebagaimana naiknya beli masyarakat terhadap gadget sehingga buku ditinggal,” terangnya.

Menurut Aang, pembeli buku sepi tidak hanya terjadi di Pamekasan. Berbagi toko di Jatim juga mengali nasib serupa. Bahkan, di kota-kota besar mulai sepi. ”Banyak toko buku tutup. Kalau berbicara laba mungkin ada. Tapi tidak lagi besar,” ungkapnya.

Baca Juga :  Konseptor Pariwisata Madura Tanggapi Pembakaran Kedai Bukit Bintang

Kendati demikian dia tidak putus asa. Apalagi berencana gulung tikar. Bagi dia, jualan buku bukan hanya hitung-hitungan bisnis. Ada visi mulia lain di balik itu. Jualan buku juga sebagai upaya gerakan untuk memfasilitasi masyarakat gemar membaca.

”Di kota maju, minat bacanya luar biasa. Pamekasan sebagai Kota Pendidikan juga harus baik minat bacanya. Kalau disuruh memilih, pasti lebih memilih bisnis lain karena lakunya lebih cepat. Buku lebih lambat,” kata pria bermodal sekitar Rp 900 juta untuk bisnis buku itu.

Buku yang dijual ada yang murni dibeli sendiri. Ada yang menggunakan skema kerja sama dengan penerbit atau distributor. ”Kalau hanya mengandalkan distributor atau penerbit, koleksinya sedikit. Kami juga membeli buku walaupun risikonya tidak laku atau menjadi modal yang mengendap,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/