Selasa, 26 Oct 2021
Radar Madura
Home / Features
icon featured
Features
Yohanes Iwan Hary Prasetyo

Perbedaan Itu seperti Bunga, Indah dan Enak Dipandang

05 Oktober 2021, 19: 38: 05 WIB | editor : Abdul Basri

Perbedaan Itu seperti Bunga, Indah dan Enak Dipandang

PASTOR: Yohanes Iwan Hary ditemui di rumahnya, Jalan Lontar, Nomor 20, Desa Pabian, Kecamatan Kota Sumenep, kemarin. (MOH. JUNAIDI/RadarMadura.id)

Share this      

Perdamaian merupakan tujuan hidup berbangsa. Di dalamnya hidup begitu banyak keragaman. Mulai dari perbedaan tradisi, budaya, hingga pada persoalan privat, yakni keyakinan dalam beragama.

MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

SEBAGAIMANA pepatah mengatakan bahwa perbedaan itu rahmat. Demikian kata Yohanes Iwan Hary Prasetyo, ketua Dewan Pastoral Paroki Gereja Katolik Maria Gunung Karmel Sumenep, di rumahnya kemarin (4/10). Pria 43 tahun itu tinggal di Jalan Lontar, Nomor 20, Desa Pabian, Kecamatan Kota Sumenep.

Baca juga: Fazabinal Aliem, Penerjemah Karya Sastra Arab

Kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM), dia mengungkapkan banyak cerita yang bisa dijadikan contoh bagaimana keberagaman menjadi jantung bagi bangsa dan negara. Iwan, sapaan akrab Yohanes Iwan Hary Prasetyo, sangat Bahagia hidup berdampingan dengan masyarakat yang mayoritas muslim.

Sumenep menjadi rumah kedua bagi Iwan, seorang pastor di sebuah gereja di ujung timur Pulau Madura ini. ”Saya asli Jogja. Kebetulan istri saya asli Sumenep,” tuturnya.

Dia menikah pada 2000 dengan Elisabeth Endang Tri Wahyuni. Dari pernikahan itu, pasangan suami istri ini dikarunia dua anak. Si sulung Yosua Arya Putra kini menempuh pendidikan sastra Indonesia di Universitas Trunojoyo Madura. Adiknya, Benedictus Carol, menempuh pendidikan SMA Sang Timur Jogjakarta.

Iwan kepincut pada gadis Madura karena merasa ada kesamaan titik temu. Mulai dari sikap, cara bergaul, bahkan pada cara berpikir. Waktu itu, Iwan kelas 3, sedangkan Elisabeth Endang kelas 1.

”Saya nyambi guru teater dan kebetulan dia ikut DNA. Tak jarang dia minta diajari. Ketika kami menikah, kami memutuskan untuk tinggal di Madura saja,” kenang Iwan pada masa mudanya.

Salah satu alasan tertarik pada gadis Madura karena punya kesamaan dengan gadis-gadis di Jogjakarta. Kalem dan lemah lembut. Selain itu, gaya bahasa yang halus punya kesamaan kultur, yakni kultur keraton.

Iwan adalah seorang katolik yang taat. Ketaatannya dalam beragama membuatnya dipercaya sebagai ketua Dewan Pastoral Paroki pada 2006 hingga sekarang. Bahkan, rekan kerjanya di Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Sumenep yang kebetulan beda agama bercerita bahwa ketaatannya dalam beragama sangat kuat.

Di tempat kerjanya, kerap kali dia mengingatkan teman-teman lain, terutama yang beragama Islam, agar tetap menjalankan kewajibannya kepada Sang Khalik sebagai hamba. ”Dua tahun periode, saya terpilih sebagai Dewan Pastoral Gereja Paroki. Tugas utamanya yakni mengelola segala kegiatan gereja. Terutama yang bersifat sosal-kemasyarakatan,” lanjut lelaki yang juga menjabat sebagai Kasubbid pengembangan kompetensi di BKPSDM itu.

Tidak ada yang istimewa dari sosoknya, kecuali cara memandang bahwa perdamaian dalam perbedaan itu suatu keniscayaan. Dengan begitu, kita perlu merawat dan menjaga keberlangsungannya. Dia memang sering dimintai pendapat oleh pemuka-pemuka agama lain di forum-forum lintas agama. Apalagi, di Sumenep ada Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

”Jadi, saya rasa aman. Jika pun ada masalah yang berkaitan dengan keagamaan pasti terdeteksi,” ujar pria kelahiran 1987 itu.

Iwan memandang, yang paling berperan dalam menjaga keberlangsungan ini adalah para pemuka agama. Kalau di Islam ulama, di Katolik pastor, dan di Hindu pendeta. Tokoh-tokoh penting di agama masing-masing itu harus bisa memberikan pemahaman yang sama. ”Kalau di Islam kan terkenal dengan istilah ’bagiku agamaku, bagimu agamamu’,” ucapnya.

Bagi pastor Desa Pabian, Kecamatan Kota Sumenep, ini menjaga kebinekaan itu penting. Sebab dengan cara begitu, bangsa Indonesia akan berjalan damai sesuai dengan yang dicita-citakan pendahulu. Menurut dia, jika keberagaman di Sumenep tetap berlangsung seperti saat ini, bangsa ini akan mampu bersama-sama melakukan pemberdayaan masyarakat, baik dari serktor ekonomi maupun kesejahteraan. Lebih-lebih dalam merawat budaya asli Sumenep.

Menurut dia, perbedaan itu sudah biasa. Sebab, manusia punya perspektif masing-masing. Meskipun secara keyakinan tidak sama, kata Iwan, ada satu keyakinan yang luhur bahwa kita berbeda, tapi punya tujuan, yakni membangun negeri.

Iwan percaya bahwa dalam pemerintahan yang baik, tokoh agama bisa saling berkomunikasi. Menurut dia, perbedaan itu seperti bunga yang menjadi dekorasi. Harus banyak warna. Itu terasa indah dan enak dipandang. ”Saya yakin semua agama pasti mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang baik dan luhur,” tegasnya.

Perdamaian dalam keberagaman itu tergambar dalam kehidupan masyarakat kampung toleransi di Desa Pabian. Di desa itu berdiri beberapa rumah ibadah di satu tempat yang berdekatan.

Di kampung toleransi itu berdiri Masjid Baitul Arham, Gereja Katolik Paroki Maria Gunung Karmel, dan Kelenteng Pao Xian Liang Kong. Tiga rumah ibadah tersebut berdiri di tepi Jalan Slamet Riyadi.

JPRM pernah menurunkan berita berjudul Pesan Damai Tiga Rumah Ibadah Beda Agama di Satu Desa. Berita itu terbit Jumat, 22 September 2017. Dari pusat kota, Masjid Baitul Arham berada di kanan jalan. Dari jalan raya menyeberangi jembatan yang menghubungkan dengan pintu masuk masjid.

Sekitar 20 meter ke timur, sebelah kiri jalan, ada sebuah gereja. Bangunan dengan gaya Eropa. Gereja Katolik Paroki Maria Gunung Karmel namanya. Bangunan tersebut terlihat megah dengan menara dan didominasi warna putih.

Sekitar 50 meter ke timur lagi, berdirilah sebuah bangunan merah terang. Warna yang dipercaya membawa keberuntungan bagi sebagian orang. Bangunan itu adalah Kelenteng Pao Xian Lian Kong.

”Kalau tidak ada interaksi yang bagus, pasti akan tersulut konflik,” kata Mohammad Ali Humaidy pada 5 Agustus 2020. Pria asal Sumenep itu menyandang gelar doktor fakultas ilmu sosial dan ilmu politik di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) setelah meneliti kehidupan etnis Madura dan Tionghoa. Hasil penelitian itu diterbitkan menjadi buku berjudul Etnis Tionghoa di Madura.

Sembilan belas tahun menetap di Sumenep, Iwan kepincut dengan cara hidup yang sederhana dan masyarakat yang menjunjung tinggi adat ketimuran. Baginya, Sumenep itu barometer Madura. Ketika di daerah-daerah lain ada gejolak, di Sumenep aman. Saya merasa aman. Sumenep ini sebagai rumah kedua. Seperti di Jawa, kultur kerajaan sangat kuat. Andhap asor kalau kata orang Madura,” papar Iwan.

Dari kedamaian itulah, sebagai pastor, dia merasa aman dan terlindungi di Sumenep. Ditambah lagi, para ulama dan tokoh agamanya sangat terbuka, komunikasinya baik. ”Jadi, saya merasa aman untuk melakukan aktivitas peribadatan. Masing-masing dari kita menyidari kodrat bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika,” ujar ayah dua anak itu.

Iwan berharap, komunikasi antarumat beragama, solidaritas, dan toleransi yang tinggi di Sumenep ini kian meningkat sehingga mampu menjadi cermin bagi negara lain. Terutama yang rentan dengan isu-isu identitas. ”Saya sangat berterima kasih kepada warga Sumenep,” ucanya.

(mr/luq/bas/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia