alexametrics
21 C
Madura
Sunday, May 22, 2022

Berbincang Dunia Literasi Bersama Forum Lingkar Pena (FLP) Pamekasan

Budaya baca masyarakat dinilai lemah. Siswa dan mahasiswa datang ke perpustakaan hanya ketika ada tugas. Butuh perhatian khusus dari pemerintah.

PRENGKI WIRANANDA, Pamekasan

IRAMA musik hiphop terdengar sayup di gazebo Perpustakaan Daerah Pamekasan, Rabu (3/4). Sejumlah anak muda terlihat riang belajar menari dengan gerakan modern. Sesekali, mereka tertawa lantang ketika ada gerakan tidak seragam.

Puluhan anak muda lalu-lalang di tempat itu. Duduk melingkar, menjalani aktivitasnya. Berbagai kegiatan positif berlangsung di tempat itu. Les privat bahasa Inggris hingga bincang santai tentang literasi tersaji.

Pengelola perpustakaan menyediakan tiga gazebo dengan posisi berjejer. Pada bagian tengah, diplot Forum Lingkar Pena (FLP) Pamekasan. Pegiat literasi itu berkumpul membincangkan kondisi dunia literasi di Bumi Gerbang Salam.

RadarMadura.id jadi bagian dari pegiat literasi yang juga duduk melingkar itu. Mereka sharing tentang budaya membaca yang dinilai kian rendah. Juga, keluh kesah lantaran kampanye membaca dari pemerintah dinilai lemah.

Ketua FLP Pamekasan Maftuhatin Nikmah mengatakan, budaya membaca masyarakat mulai lemah. Indikasinya, jarang melihat warga meluangkan waktu datang ke perpustakaan untuk membaca.

Waktu masyarakat lebih banyak digunakan untuk bekerja dan aktivitas selain literasi. Bahkan, ”penyakit malas membaca” itu nyaris menular kepada pelajar dan mahasiswa. Kaum terpelajar itu kebanyakan datang ke perpustakaan ketika ada tugas.

Baca Juga :  Terdaftar PBI JKN-KIS, Anisa Senang Dapat Perhatian Pemerintah

Padahal, membaca sangat penting untuk kemajuan negeri ini. Masyarakat akan memiliki banyak referensi ketika membaca. Wawasan akan luas, kreativitas akan tumbuh dengan inspirasi dari buku yang dibaca.

Ironisnya, kata dia, rendahnya budaya baca itu tidak direspons cepat oleh pemerintah. Kampanye tentang pentingnya dunia literasi terasa kurang. Pemanfaatan perpustakaan desa juga dinilai kurang optimal.

Monik –sapaan Maftuhatin Nikmah– mengatakan, jika kampanye literasi digalakkan, kemudian perpustakaan desa dikelola dengan baik, wawasan masyarakat akan luas. ”Harus segera ada terobosan untuk mengembalikan kejayaan dunia literasi,” katanya.

Dara berkerudung merah itu menyampaikan, sejumlah desa banyak yang membangun perpustakaan. Namun, pengelolaannya belum optimal. Orang yang diberi kepercayaan mengelola perpustakaan rata-rata bukan pegiat literasi.

Akibatnya, arah pengelolaan tidak jelas. Bahkan, tidak ada inovasi menyulap perpustakaan menjadi tempat yang nyaman dikunjungi. ”Hanya ada perpustakaannya, tapi yang berkunjung nyaris tidak ada,” katanya.

Monik berharap, pemerintah lebih giat mengampanyekan literasi. Harapannya, budaya baca masyarakat tinggi sehingga memiliki wawasan luas dan produktif dalam berkarya.

Kebutuhan apa pun tersedia di dalam buku. Masyarakat yang ingin belajar membuat produk UMKM tersedia literaturnya. Masyarakat yang ingin bergelut di bidang pertanian, peternakan, dan keluatan juga ada referensinya.

Baca Juga :  Cynthya Dewi Baca Referensi Islam sebelum Ucapkan Syahadat

Dengan wawasan luas, akan mencetak generasi positif dan produktif. Masyarakat harus membantu membudayakan membaca. ”Tanpa sentuhan pemerintah, kami konsisten berupaya meningkatkan minat baca masyarakat,” katanya.

Ketua Komisi IV Muhammad Sahur mengatakan, budaya literasi harus dikuatkan. Dengan membaca, akan lahir generasi produktif, positif, dan kreatif. Pemerintah harus terlibat dalam upaya meningkatkan budaya baca itu.

”Perpusdes ada, perpustakaan keliling yang dimotori dinas perpustakaan dan arsip juga ada. Tinggal bagaimana kemudian dikelola dengan baik dan lebih maksimal,” kata mantan aktivis PMII itu.

Dikonfirmasi terpisah, Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pamekasan Akhmad Zaini mengatakan, minat baca buku masyarakat perlu ditingkatkan. Saat sekarang, budaya masih rekreatif. Yakni, lebih banyak membaca informasi di media sosial.

Pemerintah berupaya meningkatkan minat baca masyarakat. Yakni, dengan mendekatkan dengan buku. Beberapa perpustakaan mini dibentuk di tempat umum untuk jadi bahan bacaan warga.

”Upaya mendekatkan masyarakat dengan buku sudah kami lakukan. Mulai perpustakaan mini hingga mendorong perpustakaan desa lebih aktif,” tandasnya.

- Advertisement -

Budaya baca masyarakat dinilai lemah. Siswa dan mahasiswa datang ke perpustakaan hanya ketika ada tugas. Butuh perhatian khusus dari pemerintah.

PRENGKI WIRANANDA, Pamekasan

IRAMA musik hiphop terdengar sayup di gazebo Perpustakaan Daerah Pamekasan, Rabu (3/4). Sejumlah anak muda terlihat riang belajar menari dengan gerakan modern. Sesekali, mereka tertawa lantang ketika ada gerakan tidak seragam.


Puluhan anak muda lalu-lalang di tempat itu. Duduk melingkar, menjalani aktivitasnya. Berbagai kegiatan positif berlangsung di tempat itu. Les privat bahasa Inggris hingga bincang santai tentang literasi tersaji.

Pengelola perpustakaan menyediakan tiga gazebo dengan posisi berjejer. Pada bagian tengah, diplot Forum Lingkar Pena (FLP) Pamekasan. Pegiat literasi itu berkumpul membincangkan kondisi dunia literasi di Bumi Gerbang Salam.

RadarMadura.id jadi bagian dari pegiat literasi yang juga duduk melingkar itu. Mereka sharing tentang budaya membaca yang dinilai kian rendah. Juga, keluh kesah lantaran kampanye membaca dari pemerintah dinilai lemah.

Ketua FLP Pamekasan Maftuhatin Nikmah mengatakan, budaya membaca masyarakat mulai lemah. Indikasinya, jarang melihat warga meluangkan waktu datang ke perpustakaan untuk membaca.

Waktu masyarakat lebih banyak digunakan untuk bekerja dan aktivitas selain literasi. Bahkan, ”penyakit malas membaca” itu nyaris menular kepada pelajar dan mahasiswa. Kaum terpelajar itu kebanyakan datang ke perpustakaan ketika ada tugas.

Baca Juga :  Sejarawan, Budayawan, dan Fotografer Edhi Setiawan di Mata Keluarga

Padahal, membaca sangat penting untuk kemajuan negeri ini. Masyarakat akan memiliki banyak referensi ketika membaca. Wawasan akan luas, kreativitas akan tumbuh dengan inspirasi dari buku yang dibaca.

Ironisnya, kata dia, rendahnya budaya baca itu tidak direspons cepat oleh pemerintah. Kampanye tentang pentingnya dunia literasi terasa kurang. Pemanfaatan perpustakaan desa juga dinilai kurang optimal.

Monik –sapaan Maftuhatin Nikmah– mengatakan, jika kampanye literasi digalakkan, kemudian perpustakaan desa dikelola dengan baik, wawasan masyarakat akan luas. ”Harus segera ada terobosan untuk mengembalikan kejayaan dunia literasi,” katanya.

Dara berkerudung merah itu menyampaikan, sejumlah desa banyak yang membangun perpustakaan. Namun, pengelolaannya belum optimal. Orang yang diberi kepercayaan mengelola perpustakaan rata-rata bukan pegiat literasi.

Akibatnya, arah pengelolaan tidak jelas. Bahkan, tidak ada inovasi menyulap perpustakaan menjadi tempat yang nyaman dikunjungi. ”Hanya ada perpustakaannya, tapi yang berkunjung nyaris tidak ada,” katanya.

Monik berharap, pemerintah lebih giat mengampanyekan literasi. Harapannya, budaya baca masyarakat tinggi sehingga memiliki wawasan luas dan produktif dalam berkarya.

Kebutuhan apa pun tersedia di dalam buku. Masyarakat yang ingin belajar membuat produk UMKM tersedia literaturnya. Masyarakat yang ingin bergelut di bidang pertanian, peternakan, dan keluatan juga ada referensinya.

Baca Juga :  82 Ribu Kartu Tani Tertahan

Dengan wawasan luas, akan mencetak generasi positif dan produktif. Masyarakat harus membantu membudayakan membaca. ”Tanpa sentuhan pemerintah, kami konsisten berupaya meningkatkan minat baca masyarakat,” katanya.

Ketua Komisi IV Muhammad Sahur mengatakan, budaya literasi harus dikuatkan. Dengan membaca, akan lahir generasi produktif, positif, dan kreatif. Pemerintah harus terlibat dalam upaya meningkatkan budaya baca itu.

”Perpusdes ada, perpustakaan keliling yang dimotori dinas perpustakaan dan arsip juga ada. Tinggal bagaimana kemudian dikelola dengan baik dan lebih maksimal,” kata mantan aktivis PMII itu.

Dikonfirmasi terpisah, Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pamekasan Akhmad Zaini mengatakan, minat baca buku masyarakat perlu ditingkatkan. Saat sekarang, budaya masih rekreatif. Yakni, lebih banyak membaca informasi di media sosial.

Pemerintah berupaya meningkatkan minat baca masyarakat. Yakni, dengan mendekatkan dengan buku. Beberapa perpustakaan mini dibentuk di tempat umum untuk jadi bahan bacaan warga.

”Upaya mendekatkan masyarakat dengan buku sudah kami lakukan. Mulai perpustakaan mini hingga mendorong perpustakaan desa lebih aktif,” tandasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/