alexametrics
24.3 C
Madura
Friday, May 27, 2022

Mereka yang Menulis di Tengah Kesibukan Mendidik Siswa (3)

Guru merupakan sosok yang digugu dan ditiru. Memberikan contoh yang baik kepada peserta didik. Demikian juga yang ditunjukkan Hidayat Raharja, guru berprestasi yang aktif menulis dan melukis.

BADRI STIAWAN, Sumenep

PRODUKTIF berkarya. Itulah Hidayat Raharja. Guru pengampu mata pelajaran (mapel) biologi di SMAN 1 Sumenep ini sudah menelurkan tiga buku. Pertama berjudul Kangean.Buku puisi yang diterbitkan 2016 itu masuk 15 nomine buku pilihan Yayasan Hari Puisi Indonesia.

Ada juga buku Penghayatan terhadap Cahaya terbit 2017. Karya tulisnya yang satu ini berisi pengalaman bersama peserta didik menggunakan kamera lubang jarum (KLJ). Sebuah eksplorasi untuk menjelaskan konsep indra penglihatan.

Kemudian Kloning: Hibrid Biologi dalam Puisi. Buku yang diterbitkan pada 2018 ini berisi puisi biologi. Memang tidak lumrah konsep biologi dibangun dengan unsur-unsur puitika seperti rima dan konstruksi kalimat yang mempertimbangkan estetika.

Dalam buku ini, Dayat –sapaan Hidayat Raharja– berupaya menyederhanakan konsep biologi yang rumit menjadi lebih sederhana serta mudah dipahami. Puisi-puisi di dalamnya berbicara mengenai konsep biologi seperti tumbuh kembang, metabolisme, genetika, dan semacamnya. Disajikan secara puitik tanpa menghilangkan makna leksikal secara biologis.

Hubungan puisi dan biologi, menurut dia, banyak dianggap tidak lumrah dan kontroversial. Namun, tidak banyak yang memahami bahwa di beberapa kitab Islam klasik, dunia sains dituliskan dalam bentuk syair sehingga bisa dilagukan saat dibaca. Model pembelajaran seperti ini memudahkan peserta didik untuk mengingat dan memahami konsep yang dipelajari.

Dayat mulai aktif di dunia kepenulisan sejak duduk di bangku SMA. Hanya, tidak ada wadah yang mampu menampung karyanya saat itu. Semasa kuliah di IKIP Surabaya, dia aktif membuat catatan harian dan puisi.

Baca Juga :  Motivasi Lapas Kelas II-A Pamekasan Belajar Menembak

”Saya aktif menulis di media massa sejak ditugaskan sebagai guru di Sumenep. Bergabung dengan Sanggar Kembara 1989,” tutur pria kelahiran Sampang, 14 Juli 1966, itu.

Setelah itu, bersama penulis lain dia mendirikan Forum Bias pada tahun 90-an. Di era itu, Dayat produktif menulis puisi dan esai di berbagai media di Indonesia. Tahun 2000 aktivitasnya menulis di media cetak berhenti. Pria asal Desa Omben, Sampang, itu kemudian lebih aktif mengikuti lomba menulis ulasan sastra dan esai bidang pendidikan kebudayaan.

Beberapa di antaranya mengulas karya sastra yang diadakan majalah sastra Horison bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) –sekarang Kemendikbud. Juga pernah mengikuti lomba menulis buku pengayaan yang diselenggarakan Puskurbuk Kemendikbud.

Dayat tidak sekadar menulis. Beberapa karyanya berhasil meraih sejumlah penghargaan. Di antaranya, pernah menyabet juara III lomba penulisan naskah kebudayaan daerah berjudul Kekerasan dalam Kelompok Sosial Masyarakat Madura yang diselenggarakan Ditjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1999. Kemudian, finalis lomba mengulas karya sastra Ditjen Dikdasmen Depdiknas 2001, 2003, dan 2004.

Tidak hanya itu. Dia juga menjadi pemenang IV lomba esai PKLH Ditjen Dikdasmen dengan judul Air, Manusia, dan Peradaban pada 2003. Selain itu, pemenang III Lomba Buku Pengayaan Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdiknas 2009 dengan judul Nyanyian buat Negeriku. Dayat juga dinobatkan sebagai pemenang I lomba Buku Pengayaan Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kemdiknas berjudul Jalan ke Rumahmu pada 2010.

Baca Juga :  Jalin keakraban, Timor-er Madura Hadiri Anniversary Timor-er Gresik

Selain buku-buku yang sudah diterbitkan, ada beberapa karyanya yang diproyeksikan untuk dicetak. ”Buku hasil pengalaman mengajar dan bermain-main dengan biologi masih direncanakan untuk diterbitkan. Juga puisi-puisi yang tengah dipersiapkan sejak 2011 sampai tahun ini,” tutur guru yang kini tinggal di Jalan Dewi Sartika IX/12, Perumahan Bumi Sumekar Asri, Sumenep, itu.

Dayat tidak hanya menulis. Dia juga aktif melukis. Dua kegiatan kekaryaan itu mulai ditekuninya secara bersamaan. Menekuni kegiatan seni lukis sketsa sejak 1992. Tidak asal melukis, pada 1990–1991 dia belajar melukis sketsa pada perupa Saiful Hadjar. Seniman yang juga pendiri Kelompok Seni Rupa Bermain (KSRB) yang aktif dalam pendampingan persoalan kebudayaan secara meluas melalui gerakan seni rupa.

”Sampai saat ini, saya melukis sketsa. Juga memanfaatkan limbah kertas undangan manten sebagai media lukis,” kata lulusan SD Omben, SMPN 1 Sampang, dan SMAN 1 Pamekasan, itu.

Alumnus Diploma 3 Pendidikan Biologi IKIP Surabaya dan Sarjana Pendidikan Biologi Univetsitas Negeri Jogjakarta ini menjelaskan, beberapa sketsa karyanya pernah terbit di sejumlah media massa. Termasuk di Jawa Pos Radar Madura (JPRM). Pernah juga mengikuti pameran sketsa bersama KSRB di Surabaya dan Denpasar, Bali.

Sayang, lukisan yang dibuat 2005–2011 habis dimakan rayap. Karyanya banyak dituangkan pada kertas ukuran A5 sampai A3. Saat ini Dayat kerap mem-posting karya lukisnya di media sosial. ”Apresiasi yang didapatkan bisa dari berbagai belahan bumi,” ujarnya.

Menulis dan melukis baginya bukan sebatas untuk berkarya. Melainkan untuk ketenangan dan pembelajaran. ”Untuk refleksi dan mengendalikan diri,” pungkasnya.

Guru merupakan sosok yang digugu dan ditiru. Memberikan contoh yang baik kepada peserta didik. Demikian juga yang ditunjukkan Hidayat Raharja, guru berprestasi yang aktif menulis dan melukis.

BADRI STIAWAN, Sumenep

PRODUKTIF berkarya. Itulah Hidayat Raharja. Guru pengampu mata pelajaran (mapel) biologi di SMAN 1 Sumenep ini sudah menelurkan tiga buku. Pertama berjudul Kangean.Buku puisi yang diterbitkan 2016 itu masuk 15 nomine buku pilihan Yayasan Hari Puisi Indonesia.


Ada juga buku Penghayatan terhadap Cahaya terbit 2017. Karya tulisnya yang satu ini berisi pengalaman bersama peserta didik menggunakan kamera lubang jarum (KLJ). Sebuah eksplorasi untuk menjelaskan konsep indra penglihatan.

Kemudian Kloning: Hibrid Biologi dalam Puisi. Buku yang diterbitkan pada 2018 ini berisi puisi biologi. Memang tidak lumrah konsep biologi dibangun dengan unsur-unsur puitika seperti rima dan konstruksi kalimat yang mempertimbangkan estetika.

Dalam buku ini, Dayat –sapaan Hidayat Raharja– berupaya menyederhanakan konsep biologi yang rumit menjadi lebih sederhana serta mudah dipahami. Puisi-puisi di dalamnya berbicara mengenai konsep biologi seperti tumbuh kembang, metabolisme, genetika, dan semacamnya. Disajikan secara puitik tanpa menghilangkan makna leksikal secara biologis.

Hubungan puisi dan biologi, menurut dia, banyak dianggap tidak lumrah dan kontroversial. Namun, tidak banyak yang memahami bahwa di beberapa kitab Islam klasik, dunia sains dituliskan dalam bentuk syair sehingga bisa dilagukan saat dibaca. Model pembelajaran seperti ini memudahkan peserta didik untuk mengingat dan memahami konsep yang dipelajari.

Dayat mulai aktif di dunia kepenulisan sejak duduk di bangku SMA. Hanya, tidak ada wadah yang mampu menampung karyanya saat itu. Semasa kuliah di IKIP Surabaya, dia aktif membuat catatan harian dan puisi.

Baca Juga :  Edarkan Sabu-Sabu, Oknum Guru Diciduk

”Saya aktif menulis di media massa sejak ditugaskan sebagai guru di Sumenep. Bergabung dengan Sanggar Kembara 1989,” tutur pria kelahiran Sampang, 14 Juli 1966, itu.

Setelah itu, bersama penulis lain dia mendirikan Forum Bias pada tahun 90-an. Di era itu, Dayat produktif menulis puisi dan esai di berbagai media di Indonesia. Tahun 2000 aktivitasnya menulis di media cetak berhenti. Pria asal Desa Omben, Sampang, itu kemudian lebih aktif mengikuti lomba menulis ulasan sastra dan esai bidang pendidikan kebudayaan.

Beberapa di antaranya mengulas karya sastra yang diadakan majalah sastra Horison bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) –sekarang Kemendikbud. Juga pernah mengikuti lomba menulis buku pengayaan yang diselenggarakan Puskurbuk Kemendikbud.

Dayat tidak sekadar menulis. Beberapa karyanya berhasil meraih sejumlah penghargaan. Di antaranya, pernah menyabet juara III lomba penulisan naskah kebudayaan daerah berjudul Kekerasan dalam Kelompok Sosial Masyarakat Madura yang diselenggarakan Ditjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1999. Kemudian, finalis lomba mengulas karya sastra Ditjen Dikdasmen Depdiknas 2001, 2003, dan 2004.

Tidak hanya itu. Dia juga menjadi pemenang IV lomba esai PKLH Ditjen Dikdasmen dengan judul Air, Manusia, dan Peradaban pada 2003. Selain itu, pemenang III Lomba Buku Pengayaan Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdiknas 2009 dengan judul Nyanyian buat Negeriku. Dayat juga dinobatkan sebagai pemenang I lomba Buku Pengayaan Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kemdiknas berjudul Jalan ke Rumahmu pada 2010.

Baca Juga :  Tiga Bulan Insentif Guru Madin Tertahan

Selain buku-buku yang sudah diterbitkan, ada beberapa karyanya yang diproyeksikan untuk dicetak. ”Buku hasil pengalaman mengajar dan bermain-main dengan biologi masih direncanakan untuk diterbitkan. Juga puisi-puisi yang tengah dipersiapkan sejak 2011 sampai tahun ini,” tutur guru yang kini tinggal di Jalan Dewi Sartika IX/12, Perumahan Bumi Sumekar Asri, Sumenep, itu.

Dayat tidak hanya menulis. Dia juga aktif melukis. Dua kegiatan kekaryaan itu mulai ditekuninya secara bersamaan. Menekuni kegiatan seni lukis sketsa sejak 1992. Tidak asal melukis, pada 1990–1991 dia belajar melukis sketsa pada perupa Saiful Hadjar. Seniman yang juga pendiri Kelompok Seni Rupa Bermain (KSRB) yang aktif dalam pendampingan persoalan kebudayaan secara meluas melalui gerakan seni rupa.

”Sampai saat ini, saya melukis sketsa. Juga memanfaatkan limbah kertas undangan manten sebagai media lukis,” kata lulusan SD Omben, SMPN 1 Sampang, dan SMAN 1 Pamekasan, itu.

Alumnus Diploma 3 Pendidikan Biologi IKIP Surabaya dan Sarjana Pendidikan Biologi Univetsitas Negeri Jogjakarta ini menjelaskan, beberapa sketsa karyanya pernah terbit di sejumlah media massa. Termasuk di Jawa Pos Radar Madura (JPRM). Pernah juga mengikuti pameran sketsa bersama KSRB di Surabaya dan Denpasar, Bali.

Sayang, lukisan yang dibuat 2005–2011 habis dimakan rayap. Karyanya banyak dituangkan pada kertas ukuran A5 sampai A3. Saat ini Dayat kerap mem-posting karya lukisnya di media sosial. ”Apresiasi yang didapatkan bisa dari berbagai belahan bumi,” ujarnya.

Menulis dan melukis baginya bukan sebatas untuk berkarya. Melainkan untuk ketenangan dan pembelajaran. ”Untuk refleksi dan mengendalikan diri,” pungkasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/