alexametrics
22.4 C
Madura
Monday, August 15, 2022

Rumah sekaligus Dapur dan Kandang Ayam

SUMENEP – Cuaca cerah menemani perjalanan Jawa Pos Radar Madura (JPRM) ke rumah , Kamis (3/5). Dari Kota Sumenep ke rumah perempuan 60 tahun itu ditempuh selama 25 menit. Dia tinggal di Dusun Langgundi Laok, Desa Langsar, Kecamatan Saronggi. Salah satu kecamatan di selatan pusat kota.

Dia tinggal di rumah berukuran 4×5 meter. Bangunan itu terbuat dari bambu. Tempat tinggal janda itu berdiri di atas tanah kira-kira seluas 30×50 meter.

Tidak ada bangunan lagi selain rumah yang banyak dihiasi sawang-sawang itu. Rumah bercat putih itu tidak hanya menjadi tempat istirahat. Tapi juga dijadikan dapur, kandang ayam, dan kamar mandi.

Rumah itu menghadap ke utara. Kandang ayam dan dapur Samian berada di sebelah timur atau sebelah kanan pintu masuk. Sementara kamar mandi ada di samping lincak yang ditempati Samian.

Kamar mandi itu hanya ditempati tong bekas aspal. Jumlahnya dua. Satu lagi ada di depan rumah pas di dekat pintu masuk.

Baca Juga :  Tak Layak Huni, Rumah Janda Tua Ambruk

Di dalam rumah itu hanya ada satu lemari dan tempat tidur. Lemari itu ada dua rak. Rak atas dijadikan tempat pakaian, sedangkan rak bawah dijadikan tempat menyimpan beras dan jagung.

Tempat tidur Samian kasur dan satu bantal yang sudah lusuh dan tak lagi empuk. Di samping itu dihiasi jarit supaya angin tidak bebas masuk. Karena sebagian dinding rumah berlubang.

Samian pernah menikah bersama lelaki bernama Liddah. Pria yang dicintainya itu sudah meninggal dunia 15 tahun silam. ”Saya tidak punya keturunan. Saat ini saya sakit,” ucapnya lirih.

Kehidupan Samian saat bersama suami tidak sesengsara saat ini. Semasa suaminya hidup, pekarangan rumah ditanami jagung dan padi. Hasilnya untuk kehidupan sehari-hari. Sebagian lagi dijual. ”Sakit saya itu stroke dan darah tinggi,” tuturnya terbata-bata.

Hawaira, keponakan Samian, merasa kasihan. Melihat saudara ayah kandungnya itu hidup sebatang kara, Hawaira pun merawatnya. Mulai mengantarkan makanan, air minum, dan air untuk mandi. Air untuk mandi itu merupakan air hujan.

Baca Juga :  Kamariyah, Janda Dua Anak Tak Pernah Mencicipi Bantuan Pemerintah

”Saya tidak setiap hari datang ke sini. Kadang seminggu dua sampai tiga kali,” tuturnya di rumah Samian.

Perempuan 43 tahun itu tinggal di Dusun Langgundi, Desa Langsar. Dia pernah membujuk Samian agar mau tinggal bersamanya. Selain itu, agar dirinya lebih mudah memantau dan merawatnya.

”Kondisinya kan sudah lemah. Tapi tidak mau. Bilangnya kasihan sama rumah karena harta satu-satunya,” jelasnya.

Hawaira mengaku kaget dengan kondisi bibinya yang semakin memburuk. Sebab, Senin (30/4) dia sempat mengantarkan makanan. Saat itu kondisi Samian baik-baik saja. Namun, Rabu (2/5) dirinya mendapat telepon dari kepala dusun (Kadus) bahwa bibinya sudah terbaring lemas.

”Saya sempat kaget juga. Kalau bantuan dari pemerintah hanya rastra. Yang lainnya tidak ada,” ungkap perempuan yang saat itu berkerudung berwarna ungu itu.

SUMENEP – Cuaca cerah menemani perjalanan Jawa Pos Radar Madura (JPRM) ke rumah , Kamis (3/5). Dari Kota Sumenep ke rumah perempuan 60 tahun itu ditempuh selama 25 menit. Dia tinggal di Dusun Langgundi Laok, Desa Langsar, Kecamatan Saronggi. Salah satu kecamatan di selatan pusat kota.

Dia tinggal di rumah berukuran 4×5 meter. Bangunan itu terbuat dari bambu. Tempat tinggal janda itu berdiri di atas tanah kira-kira seluas 30×50 meter.

Tidak ada bangunan lagi selain rumah yang banyak dihiasi sawang-sawang itu. Rumah bercat putih itu tidak hanya menjadi tempat istirahat. Tapi juga dijadikan dapur, kandang ayam, dan kamar mandi.


Rumah itu menghadap ke utara. Kandang ayam dan dapur Samian berada di sebelah timur atau sebelah kanan pintu masuk. Sementara kamar mandi ada di samping lincak yang ditempati Samian.

Kamar mandi itu hanya ditempati tong bekas aspal. Jumlahnya dua. Satu lagi ada di depan rumah pas di dekat pintu masuk.

Baca Juga :  Bertahun-tahun Jalan Poros Desa Gugul Rusak Parah

Di dalam rumah itu hanya ada satu lemari dan tempat tidur. Lemari itu ada dua rak. Rak atas dijadikan tempat pakaian, sedangkan rak bawah dijadikan tempat menyimpan beras dan jagung.

Tempat tidur Samian kasur dan satu bantal yang sudah lusuh dan tak lagi empuk. Di samping itu dihiasi jarit supaya angin tidak bebas masuk. Karena sebagian dinding rumah berlubang.

- Advertisement -

Samian pernah menikah bersama lelaki bernama Liddah. Pria yang dicintainya itu sudah meninggal dunia 15 tahun silam. ”Saya tidak punya keturunan. Saat ini saya sakit,” ucapnya lirih.

Kehidupan Samian saat bersama suami tidak sesengsara saat ini. Semasa suaminya hidup, pekarangan rumah ditanami jagung dan padi. Hasilnya untuk kehidupan sehari-hari. Sebagian lagi dijual. ”Sakit saya itu stroke dan darah tinggi,” tuturnya terbata-bata.

Hawaira, keponakan Samian, merasa kasihan. Melihat saudara ayah kandungnya itu hidup sebatang kara, Hawaira pun merawatnya. Mulai mengantarkan makanan, air minum, dan air untuk mandi. Air untuk mandi itu merupakan air hujan.

Baca Juga :  Atmaniyah, Janda Miskin yang Tidak Dapat Bantuan Pemerintah

”Saya tidak setiap hari datang ke sini. Kadang seminggu dua sampai tiga kali,” tuturnya di rumah Samian.

Perempuan 43 tahun itu tinggal di Dusun Langgundi, Desa Langsar. Dia pernah membujuk Samian agar mau tinggal bersamanya. Selain itu, agar dirinya lebih mudah memantau dan merawatnya.

”Kondisinya kan sudah lemah. Tapi tidak mau. Bilangnya kasihan sama rumah karena harta satu-satunya,” jelasnya.

Hawaira mengaku kaget dengan kondisi bibinya yang semakin memburuk. Sebab, Senin (30/4) dia sempat mengantarkan makanan. Saat itu kondisi Samian baik-baik saja. Namun, Rabu (2/5) dirinya mendapat telepon dari kepala dusun (Kadus) bahwa bibinya sudah terbaring lemas.

”Saya sempat kaget juga. Kalau bantuan dari pemerintah hanya rastra. Yang lainnya tidak ada,” ungkap perempuan yang saat itu berkerudung berwarna ungu itu.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/