alexametrics
21 C
Madura
Tuesday, May 17, 2022

Widayanti Rose, Guru Asal Sumenep Berbagi Oleh-Oleh dari Tiongkok

Bagi Widayanti Rose, tuntutlah ilmu hingga ke negeri Tiongkok, bukan sekadar pepatah lama di bangku sekolah. Kata-kata yang akhirnya terwujud menjadi kenyataan.

BADRI STIAWAN, Sumenep

SAAT ingin berwudu di bandara, tidak ada keran air atau bak mandi. Hanya disediakan wastafel. Sulit jika mau basuh kaki. Wastafelnya tinggi. ”Ada teman saya kakinya diangkat ke wastafel. Ditegur sama petugas di bandara,” kata Widayanti Rose menceritakan pengalamannya ketika mengikuti Program 1.000 Guru ke Luar Negeri kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Karena tidak ada fasilitas untuk berwudu, kemudian instruktur nasional guru pembelajar pengembangan keprofesian berkelanjutan itu bertayamum. Sebab, di Tiongkok, tidak diperkenankan berbasah-basahan.

Bahasa menjadi kesulitan dalam berkomunikasi di Tiongkok. Dia sering menggunakan bahasa Tarzan (bahasa isyarat, Red). Saat di hotel sempat kesulitan berkomunikasi dengan petugas. Mulanya dia meminta tolong untuk menghangatkan suhu ruangan. Karena tidak mengerti, suhu ruangan dibuat lebih dingin.

”Yang paling saya ingat, nǐ hǎo dan xièxiè saja. Halo dan terima kasih,” ungkap guru SDN Kapedi 1 Kecamatan Bluto itu.

Energik. Semangat itu yang tampak dari sosok Widayanti saat berbagi ilmu dari negeri Tiongkok di STKIP PGRI Sumenep, Selasa (2/4). Perempuan asal Desa Kaduara Timur, Kecamatan Pragaan, itu baru kembali dari negeri tirai bambu mengikuti program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Pemaparan pengalaman yang pertama soal kedisiplinan. Di negara itu memiliki tingkat disiplin sangat ketat. Sebelum pelajaran dimulai, guru dan siswa sudah ada di ruangan. Di Indonesia, tingkat disiplin masih perlu ditingkatkan.

Sebagai negara yang juga memproduksi produk otomotif, dia sempat berpikir lalu lintas di Tiongkok akan ramai kendaraan, seperti di Jakarta. ”Tapi tidak. Lengang. Jarang yang pakai kendaraan pribadi. Kendaraan untuk kebutuhan transportasi. Bukan untuk gaya-gayaan,” kata aktivis Rumah Literasi Sumenep itu.

Di Tiongkok, keluarga jadi penentu karakter seseorang. Jika anak dicubit guru di sekolah, di rumah akan ditambah dengan hukuman cambuk orang tua. Sebab, bagi orang tua, anak yang melanggar sangat memalukan. Sementara di negeri ini banyak kasus guru dihukum penjara karena dianggap melakukan tindak kekerasan kepada siswa.

Baca Juga :  Kekurangan Bukan Penghalang Ukir Prestasi

”Kalau di sana, dihukum fisik di dalam satu ruangan yang hanya ada guru dan murid. Tidak di depan umum. Apalagi dipublikasikan,” ujar perempuan kelahiran 22 September 1986 itu.

Guru memberikan teladan terbaik di kelas ketika mengajar, tidak ada guru yang duduk di kursi. Apalagi bersantai. Mereka berjalan ke tempat siswa. Guru benar-benar dituntut mencurahkan waktunya untuk siswa.

Jam mengajar tergolong sedikit. Pembelajaran menyesuaikan bakat anak. Pada jenjang SMP, bakat anak bisa dilihat. Kemudian diarahkan sesuai bakat masing-masing.

Pelajaran sejarah juga tidak kalah diprioritaskan. Siswa kelas 3 SD sudah banyak tahu dan bisa menceritakan panjang lebar soal para pahlawan. Di Indonesia, kata dia, gurunya kadang lupa sejarah pahlawan.

Sosok Ki Hajar Dewantara cukup dikenal di Tiongkok. Terutama di kalangan akademisi. Banyak yang suka pemikiran tokoh pendidikan itu. Namun di Indonesia, hanya banyak terdengar pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) saja. Padahal di luar negeri tokoh ini sangat dihargai.

”Di sana negara maju, tapi unsur klasik masih ada di sana. Dijaga dengan baik. Bahkan bangunan Dinasti Han, masih banyak ditemukan,” lanjut Instruktur Provinsi K13 itu.

Banyak lulusan pendidikan di Tiongkok yang dikirim pemerintah ke luar negeri melalui beasiswa. Setelah lulus, pemerintah sudah menyediakan tempat atau posisi sesuai bidang ilmu yang digeluti. Para pemuda lulusan luar negeri yang dikirimkan diajak mengembangkan negaranya. ”Di Indonesia, lulusan luar negeri terkadang masih sulit mencari pekerjaan,” sindir lulusan S-1 Universitas Adi Buana Surabaya itu.

Pemerintah Tiongkok sangat menghargai prestasi para generasi bangsa. Pemerintah banyak mendengarkan pendapat dari mahasiswa dalam kongres pendidikan. Suara mahasiswa sangat dihargai untuk kemajuan pendidikan.

Nilai positif lain yang perlu diadopsi yakni rasa saling menghargai. Pengendara sangat menghargai pejalan kaki. Di zebra cross, kata Wida, jika orang berdiri di pinggir jalan, kendaraan langsung berhenti. Memberikan kesempatan pejalan kaki untuk menyeberang. Tidak perlu ada aba-aba melambai tangan atau lampu merah.

Baca Juga :  ACT Tebar Kebahagiaan Idul Adha bersama Penyintas Gempa Lombok

Rakyat Tiongkok juga sangat getol mencintai bahasanya. Mereka jarang memakai bahasa Inggris walaupun kegiatan internasional. Sekelas profesor lulusan Amerika tetap menggunakan bahasa Mandarin. Sebab, bahasa nasional bagi mereka merupakan suatu kebanggaan.

”Harusnya kita sebagai bangsa juga bangga dengan bahasa Indonesia. Khususnya Madura. Kalau bukan orang Madura yang mencintai bahasanya sendiri, siapa lagi?” singgung ibu dari Bintang dan Bilqis itu.

Literasi sejarah dan budaya di Tiongkok juga luar biasa. Pohon kering pun tidak ditebang. Bahkan, jadi pelajaran di sekolah. Ada barcode pada setiap pohon. Ketika di scan oleh siswa, langsung bisa diketahui semua informasi tentang pohon tersebut.

”Ada patung pahlawan di bawahnya ada tulisan sejarahnya. Nama, perjuangan, dan sejarahnya. Banyak patung pahlawan yang dibuat,” kata istri dari Ruspandi, 40, itu. Sekolah di Tiongkok tidak sebanyak di Indonesia. Ketika disebutkan sekolah di Indonesia dalam satu daerah memiliki lebih dari 100 lembaga, para guru di Tiongkok kaget.

Masyarkat Tiongkok sangat mengutamakan kesehatan. Tak heran jika banyak fasilitas olahraga yang disediakan. Jalan kaki atau bersepeda menjadi pilihan daripada naik kendaraan. Kecuali jaraknya sangat jauh.

”Untuk sampai ke tempat transportasi umum juga harus jalan. Saya sampai pegal jalan karena tidak biasa jalan kaki di sini,” canda perempuan yang pernah bertugas di SDN Kaloang 5 Gayam itu. Pola makan juga sangat dijaga. Gula sangat dihindari. Karena dianggap sebagai sumber banyak penyakit.

Menurut alumni MTs 3 dan MA 1 Annuqayah itu, banyak hal positif yang bisa dipelajari dari Tiongkok. Dari 1.000 guru berbagai provinsi yang ditugaskan menimba ilmu ke luar negeri, hanya 200 guru yang ditempatkan di Tiongkok. Sisanya disebarkan ke Belanda, Amerika, dan Australia.

”Tanggal 26 Februari kami pembekalan sampai 2 Maret. Dari 3–23 Maret di Tiongkok. 20 hari. Setelah itu, dari 24–30 Maret kami laporan hasil studi di Malang,” terang perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di SDN Kertagena Laok 2 dan MI Al-Ghazali Rombasan itu.

Bagi Widayanti Rose, tuntutlah ilmu hingga ke negeri Tiongkok, bukan sekadar pepatah lama di bangku sekolah. Kata-kata yang akhirnya terwujud menjadi kenyataan.

BADRI STIAWAN, Sumenep

SAAT ingin berwudu di bandara, tidak ada keran air atau bak mandi. Hanya disediakan wastafel. Sulit jika mau basuh kaki. Wastafelnya tinggi. ”Ada teman saya kakinya diangkat ke wastafel. Ditegur sama petugas di bandara,” kata Widayanti Rose menceritakan pengalamannya ketika mengikuti Program 1.000 Guru ke Luar Negeri kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Karena tidak ada fasilitas untuk berwudu, kemudian instruktur nasional guru pembelajar pengembangan keprofesian berkelanjutan itu bertayamum. Sebab, di Tiongkok, tidak diperkenankan berbasah-basahan.

Bahasa menjadi kesulitan dalam berkomunikasi di Tiongkok. Dia sering menggunakan bahasa Tarzan (bahasa isyarat, Red). Saat di hotel sempat kesulitan berkomunikasi dengan petugas. Mulanya dia meminta tolong untuk menghangatkan suhu ruangan. Karena tidak mengerti, suhu ruangan dibuat lebih dingin.

”Yang paling saya ingat, nǐ hǎo dan xièxiè saja. Halo dan terima kasih,” ungkap guru SDN Kapedi 1 Kecamatan Bluto itu.

Energik. Semangat itu yang tampak dari sosok Widayanti saat berbagi ilmu dari negeri Tiongkok di STKIP PGRI Sumenep, Selasa (2/4). Perempuan asal Desa Kaduara Timur, Kecamatan Pragaan, itu baru kembali dari negeri tirai bambu mengikuti program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Pemaparan pengalaman yang pertama soal kedisiplinan. Di negara itu memiliki tingkat disiplin sangat ketat. Sebelum pelajaran dimulai, guru dan siswa sudah ada di ruangan. Di Indonesia, tingkat disiplin masih perlu ditingkatkan.

Sebagai negara yang juga memproduksi produk otomotif, dia sempat berpikir lalu lintas di Tiongkok akan ramai kendaraan, seperti di Jakarta. ”Tapi tidak. Lengang. Jarang yang pakai kendaraan pribadi. Kendaraan untuk kebutuhan transportasi. Bukan untuk gaya-gayaan,” kata aktivis Rumah Literasi Sumenep itu.

Di Tiongkok, keluarga jadi penentu karakter seseorang. Jika anak dicubit guru di sekolah, di rumah akan ditambah dengan hukuman cambuk orang tua. Sebab, bagi orang tua, anak yang melanggar sangat memalukan. Sementara di negeri ini banyak kasus guru dihukum penjara karena dianggap melakukan tindak kekerasan kepada siswa.

Baca Juga :  Cara Murid TKIT Nurul Hidayah Bantu Pemkab pada Masa Pandemi

”Kalau di sana, dihukum fisik di dalam satu ruangan yang hanya ada guru dan murid. Tidak di depan umum. Apalagi dipublikasikan,” ujar perempuan kelahiran 22 September 1986 itu.

Guru memberikan teladan terbaik di kelas ketika mengajar, tidak ada guru yang duduk di kursi. Apalagi bersantai. Mereka berjalan ke tempat siswa. Guru benar-benar dituntut mencurahkan waktunya untuk siswa.

Jam mengajar tergolong sedikit. Pembelajaran menyesuaikan bakat anak. Pada jenjang SMP, bakat anak bisa dilihat. Kemudian diarahkan sesuai bakat masing-masing.

Pelajaran sejarah juga tidak kalah diprioritaskan. Siswa kelas 3 SD sudah banyak tahu dan bisa menceritakan panjang lebar soal para pahlawan. Di Indonesia, kata dia, gurunya kadang lupa sejarah pahlawan.

Sosok Ki Hajar Dewantara cukup dikenal di Tiongkok. Terutama di kalangan akademisi. Banyak yang suka pemikiran tokoh pendidikan itu. Namun di Indonesia, hanya banyak terdengar pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) saja. Padahal di luar negeri tokoh ini sangat dihargai.

”Di sana negara maju, tapi unsur klasik masih ada di sana. Dijaga dengan baik. Bahkan bangunan Dinasti Han, masih banyak ditemukan,” lanjut Instruktur Provinsi K13 itu.

Banyak lulusan pendidikan di Tiongkok yang dikirim pemerintah ke luar negeri melalui beasiswa. Setelah lulus, pemerintah sudah menyediakan tempat atau posisi sesuai bidang ilmu yang digeluti. Para pemuda lulusan luar negeri yang dikirimkan diajak mengembangkan negaranya. ”Di Indonesia, lulusan luar negeri terkadang masih sulit mencari pekerjaan,” sindir lulusan S-1 Universitas Adi Buana Surabaya itu.

Pemerintah Tiongkok sangat menghargai prestasi para generasi bangsa. Pemerintah banyak mendengarkan pendapat dari mahasiswa dalam kongres pendidikan. Suara mahasiswa sangat dihargai untuk kemajuan pendidikan.

Nilai positif lain yang perlu diadopsi yakni rasa saling menghargai. Pengendara sangat menghargai pejalan kaki. Di zebra cross, kata Wida, jika orang berdiri di pinggir jalan, kendaraan langsung berhenti. Memberikan kesempatan pejalan kaki untuk menyeberang. Tidak perlu ada aba-aba melambai tangan atau lampu merah.

Baca Juga :  Belum Banyak DD-ADD Digunakan untuk Penyediaan Perpusdes

Rakyat Tiongkok juga sangat getol mencintai bahasanya. Mereka jarang memakai bahasa Inggris walaupun kegiatan internasional. Sekelas profesor lulusan Amerika tetap menggunakan bahasa Mandarin. Sebab, bahasa nasional bagi mereka merupakan suatu kebanggaan.

”Harusnya kita sebagai bangsa juga bangga dengan bahasa Indonesia. Khususnya Madura. Kalau bukan orang Madura yang mencintai bahasanya sendiri, siapa lagi?” singgung ibu dari Bintang dan Bilqis itu.

Literasi sejarah dan budaya di Tiongkok juga luar biasa. Pohon kering pun tidak ditebang. Bahkan, jadi pelajaran di sekolah. Ada barcode pada setiap pohon. Ketika di scan oleh siswa, langsung bisa diketahui semua informasi tentang pohon tersebut.

”Ada patung pahlawan di bawahnya ada tulisan sejarahnya. Nama, perjuangan, dan sejarahnya. Banyak patung pahlawan yang dibuat,” kata istri dari Ruspandi, 40, itu. Sekolah di Tiongkok tidak sebanyak di Indonesia. Ketika disebutkan sekolah di Indonesia dalam satu daerah memiliki lebih dari 100 lembaga, para guru di Tiongkok kaget.

Masyarkat Tiongkok sangat mengutamakan kesehatan. Tak heran jika banyak fasilitas olahraga yang disediakan. Jalan kaki atau bersepeda menjadi pilihan daripada naik kendaraan. Kecuali jaraknya sangat jauh.

”Untuk sampai ke tempat transportasi umum juga harus jalan. Saya sampai pegal jalan karena tidak biasa jalan kaki di sini,” canda perempuan yang pernah bertugas di SDN Kaloang 5 Gayam itu. Pola makan juga sangat dijaga. Gula sangat dihindari. Karena dianggap sebagai sumber banyak penyakit.

Menurut alumni MTs 3 dan MA 1 Annuqayah itu, banyak hal positif yang bisa dipelajari dari Tiongkok. Dari 1.000 guru berbagai provinsi yang ditugaskan menimba ilmu ke luar negeri, hanya 200 guru yang ditempatkan di Tiongkok. Sisanya disebarkan ke Belanda, Amerika, dan Australia.

”Tanggal 26 Februari kami pembekalan sampai 2 Maret. Dari 3–23 Maret di Tiongkok. 20 hari. Setelah itu, dari 24–30 Maret kami laporan hasil studi di Malang,” terang perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di SDN Kertagena Laok 2 dan MI Al-Ghazali Rombasan itu.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/