alexametrics
21.2 C
Madura
Sunday, May 29, 2022

Menyaksikan Riuhnya Karapan Kelinci yang Kian Digemari Masyarakat

Warga Pamekasan mulai ada yang menggemari karapan kelinci. Mereka menggelar event karapan kelinci untuk menyalurkan kesenangannya. Hampir setiap bulan warga di Kecamatan Galis mengadakan karapan kelinci.

ANIS BILLAH, Pamekasan

SUASANA di Desa Pagendingan, Kecamatan Galis, Pamekasan, cukup riuh kemarin (3/3). Suara seng ditabuh membuat bising telinga. Bunyi sound system bertalu-talu memanggil satu per satu peserta karapan kelinci. Terik matahari terasa membakar kulit.

Warga dalam kerumunan mengernyitkan dua alisnya karena silau matahari. Mereka asyik menonton karapan kelinci yang digelar di lapangan Desa Pagendingan. Keseruan menonton karapan kelinci membius warga sehingga abai akan panasnya matahari.

Tidak hanya orang tua, anak-anak hingga pemuda berpartisipasi meramaikan pergelaran karapan kelinci yang diikuti peserta dari Pamekasan, Sumenep, dan Sampang itu. Mereka memaksa kelinci berlari secepat-cepatnya dari pinggir pagar yang menjadi batas penonton.

Baca Juga :  Kepedulian Pemuda terhadap Korban Penonaktifan Kartu BPJS Kesehatan

M. Muhit, ketua panitia karapan kelinci sibuk memperhatikan jalannya lomba. Satu per satu kelinci melintas di depannya. Kata dia, warga banyak yang menyukai karapan kelinci. Hampir setiap bulan warga mengadakan perlombaan karapan kelinci di tempat berbeda.

Perawatan kelinci mudah dan tidak membutuhkan biaya banyak. ”Perawatan kelinci lebih mudah dibandingkan sapi dan kambing. Pagi kelinci dilap dengan air hangat, kemudian dijemur. Waktu makan kelinci dijaga betul agar berstamina,” katanya.

Karapan kelinci digelar sejak dulu. Pada 2000-an warga sudah sering menggelar karapan kelinci. Tapi, saat itu karapan kelinci tidak seramai sekarang. Sejak lima tahun lalu, karapan kelinci kembali digemari.

Warga mulai menggelar perlombaan di empat kabupaten di Madura. Semua kabupaten di Madura sudah pernah menggelar karapan kelinci. ”Setelah tahun 2000-an karapan kelinci mulai pudar. Kemudian, mulai 2014, warga menghidupkan lagi. Sekarang di semua kabupaten di Madura sudah ada lapangan karapan kelinci,” ungkapnya.

Baca Juga :  Empat Kecamatan Butuh Tambahan Puskesmas

Tidak semua kelinci bisa dilombakan. Biasanya kelinci kecil lebih cepat berlari besar. Untuk itu, warga lebih memilih kelinci Madura. ”Kelinci Madura biasanya lecih cepat larinya. Terutama yang dari Sumenep,” terangnya.

Muhit berharap kegiatan yang sudah mentradisi di kalangan masyarakat tersebut difasilitasi pemerintah. Yakni, dengan dilestarikan menjadi kekayaan tradisi Madura.

”Sudah ada wacana agar karapan kelinci masuk dalam tradisi Pamekasan. Tapi, kami belum tahu bagaimana caranya. Kami yakin karapan kelinci berpotensi dilestarikan,” tukasnya. (*/hud)

 

Berharap Dilestarikan Menjadi Kekayaan Tradisi Madura

Warga Pamekasan mulai ada yang menggemari karapan kelinci. Mereka menggelar event karapan kelinci untuk menyalurkan kesenangannya. Hampir setiap bulan warga di Kecamatan Galis mengadakan karapan kelinci.

ANIS BILLAH, Pamekasan

SUASANA di Desa Pagendingan, Kecamatan Galis, Pamekasan, cukup riuh kemarin (3/3). Suara seng ditabuh membuat bising telinga. Bunyi sound system bertalu-talu memanggil satu per satu peserta karapan kelinci. Terik matahari terasa membakar kulit.


Warga dalam kerumunan mengernyitkan dua alisnya karena silau matahari. Mereka asyik menonton karapan kelinci yang digelar di lapangan Desa Pagendingan. Keseruan menonton karapan kelinci membius warga sehingga abai akan panasnya matahari.

Tidak hanya orang tua, anak-anak hingga pemuda berpartisipasi meramaikan pergelaran karapan kelinci yang diikuti peserta dari Pamekasan, Sumenep, dan Sampang itu. Mereka memaksa kelinci berlari secepat-cepatnya dari pinggir pagar yang menjadi batas penonton.

Baca Juga :  Punya Tanggung Jawab Sebarkan Dakwah Rahmatan Lil Alamin

M. Muhit, ketua panitia karapan kelinci sibuk memperhatikan jalannya lomba. Satu per satu kelinci melintas di depannya. Kata dia, warga banyak yang menyukai karapan kelinci. Hampir setiap bulan warga mengadakan perlombaan karapan kelinci di tempat berbeda.

Perawatan kelinci mudah dan tidak membutuhkan biaya banyak. ”Perawatan kelinci lebih mudah dibandingkan sapi dan kambing. Pagi kelinci dilap dengan air hangat, kemudian dijemur. Waktu makan kelinci dijaga betul agar berstamina,” katanya.

Karapan kelinci digelar sejak dulu. Pada 2000-an warga sudah sering menggelar karapan kelinci. Tapi, saat itu karapan kelinci tidak seramai sekarang. Sejak lima tahun lalu, karapan kelinci kembali digemari.

Warga mulai menggelar perlombaan di empat kabupaten di Madura. Semua kabupaten di Madura sudah pernah menggelar karapan kelinci. ”Setelah tahun 2000-an karapan kelinci mulai pudar. Kemudian, mulai 2014, warga menghidupkan lagi. Sekarang di semua kabupaten di Madura sudah ada lapangan karapan kelinci,” ungkapnya.

Baca Juga :  Riko, Siswa SMK Peraih Juara 3 Festival Literasi Nasional

Tidak semua kelinci bisa dilombakan. Biasanya kelinci kecil lebih cepat berlari besar. Untuk itu, warga lebih memilih kelinci Madura. ”Kelinci Madura biasanya lecih cepat larinya. Terutama yang dari Sumenep,” terangnya.

Muhit berharap kegiatan yang sudah mentradisi di kalangan masyarakat tersebut difasilitasi pemerintah. Yakni, dengan dilestarikan menjadi kekayaan tradisi Madura.

”Sudah ada wacana agar karapan kelinci masuk dalam tradisi Pamekasan. Tapi, kami belum tahu bagaimana caranya. Kami yakin karapan kelinci berpotensi dilestarikan,” tukasnya. (*/hud)

 

Berharap Dilestarikan Menjadi Kekayaan Tradisi Madura

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/