Selasa, 26 Oct 2021
Radar Madura
Home / Features
icon featured
Features
Asmoni, Ketua STKIP PGRI Sumenep

Pendidikan Mampu Mengubah Keadaan

03 Oktober 2021, 19: 55: 25 WIB | editor : Abdul Basri

Pendidikan Mampu Mengubah Keadaan

GAGAH: Ketua STKIP PGRI Asmoni saat ditemui di ruang kerjanya pada Jumat (1/10). (ASMONI FOR RadarMadura.id)

Share this      

Kesuksesan tidak bisa dilalui dengan jalan instan. Butuh kerja keras, komitmen, dan tekad yang bulat. Itulah yang disampaikan Dr. Asmoni, M.Pd., saat ditemui Jawa Pos Radar Madura (JPRM) di ruang kerjanya.

MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

LAHIR dari keluarga miskin tidak tidak lantas membuat Asmoni muda putus asa. Dengan segala keterbatasan, dia berjuang keras agar mampu mendapat akses pendidikan tinggi. Sebab, dalam hemat Asmoni kala itu, hanya pendidikan yang mampu mengubah keadaan.

Baca juga: Aminah, Yudisium Terbaik Fakultas Hukum Unija 2020/2021

Dalam hidupnya, Asmoni muda sudah terbiasa dengan yang namanya kerja. Sehingga, ketika usianya sudah dirasa cukup untuk menempuh pendidikan dasar, dia pun melakukannya sambil bekerja dan menyambung hidup.

”Semasa kecil saya sudah terbiasa dengan konsep bekerja sambil sekolah. Saya bekerja sebagai buruh tambak garam. Ketika petani garam panen, kadang saya minta kepada mereka. Tidak banyak, hanya cukup satu sak kecil. Dikumpulkan kemudian dijual,” tuturnya.

Lelaki kelahiran 10 September 1977 itu menuturkan, uang dari hasil penjualan garamnya bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk menghidupi keluarga. Asmoni muda dibenturkan dengan lingkungan yang kontras dengan cara berpikirnya. Bahkan, ibunya juga terpengaruh lingkungan sekitar. ”Buat apa sekolah, wong kebutuhan hidup saja tidak terpenuhi. Itu kata ibu dulu,” kenang Asmoni.

Meski demikian, komitmen Asmoni tidak goyah. Seperti karang di pinggir pantai yang dihantam ombak berulang-ulang, ia tetap berdiri kukuh. ”Waktu itu saya bilang pada diri saya sendiri, harus sekolah. Saya juga tidak menargetkan mau jadi apa nantinya,” terang Asmoni.

Yang menarik dari perjuagan hidup Asmoni muda, yakni saat menghadapi masa transisi dari SD ke SMP. Asmoni mengakui, bahwa seusai lulus sekolah dasar, dia tidak punya pandangan akan melanjutkan studi ke mana. ”Ibu saya bilang, kamu sudah waktunya menjadi penopang ekonomi keluarga,” ungkapnya.

Tapi mimpi yang kuat mengubah segalanya. Asmoni muda tetap melanjutkan studinya. Lagi-lagi, dengan konsekuensi biaya sendiri. Tentunya dengan sambil bekerja. ”Cita-cita saya hanya ingin mengubah ekonomi keluarga. Saya tidak mau bekerja sebagai kuli, buruh tani, dan sebagainya. Saya ingin mengubah keadaan keluarga,” papar Asmoni.

Sepeninggal kakeknya, Asmoni muda terdesak situasi. Dia menjadi satu-satunya lelaki dalam keluarganya. Secara otomatis, dia punya beban moral yang sangat tinggi. Sejak SMP, dia menjadi tulang punggung keluarga. Tetapi dengan satu konsep yang sama. Yakni, sekolah sambil bekerja.

”Saat SMP justru lebih berat lagi. Tapi, saya sudah bisa menyesuaikan. Pekerjaan saya waktu itu bukan sebagai peminta-minta. Tapi, menjadi kuli pengangkut garam. Kadang saya ikut melaut bersama nelayan,” papar lelaki asal Desa Karanganyar, Kecamatan Kalianget, itu.

Singkat cerita, Asmoni berhasil menyelesaikan studi. Dari SD hingga SLTA. Tapi, ibarat mendaki gunung, perjuangan belum berakhir. Justru inilah jalan yang pada akhirnya mengantarkan Asmoni muda ke gerbang kesuksesan. Lulus SMA Asmoni merantau ke Surabaya, berperang melawan nasib. ”Saya harus berubah!” tegas Asmoni.

Di Surabaya, Asmoni mulai mencari pekerjaan. Tapi, keinginan untuk tetap melanjutkan studi tetap kuat. Di Surabaya, Asmoni menemukan batu loncatan bagi cita-citanya. Dia bekerja sebagai cleaning sevice di sebuah perusahaan. Gajinya saat itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sisanya dikirim ke ibunya di Sumenep.

”Pokoknya, berbagai usaha saya lakukan untuk bertahan hidup. Ketika kebutuhan ekonomi sudah seimbang, saya melanjutkan studi strata 1 di Unipra Surabaya hingga selesai,” terangnya.

Sebagai manusia yang dibekali akal dan budi, sambung Asmoni, pasti akan menemukan solusi dari setiap persoalan. Apalagi, dalam bahasa Madura dikenal peribahasa kar-karkar colpe’, yang mengajarkan pentingnya kesabaran dalam berusaha, hidup hemat untuk mencapai sukses, namun tetap memelihara semangat dan optimisme.

”Karena biaya hidup, kuliah, dan tanggung jawab pas-pasan, saya harus kerja ekstra. Pagi kuliah, siang kerja, dan malam saya jualan keripik. Di kisaran 1998 masih viral keripik singkong pedas. Itu yang saya jual,” tuturnya.

Asmoni percaya, Tuhan itu maha adil dalam segala hal. Jangankan perkara makan yang sebenarnya sangat sepele, pendidikan pun pasti dijamin. “Selepas lulus S-1, saya izin ke orang tua untuk melanjutkan ke jenjang S-2. Meskipun cara berpikir keluarga berbeda dengan saya, pelan-pelan berubah juga akhirnya,” kata Asmoni.

Asmoni memilih manajemen pendidikan di Unesa Surabaya. Saat itu dia sambil mengajar di STKIP PGRI Sumenep dan beberapa kampus lainnya. ”Saya kemudian ngajar di STKIP sejak 2004. Sebab, saat itu lulusan S-2 langka. Sembari mengajar, saya juga kuliah dan bekerja,” tambah Asmoni.

Asmoni juga punya keinginan pulang ke Madura. Dia tidak terlena dengan gemerlap pesona kota, yang menurut pandangan mayoritas, pekerjaan begitu mudah dan menjanjikan. Dia berpikir harus sukses di Madura. ”Saya berpikir, buat apa saya sukses di luar. Karena itu, saya memilih pulang ke Sumenep. Alhamdulillah, saya diterima di STKIP. Pada 2016, saya terpilih sebagai PAW untuk ketua STKIP,” jelasnya.

Memegang amanah sebagai pimpinan di satu instansi besar, Asmoni berupaya melakukan terobosan baru. Sembari melakukan studi ke jenjang S-3, dia tidak abai dengan tugas dan tanggung jawabnya. ”Saat itu saya menjadi ketua STKIP saat situasi tidak mendukung. Kepercayaan masyarakat minim. Bahkan, pada 2016 pendaftar di STKIP itu tidak sampai 100 mahasiswa,” ceritanya.

Asmoni terus bekerja mencari terobosan baru. Termasuk perbaikan untuk akreditasi di STKIP. Jika semula C, kini akhirnya menjadi B. Tak jarang dia dan teman-temannya melakukan negosiasi dengan pemerintah agar bisa menyerap dana untuk beasiswa Bidikmisi. ”Itu semua saya lakukan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat pada STKIP,” paparnya.

Semasa kepemimpinannya di STKIP, Asmoni berpikir, lulusan STKIP harus berubah, tidak hanya menjadi guru. Salah satu upayanya, yakni melakukan MoU dengan perbankan. Agar mahasiswa bisa magang di instansi tersebut.

”Memimpin satu perguruan tinggi merupakan perjalanan panjang hidup saya. Saya harus bisa memberikan manfaat kepada masyarakat luas. Betapa bahagianya melihat mahasiswa, yang sebelumnya tidak terpikirkan bakal bisa kuliah tapi kenyataannya bisa bergabung di STKIP. Teruslah belajar. Jangan pikir akan jadi apa nanti. Pekerjaan akan datang sendiri,” tandas Asmoni.

(mr/yan/jun/bas/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia