alexametrics
21.6 C
Madura
Wednesday, May 25, 2022

Ayah-Ibu Sempat Melarang, Kakek Jadi Inspirasi Nurmalita

SUMENEP – Brigadir Nurmalita lahir di Sumenep, 28 September 1989. Delapan tahun bergabung di kepolisian, dia menangani ratusan kasus pidana perempuan dan anak. Di balik sifatnya yang keras saat bertugas, Nur adalah pribadi yang tulus dan santun.

Tahun spesial bagi Brigadir Nurmalita yaitu 2008. Pada tahun itu dia berhasil menggapai impiannya menjadi abdi negara di kesatuan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Saat ini, brigadir yang akrab disapa Nur itu bertugas di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Sumenep.

Sebelum bertugas di Sumenep, Nur pernah bertugas di Polwil Madura dan Polda Jatim. Jawa Pos Radar Madura menjumpai Nur di sela-sela tugasnya di Polres Sumenep Sabtu (2/9). Seperti kebanyakan polwan yang lain, Nur terlihat rapi.

Sekilas, Nur terlihat galak. Tetapi anggapan itu hilang setelah melewati beberapa menit obrolan dengannya. Siapa sangka polisi wanita (polwan) yang sudah menangani ratusan kasus pidana terhadap perempuan dan anak ini pernah gagal seleksi masuk Polri.

”Saat itu saya baru selesai ujian SMA. Belum ada pengumuman kelulusan. Tapi saya sudah daftar seleksi masuk Polri,” ungkap anak sulung dari tiga bersaudara itu.

Sekitar sepuluh tahun silam, tepatnya 2007, Nur pernah mengikuti pendaftaran seleksi masuk Polri. Mendaftar melalui Polisi Wilayah Madura di Kabupaten Pamekasan, Nur optimistis bakal diterima. Sayangnya nasib berkata lain. Nur gagal menjalani tes kesehatan tahap akhir.

”Sempat kecewa saya waktu itu. Tapi rasa kecewa saya tidak lama,” ungkap wanita yang pernah menimba ilmu di SMAN 2 Sumenep itu.

Benar saja, setelah mengalami kegagalan, Nur kembali mendaftar untuk mengikuti seleksi masuk Polri. Hanya, keinginanya tersebut sempat ditentang oleh ibunya, Riskiyah. Ibunda Nur ingin anaknya melanjutnya pendidikan ke perguruan tinggi.

Baca Juga :  Se-Madura Hanya 117 Polwan

Tetapi keinginan Nur sudah bulat. Dia memaksakan untuk tetap ikut seleksi. Akhirnya kedua orang tua Nur menuruti keinginan anak tertuanya. ”Waktu itu bapak saya, Hainur Rosi namanya, sempat melarang saya. Ibu saya juga. Mereka ingin saya kuliah. Selain itu, mereka takut kalau saya gagal lagi, saya bakal frustasi,” jelasnya.

Dengan usaha yang ulet dan pantang menyerah, Nur berhasil menggapai mimpinya menjadi anggota Polri. Wajar saja. Kecintaan Nur terhadap pekerjaannya itu tertanam sejak dia masih di bangku SD. AKP Musarna (almarhum) yang tidak lain adalah kakeknya merupakan inspirator terbesar dalam hidupnya.

”Dulu saya melihat mbah (kakek), trus melihat Pak Polisi bantu orang nyeberang jalan, rasanya saya juga ingin seperti itu,” ungkapnya. Setelah masuk Polri, dia ditempatkan di Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Polda Jatim. Hanya sekitar empat bulan dia disana. Kemudian, dia dipindah ke Polwil Madura di Kabupaten Pamekasan sebagai anggota Sabhara.

Di Pamekasan pun dia tidak lama. Tepat 2010, dia dipindah ke tanah kelahirannya, Sumenep. setelah kepindahannya, dia masih sempat merasakan seragam Sabhara selama beberapa bulan. Sebelum dia dipindah ke satreskrim sebagai penyidik.

Sabhara merupakan satuan yang sangat berarti baginya. Di satuan itu, dia kenal dan jatuh cinta dengan seorang lelaki, Briptu Debi Kusman Aprianto. Keduanya saling jatuh cinta dan sempat membina rumah tangga.

Sayangnya, pernikahan tersebut tidak bertahan lama. Nur harus merelakan suami tercintanya pergi mendahuluinya. Dia meninggal akibat komplikasi penyakit yang bersarang di tubuhnya.

”Pernikahan saya hanya bertahan tiga tahun. Saya menikah 2012. Saya kenal beliau saat saya masih di Sabhara,” ungkapnya dengan sayu. Setelah itu, suasana ruangan hening. Sejenak terdengar suara detak jarum jam di dinding ruangan yang berukuran sekitar empat kali empat meter itu.

Baca Juga :  Perempuan Merupakan Madrasah Pertama bagi Anak-Anak

Nur adalah polwan yang tegas. Saat bertugas, dia akan menggunakan berbagai cara untuk membuat kasus yang ditanganinya selesai. Setelah ditempatkan di Unit PPA Satreskrim Polres Sumenep, dia belajar banyak mengenai cara menghadapi orang.

Sejak bergabung di Satreskrim tujuh tahun lalu, Nur menangani ratusan kasus pidana terhadap perempuan dan anak. Tahun ini saja, ada 23 kasus yang dia tangani. ”Pernah satu tahun sampai ada 50 kasus pidana terhadap perempuan dan anak,” ungkap wanita yang memiliki tinggi badan 165 cm itu.

Di samping sifatnya yang tegas, tidak jarang dia harus mengelus dada saat menjalankan tugas. Bukan karena takut atau hal lain, tapi karena prihatin. ”Terkadang saya miris. Di Sumenep ini marak sekali kasus persetubuhan terhadap anak. Parahnya, pelakunya juga masih anak-anak,” terangnya.

Menurutnya, prilaku anak di luar kewajaran itu sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Penyebabnya kebanyakan karena salah memahami informasi. ”Yang terakhir ada kasus seperti itu. Pelakunya dua anak masih sepupu. Korbannya juga dua anak dan juga masih memiliki hubungan sepupu. Coba bayangkan dua pasang anak-anak sudah memiliki pemikiran seks seperti orang dewasa. Dari mana mereka tahu,” tanyanya prihatin.

Menurutnya, orang tua saat ini perlu lebih ketat mengawasi anak mereka agar tidak menjadi generasi bobrok. ”Kalau anak kecil sudah tahu hal semacam itu, orang tuanya ke mana? Kok tidak ada yang mengawasi,” ucap Nur bertanya.

SUMENEP – Brigadir Nurmalita lahir di Sumenep, 28 September 1989. Delapan tahun bergabung di kepolisian, dia menangani ratusan kasus pidana perempuan dan anak. Di balik sifatnya yang keras saat bertugas, Nur adalah pribadi yang tulus dan santun.

Tahun spesial bagi Brigadir Nurmalita yaitu 2008. Pada tahun itu dia berhasil menggapai impiannya menjadi abdi negara di kesatuan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Saat ini, brigadir yang akrab disapa Nur itu bertugas di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Sumenep.

Sebelum bertugas di Sumenep, Nur pernah bertugas di Polwil Madura dan Polda Jatim. Jawa Pos Radar Madura menjumpai Nur di sela-sela tugasnya di Polres Sumenep Sabtu (2/9). Seperti kebanyakan polwan yang lain, Nur terlihat rapi.


Sekilas, Nur terlihat galak. Tetapi anggapan itu hilang setelah melewati beberapa menit obrolan dengannya. Siapa sangka polisi wanita (polwan) yang sudah menangani ratusan kasus pidana terhadap perempuan dan anak ini pernah gagal seleksi masuk Polri.

”Saat itu saya baru selesai ujian SMA. Belum ada pengumuman kelulusan. Tapi saya sudah daftar seleksi masuk Polri,” ungkap anak sulung dari tiga bersaudara itu.

Sekitar sepuluh tahun silam, tepatnya 2007, Nur pernah mengikuti pendaftaran seleksi masuk Polri. Mendaftar melalui Polisi Wilayah Madura di Kabupaten Pamekasan, Nur optimistis bakal diterima. Sayangnya nasib berkata lain. Nur gagal menjalani tes kesehatan tahap akhir.

”Sempat kecewa saya waktu itu. Tapi rasa kecewa saya tidak lama,” ungkap wanita yang pernah menimba ilmu di SMAN 2 Sumenep itu.

Benar saja, setelah mengalami kegagalan, Nur kembali mendaftar untuk mengikuti seleksi masuk Polri. Hanya, keinginanya tersebut sempat ditentang oleh ibunya, Riskiyah. Ibunda Nur ingin anaknya melanjutnya pendidikan ke perguruan tinggi.

Baca Juga :  Se-Madura Hanya 117 Polwan

Tetapi keinginan Nur sudah bulat. Dia memaksakan untuk tetap ikut seleksi. Akhirnya kedua orang tua Nur menuruti keinginan anak tertuanya. ”Waktu itu bapak saya, Hainur Rosi namanya, sempat melarang saya. Ibu saya juga. Mereka ingin saya kuliah. Selain itu, mereka takut kalau saya gagal lagi, saya bakal frustasi,” jelasnya.

Dengan usaha yang ulet dan pantang menyerah, Nur berhasil menggapai mimpinya menjadi anggota Polri. Wajar saja. Kecintaan Nur terhadap pekerjaannya itu tertanam sejak dia masih di bangku SD. AKP Musarna (almarhum) yang tidak lain adalah kakeknya merupakan inspirator terbesar dalam hidupnya.

”Dulu saya melihat mbah (kakek), trus melihat Pak Polisi bantu orang nyeberang jalan, rasanya saya juga ingin seperti itu,” ungkapnya. Setelah masuk Polri, dia ditempatkan di Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Polda Jatim. Hanya sekitar empat bulan dia disana. Kemudian, dia dipindah ke Polwil Madura di Kabupaten Pamekasan sebagai anggota Sabhara.

Di Pamekasan pun dia tidak lama. Tepat 2010, dia dipindah ke tanah kelahirannya, Sumenep. setelah kepindahannya, dia masih sempat merasakan seragam Sabhara selama beberapa bulan. Sebelum dia dipindah ke satreskrim sebagai penyidik.

Sabhara merupakan satuan yang sangat berarti baginya. Di satuan itu, dia kenal dan jatuh cinta dengan seorang lelaki, Briptu Debi Kusman Aprianto. Keduanya saling jatuh cinta dan sempat membina rumah tangga.

Sayangnya, pernikahan tersebut tidak bertahan lama. Nur harus merelakan suami tercintanya pergi mendahuluinya. Dia meninggal akibat komplikasi penyakit yang bersarang di tubuhnya.

”Pernikahan saya hanya bertahan tiga tahun. Saya menikah 2012. Saya kenal beliau saat saya masih di Sabhara,” ungkapnya dengan sayu. Setelah itu, suasana ruangan hening. Sejenak terdengar suara detak jarum jam di dinding ruangan yang berukuran sekitar empat kali empat meter itu.

Baca Juga :  Tak Ada Polwan di Kepulauan Sumenep

Nur adalah polwan yang tegas. Saat bertugas, dia akan menggunakan berbagai cara untuk membuat kasus yang ditanganinya selesai. Setelah ditempatkan di Unit PPA Satreskrim Polres Sumenep, dia belajar banyak mengenai cara menghadapi orang.

Sejak bergabung di Satreskrim tujuh tahun lalu, Nur menangani ratusan kasus pidana terhadap perempuan dan anak. Tahun ini saja, ada 23 kasus yang dia tangani. ”Pernah satu tahun sampai ada 50 kasus pidana terhadap perempuan dan anak,” ungkap wanita yang memiliki tinggi badan 165 cm itu.

Di samping sifatnya yang tegas, tidak jarang dia harus mengelus dada saat menjalankan tugas. Bukan karena takut atau hal lain, tapi karena prihatin. ”Terkadang saya miris. Di Sumenep ini marak sekali kasus persetubuhan terhadap anak. Parahnya, pelakunya juga masih anak-anak,” terangnya.

Menurutnya, prilaku anak di luar kewajaran itu sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Penyebabnya kebanyakan karena salah memahami informasi. ”Yang terakhir ada kasus seperti itu. Pelakunya dua anak masih sepupu. Korbannya juga dua anak dan juga masih memiliki hubungan sepupu. Coba bayangkan dua pasang anak-anak sudah memiliki pemikiran seks seperti orang dewasa. Dari mana mereka tahu,” tanyanya prihatin.

Menurutnya, orang tua saat ini perlu lebih ketat mengawasi anak mereka agar tidak menjadi generasi bobrok. ”Kalau anak kecil sudah tahu hal semacam itu, orang tuanya ke mana? Kok tidak ada yang mengawasi,” ucap Nur bertanya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/