alexametrics
20.9 C
Madura
Monday, June 27, 2022

Akh. Darus, Seniman Sepuh Buka Usaha Kerajinan Belangkon

Salah satu pekerjaan yang baik yakni membuka lapangan pekerjaan. Terlebih, memberi kesempatan bagi kaum muda untuk melakukan pekerjaan kreatif bernilai ekonomis. Itulah yang dilakukan Akh. Darus.

PERJALANAN dari pusat Kota Sumenep ke rumah industri Tinkerbell Art 9,1 kilometer dengan waktu tempuh 18 menit. Melewati destinasi wisata Asta Tinggi dan Water Park Sumekar.

Sampai di rumah Akh. Darus, rangka kendaraan musik tongtong terparkir di halaman beratap kanopi. Masih lengkap dengan alat musik. Hanya, hiasan kendaraan tidak terpasang. Beberapa belangkon tergeletak di teras rumah dan lantai. Belangkon khas Sumenep.

Siang itu, pria 64 tahun itu sampai di rumah di Desa Banasare, Kecamatan Rubaru, Sumenep, tersebut kemarin (1/11). Dia baru datang kulakan bahan usahanya. Sebelum itu, empat pemuda sudah menggelar tikar di teras. Mengerjakan kerajinan belangkon ditemani Sahria, 61, istri Darus.

Alumnus Sekolah Rakyat (SR) Banasare dan SMPN 1 Sumenep itu sudah tahu cara pembuatan belangkon sejak 1976. Pertama belajar pada salah satu perajin di Sumenep. Kemudian, lanjut belajar pembuatan belangkon ini saat meneruskan jenjang pendidikannya di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Pamekasan pada 1973. Meski sudah mengantongi teknik pembuatan, tidak lantas membuat Darus membuka usaha sendiri.

Alasannya, di Sumenep masih banyak perajin belangkon. Seperti di Kalianget, Kota, dan Batuputih. Dia tak ingin merintis usaha tandingan. Namun, dia terpaksa membuat 10 belangkon saat akan melakukan pentas keliling ke Jepang pada 1991. Untuk pertunjukan topeng dalang di tujuh kota di Negeri Sakura selama 21 hari. Bersama almarhum budayawan dan fotografer internasional Edhi Setiawan yang saat itu menjadi pembina organisasi seni budaya Topeng Sinar Sumekar.

”Memenuhi undangan dari The Japan Foundation. Saat itu kami tidak punya belangkon Sumenep untuk tampil di Jepang. Akhirnya, saya membuat 10 belangkon. Setelah itu tidak buat lagi,” kata pria lulusan Diploma II STKW Surabaya jurusan seni tari itu.

Darus baru kembali membuat belangkon saat salah satu temannya memesan 12 belangkon 1996 untuk kelompok karawitan. Setelah itu tidak memproduksi lagi karena di Sumenep masih banyak perajin. Jika ada pemesan dengan jumlah besar, dia arahkan agar memesan pada perajin-perajin lain yang aktif memproduksi.

Baca Juga :  Kreativitas Ibu-Ibu Nelayan Menyambut Musim Paceklik

Namun, pada 1990-an usaha kerajinan belangkon kurang menjanjikan. Hal itu membuat banyak generasi muda tidak mau belajar cara membuat belangkon. Karena menganggap industri rumahan ini tidak akan menguntungkan. Selain itu, pakaian adat mulai ditinggalkan. Dengan begitu, pesanan belangkon ikut menurun. Terlebih, pada awal 2000-an. Acara seremonial di Sumenep sudah banyak tak menggunakan penutup kepala khas ini.

Pada 2010, banyak sesepuh perajin tutup usia. Mereka tidak memiliki generasi penerus. Tahun itu juga bertepatan dengan perayaan Hari Jadi Ke-740 Sumenep. Karena banyaknya perajin tutup usia, Darus ditunjuk untuk menggarap belangkon khusus bupati yang digunakan pada peringatan hari jadi. Saat itu orang nomor satu di Kota Keris tersebut meminta belangkon dengan lima macam warna. Setelah diajukan, bupati merasa cocok dengan belangkon hasil produksinya. Sehingga, ayah Dwiyanti Yusa Fitria dan Sinta Rustria itu juga diminta membuat belangkon untuk anggota forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda).

Usahanya semakin menanjak pada 2012. Saat itu juga bertepatan dengan peringatan hari jadi Sumenep. Tidak hanya dari bupati dan forkopimda, pejabat dari dinas-dinas juga memesan. Nama Darus sebagai perajin belangkon semakin dikenal. Saat itu hasil kerajinannya belum terlalu bagus karena keterbatasan alat dan bahan. Selain itu belangkon yang dibuat masih satu motif. Barulah pada 2014 dia mendapat referensi bentuk dan motif belangkon raja-raja Sumenep.

Berkali-kali dia mengganti bahan. Awalnya masih menggunakan kardus dan koran sebagai bahan bentukan belangkon. Bahan luarnya menggunakan batik dan dalamnya kain. Tapi, penggunaan koran dikeluhkan konsumen karena mudah rusak jika terkena air atau keringat. Darus mencoba mengganti bahan bentukannya menggunakan sterofoam. Hasilnya bagus. Namun biaya bahannya lebih mahal. Khawatir tidak laku. Dia kembali mencari alternatif menggunakan bahan kertas mika. Namun, pengerjaannya lebih rumit.

”Saya menemukan cara untuk menggunakan bola plastik. Jadi tidak perlu dibentuk. Tinggal diatur ukurannya saja. Sampai sekarang,” kata pria kelahiran Sumenep, 18 Desember 1955 itu.

Kualitas hasil produksinya semakin bagus. Kemudian, salah satu toko oleh-oleh khas Sumenep tertarik memasarkan. Di situlah terjalin kerja sama. Toko dari Pamekasan juga pesan. ”Mereka kirim bahan, kami garap. Setelah itu ada lagi satu toko di Sumenep. Jadi di Sumenep ada dua toko kemudian di Pamekasan satu toko,” kata Darus.

Baca Juga :  Bayi Tidak Dibedong, Lututnya Bakal Bengkok?

Perkembangan usaha tersebut menuntut Darus tidak hanya memproduksi belangkon khas Sumenep. Tetapi juga khas Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan. Bentukan belangkon antarkabupaten di Madura tersebut berbeda.

Selain itu, ada pedagang yang menjual hasil kerajinannya ke daerah di luar Madura seperti di Jogjakarta, Lampung, Banjarmasin, Jakarta, dan daerah lainnya. ”Mereka pesan untuk dijual kepada orang Madura yang merantau di daerah-daerah itu. Kadang 50 sampai 100 belangkon,” ceritanya.

Harga belangkon biasa dilepas Rp 50 ribu. Sedangkan untuk kualitas bagus dengan pekerjaan lebih rumit Rp 100 ribu. Tidak hanya usaha kerajinan, pada 2010 Darus mendirikan sanggar Tinkerbell Art.

Sanggar tersebut terdiri dari seni tari, musik, dan teater. Anggotanya saat ini sekitar 70 orang remaja dan pemuda. Beberapa anggota diajak untuk ikut mengikuti kerajinan belangkon. Bahkan, juga mempekerjakan ibu-ibu sekitar rumah. Terlebih dari kalangan keluarga tidak mampu dan janda.

Dari pekerjaan kerajinan tersebut, anak muda anggota sanggar bisa mendapatkan penghasilan. Satu belangkon yang dibuat akan diberi ongkos Rp 10 ribu. Jika dalam sehari bisa membuat 5 belangkon, tinggal dikalikan Rp 10 ribu. ”Setiap hari produksi. Kadang sampai kewalahan. Apalagi kalau bertepatan dengan hari jadi. Pesanan sampai ribuan. Jadi kerjanya siang malam,” jelasnya.

Saat ini, ada sekitar 20 orang yang bergelut dengan kerajinan ini di rumah kreatif yang didirikan Darus. Termasuk keluarga sendiri yang membantu, baik dari produksi sampai pemasaran. Omzet setiap bulan bisa mencapai sekitar Rp 5 juta. Tapi, pada momen tertentu seperti peringatan hari jadi atau hari besar lainnya bisa lebih dari itu.

”Menyelamatkan anggota sanggar agar tidak terjerumus pada hal-hal yang tidak diinginkan. Agar berisi kegiatan positif dan kreatif. Inisiatif ini mendapat dukungan dari orang tua anak-anak,” pungkas seniman yang aktif di tari topeng sejak 1986 itu. 

Salah satu pekerjaan yang baik yakni membuka lapangan pekerjaan. Terlebih, memberi kesempatan bagi kaum muda untuk melakukan pekerjaan kreatif bernilai ekonomis. Itulah yang dilakukan Akh. Darus.

PERJALANAN dari pusat Kota Sumenep ke rumah industri Tinkerbell Art 9,1 kilometer dengan waktu tempuh 18 menit. Melewati destinasi wisata Asta Tinggi dan Water Park Sumekar.

Sampai di rumah Akh. Darus, rangka kendaraan musik tongtong terparkir di halaman beratap kanopi. Masih lengkap dengan alat musik. Hanya, hiasan kendaraan tidak terpasang. Beberapa belangkon tergeletak di teras rumah dan lantai. Belangkon khas Sumenep.


Siang itu, pria 64 tahun itu sampai di rumah di Desa Banasare, Kecamatan Rubaru, Sumenep, tersebut kemarin (1/11). Dia baru datang kulakan bahan usahanya. Sebelum itu, empat pemuda sudah menggelar tikar di teras. Mengerjakan kerajinan belangkon ditemani Sahria, 61, istri Darus.

Alumnus Sekolah Rakyat (SR) Banasare dan SMPN 1 Sumenep itu sudah tahu cara pembuatan belangkon sejak 1976. Pertama belajar pada salah satu perajin di Sumenep. Kemudian, lanjut belajar pembuatan belangkon ini saat meneruskan jenjang pendidikannya di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Pamekasan pada 1973. Meski sudah mengantongi teknik pembuatan, tidak lantas membuat Darus membuka usaha sendiri.

Alasannya, di Sumenep masih banyak perajin belangkon. Seperti di Kalianget, Kota, dan Batuputih. Dia tak ingin merintis usaha tandingan. Namun, dia terpaksa membuat 10 belangkon saat akan melakukan pentas keliling ke Jepang pada 1991. Untuk pertunjukan topeng dalang di tujuh kota di Negeri Sakura selama 21 hari. Bersama almarhum budayawan dan fotografer internasional Edhi Setiawan yang saat itu menjadi pembina organisasi seni budaya Topeng Sinar Sumekar.

”Memenuhi undangan dari The Japan Foundation. Saat itu kami tidak punya belangkon Sumenep untuk tampil di Jepang. Akhirnya, saya membuat 10 belangkon. Setelah itu tidak buat lagi,” kata pria lulusan Diploma II STKW Surabaya jurusan seni tari itu.

Darus baru kembali membuat belangkon saat salah satu temannya memesan 12 belangkon 1996 untuk kelompok karawitan. Setelah itu tidak memproduksi lagi karena di Sumenep masih banyak perajin. Jika ada pemesan dengan jumlah besar, dia arahkan agar memesan pada perajin-perajin lain yang aktif memproduksi.

Baca Juga :  Banyak Siswa Tak Dapat Bantuan Pendidikan

Namun, pada 1990-an usaha kerajinan belangkon kurang menjanjikan. Hal itu membuat banyak generasi muda tidak mau belajar cara membuat belangkon. Karena menganggap industri rumahan ini tidak akan menguntungkan. Selain itu, pakaian adat mulai ditinggalkan. Dengan begitu, pesanan belangkon ikut menurun. Terlebih, pada awal 2000-an. Acara seremonial di Sumenep sudah banyak tak menggunakan penutup kepala khas ini.

Pada 2010, banyak sesepuh perajin tutup usia. Mereka tidak memiliki generasi penerus. Tahun itu juga bertepatan dengan perayaan Hari Jadi Ke-740 Sumenep. Karena banyaknya perajin tutup usia, Darus ditunjuk untuk menggarap belangkon khusus bupati yang digunakan pada peringatan hari jadi. Saat itu orang nomor satu di Kota Keris tersebut meminta belangkon dengan lima macam warna. Setelah diajukan, bupati merasa cocok dengan belangkon hasil produksinya. Sehingga, ayah Dwiyanti Yusa Fitria dan Sinta Rustria itu juga diminta membuat belangkon untuk anggota forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda).

Usahanya semakin menanjak pada 2012. Saat itu juga bertepatan dengan peringatan hari jadi Sumenep. Tidak hanya dari bupati dan forkopimda, pejabat dari dinas-dinas juga memesan. Nama Darus sebagai perajin belangkon semakin dikenal. Saat itu hasil kerajinannya belum terlalu bagus karena keterbatasan alat dan bahan. Selain itu belangkon yang dibuat masih satu motif. Barulah pada 2014 dia mendapat referensi bentuk dan motif belangkon raja-raja Sumenep.

Berkali-kali dia mengganti bahan. Awalnya masih menggunakan kardus dan koran sebagai bahan bentukan belangkon. Bahan luarnya menggunakan batik dan dalamnya kain. Tapi, penggunaan koran dikeluhkan konsumen karena mudah rusak jika terkena air atau keringat. Darus mencoba mengganti bahan bentukannya menggunakan sterofoam. Hasilnya bagus. Namun biaya bahannya lebih mahal. Khawatir tidak laku. Dia kembali mencari alternatif menggunakan bahan kertas mika. Namun, pengerjaannya lebih rumit.

”Saya menemukan cara untuk menggunakan bola plastik. Jadi tidak perlu dibentuk. Tinggal diatur ukurannya saja. Sampai sekarang,” kata pria kelahiran Sumenep, 18 Desember 1955 itu.

Kualitas hasil produksinya semakin bagus. Kemudian, salah satu toko oleh-oleh khas Sumenep tertarik memasarkan. Di situlah terjalin kerja sama. Toko dari Pamekasan juga pesan. ”Mereka kirim bahan, kami garap. Setelah itu ada lagi satu toko di Sumenep. Jadi di Sumenep ada dua toko kemudian di Pamekasan satu toko,” kata Darus.

Baca Juga :  Pengenalan Lingkungan Madrasah Dimulai Besok

Perkembangan usaha tersebut menuntut Darus tidak hanya memproduksi belangkon khas Sumenep. Tetapi juga khas Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan. Bentukan belangkon antarkabupaten di Madura tersebut berbeda.

Selain itu, ada pedagang yang menjual hasil kerajinannya ke daerah di luar Madura seperti di Jogjakarta, Lampung, Banjarmasin, Jakarta, dan daerah lainnya. ”Mereka pesan untuk dijual kepada orang Madura yang merantau di daerah-daerah itu. Kadang 50 sampai 100 belangkon,” ceritanya.

Harga belangkon biasa dilepas Rp 50 ribu. Sedangkan untuk kualitas bagus dengan pekerjaan lebih rumit Rp 100 ribu. Tidak hanya usaha kerajinan, pada 2010 Darus mendirikan sanggar Tinkerbell Art.

Sanggar tersebut terdiri dari seni tari, musik, dan teater. Anggotanya saat ini sekitar 70 orang remaja dan pemuda. Beberapa anggota diajak untuk ikut mengikuti kerajinan belangkon. Bahkan, juga mempekerjakan ibu-ibu sekitar rumah. Terlebih dari kalangan keluarga tidak mampu dan janda.

Dari pekerjaan kerajinan tersebut, anak muda anggota sanggar bisa mendapatkan penghasilan. Satu belangkon yang dibuat akan diberi ongkos Rp 10 ribu. Jika dalam sehari bisa membuat 5 belangkon, tinggal dikalikan Rp 10 ribu. ”Setiap hari produksi. Kadang sampai kewalahan. Apalagi kalau bertepatan dengan hari jadi. Pesanan sampai ribuan. Jadi kerjanya siang malam,” jelasnya.

Saat ini, ada sekitar 20 orang yang bergelut dengan kerajinan ini di rumah kreatif yang didirikan Darus. Termasuk keluarga sendiri yang membantu, baik dari produksi sampai pemasaran. Omzet setiap bulan bisa mencapai sekitar Rp 5 juta. Tapi, pada momen tertentu seperti peringatan hari jadi atau hari besar lainnya bisa lebih dari itu.

”Menyelamatkan anggota sanggar agar tidak terjerumus pada hal-hal yang tidak diinginkan. Agar berisi kegiatan positif dan kreatif. Inisiatif ini mendapat dukungan dari orang tua anak-anak,” pungkas seniman yang aktif di tari topeng sejak 1986 itu. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Tembakau Lokal Lebih Berkualitas

Pembangunan Sport Center Molor

Tuntas Bangun Jalan Poros Antardusun

Artikel Terbaru

/