alexametrics
21.9 C
Madura
Tuesday, July 5, 2022

Tidur di Kongsi, Nyawa Jadi Taruhan

MALAYSIA – Menjadi TKI di Malaysia kadang tak seindah yang dibayangkan. Banyak keluh kesah yang mereka alami. Harapan mereka tidak berbanding lurus dengan realitas.

Kehidupan orang Madura yang menjadi TKI di Malaysia cukup memprihatinkan. Tempat tinggal mereka yang disebut kongsi itu jauh dari layak. Terbuat dari pohon bambu. Ada pula dari tripleks. Ukurannya pun sangat kecil. Hanya cukup untuk memuat satu atau dua orang.

Kongsi itu ada yang berlokasi di dekat tempat kerja. Ada pula di pegunungan, jauh dari perkampungan penduduk. Hanya sebagian kecil TKI yang tinggal di rumah susun.

Jawa Pos Radar Madura (JPRM) menelusuri kongsi-kongsi para TKI itu tinggal Jumat–Sabtu (27–28/10). Dibutuhkan waktu berjam-jam dengan jarak tempuh puluhan kilometer. Koran ini berusaha bertemu langsung dengan mereka di penginapan.

Kali pertama di daerah Kajang. Kongsi TKI berlokasi di dekat bangunan yang mereka kerjakan. Di belakang kongsi yang terbuat dari tripleks itu, menjulang bangunan apartemen puluhan lantai. Setiap hari mereka mengerjakan bangunan apartemen tersebut.

Tiba di kongsi TKI sekitar pukul 16.00, Jumat (27/10). Saat itu TKI sudah istirahat dari kerjanya. Sebagian sudah menyambut kedatangan kami. Komunikasi langsung nyambung. Langsung akrab dan saling bertanya ihwal masing-masing. Tertawa lepas dan saling rangkul terjadi.

Kemudian mereka mempersilakan koran ini duduk di serambi kongsi itu. Sembari mereka menyuguhkan minuman dan makanan.

Kongsi yang mereka tempati itu gratis selama bangunan yang dikerjakan bertahun-tahun itu belum selesai. Setelah bangunan selesai, mereka kembali pindah ke kongsi baru dekat bangunan yang akan dikerjakan. Begitu seterusnya.

Baca Juga :  Pekerja Legal Lebih Leluasa

”Mau pulang malu, tak pulang rindu,” tulisan seperti di bak truk itu terpampang di dinding tripleks tempat tinggal mereka. Tulisan itu menggambarkan bagaimana nasib menjadi TKI.

Keesokan harinya, Sabtu (28/10), koran ini bergeser ke kongsi yang berlokasi di pegunungan, di daerah Shah Alam, Selangor. Menaiki kendaraan roda empat, butuh waktu berjam-jam menuju lokasi tersebut dari kongsi pertama dikunjungi. Kongsi ini dikelilingi kelapa sawit. Suasananya adem dan rindang.

Di kongsi itu para TKI banyak yang memelihara ayam. Biasanya ayam itu disembelih ketika ada kegiatan keislaman. Seperti pengajian, Isra Mikraj, Maulid Nabi, dan sebagainya. Suasananya seperti di perkampungan.

Tempat tinggal mereka itu juga terbuat dari pohon bambu dan tripleks. Namun kondisinya lebih layak jika dibandingkan dengan kongsi di dekat bangunan. Mereka tinggal di tempat itu dianggap lebih aman dari razia kepolisian.

Mereka tinggal di sana sudah ada yang tiga tahun hingga puluhan tahun. Hanya, untuk tinggal di tempat itu harus bayar sewa tanah. Setiap bulan biayanya 50 ringgit atau sekitar Rp 150 ribu. Listrik juga harus dibayar sekitar 35 ringgit.

Mereka yang menginap di kongsi-kongsi itu selalu dihantui rasa tidak tenang. Tidur pun tidak nyenyak. Mereka khawatir tiba-tiba ada operasi. Sebab, rata-rata berstatus TKI ilegal.

Berbagai cara dilakukan agar mereka selamat dari operasi. Di antaranya, setiap orang membayar 50 ringgit. Uang itu dikoordinasi oleh  ketua kongsi.

Informasinya, uang itu diberikan kepada oknum aparat keamanan setempat. Dengan begitu, ketika ada razia atau operasi, pihak keamanan bisa membocorkan kepada ketua-ketua kongsi. Para TKI pun bisa kabur ke hutan sebelum petugas datang.

Baca Juga :  Di Pedukuhan Puncak Bukit Gadding, Kiai Bajigur Inisiasi Istighotsah

Mereka tidak peduli tertusuk duri dan ancaman bahaya lainnya. Yang ada dalam pikiran mereka, ingin selamat dari razia. Tempat persembunyiannya mencapai puluhan kilometer dari kongsi yang ditempati.

Mereka biasanya tinggal berhari-hari hingga keadaan benar-benar aman. Aman tidaknya mereka diberi tahu TKI lain yang legal. Selama ada dalam persembunyian, mereka dikirimi makanan oleh TKI resmi itu.

”Maske badha e attas lantai bangunan, alonca’ manabi pon badha operasiyan. Kadhang potong. Mellas daddi TKI kaangguy anafkae kaluarga e bingkeng. Se moleya, todhus ka tatangga, soalla semangkat gi’ aotang (meski ada di atas lantai bangunan loncat jika ada razia. Kadang patah tulang. Menjadi TKI untuk menafkahi keluarga itu sulit. Yang mau pulang malu kepada tetangga karena biaya untuk berangkat masih ngutang),” kata Syarif, sembari berlinang air mata.

Permasalahan lain, lanjut Syarif, sering kali upah TKI lambat dibayar. Lambat 3–6 bulan itu sudah biasa. Ketika tidak dibayar, TKI pun kesulitan membeli makanan. Terpaksa harus ngutang ke kantin di kongsi.

”Kalau lambat dibayar, tidak bisa mengirim uang ke keluarga di Madura. Sebab, hanya cukup untuk membayar utang. Meskipun ada lebihnya tidak seberapa. Kalau langsung digaji, bisa langsung ngirim ke keluarga,” kata pria asal Pamekasan itu.

MALAYSIA – Menjadi TKI di Malaysia kadang tak seindah yang dibayangkan. Banyak keluh kesah yang mereka alami. Harapan mereka tidak berbanding lurus dengan realitas.

Kehidupan orang Madura yang menjadi TKI di Malaysia cukup memprihatinkan. Tempat tinggal mereka yang disebut kongsi itu jauh dari layak. Terbuat dari pohon bambu. Ada pula dari tripleks. Ukurannya pun sangat kecil. Hanya cukup untuk memuat satu atau dua orang.

Kongsi itu ada yang berlokasi di dekat tempat kerja. Ada pula di pegunungan, jauh dari perkampungan penduduk. Hanya sebagian kecil TKI yang tinggal di rumah susun.


Jawa Pos Radar Madura (JPRM) menelusuri kongsi-kongsi para TKI itu tinggal Jumat–Sabtu (27–28/10). Dibutuhkan waktu berjam-jam dengan jarak tempuh puluhan kilometer. Koran ini berusaha bertemu langsung dengan mereka di penginapan.

Kali pertama di daerah Kajang. Kongsi TKI berlokasi di dekat bangunan yang mereka kerjakan. Di belakang kongsi yang terbuat dari tripleks itu, menjulang bangunan apartemen puluhan lantai. Setiap hari mereka mengerjakan bangunan apartemen tersebut.

Tiba di kongsi TKI sekitar pukul 16.00, Jumat (27/10). Saat itu TKI sudah istirahat dari kerjanya. Sebagian sudah menyambut kedatangan kami. Komunikasi langsung nyambung. Langsung akrab dan saling bertanya ihwal masing-masing. Tertawa lepas dan saling rangkul terjadi.

Kemudian mereka mempersilakan koran ini duduk di serambi kongsi itu. Sembari mereka menyuguhkan minuman dan makanan.

Kongsi yang mereka tempati itu gratis selama bangunan yang dikerjakan bertahun-tahun itu belum selesai. Setelah bangunan selesai, mereka kembali pindah ke kongsi baru dekat bangunan yang akan dikerjakan. Begitu seterusnya.

Baca Juga :  Dua Tahun, 2.390 TKI Asal Sampang Dipulangkan

”Mau pulang malu, tak pulang rindu,” tulisan seperti di bak truk itu terpampang di dinding tripleks tempat tinggal mereka. Tulisan itu menggambarkan bagaimana nasib menjadi TKI.

Keesokan harinya, Sabtu (28/10), koran ini bergeser ke kongsi yang berlokasi di pegunungan, di daerah Shah Alam, Selangor. Menaiki kendaraan roda empat, butuh waktu berjam-jam menuju lokasi tersebut dari kongsi pertama dikunjungi. Kongsi ini dikelilingi kelapa sawit. Suasananya adem dan rindang.

Di kongsi itu para TKI banyak yang memelihara ayam. Biasanya ayam itu disembelih ketika ada kegiatan keislaman. Seperti pengajian, Isra Mikraj, Maulid Nabi, dan sebagainya. Suasananya seperti di perkampungan.

Tempat tinggal mereka itu juga terbuat dari pohon bambu dan tripleks. Namun kondisinya lebih layak jika dibandingkan dengan kongsi di dekat bangunan. Mereka tinggal di tempat itu dianggap lebih aman dari razia kepolisian.

Mereka tinggal di sana sudah ada yang tiga tahun hingga puluhan tahun. Hanya, untuk tinggal di tempat itu harus bayar sewa tanah. Setiap bulan biayanya 50 ringgit atau sekitar Rp 150 ribu. Listrik juga harus dibayar sekitar 35 ringgit.

Mereka yang menginap di kongsi-kongsi itu selalu dihantui rasa tidak tenang. Tidur pun tidak nyenyak. Mereka khawatir tiba-tiba ada operasi. Sebab, rata-rata berstatus TKI ilegal.

Berbagai cara dilakukan agar mereka selamat dari operasi. Di antaranya, setiap orang membayar 50 ringgit. Uang itu dikoordinasi oleh  ketua kongsi.

Informasinya, uang itu diberikan kepada oknum aparat keamanan setempat. Dengan begitu, ketika ada razia atau operasi, pihak keamanan bisa membocorkan kepada ketua-ketua kongsi. Para TKI pun bisa kabur ke hutan sebelum petugas datang.

Baca Juga :  Masakan Kesukaan Buka Puasa Ketua DPRD Bangkalan Muhammad Fahad

Mereka tidak peduli tertusuk duri dan ancaman bahaya lainnya. Yang ada dalam pikiran mereka, ingin selamat dari razia. Tempat persembunyiannya mencapai puluhan kilometer dari kongsi yang ditempati.

Mereka biasanya tinggal berhari-hari hingga keadaan benar-benar aman. Aman tidaknya mereka diberi tahu TKI lain yang legal. Selama ada dalam persembunyian, mereka dikirimi makanan oleh TKI resmi itu.

”Maske badha e attas lantai bangunan, alonca’ manabi pon badha operasiyan. Kadhang potong. Mellas daddi TKI kaangguy anafkae kaluarga e bingkeng. Se moleya, todhus ka tatangga, soalla semangkat gi’ aotang (meski ada di atas lantai bangunan loncat jika ada razia. Kadang patah tulang. Menjadi TKI untuk menafkahi keluarga itu sulit. Yang mau pulang malu kepada tetangga karena biaya untuk berangkat masih ngutang),” kata Syarif, sembari berlinang air mata.

Permasalahan lain, lanjut Syarif, sering kali upah TKI lambat dibayar. Lambat 3–6 bulan itu sudah biasa. Ketika tidak dibayar, TKI pun kesulitan membeli makanan. Terpaksa harus ngutang ke kantin di kongsi.

”Kalau lambat dibayar, tidak bisa mengirim uang ke keluarga di Madura. Sebab, hanya cukup untuk membayar utang. Meskipun ada lebihnya tidak seberapa. Kalau langsung digaji, bisa langsung ngirim ke keluarga,” kata pria asal Pamekasan itu.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/