Selasa, 26 Oct 2021
Radar Madura
Home / Features
icon featured
Features
Kegagalan dan Kekecewaan Membawaku ke Eropa

Nonton Lionel Messi setelah Penuhi Credit Point

Oleh RIZKY DWI KURNIAWAN

02 Oktober 2021, 20: 37: 41 WIB | editor : Abdul Basri

Nonton Lionel Messi setelah Penuhi Credit Point

CINTA TANAH AIR: Rizky Dwi Kurniawan berfoto dengan bendera Merah Putih di Stadion Camp Nou Barcelona. (RIZKY DWI KURNIAWAN FOR RadarMadura.id)

Share this      

Belajar dari pagi hingga pagi lagi menjadi kegiatan sehari-hari sejak sebulan jelang ujian. Sistem kebut semalam tidak berlaku. Singkirkan pikiran untuk mencotek atau melakukan hal curang saat ujian.

KULIAH S-1 di Jerman merupakan sebuah pengalaman yang luar biasa, bukan hanya kemampuan otak tapi mental. Ketangguhan kita sangat dilatih di sini. Dari ketiga aspek tersebut, mental yang tidak kenal menyerah adalah yang paling dilatih.

Kuliah di Jerman membuat saya paham bahwa bukan gelar yang kita dapatkan yang membuat bangga terhadap diri kita. Namun apa yang telah kita lalui, segala pengalaman yang mengubah kita menjadi seorang yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Baca juga: Lulus Dua Hari sebelum Ulang Tahun Ke-25

Nonton Lionel Messi setelah Penuhi Credit Point

SENANG: Rizky Dwi Kurniawan berfoto depan Stadion Schalke 04 sebelum melihat pertandingan bola Jerman vs Belanda. (RIZKY DWI KURNIAWAN FOR RadarMadura.id)

Jadi buat siapa pun, saya selalu berpesan jangan pernah banggakan titel yang kamu dapatkan. Tapi, banggalah ketika apa yang kamu dapatkan itu adalah hasil dari proses yang membuatmu menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Karena bukan gelar yang membuat kita terdidik, tapi setiap yang kita lalui dan pemaknaan terhadapnya yang membuat kita terdidik.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya bahwa kehidupan perkuliahan saya berbeda 180 derajat dari yang pernah saya bayangkan. Karena selain kuliah yang susah, kegiatan di luar perkuliahan pun merupakan kegiatan yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan. Ya, seperti banyak cerita orang yang kuliah di luar negeri bahwa mereka bekerja sambil kuliah, saya pun juga melakukan kerja part time selama masa perkuliahan.

Meskipun pada awalnya orang tua tidak mengizinkan namun karena malu dengan teman teman yang mayoritas kuliah sambil bekerja, akhirnya saya memutuskan untuk kerja part time juga. Banyak pekerjaan yang saya lakukan. Mulai dari menjadi loper koran hingga menjadi buruh pabrik saat liburan. Bekerja part time memberikan saya banyak pelajaran hidup. Mulai dari susahnya mencari uang dan menghargai setiap pekerjaan orang.

Dari kerja part time saya bertemu dengan orang-orang baru yang perjuangannya menggapai mimpinya di Jerman jauh lebih luar biasa daripada saya. Banyak dari mereka yang memenuhi segala kebutuhan mereka selama kuliah dengan keringat mereka sendiri. Cerita mereka sungguh mematahkan presepsi bahwa kalau ingin kuliah di luar negeri harus memiliki support finansial yang baik dari keluarga.

Mereka membuktikan bahwa bekal yang kita harus punya untuk bisa kuliah di luar negeri hanya dua yaitu tekad dan semangat. Selama kita masih memiliki keduanya, akan selalu ada jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi, mau itu finansial atau masalah lainnya. Sungguh sangat beruntung rasanya diberi kesempatan untuk bisa bertemu dan dikelilingi dengan orang-orang yang sungguh-sungguh berjuang menggapai mimpinya dan bertanggung jawab akan setiap pilihan yang telah dipilihnya.

Selain bekerja part time, saya juga melakukan bisnis kecil-kecilan bersama teman. Sedikit banyak bisa memenuhi segala kebutuhan dan keinginan saya. Dari hasil kerja dan bisnis yang saya dapatkan, saya pergunakan untuk memberikan reward kepada diri saya ketika telah mencapai target yang saya tetapkan sendiri. Salah satunya ketika saya berhasil memenuhi syarat credit point untuk bisa menulis tesis.

Pada saat itu saya memberikan reward kepada diri saya dengan liburan dan menonton pertandingan FC Barcelona. Menonton pertandingan Barcelona langsung di Stadion Camp Nou merupakan mimpi saya sejak kecil. Bahagia sekali rasanya bisa melihat Lionel Messi secara langsung, pemain favorit saya yang sebelumnya hanya bisa saya lihat di TV dan PlayStation saja.

Perjalanan yang tidak pernah saya bayangkan. Perjalanan dari sebuah kegagalan yang ternyata sebuah titik saya untuk berpindah ke tempat seharusnya. Kegagalan yang dulu saya sesali kini menjadi hal yang paling saya syukuri. Terkadang saya suka berpikir jika pada saat itu saya tidak gagal, mungkin saya tidak akan menjadi seperti sekarang. Mungkin mental saya pun tidak akan terlatih seperti sekarang. Mungkin saya tidak pernah sadar akan potensi dari diri saya yang tertutupi karena kemalasan dan ketakutan saya.

Dari semua yang saya lalui, kini saya bisa berkata dengan yakin bahwa Tuhan tidak pernah berkata tidak terhadap doa kita. Tuhan hanya menjawab doa kita dengan tiga jawaban. Yaitu ”Iya Aku beri sekarang”, ”Iya, tapi belum saat ini”, dan ”Tuhan punya yang lebih baik”. Sebuah keyakinan yang membuat saya tidak perlu takut lagi dengan apa yang akan saya peroleh selama saya tetap berusaha keras untuk apa yang saya impikan.

Dari perjalanan yang saya lalui, saya juga belajar bahwa setiap orang selalu berangkat dari titik yang sama, yaitu titik ketidaktahuan dan ketidakbisaan. Namun yang dibutuhkan kita cuma satu, keberanian untuk tetap melangkah meskipun diri kita sendiri merasa tidak bisa. Karena hanya dengan melangkah kita bisa tahu apakah kita mampu atau tidak.

Sebagai penutup dan pesan buat semua yang membaca tulisan saya, buat siapa saja yang selalu merasa takut melangkah karena omongan orang lain, maka ini pesan terakhir saya: If you want to know the truth, no one is going to tell you the truth. They are only going to tell you their versioin. If you want the truth, you have to seek it out for yourself”. 

(mr/luq/bas/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia