alexametrics
26.5 C
Madura
Wednesday, June 29, 2022

Syaikhona Kholil Didik Santri Ilmu Agama dan Cinta Tanah Air (2)

Sikap Syaikhona Muhammad Kholil terhadap pemerintahan Hindia Belanda mencapai puncak kemarahan. Dia mengibaratkan Belanda itu sebagai pencuri dan perampok yang harus dipotong tangan dan kakinya.

DAFIR FALAH, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

PERLAWANAN Syaikhona Muhammad Kholil terhadap pemerintahan Hindia Belanda tidak ditunjukkan dengan adu fisik. Tetapi, melalui mimbar-mimbar musala. Nilai-nilai nasionalisme dia tanamkan kepada para santrinya.

Melalui cara itu, santri-santrinya mengimplementasikan perlawanan dengan bentuk fisik di berbagai belahan nusantara. Syaikhona Muhammad Kholil betul-betul geram dan marah besar kepada kolonialisme. Dia menginginkan kekuasaan Belanda di tanah air pada masa itu harus segera diakhiri.

Syaikhona Muhammad Kholil mengibaratkan Belanda sebagai pencuri yang wajib dipotong tangan dan kakinya. Hal itu terungkap dalam manuskrip yang ditemukan berupa tulisan tangan Syaikhona Muhammad Kholil.

Ketua Tim Kajian Akademik dan Biografi Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan Dr Muhaimin menceritakan, atase pemerintahan Hindia Belanda di Surabaya pernah berkirim surat. Surat itu ditujukan kepada Kiai Hadji Halil dissi Kapook, Bangkalan.

Baca Juga :  Kecamatan Modung Sukses Laksanakan Musrenbangcam

Amplop surat yang dikirimkan kepada Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan dengan kop ”Scheepsagentuur Voorheen J. Daendels & Co, Gravenhage, Batavia, SEMARANG, SOERABAJA, PADANG, MACASSER, SINGAPORE”. Sementara di bawah terdapat tulisan INI SOERAT DARI BALANDAH SOERABAJA.

Menurut Muhaimin, pada amplop terdapat tulisan tangan Syaikhona Muhammad Kholil. Berupa tulisan arab pegon Allahumma inna hadhaa lissun saarikun faqto’ yadhahu wa rijlahu. Artinya, ”Ya Allah, bahwa ini (pemerintah Hindia Belanda) adalah perampok dan pencuri, maka potonglah tangan dan kakinya”.

”Dari guratan tulisan itu menggambarkan jika Syaikhona benar-benar marah dan geram terhadap pemerintahan Hindia Belanda,” terangnya.

Muhaimin menyampaikan, melalui kalimat doa itu Syaikhona Muhammad Kholil ingin menegaskan bahwa kolonial Belanda itu sudah berlaku zalim dan sewenang-wenang kepada masyarakat pribumi. Karena itu, harus dilawan dan diadukan kepada Tuhan.

”Bentuk perlawanan Syaikhona itu benar-benar nyata, yang diimplementasikan dalam visi-misi gerakannya membebaskan bangsa dari cengkeraman pemerintah Hindia Belanda, melalui gelora semangat mimbar-mimbar musala dan pengajian kitab kuning,” papar Muhaimin.

Baca Juga :  Aksi Putra Meonk dan Jhala Sottra di Pembukaan MTQ XXIX Jatim

Guratan tulisan itu diperkirakan ketika Syaikhona berumur 65 tahun. Menurut Muhaimin, pada usia 65 tahun Syaikhona Muhammad Kholil berada pada puncak keemasan. Kealiman, kewibawaan, ketokohan, kemasyhuran, dan lainnya dimiliki oleh Syaikhona.

Sebagaimana angka yang tertulis dalam perangko ”15 11 1899”. Itu dapat disimpulkan bahwa pemerintah Hindia Belanda mengirim surat kepada Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan pada tanggal 15 November 1899.

Kesaksian Kiai Abdul Mu’thiy dan keberadaan guratan tulisan tangan semakin memperjelas posisi Syaikhona Muhammad Kholil dalam perlawanannya terhadap pemerintah Hindia Belanda. Syaikhona sangat sadar bahwa perjuangan harus distrategikan dengan lebih matang melalui pendidikan, karya, dan pesantren.

”Syaikhona itu menegaskan bahwa cita-cita gurunya, Syekh Nawawi al-Bantani, harus dilanjutkan. Inspirasi kisah perjuangan Syekh Nawawi Banten yang terpaksa terusir dari tanah Jawa harus diubah,” tutur Muhaimin.

Sikap Syaikhona Muhammad Kholil terhadap pemerintahan Hindia Belanda mencapai puncak kemarahan. Dia mengibaratkan Belanda itu sebagai pencuri dan perampok yang harus dipotong tangan dan kakinya.

DAFIR FALAH, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

PERLAWANAN Syaikhona Muhammad Kholil terhadap pemerintahan Hindia Belanda tidak ditunjukkan dengan adu fisik. Tetapi, melalui mimbar-mimbar musala. Nilai-nilai nasionalisme dia tanamkan kepada para santrinya.


Melalui cara itu, santri-santrinya mengimplementasikan perlawanan dengan bentuk fisik di berbagai belahan nusantara. Syaikhona Muhammad Kholil betul-betul geram dan marah besar kepada kolonialisme. Dia menginginkan kekuasaan Belanda di tanah air pada masa itu harus segera diakhiri.

Syaikhona Muhammad Kholil mengibaratkan Belanda sebagai pencuri yang wajib dipotong tangan dan kakinya. Hal itu terungkap dalam manuskrip yang ditemukan berupa tulisan tangan Syaikhona Muhammad Kholil.

Ketua Tim Kajian Akademik dan Biografi Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan Dr Muhaimin menceritakan, atase pemerintahan Hindia Belanda di Surabaya pernah berkirim surat. Surat itu ditujukan kepada Kiai Hadji Halil dissi Kapook, Bangkalan.

Baca Juga :  Selama Ramadan Rela Tak Ngopi demi Teman

Amplop surat yang dikirimkan kepada Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan dengan kop ”Scheepsagentuur Voorheen J. Daendels & Co, Gravenhage, Batavia, SEMARANG, SOERABAJA, PADANG, MACASSER, SINGAPORE”. Sementara di bawah terdapat tulisan INI SOERAT DARI BALANDAH SOERABAJA.

Menurut Muhaimin, pada amplop terdapat tulisan tangan Syaikhona Muhammad Kholil. Berupa tulisan arab pegon Allahumma inna hadhaa lissun saarikun faqto’ yadhahu wa rijlahu. Artinya, ”Ya Allah, bahwa ini (pemerintah Hindia Belanda) adalah perampok dan pencuri, maka potonglah tangan dan kakinya”.

”Dari guratan tulisan itu menggambarkan jika Syaikhona benar-benar marah dan geram terhadap pemerintahan Hindia Belanda,” terangnya.

Muhaimin menyampaikan, melalui kalimat doa itu Syaikhona Muhammad Kholil ingin menegaskan bahwa kolonial Belanda itu sudah berlaku zalim dan sewenang-wenang kepada masyarakat pribumi. Karena itu, harus dilawan dan diadukan kepada Tuhan.

”Bentuk perlawanan Syaikhona itu benar-benar nyata, yang diimplementasikan dalam visi-misi gerakannya membebaskan bangsa dari cengkeraman pemerintah Hindia Belanda, melalui gelora semangat mimbar-mimbar musala dan pengajian kitab kuning,” papar Muhaimin.

Baca Juga :  Aksi Putra Meonk dan Jhala Sottra di Pembukaan MTQ XXIX Jatim

Guratan tulisan itu diperkirakan ketika Syaikhona berumur 65 tahun. Menurut Muhaimin, pada usia 65 tahun Syaikhona Muhammad Kholil berada pada puncak keemasan. Kealiman, kewibawaan, ketokohan, kemasyhuran, dan lainnya dimiliki oleh Syaikhona.

Sebagaimana angka yang tertulis dalam perangko ”15 11 1899”. Itu dapat disimpulkan bahwa pemerintah Hindia Belanda mengirim surat kepada Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan pada tanggal 15 November 1899.

Kesaksian Kiai Abdul Mu’thiy dan keberadaan guratan tulisan tangan semakin memperjelas posisi Syaikhona Muhammad Kholil dalam perlawanannya terhadap pemerintah Hindia Belanda. Syaikhona sangat sadar bahwa perjuangan harus distrategikan dengan lebih matang melalui pendidikan, karya, dan pesantren.

”Syaikhona itu menegaskan bahwa cita-cita gurunya, Syekh Nawawi al-Bantani, harus dilanjutkan. Inspirasi kisah perjuangan Syekh Nawawi Banten yang terpaksa terusir dari tanah Jawa harus diubah,” tutur Muhaimin.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/