alexametrics
21 C
Madura
Saturday, July 2, 2022

Ratusan Warga Kepulauan Tertahan di Pelabuhan Kalianget

SUMENEP – Cuaca ekstrem tidak bisa ditawar-tawar. Transportasi laut harus menurunkan jangkar. Warga kepulauan yang hendak pulang harus pandai mengelola kesabaran.

Genap sepekan ratusan penumpang tidak bisa pulang ke kampung halaman. Sejak Jumat pekan lalu (26/1), kapal tujuan Pulau Kangean dan Masalembu tidak berlayar. Mereka terpaksa tidur di Pelabuhan Kalianget.

Sebagian menggunakan jasa penginapan dengan tarif Rp 50.000–Rp 100 ribu per hari. Penumpang menengah ke bawah memilih tidur di pelabuhan. Ada yang tinggal di ruang tunggu. Ada juga yang tidur di kapal.

Mereka sudah banyak mengeluarkan uang. Sebagian mengaku kehabisan uang untuk makan. Sejak sepekan lalu empat kali kapal tertunda untuk berangkat. Otoritas pelabuhan menyatakan kondisi cuaca tidak memungkinkan untuk diseberangi.

Hingga Kamis (1/2), ada dua kapal yang bersandar di dermaga. Yakni, KM Dharma Bahari Sumekar I dan Bahari Ekspress. Dua kapal itu melayani transportasi ke Pulau Kangean dan Sapeken.

Kondisi kesehatan penumpang terus menurun. Mereka mengonsumsi makanan seadanya karena bekal semakin menipis. Sementara keluarga atau kerabat di sekitar pelabuhan tidak ada. Selama di pelabuhan, paling banyak mereka makan dua kali sehari.

Sebagian memang menggunakan fasilitas penginapan. Namun, sebagian besar masih bertahan di atas kapal. Saat siang beberapa penumpang berkeliaran di sekitar dermaga. ”Sudah seminggu kami di sini. Badan saya lemas siang malam masuk angin. Uang semakin menipis. Kami sudah membeli tiket,” ungkap Abd. Latif, warga Desa Kalisangka, Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean.

Baca Juga :  Taji Perda Bangkalan 5/2016 terhadap Toko Modern

Pria 50 tahun itu mengaku khawatir kapal masih lama berangkat. Informasi yang diterima, kapal akan diberangkatkan Jumat (2/2) ke Kangean. Itu pun jika cuaca membaik. Sementara kapal menuju Masalembu masih dalam perjalanan dari Surabaya.

Jumlah total warga yang tertahan di pelabuhan sekitar 200. Itu tidak termasuk data penumpang yang tinggal di penginapan. ”Kami ingin segera pulang ke Kangean,” harap Latif.

Untuk menghilangkan rasa jenuh, sebagian penumpang menghibur dengan memancing. Hasil tangkapannya mereka makan. Beberapa penumpang sudah sakit. ”Kami di sini butuh makan dan harus mengeluarkan biaya. Selama seminggu uang kami terkuras,” ungkap Umar, 42, warga Kecamatan Masalembu.

Bagian Tata Usaha (TU) Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas V Kalianget Nanik Tri Suryani mengatakan, sesuai prediksi BMKG, gelombang laut masih tinggi. Kalau cuaca membaik, kapal ke Pulau Kangean bisa berangkat hari ini. ”Diprediksi cuaca mengalami penurunan gelombang masih sekitar tiga meter,” katanya.

Kepala KSOP Kelas V Kalianget Feri Agus Satrio menyatakan, pihaknya akan mencabut larangan berlayar ke tiga rute pelayaran yang diberlakukan sejak 23 Januari hingga 1 Februari. Tiga jalur itu menuju Masalembu, Sapeken, dan Kangean. ”Setelah kami lihat data prakiraan cuaca di BMKG Kalianget, kami mengambil keputusan untuk mencabut larangan berlayar,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pingsan, Hingga Anak Nyaris Tertinggal, Keberangkatan Kapal Dramatis

Dengan dicabutnya larangan tersebut, delapan kapal penumpang yang biasa melintasi tiga rute itu dapat kembali beroperasi. Sebelumnya tiga kapal itu harus menepi karena gelombang tinggi dan angin kencang. Delapan kapal tersebut adalah KM Sumekar, Ekspres Bahari, KMP Darma Kartika, KMP Satya Kencana, KM Katerine, KM Maumere, Sabuk Nusantara 56, dan Sabuk Nusantara 27.

Hari ini ada kapal berangkat ke Kangean. Kalau KM Sumekar nanti malam mulai beroperasi. Penumpang yang ingin ke kepulauan sudah bisa bernapas lega.

Kepala Stasiun BMKG Kalianget Usmas Kholid menyatakan, kondisi gelombang laut di perairan Sumenep mulai kondusif. Kondisi gelombang hari ini diperkirakan di kisaran 1,5–2,5 meter. Kecepatan angin sekitar 45 km per jam.

”Seperti biasa potensi tinggi gelombang maksimal ada di perairan Masalembu. Tetapi, memang sudah ada penurunan signifikan. Tinggi gelombang maksimum sekitar 2,5 meter. Puncak cuaca buruk kemarin di Masalembu gelombang mencapai 4 meter,” terangnya.

Meski begitu, dia mengimbau agar waspada kemungkinan munculnya awan kumulonimbus. Munculnya awan tersebut dapat disertai badai, gelombang tinggi, dan angin kencang.

SUMENEP – Cuaca ekstrem tidak bisa ditawar-tawar. Transportasi laut harus menurunkan jangkar. Warga kepulauan yang hendak pulang harus pandai mengelola kesabaran.

Genap sepekan ratusan penumpang tidak bisa pulang ke kampung halaman. Sejak Jumat pekan lalu (26/1), kapal tujuan Pulau Kangean dan Masalembu tidak berlayar. Mereka terpaksa tidur di Pelabuhan Kalianget.

Sebagian menggunakan jasa penginapan dengan tarif Rp 50.000–Rp 100 ribu per hari. Penumpang menengah ke bawah memilih tidur di pelabuhan. Ada yang tinggal di ruang tunggu. Ada juga yang tidur di kapal.


Mereka sudah banyak mengeluarkan uang. Sebagian mengaku kehabisan uang untuk makan. Sejak sepekan lalu empat kali kapal tertunda untuk berangkat. Otoritas pelabuhan menyatakan kondisi cuaca tidak memungkinkan untuk diseberangi.

Hingga Kamis (1/2), ada dua kapal yang bersandar di dermaga. Yakni, KM Dharma Bahari Sumekar I dan Bahari Ekspress. Dua kapal itu melayani transportasi ke Pulau Kangean dan Sapeken.

Kondisi kesehatan penumpang terus menurun. Mereka mengonsumsi makanan seadanya karena bekal semakin menipis. Sementara keluarga atau kerabat di sekitar pelabuhan tidak ada. Selama di pelabuhan, paling banyak mereka makan dua kali sehari.

Sebagian memang menggunakan fasilitas penginapan. Namun, sebagian besar masih bertahan di atas kapal. Saat siang beberapa penumpang berkeliaran di sekitar dermaga. ”Sudah seminggu kami di sini. Badan saya lemas siang malam masuk angin. Uang semakin menipis. Kami sudah membeli tiket,” ungkap Abd. Latif, warga Desa Kalisangka, Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean.

Baca Juga :  Tinjau Pelabuhan Kalianget, DPR RI Kecewa Karena Mangkrak Sejak 2006

Pria 50 tahun itu mengaku khawatir kapal masih lama berangkat. Informasi yang diterima, kapal akan diberangkatkan Jumat (2/2) ke Kangean. Itu pun jika cuaca membaik. Sementara kapal menuju Masalembu masih dalam perjalanan dari Surabaya.

Jumlah total warga yang tertahan di pelabuhan sekitar 200. Itu tidak termasuk data penumpang yang tinggal di penginapan. ”Kami ingin segera pulang ke Kangean,” harap Latif.

Untuk menghilangkan rasa jenuh, sebagian penumpang menghibur dengan memancing. Hasil tangkapannya mereka makan. Beberapa penumpang sudah sakit. ”Kami di sini butuh makan dan harus mengeluarkan biaya. Selama seminggu uang kami terkuras,” ungkap Umar, 42, warga Kecamatan Masalembu.

Bagian Tata Usaha (TU) Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas V Kalianget Nanik Tri Suryani mengatakan, sesuai prediksi BMKG, gelombang laut masih tinggi. Kalau cuaca membaik, kapal ke Pulau Kangean bisa berangkat hari ini. ”Diprediksi cuaca mengalami penurunan gelombang masih sekitar tiga meter,” katanya.

Kepala KSOP Kelas V Kalianget Feri Agus Satrio menyatakan, pihaknya akan mencabut larangan berlayar ke tiga rute pelayaran yang diberlakukan sejak 23 Januari hingga 1 Februari. Tiga jalur itu menuju Masalembu, Sapeken, dan Kangean. ”Setelah kami lihat data prakiraan cuaca di BMKG Kalianget, kami mengambil keputusan untuk mencabut larangan berlayar,” ungkapnya.

Baca Juga :  Raih Gelar Doktor setelah Teliti Interaksi Etnis Tionghoa-Madura

Dengan dicabutnya larangan tersebut, delapan kapal penumpang yang biasa melintasi tiga rute itu dapat kembali beroperasi. Sebelumnya tiga kapal itu harus menepi karena gelombang tinggi dan angin kencang. Delapan kapal tersebut adalah KM Sumekar, Ekspres Bahari, KMP Darma Kartika, KMP Satya Kencana, KM Katerine, KM Maumere, Sabuk Nusantara 56, dan Sabuk Nusantara 27.

Hari ini ada kapal berangkat ke Kangean. Kalau KM Sumekar nanti malam mulai beroperasi. Penumpang yang ingin ke kepulauan sudah bisa bernapas lega.

Kepala Stasiun BMKG Kalianget Usmas Kholid menyatakan, kondisi gelombang laut di perairan Sumenep mulai kondusif. Kondisi gelombang hari ini diperkirakan di kisaran 1,5–2,5 meter. Kecepatan angin sekitar 45 km per jam.

”Seperti biasa potensi tinggi gelombang maksimal ada di perairan Masalembu. Tetapi, memang sudah ada penurunan signifikan. Tinggi gelombang maksimum sekitar 2,5 meter. Puncak cuaca buruk kemarin di Masalembu gelombang mencapai 4 meter,” terangnya.

Meski begitu, dia mengimbau agar waspada kemungkinan munculnya awan kumulonimbus. Munculnya awan tersebut dapat disertai badai, gelombang tinggi, dan angin kencang.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/