alexametrics
20.7 C
Madura
Saturday, July 2, 2022

Panitia Pemilihan Kalebun Sentol Laok Gelar Debat Kandidat

Pelaksanaan pilkades melalui sejumlah tahapan. Di antaranya pencalonan, masa kampanye, dan pemungutan suara. Namun, satu desa di Sumenep menunjukkan konsep berbeda. Calon kepala desa (cakades) diberi panggung untuk adu visi misi dan program yang dikemas dengan debat kandidat.

LAYAKNYA pemilihan presiden (pilpres), pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) Sentol Laok, Kecamatan Pragaan, mengusung konsep berbeda. Pukul 08.00 waktu yang ditentukan panitia pemilihan kepala desa (P2KD) bagi undangan, calon maupun pendukung.

Sebelum dimulai, masyarakat berbondong-bondong datang ke Balai Desa Sentol Laok. Tamu undangan dari Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimka) Pragaan dan tokoh masyarakat duduk di kursi kehormatan. Sekeliling teras balai desa berjejer kursi plastik biru.

Barisan kursi bagian utara untuk pendukung cakades nomor urut 01 Mohammad Sukri. Kemudian, untuk pendukung cakades 02 Abriyono di barisan selatan. Sementara bagi masyarakat umum disediakan kursi di barisan depan teras balai desa.

Pembacaan doa dan menyanyikan lagu Indonesia Raya menjadi pembuka acara. Seperti  debat pada umumnya yang dipandu moderator. Membacakan tata tertib dan tahapan debat. Setiap calon dipersilakan menyampaikan visi misi.

Kemudian dilanjutkan dengan dialog interaktif. Tidak hanya antar kedua calon, melainkan juga dengan tim pendukung dan masyarakat ikut bersuara. Sorak sorai antar pendukung menjadi bumbu suasana debat. Tidak seperti akan tampil di televisi, para calon juga tidak lantas menggunakan jas. Ala kadarnya.

Dari berbagai tahapan debat, kesempatan menyampaikan aspirasi dari warga yang diberikan moderator dimanfaatkan dengan baik. Masyarakat meminta kedua calon agar membawa perubahan bagi Desa Sentol Laok. Mulai dari pendidikan, kesehatan, infrastruktur, pemberdayaan masyarakat hingga harapan agar desa tersebut bisa meraih predikat desa mandiri.

Baca Juga :  Novi Puspita Sari, Pengerap Sapi Asal Sampang

Yang tidak kalah menarik, warga juga menyampaikan agar kedua cakades menekan agar tidak menggunakan cara kotor dalam pesta demokrasi. Salah satunya dengan tidak melakukan politik uang. Sebab, cara tersebut tidak dibenarkan.

Selain itu, masyarakat menyadari jika money politics dapat memicu tindakan koruptif pemimpin yang akan dipilih. Aspirasi untuk menciptakan pilkades aman, damai, dan menjauhi politik uang tersebut disambut tepuk tangan masyarakat yang hadir. Termasuk para pejabat dan tamu undangan.

Meski cuaca panas, tak menghentikan antusias masyarakat untuk mengikuti seluruh rangkaian debat. Bahkan, di luar pagar balai desa juga banyak warga yang ikut menyaksikan. Dari anak-anak, pemuda hingga orang dewasa. Di akhir acara, master of ceremony (MC) mengajak seluruh hadirin mengumandangkan salawat ketika meninggalkan lokasi debat setelah acara ditutup. Agar tidak terjadi gesekan dan tetap dalam nuansa sejuk. Cara tersebut berhasil. Para pendukung dan masyarakat kemudian pulang dengan tertib.

Ketua P2KD Sentol Laok Haitum mengaku sengaja mengusung konsep debat cakades pada pesta demokrasi tahun ini. Menurut pria berkopiah itu, pelaksanaan pilkades sebelumnya, masyarakat tidak mendapat pemaparan visi misi dan adu program dari para kontestan. Dengan demikian, masyarakat memilih hanya berdasarkan kedekatan emosional. Tanpa mengetahui latar belakang dan motivasi para calon untuk berkompetisi menjadi pemimpin.

”Masyarakat agar tahu kepada calon. Baik dari orangnya, visi misi, programnya untuk desa ini. Dari situ masyarakat bisa menilai dan menentukan pilihan. Bukan asal pilih,” kata pria yang akrab disapa H Anas itu.

Baca Juga :  Mughnil Muhtaj, Juara 1 Lomba Media Pembelajaran Berbasis IT

Melalui debat ini diharapkan para calon juga bisa mengelola desa dengan baik. Setiap janji politiknya bisa langsung diketahui masyarakat. Jadi, masyarakat bisa menagih ketika salah satu calon ini nantinya terpilih. Mengingat, dari awal masyarakat sudah tahu apa saja yang ingin dicapai para cakades untuk membangun desa setelah diberi amanah oleh rakyat. Debat yang diselenggarakan menurutnya berdasarkan hasil kesepakatan para cakades pada masa pendaftaran.

”Harus ada pendidikan politik kepada masyarakat. Ini proses demokrasi yang mendewasakan,” ujarnya.

Camat Pragaan Darussalam melalui Kasi Pemerintahan Bambang Iskandi mengapresiasi konsep debat yang digelar P2KD Sentol Laok. Diterangkan, di desa lain kebanyakan sebatas penyampaian visi misi.

Sejak awal pihak kecamatan menganjurkan agar delapan desa yang melaksanakan pilkades serentak tahun ini bisa membuka ruang kepada para cakades untuk menyampaikan visi misinya. ”Kami pasrahkan kepada para ketua P2KD untuk mengonsep seperti apa. Yang terpenting, ada ruang silaturahmi antar kedua calon, pendukung, dan masyarakat,” tutur pejabat yang menggunakan baju adat keraton Sumenep saat menghadiri debat cakades tersebut.

Soal usulan masyarakat agar pilkades di Sentol Laok terhindar dari politik uang, dia mengaku sangat sepakat. Baginya, cara kotor tersebut dapat merugikan dan merusak demokrasi. ”Kembali lagi ke masyarakat. Cara yang tidak baik jangan lantas dianggap biasa. Untuk itu, mari ciptakan pilkades yang bersih, aman, dan damai,” ajaknya.

Pelaksanaan pilkades melalui sejumlah tahapan. Di antaranya pencalonan, masa kampanye, dan pemungutan suara. Namun, satu desa di Sumenep menunjukkan konsep berbeda. Calon kepala desa (cakades) diberi panggung untuk adu visi misi dan program yang dikemas dengan debat kandidat.

LAYAKNYA pemilihan presiden (pilpres), pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) Sentol Laok, Kecamatan Pragaan, mengusung konsep berbeda. Pukul 08.00 waktu yang ditentukan panitia pemilihan kepala desa (P2KD) bagi undangan, calon maupun pendukung.

Sebelum dimulai, masyarakat berbondong-bondong datang ke Balai Desa Sentol Laok. Tamu undangan dari Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimka) Pragaan dan tokoh masyarakat duduk di kursi kehormatan. Sekeliling teras balai desa berjejer kursi plastik biru.


Barisan kursi bagian utara untuk pendukung cakades nomor urut 01 Mohammad Sukri. Kemudian, untuk pendukung cakades 02 Abriyono di barisan selatan. Sementara bagi masyarakat umum disediakan kursi di barisan depan teras balai desa.

Pembacaan doa dan menyanyikan lagu Indonesia Raya menjadi pembuka acara. Seperti  debat pada umumnya yang dipandu moderator. Membacakan tata tertib dan tahapan debat. Setiap calon dipersilakan menyampaikan visi misi.

Kemudian dilanjutkan dengan dialog interaktif. Tidak hanya antar kedua calon, melainkan juga dengan tim pendukung dan masyarakat ikut bersuara. Sorak sorai antar pendukung menjadi bumbu suasana debat. Tidak seperti akan tampil di televisi, para calon juga tidak lantas menggunakan jas. Ala kadarnya.

Dari berbagai tahapan debat, kesempatan menyampaikan aspirasi dari warga yang diberikan moderator dimanfaatkan dengan baik. Masyarakat meminta kedua calon agar membawa perubahan bagi Desa Sentol Laok. Mulai dari pendidikan, kesehatan, infrastruktur, pemberdayaan masyarakat hingga harapan agar desa tersebut bisa meraih predikat desa mandiri.

Baca Juga :  Pendukung Tiap Paslon Dibatasi 20 Orang Saat Debat Kandidat

Yang tidak kalah menarik, warga juga menyampaikan agar kedua cakades menekan agar tidak menggunakan cara kotor dalam pesta demokrasi. Salah satunya dengan tidak melakukan politik uang. Sebab, cara tersebut tidak dibenarkan.

Selain itu, masyarakat menyadari jika money politics dapat memicu tindakan koruptif pemimpin yang akan dipilih. Aspirasi untuk menciptakan pilkades aman, damai, dan menjauhi politik uang tersebut disambut tepuk tangan masyarakat yang hadir. Termasuk para pejabat dan tamu undangan.

Meski cuaca panas, tak menghentikan antusias masyarakat untuk mengikuti seluruh rangkaian debat. Bahkan, di luar pagar balai desa juga banyak warga yang ikut menyaksikan. Dari anak-anak, pemuda hingga orang dewasa. Di akhir acara, master of ceremony (MC) mengajak seluruh hadirin mengumandangkan salawat ketika meninggalkan lokasi debat setelah acara ditutup. Agar tidak terjadi gesekan dan tetap dalam nuansa sejuk. Cara tersebut berhasil. Para pendukung dan masyarakat kemudian pulang dengan tertib.

Ketua P2KD Sentol Laok Haitum mengaku sengaja mengusung konsep debat cakades pada pesta demokrasi tahun ini. Menurut pria berkopiah itu, pelaksanaan pilkades sebelumnya, masyarakat tidak mendapat pemaparan visi misi dan adu program dari para kontestan. Dengan demikian, masyarakat memilih hanya berdasarkan kedekatan emosional. Tanpa mengetahui latar belakang dan motivasi para calon untuk berkompetisi menjadi pemimpin.

”Masyarakat agar tahu kepada calon. Baik dari orangnya, visi misi, programnya untuk desa ini. Dari situ masyarakat bisa menilai dan menentukan pilihan. Bukan asal pilih,” kata pria yang akrab disapa H Anas itu.

Baca Juga :  Siswa MAN 2 Pamekasan Mengenang Sosok Guru Budi

Melalui debat ini diharapkan para calon juga bisa mengelola desa dengan baik. Setiap janji politiknya bisa langsung diketahui masyarakat. Jadi, masyarakat bisa menagih ketika salah satu calon ini nantinya terpilih. Mengingat, dari awal masyarakat sudah tahu apa saja yang ingin dicapai para cakades untuk membangun desa setelah diberi amanah oleh rakyat. Debat yang diselenggarakan menurutnya berdasarkan hasil kesepakatan para cakades pada masa pendaftaran.

”Harus ada pendidikan politik kepada masyarakat. Ini proses demokrasi yang mendewasakan,” ujarnya.

Camat Pragaan Darussalam melalui Kasi Pemerintahan Bambang Iskandi mengapresiasi konsep debat yang digelar P2KD Sentol Laok. Diterangkan, di desa lain kebanyakan sebatas penyampaian visi misi.

Sejak awal pihak kecamatan menganjurkan agar delapan desa yang melaksanakan pilkades serentak tahun ini bisa membuka ruang kepada para cakades untuk menyampaikan visi misinya. ”Kami pasrahkan kepada para ketua P2KD untuk mengonsep seperti apa. Yang terpenting, ada ruang silaturahmi antar kedua calon, pendukung, dan masyarakat,” tutur pejabat yang menggunakan baju adat keraton Sumenep saat menghadiri debat cakades tersebut.

Soal usulan masyarakat agar pilkades di Sentol Laok terhindar dari politik uang, dia mengaku sangat sepakat. Baginya, cara kotor tersebut dapat merugikan dan merusak demokrasi. ”Kembali lagi ke masyarakat. Cara yang tidak baik jangan lantas dianggap biasa. Untuk itu, mari ciptakan pilkades yang bersih, aman, dan damai,” ajaknya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Tiap Bulan Dapat Jatah 500 Keping E-KTP

Bakal Gelar Kirab Adipura Senin

PPP Layangkan Gugatan ke MK

Artikel Terbaru

/