alexametrics
23 C
Madura
Thursday, May 26, 2022

Manusia yang Mengerti Tidak Takut Mati

Persoalan kita adalah persoalan maut

Yang selalu mengintai dengan pedangnya

Siap menikam kita kapan saja

Tak peduli apakah kita sedang tertawa

Atau sedang mandi peluh bergumul dengan

Nasib yang kerontang


Selalu mengintai dari pojokpojok waktu mencair

Siap memotong nadi roh kita

Kapan saja

 

PUISI berjudul Pada Akhirnya karya En. Hidayat itu diunggah di enhidayat.blogspot.com pada Minggu, 18 Mei 2008, pukul 22.00. Di blog pribadi yang diberi nama Jangan Lama-Lama Disini, Nggak Ada Yang Penting itu dia banyak mengunggah sajak. Tidak sedikit yang meraroma kematian.

Seperti yang dia tulis dalam puisi di atas, maut selalu mengintai dengan pedangnya, siap menikam kapan saja. Penyair bernama lengkap Nurul Hidayat itu benar-benar ”tertikam” pedang maut pada Senin, 25 Agustus 2019. Kembalinya En. Hidayat membuat teman-teman sastrawan, guru, dan aktivis Nahdlatul Ulama (NU) terkejut. Sebab, sebelumnya dia sehat-sehat saja. Bahkan, malam sebelum dia wafat masih sempat menjenguk seorang kiai yang sedang dirawat di rumah sakit. Namun, siapa yang bisa menolak kematian karena dia Selalu mengintai dari pojokpojok waktu mencair/ Siap memotong nadi roh kita/ Kapan saja.

Keterkejutan itu karena selama hidupnya En. Hidayat banyak menabung kenangan. Bersama banyak kalangan; seniman, pengurus NU, guru, dan pengawas sekolah.

Di kalangan seniman dia dikenal sebagai penyair. Karyanya banyak menghiasi Majalah Pembangunan Agama (MPA) terbitan Kanwil Kemenag Jatim. Juga terhimpun dalam buku Kampung Indonesia Pasca Kerusuhan (Pustaka Pelajar, 2000) bersama beberapa penyair lain. Puisi bahasa Madura-nya sering mewarnai Buletin Konkonan terbitan Tim Nabara Sumenep. Juga dalam antologi Nyelbi’ e Nemor Kara (GHOT, 1997). Buku ini juga memuat puisi Madura Arach Jamali, Hidayat Raharja, Ibnu Hajar, Abd. Gani, dan Banu Sabetha.

”Dalam diskusi peluncurannya terungkap fakta bahwa antologi tersebut merupakan antologi pertama puisi berbahasa Madura!” tulis En. Hidayat dalam catatan pengantar buku Lanceng Paraban Ganja (Komunitas Pelar, 2010).

Pria yang lahir pada 17 Juni 1972 itu terbilang produktif menulis puisi pada masanya. Baik menggunakan bahasa Indonesia maupun bahasa Madura. Dalam kata pengantar itu dia yakin bahwa sastra Madura akan terus berkambang. Kelak, kata dia, kita tidak cuma membaca Nyelbi’ e Nemor Kara, Nemor Kara, Sagara Aeng Mata Ojan, atau Lanceng Paraban Ganja. Melainkan, puluhan atau ratusan antologi lainnya yang akan memenuhi rak-rak khazanah perpuisian Madura dan Indonesia.

Baca Juga :  Nemor Kara

Keyakinan itu terbukti. Sejumlah buku sastra berbahasa Madura kini bisa dinikmati. Misalnya, Embi’ Celleng Ji Monentar (M. Toyu Aradana), Cengkal Burung dan Oreng-Oreng Palang (Lukman Hakim AG.), Èsarèpo Bèncong (Zainal A. Hanafi), Èghirrep Sètan (Supriyadi Afandi), dan Tora; Satengkes Carpan Madura (Lukman Hakim AG., ed).

Wafatnya En. Hidayat meninggalkan duka mendalam. Ada banyak kesan pada setiap orang yang mengenalnya. Dia merupakan sosok yang serius pada persoalan prinsip, namun memiliki selera humor tinggi. Baik secara lisan maupun tulis.

Catatan berjudul Lanceng Paraban Sastra Madura untuk buku Lanceng Paraban Ganja itu dia tulis atas permintaan saya pada Minggu, 3 Oktober, 2010, pukul 18:22:35. Kamis, 28 Oktober 2010, pukul 12.52 dia membalas begini, ”Jika mau dhuson atas terlambatnya kata pengantar ini silakan, jika mau bilang saya malas, juga silakan. Pokoknya silakanlah…..asal sambil ngakak.. kakkakkkaaakkkkkkk….. meski saya juga bisa berkilah, misalnya, sejak komputer saya dijual, sampai sekarang belum punya gantinya. (maunya ganti ke laptop, tapi sampai sekarang duitnya belum cukup…hahaha….).

Di akun Facebook-nya dia dikenal sutradara Ma’on, Mo’in, dan Markonah. Dialog yang dibangun untuk tiga tokoh itu menyesuaikan dengan perkembangan terkini. Pada 15 Juli 2019, pukul 11.16 dia menulis:

Markonah: dengar2 kamu tadi jadi pembina upacara….

Mo’in: iya….

Markonah: hebat …..

Mo’in: ah, biasa aja……

Markonah: ya hebat dong….jadi pembina upacara hari pertama masuk sekolah

Mo’in: yang hebat itu kalau aku jadi membina rumah tangga bersama kamu…

Sepuluh hari kemudian, 25 Juli 2019 pukul 11.03 dia menulis:

Mo’in: Jokowi sudah ketemuan sama Prabowo

Markonah: kan bagus…

Mo’in: kemarin Prabowo juga ketemu Megawati 

Markonah: kan makin adem tuh…

Mo’in: bahkan anis ketemu juga sama Surya Paloh…

Markonah: iyaaa….biarin aja napa….dari tadi kok ngomongin politisi….

Mo’in: ehm…hem….maksudku…kita ketemuannya kapan…? entar malem yach….kan malem jumat……

#assiyaaaapppp

Selain gandrung humor, En. Hidayat pecandu rokok dan kopi. Juga suka kuliner khas Sumenep; kaldu. Meski mengabdi sebagai pegawai negeri sipil (PNS), dia bisa meluangkan waktu untuk berkumpul bersama pemuda dan aktivis NU. Tidak jarang juga dia berbagi ilmu kepada generasi muda.

Baca Juga :  Jalan Terjal Normalisasi Kali Kamoning Sampang

Karena itu, dia dijadikan salah seorang tutor bagi anggota Lembaga Kajian Seni Budaya PANGESTO Net_Think Community Sumenep. Bukan hanya pada acara yang terkesan resmi, dia tidak jarang bertandang ke kontrakan kawan-kawan. Memberikan semangat untuk menulis.

Di mata anggota PANGESTO, dia dikenal tangnge. Betah tidak tidur hingga dini hari. Selain memang ada rokok dan kopi, dia benar-benar ngopi (ngobrol sampai pagi). Dan, yang pasti tidak ada En. Hidayat tanpa gelak tawa.

Proses keseniannya juga pernah ditempa bersama di Forum Bias. Selain itu, dia mendampingi teman-teman Lembaga Seni Budaya Muslimin (Lesbumi) PC NU Sumenep. Hingga lahir Masyarakat Seni Pesantren (MSP). Terakhir, dia menghadiri Dialog Perdamaian Kamis malam, 18 Juli 2019, sebagai wakil ketua PC NU Sumenep.

Fisik En. Hidayat memang sudah tidak bersama. Namun, semangat mengabdi dan berbagi ilmu patut dijadikan contoh bagi kita. Kita berharap menjadi manusia berani mati. Seperti dalam Sya’ir Tengnga Malem karyanya di Konkonan edisi 56-T.V-1998 berikut:

 

Dhu Guste

Nyo’on sapora

Panjennengngan se ngagunge panyapora

Maha Rahman Maha Rahim

Apareng rahmat tor coba’an

 

Manossa se ngarte

Ta’ tako’ dha’ ka pate

Mate dhari odhi’ se masthe etete

Asal dhari tadha’ abali ka tadha’

Kanton Settong se Kobasa

 

Selamat jalan, En. Tertawalah tentang sifat Ma’on, Mo’in, dan Markonah kami. Kebahagiaan untukmu di sana. (*)

 

LUKMAN HAKIM AG.

Wartawan Jawa Pos Radar Madura

Persoalan kita adalah persoalan maut

Yang selalu mengintai dengan pedangnya

Siap menikam kita kapan saja


Tak peduli apakah kita sedang tertawa

Atau sedang mandi peluh bergumul dengan

Nasib yang kerontang


Selalu mengintai dari pojokpojok waktu mencair

Siap memotong nadi roh kita

Kapan saja

 

PUISI berjudul Pada Akhirnya karya En. Hidayat itu diunggah di enhidayat.blogspot.com pada Minggu, 18 Mei 2008, pukul 22.00. Di blog pribadi yang diberi nama Jangan Lama-Lama Disini, Nggak Ada Yang Penting itu dia banyak mengunggah sajak. Tidak sedikit yang meraroma kematian.

Seperti yang dia tulis dalam puisi di atas, maut selalu mengintai dengan pedangnya, siap menikam kapan saja. Penyair bernama lengkap Nurul Hidayat itu benar-benar ”tertikam” pedang maut pada Senin, 25 Agustus 2019. Kembalinya En. Hidayat membuat teman-teman sastrawan, guru, dan aktivis Nahdlatul Ulama (NU) terkejut. Sebab, sebelumnya dia sehat-sehat saja. Bahkan, malam sebelum dia wafat masih sempat menjenguk seorang kiai yang sedang dirawat di rumah sakit. Namun, siapa yang bisa menolak kematian karena dia Selalu mengintai dari pojokpojok waktu mencair/ Siap memotong nadi roh kita/ Kapan saja.

Keterkejutan itu karena selama hidupnya En. Hidayat banyak menabung kenangan. Bersama banyak kalangan; seniman, pengurus NU, guru, dan pengawas sekolah.

Di kalangan seniman dia dikenal sebagai penyair. Karyanya banyak menghiasi Majalah Pembangunan Agama (MPA) terbitan Kanwil Kemenag Jatim. Juga terhimpun dalam buku Kampung Indonesia Pasca Kerusuhan (Pustaka Pelajar, 2000) bersama beberapa penyair lain. Puisi bahasa Madura-nya sering mewarnai Buletin Konkonan terbitan Tim Nabara Sumenep. Juga dalam antologi Nyelbi’ e Nemor Kara (GHOT, 1997). Buku ini juga memuat puisi Madura Arach Jamali, Hidayat Raharja, Ibnu Hajar, Abd. Gani, dan Banu Sabetha.

”Dalam diskusi peluncurannya terungkap fakta bahwa antologi tersebut merupakan antologi pertama puisi berbahasa Madura!” tulis En. Hidayat dalam catatan pengantar buku Lanceng Paraban Ganja (Komunitas Pelar, 2010).

Pria yang lahir pada 17 Juni 1972 itu terbilang produktif menulis puisi pada masanya. Baik menggunakan bahasa Indonesia maupun bahasa Madura. Dalam kata pengantar itu dia yakin bahwa sastra Madura akan terus berkambang. Kelak, kata dia, kita tidak cuma membaca Nyelbi’ e Nemor Kara, Nemor Kara, Sagara Aeng Mata Ojan, atau Lanceng Paraban Ganja. Melainkan, puluhan atau ratusan antologi lainnya yang akan memenuhi rak-rak khazanah perpuisian Madura dan Indonesia.

Baca Juga :  Inilah Atlet Peraih Medali Emas Porprov VI Jatim Asal Madura (1)

Keyakinan itu terbukti. Sejumlah buku sastra berbahasa Madura kini bisa dinikmati. Misalnya, Embi’ Celleng Ji Monentar (M. Toyu Aradana), Cengkal Burung dan Oreng-Oreng Palang (Lukman Hakim AG.), Èsarèpo Bèncong (Zainal A. Hanafi), Èghirrep Sètan (Supriyadi Afandi), dan Tora; Satengkes Carpan Madura (Lukman Hakim AG., ed).

Wafatnya En. Hidayat meninggalkan duka mendalam. Ada banyak kesan pada setiap orang yang mengenalnya. Dia merupakan sosok yang serius pada persoalan prinsip, namun memiliki selera humor tinggi. Baik secara lisan maupun tulis.

Catatan berjudul Lanceng Paraban Sastra Madura untuk buku Lanceng Paraban Ganja itu dia tulis atas permintaan saya pada Minggu, 3 Oktober, 2010, pukul 18:22:35. Kamis, 28 Oktober 2010, pukul 12.52 dia membalas begini, ”Jika mau dhuson atas terlambatnya kata pengantar ini silakan, jika mau bilang saya malas, juga silakan. Pokoknya silakanlah…..asal sambil ngakak.. kakkakkkaaakkkkkkk….. meski saya juga bisa berkilah, misalnya, sejak komputer saya dijual, sampai sekarang belum punya gantinya. (maunya ganti ke laptop, tapi sampai sekarang duitnya belum cukup…hahaha….).

Di akun Facebook-nya dia dikenal sutradara Ma’on, Mo’in, dan Markonah. Dialog yang dibangun untuk tiga tokoh itu menyesuaikan dengan perkembangan terkini. Pada 15 Juli 2019, pukul 11.16 dia menulis:

Markonah: dengar2 kamu tadi jadi pembina upacara….

Mo’in: iya….

Markonah: hebat …..

Mo’in: ah, biasa aja……

Markonah: ya hebat dong….jadi pembina upacara hari pertama masuk sekolah

Mo’in: yang hebat itu kalau aku jadi membina rumah tangga bersama kamu…

Sepuluh hari kemudian, 25 Juli 2019 pukul 11.03 dia menulis:

Mo’in: Jokowi sudah ketemuan sama Prabowo

Markonah: kan bagus…

Mo’in: kemarin Prabowo juga ketemu Megawati 

Markonah: kan makin adem tuh…

Mo’in: bahkan anis ketemu juga sama Surya Paloh…

Markonah: iyaaa….biarin aja napa….dari tadi kok ngomongin politisi….

Mo’in: ehm…hem….maksudku…kita ketemuannya kapan…? entar malem yach….kan malem jumat……

#assiyaaaapppp

Selain gandrung humor, En. Hidayat pecandu rokok dan kopi. Juga suka kuliner khas Sumenep; kaldu. Meski mengabdi sebagai pegawai negeri sipil (PNS), dia bisa meluangkan waktu untuk berkumpul bersama pemuda dan aktivis NU. Tidak jarang juga dia berbagi ilmu kepada generasi muda.

Baca Juga :  Jalan Terjal Normalisasi Kali Kamoning Sampang

Karena itu, dia dijadikan salah seorang tutor bagi anggota Lembaga Kajian Seni Budaya PANGESTO Net_Think Community Sumenep. Bukan hanya pada acara yang terkesan resmi, dia tidak jarang bertandang ke kontrakan kawan-kawan. Memberikan semangat untuk menulis.

Di mata anggota PANGESTO, dia dikenal tangnge. Betah tidak tidur hingga dini hari. Selain memang ada rokok dan kopi, dia benar-benar ngopi (ngobrol sampai pagi). Dan, yang pasti tidak ada En. Hidayat tanpa gelak tawa.

Proses keseniannya juga pernah ditempa bersama di Forum Bias. Selain itu, dia mendampingi teman-teman Lembaga Seni Budaya Muslimin (Lesbumi) PC NU Sumenep. Hingga lahir Masyarakat Seni Pesantren (MSP). Terakhir, dia menghadiri Dialog Perdamaian Kamis malam, 18 Juli 2019, sebagai wakil ketua PC NU Sumenep.

Fisik En. Hidayat memang sudah tidak bersama. Namun, semangat mengabdi dan berbagi ilmu patut dijadikan contoh bagi kita. Kita berharap menjadi manusia berani mati. Seperti dalam Sya’ir Tengnga Malem karyanya di Konkonan edisi 56-T.V-1998 berikut:

 

Dhu Guste

Nyo’on sapora

Panjennengngan se ngagunge panyapora

Maha Rahman Maha Rahim

Apareng rahmat tor coba’an

 

Manossa se ngarte

Ta’ tako’ dha’ ka pate

Mate dhari odhi’ se masthe etete

Asal dhari tadha’ abali ka tadha’

Kanton Settong se Kobasa

 

Selamat jalan, En. Tertawalah tentang sifat Ma’on, Mo’in, dan Markonah kami. Kebahagiaan untukmu di sana. (*)

 

LUKMAN HAKIM AG.

Wartawan Jawa Pos Radar Madura

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/