alexametrics
25.3 C
Madura
Friday, September 30, 2022

Terus Berkreasi tanpa Hilangkan Nilai Filosofi

Anwar Sadat, Guru Seni Budaya Sekaligus Perajin Tongkos di Bangkalan

Tongkos populer di kalangan aparatur sipil negara (ASN). Banyak pelaku usaha yang bergerak di bidang produksi penutup kepala khas Bangkalan itu. Salah satunya Anwar Sadat.

FADIL, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

IDE membuat tongkos berawal dari kegelisahan Anwar Sadat saat akan menghadiri acara yang mengharuskan memakai tongkos. Kemudian, berinisiatif untuk membuat sendiri. Namun, saat itu dia tidak memiliki keahlian dalam membuat tongkos.

Akhirnya, pria yang bermukim di Jalan KH Ahmad Marsuki, Pangeranan, Bangkalan, itu berkeinginan untuk belajar. Mulai dari bahan maupun proses pembuatan. Dengan keinginan yang kuat, akhirnya dia bisa memproduksi sendiri.

”Saya belajar tidak lama. Saya mempelajari satu per satu. Seperti ikatan, nilai filosofinya apa? Terus silang depan itu apa, lalu saya aplikasikan pada penggarapan,” jawabnya saat ditanya awal belajar membuat tongkos.

Anwar menyatakan, proses pembuatan tongkos tidak lama. Untuk mendapatkan bahan mentahnya juga tidak sulit kerena tersedia di Bangkalan. ”Bahannya dari batik printing atau batik tulis Tanjungbumi,” katanya Sabtu (27/8).

Baca Juga :  Potensi Perubahan Usulan PPPK Kecil

Dirinya memilih batik printing karena harganya lebih murah. Sementara batik tulis Tanjungbumi, harga paling murah Rp 100 ribu hingga Rp 400 ribu. Tapi, kualitasnya bagus. ”Satu sarung atau satu samper itu memiliki panjang dan lebar umumnya 2 x 1 meter. Satu kain itu jadi 4 tongkos,” jelasnya.

Garapan Anwar Sadat ini bukan tongkos asli tradisional. Tapi, sudah melalu teknik inovasi dengan mereduksi cara kerja tongkos tradisional ke cara kerja modern. Sebab, jika masih menggunakan teknik tradisional itu membutuhkan waktu cukup lama.

Menurut pria yang sudah dikarunia dua anak itu, harga tongkos hasil produksinya tidak terlalu mahal. Yakni, dari Rp 60 ribu, Rp 70 ribu, hingga Rp 90 ribu. ”Garapan saya semuanya sama. Cuma, harga bergantung bahan,” ungkapnya.

Sejak ada edaran dari pemkab yang mewajibkan ASN memakai tongkos setiap Rabu, Anwar Sadat mengaku kewalahan karena banyak pesanan. Baik dari instansi atau perorangan. ”Tapi untuk bulan ini menyusut. Kan sudah banyak perajin tongkos di Bangkalan, jadi tak menentu setiap harinya,” tuturnya.

Baca Juga :  Slaman Wakili Jatim pada Lomba Wana Lestari Tingkat Nasional

Selain karena sudah banyak yang memproduksi tongkos, peminat sudah semakin berkurang. Alasannya, tongkos hanya aksesori lokal. Sehingga, orang luar sulit tertarik pada tongkos. ”Jangankan orang luar, di daerah pinggiran kota, tua maupun yang masih muda belum tahu apa itu tongkos,” ujarnya.

Untuk produksi, Anwar mempekerjakan anak-anak muda yang menganggur. Sementara istrinya, Nur Indah Sari, membantu dalam bidang pemasaran lewat media sosial. Meskipun akhir-akhir ini tidak menentu, namun Anwar Sadar optimistis usahanya tetap berkembang.

Tongkos ini selain punya nilai ekonomis, juga menjadi benda khas yang perlu diperkenalkan pada wisatawan luar. ”Saya lebih baik memberikan barang seperti tongkos sebagai warisan tradisi Bangkalan kepada tamu dari luar daripada memberikan oleh-oleh yang dimakan sekali habis.

Anwar Sadat mengatakan ingin memperkenalkan tongkos kepada generasi muda di Kota Zikir dan Salawat. Dirinya selalu mengkreasi tongkos produksinya. ”Tapi, tetap tidak mengurangi bentuk dan nilai filosofinya,” paparnya. (*/han)

Tongkos populer di kalangan aparatur sipil negara (ASN). Banyak pelaku usaha yang bergerak di bidang produksi penutup kepala khas Bangkalan itu. Salah satunya Anwar Sadat.

FADIL, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

IDE membuat tongkos berawal dari kegelisahan Anwar Sadat saat akan menghadiri acara yang mengharuskan memakai tongkos. Kemudian, berinisiatif untuk membuat sendiri. Namun, saat itu dia tidak memiliki keahlian dalam membuat tongkos.


Akhirnya, pria yang bermukim di Jalan KH Ahmad Marsuki, Pangeranan, Bangkalan, itu berkeinginan untuk belajar. Mulai dari bahan maupun proses pembuatan. Dengan keinginan yang kuat, akhirnya dia bisa memproduksi sendiri.

”Saya belajar tidak lama. Saya mempelajari satu per satu. Seperti ikatan, nilai filosofinya apa? Terus silang depan itu apa, lalu saya aplikasikan pada penggarapan,” jawabnya saat ditanya awal belajar membuat tongkos.

Anwar menyatakan, proses pembuatan tongkos tidak lama. Untuk mendapatkan bahan mentahnya juga tidak sulit kerena tersedia di Bangkalan. ”Bahannya dari batik printing atau batik tulis Tanjungbumi,” katanya Sabtu (27/8).

Baca Juga :  Mengenal Sosok Ketua PN Bangkalan Ernila Widikartikawati

Dirinya memilih batik printing karena harganya lebih murah. Sementara batik tulis Tanjungbumi, harga paling murah Rp 100 ribu hingga Rp 400 ribu. Tapi, kualitasnya bagus. ”Satu sarung atau satu samper itu memiliki panjang dan lebar umumnya 2 x 1 meter. Satu kain itu jadi 4 tongkos,” jelasnya.

- Advertisement -

Garapan Anwar Sadat ini bukan tongkos asli tradisional. Tapi, sudah melalu teknik inovasi dengan mereduksi cara kerja tongkos tradisional ke cara kerja modern. Sebab, jika masih menggunakan teknik tradisional itu membutuhkan waktu cukup lama.

Menurut pria yang sudah dikarunia dua anak itu, harga tongkos hasil produksinya tidak terlalu mahal. Yakni, dari Rp 60 ribu, Rp 70 ribu, hingga Rp 90 ribu. ”Garapan saya semuanya sama. Cuma, harga bergantung bahan,” ungkapnya.

Sejak ada edaran dari pemkab yang mewajibkan ASN memakai tongkos setiap Rabu, Anwar Sadat mengaku kewalahan karena banyak pesanan. Baik dari instansi atau perorangan. ”Tapi untuk bulan ini menyusut. Kan sudah banyak perajin tongkos di Bangkalan, jadi tak menentu setiap harinya,” tuturnya.

Baca Juga :  Kunjungi Bangkalan, Lucky Setyo Witjaksono, Mantan Gitaris Power Metal

Selain karena sudah banyak yang memproduksi tongkos, peminat sudah semakin berkurang. Alasannya, tongkos hanya aksesori lokal. Sehingga, orang luar sulit tertarik pada tongkos. ”Jangankan orang luar, di daerah pinggiran kota, tua maupun yang masih muda belum tahu apa itu tongkos,” ujarnya.

Untuk produksi, Anwar mempekerjakan anak-anak muda yang menganggur. Sementara istrinya, Nur Indah Sari, membantu dalam bidang pemasaran lewat media sosial. Meskipun akhir-akhir ini tidak menentu, namun Anwar Sadar optimistis usahanya tetap berkembang.

Tongkos ini selain punya nilai ekonomis, juga menjadi benda khas yang perlu diperkenalkan pada wisatawan luar. ”Saya lebih baik memberikan barang seperti tongkos sebagai warisan tradisi Bangkalan kepada tamu dari luar daripada memberikan oleh-oleh yang dimakan sekali habis.

Anwar Sadat mengatakan ingin memperkenalkan tongkos kepada generasi muda di Kota Zikir dan Salawat. Dirinya selalu mengkreasi tongkos produksinya. ”Tapi, tetap tidak mengurangi bentuk dan nilai filosofinya,” paparnya. (*/han)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Lima Raperda Siap Dibahas

/