alexametrics
25.3 C
Madura
Friday, September 30, 2022

Meski Minim Faisilitas, Wali Murid Enggan Pindah

Satu Tahun Siswa SDN Rek-Kerrek 4 Numpang di Rumah Warga

Polemik sengketa lahan SDN Rek-Kerrek, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, sudah berlangsung selama setahun. Bahkan, gedung sekolah itu masih disegel oleh pemilik tanah. Lalu, bagaimana nasib siswa di sana?

MOH. BUSRI, Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura

SAAT Jawa Pos Radar Madura (JPRM) berkunjung ke SDN Rek-Kerrek, Senin (19/9) sekitar pukul 12.30 situasinya sangat sepi. Lantai teras sekolah yang terbuat dari tegel penuh dengan debu. Itu menjadi bukti bahwa sekolah tersebut sudah lama tidak terpakai.

Semua pintu ruangan yang berwarna oranye masih dalam kondisi disegel menggunakan dua kayu yang disilang dan dipaku ke kosen. Penyegelan dilakukan karena terjadi sengketa lahan anatara pemerintah dan warga yang mengaku sebagai pemilik lahan.

Akibatnya, kegiatan belajar mengajar (KBM) dipindah ke bangunan milik warga yang lokasinya berada di samping barat SDN Rek-Kerrek 4. Meski ruangan yang digunakan minim fasilitas, siswa tetap fokus dan giat belajar.

Terdapat dua bangunan milik warga yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran setiap hari. Yakni, rumah baru milik Dulmu’in yang pembangunannya belum selesai. Beberapa ruangan disulap menjadi kelas untuk siswa belajar setiap hari.

Baca Juga :  Bagaimana Sejarah dari Sistem Aplikasi Pajak Online, dan Apa Saja Layanannnya?

Untuk menghindari panas dipasang atap menggunakan terpal. Sementara lantainya yang masih berupa tanah diberi alas seadanya. Terkadang pembelajaran siswa dilaksanakan di langgar yang berada di satu lokasi.

Kedatangan koran ini disambut hangat oleh guru. Salah seorang guru bernama Moh. Zaimal mengatakan, jumlah siswa di sekolah tersebut 48 orang. Perinciannya, tujuh siswa di kelas I, enam siswa di kelas II, dan 14 siswa di kelas III. Lalu, kelas IV tujuh siswa, kelas V enam siswa, dan kelas VI enam siswa. ”Pembelajaran setiap hari tetap berlangsung sebagaimana mestinya,” jelasnya Senin (19/9).

Menurut dia, saat polemik terjadi, pihak sekolah sempat mengumpulkan wali murid untuk bermusyawarah. Dalam musyarawah tersebut, wali siswa diarahkan memindah anaknya ke sekolah sekitar. ”Tapi, mereka tidak berkenan untuk pindah,” paparnya.

Baca Juga :  Perhatikan Ini Saat Memilih Master Pan Cookware

Menurut Zaimal, lembaga pendidikan dasar di sekitar SDN Rek-Kerrek 4 cukup banyak. Namun, tetap tidak mengubah pendirian wali murid. ”Semua siswa yang sekolah di sini merupakan warga sekitar,” tuturnya.

Sejauh ini, dia tidak pernah mendengar keluh kesah orang tua siswa. Namun, tidak sedikit dari mereka yang bertanya tentang penyelesaian sengketa lahan itu. ”Kalau orang tua siswa yang mengeluh tidak ada. Tapi kalau yang bertanya, kasus ini sudah selesai atau tidak, cukup banyak,” paparnya.

Rumah warga yang ditempati sebagai ruang kelas sementara merupakan milik Dulmu’in. ”Saya persilakan saja jika memang ingin dipakai menjadi kelas sementara. Karena kasihan siswa jika tidak menemukan tempat belajar,” kata Dulmu’in.

Dia menyatakan tidak keberatan rumahnya digunakan sebagai tempat pembelajaran siswa. Apalagi, sebagian di antara siswa masih familinya. ”Ada beberapa cucu dan keponakan saya yang juga menjadi siswa,” jelasnya. (*/han)

Polemik sengketa lahan SDN Rek-Kerrek, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, sudah berlangsung selama setahun. Bahkan, gedung sekolah itu masih disegel oleh pemilik tanah. Lalu, bagaimana nasib siswa di sana?

MOH. BUSRI, Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura

SAAT Jawa Pos Radar Madura (JPRM) berkunjung ke SDN Rek-Kerrek, Senin (19/9) sekitar pukul 12.30 situasinya sangat sepi. Lantai teras sekolah yang terbuat dari tegel penuh dengan debu. Itu menjadi bukti bahwa sekolah tersebut sudah lama tidak terpakai.


Semua pintu ruangan yang berwarna oranye masih dalam kondisi disegel menggunakan dua kayu yang disilang dan dipaku ke kosen. Penyegelan dilakukan karena terjadi sengketa lahan anatara pemerintah dan warga yang mengaku sebagai pemilik lahan.

Akibatnya, kegiatan belajar mengajar (KBM) dipindah ke bangunan milik warga yang lokasinya berada di samping barat SDN Rek-Kerrek 4. Meski ruangan yang digunakan minim fasilitas, siswa tetap fokus dan giat belajar.

Terdapat dua bangunan milik warga yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran setiap hari. Yakni, rumah baru milik Dulmu’in yang pembangunannya belum selesai. Beberapa ruangan disulap menjadi kelas untuk siswa belajar setiap hari.

Baca Juga :  Bagaimana Sejarah dari Sistem Aplikasi Pajak Online, dan Apa Saja Layanannnya?

Untuk menghindari panas dipasang atap menggunakan terpal. Sementara lantainya yang masih berupa tanah diberi alas seadanya. Terkadang pembelajaran siswa dilaksanakan di langgar yang berada di satu lokasi.

- Advertisement -

Kedatangan koran ini disambut hangat oleh guru. Salah seorang guru bernama Moh. Zaimal mengatakan, jumlah siswa di sekolah tersebut 48 orang. Perinciannya, tujuh siswa di kelas I, enam siswa di kelas II, dan 14 siswa di kelas III. Lalu, kelas IV tujuh siswa, kelas V enam siswa, dan kelas VI enam siswa. ”Pembelajaran setiap hari tetap berlangsung sebagaimana mestinya,” jelasnya Senin (19/9).

Menurut dia, saat polemik terjadi, pihak sekolah sempat mengumpulkan wali murid untuk bermusyawarah. Dalam musyarawah tersebut, wali siswa diarahkan memindah anaknya ke sekolah sekitar. ”Tapi, mereka tidak berkenan untuk pindah,” paparnya.

Baca Juga :  BRI Setor Dividen Rp 14 Triliun kepada Kas Negara

Menurut Zaimal, lembaga pendidikan dasar di sekitar SDN Rek-Kerrek 4 cukup banyak. Namun, tetap tidak mengubah pendirian wali murid. ”Semua siswa yang sekolah di sini merupakan warga sekitar,” tuturnya.

Sejauh ini, dia tidak pernah mendengar keluh kesah orang tua siswa. Namun, tidak sedikit dari mereka yang bertanya tentang penyelesaian sengketa lahan itu. ”Kalau orang tua siswa yang mengeluh tidak ada. Tapi kalau yang bertanya, kasus ini sudah selesai atau tidak, cukup banyak,” paparnya.

Rumah warga yang ditempati sebagai ruang kelas sementara merupakan milik Dulmu’in. ”Saya persilakan saja jika memang ingin dipakai menjadi kelas sementara. Karena kasihan siswa jika tidak menemukan tempat belajar,” kata Dulmu’in.

Dia menyatakan tidak keberatan rumahnya digunakan sebagai tempat pembelajaran siswa. Apalagi, sebagian di antara siswa masih familinya. ”Ada beberapa cucu dan keponakan saya yang juga menjadi siswa,” jelasnya. (*/han)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Lima Raperda Siap Dibahas

/