24 C
Madura
Saturday, January 28, 2023

KH Abdullah Sajjad, Pahlawan Kemerdekaan dari Pondok Pesantren Annuqayah (3–Habis)

Keluarga Belum Musyawarah untuk Pengajuan Gelar

Cerita kepahlawanan KH Abdullah Sajjad bukan hal baru. Cerita-cerita itu hidup dan menjadi teladan bagi masyarakat. Terutama di kalangan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Annuqayah.

MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

TELADAN yang bisa diambil dari perjuangan Kiai Sajjad sangat kompleks. Betapa tidak, ulama sekaligus pejuang dari bumi Annuqayah ini memberikan contoh yang lengkap. Mulai dari soal beragama, berpolitik, sekaligus hidup dalam berbangsa.

Tiga hal itu yang paling besar bisa diambil dan diteladani. Karena itu, pasca wafatnya Kiai Sajjad di tangan Belanda, nasionalisme dan kebangsaan selalu dijunjung tinggi. Santri tidak hanya diajarkan ilmu-ilmu agama.

”Ini yang terus kami lestarikan di Annuqayah sebagai generasi penerus. Bahwa, sesepuh-sesepuh kami sudah memberi contoh,” ungkap Prof Abd. A’la kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Akan tetapi, kata dia, yang perlu diketahui, penghargaan sebagai pahlawan kepada Kiai Sajjad belum resmi datang dari negara. Namun, hanya berdasar fakta atas perjuangan yang dilakukan Kiai Sajjad serta disaksikan langsung oleh para santri dan masyarakat yang pernah belajar kepadanya.

Meski demikian, bukan berarti mendegradasi jasa-jasa Kiai Sajjad sebagai sosok penting dalam sejarah mempertahankan kemedekaan Indonesia pasca proklamasi kemerdekaan dibacakan oleh Bung Karno pada 77 tahun silam. Kiai A’la turut membenarkan hal itu. Beberapa tahun lalu ada beberapa organisasi berniat mengajukan Kiai Sajjad sebagai pahlawan nasional. Namun, pihak keluarga, terutama anak cucu dari kiai yang juga memiliki perhatian terkait persoalan ekologi ini belum merespons secara resmi.

Baca Juga :  Puisi Madura A. Jefri Maulana*

”Saya lupa kapan tepatnya, kalau tidak salah itu para Pemuda Pancasila ingin mengajukan Kiai Sajjad sebagai pahlawan nasional,” tutur kiai yang kini mendapat amanah sebagai Rais Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2022–2007 itu.

Kiai A’la menyebut, para keluarga, baik anak maupun cucu, lebih-lebih para masyayikh Ponpes Annuqayah belum bermusyawarah secara resmi. Namun, sebagai cucu yang juga mewarisi tanggung jawab untuk meneruskan pengabdian Kiai Sajjad kepada agama dan bangsa, keinginan itu ada.

”Kalau saya pribadi, ada keinginan ke arah sana. Tapi, tetap, keputusan harus melibatkan musyawarah keluarga,” jelasnya.

Namun, Kiai A’la menyebut, pengajuan sebagai pahlawan nasional bagi Kiai Sajjad butuh proses panjang. Sebab, harus melakukan penelitian ulang untuk melengkapi administrasi dan syarat yang dibutuhkan.

Baca Juga :  Siswa Terancam, Guru dan Wali Murid Ketar-ketir

Kiai A’la mengaku sedang berusaha mengumpulkan serpihan-serpihan bukti kepahlawanan Kiai Sajjad. Upaya itu dilakukan bukan dalam rangka pengajuan gelar pahlawan nasional. ”Kalaupun nanti misalnya keluarga sepakat, ya, bisa dilakukan. Saya juga tengah mencari guru beliau waktu nyantri atau belajar di Tanah Suci Makkah,” katanya.

Hal itu dilakukan Kiai A’la untuk keperluan melacak kembali sejarah dan perjalanan hidup Kiai Sajjad. Baik sebagai pemuka agama atau sebagai pejuang yang gigih mengusir Belanda dari Indonesia. Khususnya Madura, yang saat itu oleh Belanda ingin dikuasai kembali. Padahal, bangsa ini, dua tahun sebelum Kiai Sajjad wafat sebagai martir sudah sah menjadi negara.

Kiai A’la berharap, khususnya kepada santri Annuqayah, bisa mengambil spirit Kiai Sajjad dalam kehidupan. Baik kehidupan beragama maupun bertanah air. Sebab, keduanya tidak bisa diperdebatkan. Dan, Kiai Sajjad sudah tunai dan sempurna melakukan itu.

”Itu saja yang bisa saya tegaskan mengenai Kiai Sajjad. Selebihnya mungkin bisa dilengkapi melalui sumber-sumber lain. Yang paling penting, mari bersama-sama menjaga negara seperti beliau menjaganya,” pungkas Kiai A’la. (*/luq)

Cerita kepahlawanan KH Abdullah Sajjad bukan hal baru. Cerita-cerita itu hidup dan menjadi teladan bagi masyarakat. Terutama di kalangan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Annuqayah.

MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

TELADAN yang bisa diambil dari perjuangan Kiai Sajjad sangat kompleks. Betapa tidak, ulama sekaligus pejuang dari bumi Annuqayah ini memberikan contoh yang lengkap. Mulai dari soal beragama, berpolitik, sekaligus hidup dalam berbangsa.


Tiga hal itu yang paling besar bisa diambil dan diteladani. Karena itu, pasca wafatnya Kiai Sajjad di tangan Belanda, nasionalisme dan kebangsaan selalu dijunjung tinggi. Santri tidak hanya diajarkan ilmu-ilmu agama.

”Ini yang terus kami lestarikan di Annuqayah sebagai generasi penerus. Bahwa, sesepuh-sesepuh kami sudah memberi contoh,” ungkap Prof Abd. A’la kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Akan tetapi, kata dia, yang perlu diketahui, penghargaan sebagai pahlawan kepada Kiai Sajjad belum resmi datang dari negara. Namun, hanya berdasar fakta atas perjuangan yang dilakukan Kiai Sajjad serta disaksikan langsung oleh para santri dan masyarakat yang pernah belajar kepadanya.

Meski demikian, bukan berarti mendegradasi jasa-jasa Kiai Sajjad sebagai sosok penting dalam sejarah mempertahankan kemedekaan Indonesia pasca proklamasi kemerdekaan dibacakan oleh Bung Karno pada 77 tahun silam. Kiai A’la turut membenarkan hal itu. Beberapa tahun lalu ada beberapa organisasi berniat mengajukan Kiai Sajjad sebagai pahlawan nasional. Namun, pihak keluarga, terutama anak cucu dari kiai yang juga memiliki perhatian terkait persoalan ekologi ini belum merespons secara resmi.

Baca Juga :  Jagad Keilmuan Masyarakat Madura
- Advertisement -

”Saya lupa kapan tepatnya, kalau tidak salah itu para Pemuda Pancasila ingin mengajukan Kiai Sajjad sebagai pahlawan nasional,” tutur kiai yang kini mendapat amanah sebagai Rais Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2022–2007 itu.

Kiai A’la menyebut, para keluarga, baik anak maupun cucu, lebih-lebih para masyayikh Ponpes Annuqayah belum bermusyawarah secara resmi. Namun, sebagai cucu yang juga mewarisi tanggung jawab untuk meneruskan pengabdian Kiai Sajjad kepada agama dan bangsa, keinginan itu ada.

”Kalau saya pribadi, ada keinginan ke arah sana. Tapi, tetap, keputusan harus melibatkan musyawarah keluarga,” jelasnya.

Namun, Kiai A’la menyebut, pengajuan sebagai pahlawan nasional bagi Kiai Sajjad butuh proses panjang. Sebab, harus melakukan penelitian ulang untuk melengkapi administrasi dan syarat yang dibutuhkan.

Baca Juga :  Anwar Sadat, Guru Seni Budaya Sekaligus Perajin Tongkos di Bangkalan

Kiai A’la mengaku sedang berusaha mengumpulkan serpihan-serpihan bukti kepahlawanan Kiai Sajjad. Upaya itu dilakukan bukan dalam rangka pengajuan gelar pahlawan nasional. ”Kalaupun nanti misalnya keluarga sepakat, ya, bisa dilakukan. Saya juga tengah mencari guru beliau waktu nyantri atau belajar di Tanah Suci Makkah,” katanya.

Hal itu dilakukan Kiai A’la untuk keperluan melacak kembali sejarah dan perjalanan hidup Kiai Sajjad. Baik sebagai pemuka agama atau sebagai pejuang yang gigih mengusir Belanda dari Indonesia. Khususnya Madura, yang saat itu oleh Belanda ingin dikuasai kembali. Padahal, bangsa ini, dua tahun sebelum Kiai Sajjad wafat sebagai martir sudah sah menjadi negara.

Kiai A’la berharap, khususnya kepada santri Annuqayah, bisa mengambil spirit Kiai Sajjad dalam kehidupan. Baik kehidupan beragama maupun bertanah air. Sebab, keduanya tidak bisa diperdebatkan. Dan, Kiai Sajjad sudah tunai dan sempurna melakukan itu.

”Itu saja yang bisa saya tegaskan mengenai Kiai Sajjad. Selebihnya mungkin bisa dilengkapi melalui sumber-sumber lain. Yang paling penting, mari bersama-sama menjaga negara seperti beliau menjaganya,” pungkas Kiai A’la. (*/luq)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/