alexametrics
21.3 C
Madura
Saturday, October 1, 2022

Prof Dr Abdul Hadi WM, Sastrawan dan Filsuf Asal Sumenep, Bicara Madura (3)

Saya Sudah Tua, Yang Muda-Muda Itu Harus Diberi Panggung

Kehidupan sosial masyarakat Madura memicu Abdul Hadi menyukai sastra. Cerita lisan, nyanyian, dan tembang macapat kerap didengar pada masa kecil. Dia berharap generasi muda diberi panggung.

MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

KEPULANGAN Prof Dr Abdul Hadi WM beberapa hari lalu meninggalkan PR besar untuk generasi muda. Yakni, problem sejarah dan kebudayaan yang ujungnya berkaitan dengan seni dan sastra.

Masa muda Abdul Hadi dihabiskan di Sumenep. Masa-masa pendidikan dasar hingga menengah. Kemudian, hijrah ke Surabaya saat menginjak sekolah menengah atas (SMA). Dia adalah putra ketiga dari sepuluh bersaudara. Kedua kakak dan empat adiknya wafat pada usia muda.

Minatnya terhadap seni, sastra, dan filsafat tumbuh sejak Hadi masih kecil. Karya-karya macam filsuf Plato, Socrates, Imam Ghazali, dan sastrawan Rabindranath Tagore dilahapnya kala itu. Dalam satu kesempatan pada 2017, dia bercerita, dulu ada banyak seniman dari Barat dan Eropa yang singgah di rumahnya. ”Banyak seniman dari luar itu ke sini,” tuturnya.

Sementara dalam karier akademisnya, ayah tiga anak perempuan ini dikenal sebagai cendekiawan muslim bersahaja. Karya-karya ilmiahnya, terutama dalam bidang filsafat dan tasawuf, menjadi referensi penting.

Baca Juga :  Satu Tahun Siswa SDN Rek-Kerrek 4 Numpang di Rumah Warga

Abdul Hadi menempuh pendidikan di fakultas sastra dan filsafat di Universitas Gadjah Mada Jogjakarta. Hingga akhirnya keliling di beberapa negara, salah satunya Jerman, untuk mendalami filsafat. Beberapa tahun dia pernah tinggal di Iowa, Amerika Serikat, mengikuti International Writing Program.

Kecintaannya terhadap sastra tidak pernah surut. Meskipun karya-karyanya, terutama puisi, diakui oleh berbagai kalangan, sikapnya tetap rendah hati. Bahkan, tidak terlalu senang disanjung dan dinomorsatukan.

”Saya sudah tua. Yang muda-muda itu loh harus diberi panggung,” tegas lelaki yang pada 1977 diganjar penghargaan oleh Dewan Kesenian Jakarta atas buku puisinya berjudul Meditasi yang terbit 1976.

Salah satu hal yang melatarbelakangi minatnya terhadap sastra yakni kehidupan sosial masyarakat Madura. Selain religius, kaya dengan kearifan lokal yang kental. Misalnya, cerita-cerita lisan, nyanyian, dan tembang-tembang macapat yang kerap didengarkannya sewaktu masih kecil.

”Saya tidak bisa berbohong bahwa saya menyukai sastra. Dulu di desa saya tiap hari tiap malam selalu ada pembacan macapat. Sekarang sudah mulai jarang,” terang suami Tejawati ini.

Baca Juga :  Rara Arimbi Gita Atmojo, Masuk Pasukan 17 Paskibraka Jatim

Kondisi itu memantik perhatian Prof Hadi. Menurut dia, kebudayaan di Madura, termasuk Sumenep, mulai luntur karena berkurangnya ruang kreativitas bagi seniman dan budayawan. Kalau pun ada, ruang untuk apresiasi karya masih minim.

Dalam dunia seni dan sastra, lanjut lelaki yang oleh Pemerintah Kerajaan Thailand melalui Putra Mahkota di Bangkok dianugerahi Hadiah Sastra ASEAN pada 1985 atas karyanya berjudul Tergantung pada Angin (kumpulan sajak, 1983) ini, yang paling penting adalah karya. Bukan kelompok. Wajar jika kemudian penulis-penulis dari Madura, khususnya Sumenep, tumbuh dan besar di luar.

Dia berharap, ruang diskusi, baik seni, sastra, budaya, maupun sejarah tercipta di Sumenep dengan intens. Sebab, dengan cara seperti itu karakteristik orang Madura akan dikenal dan menguat kembali.

”Ciptakan ruang yang kreatif dan dialektis. Tapi, jangan lupa juga untuk terus membaca, meneliti, dan menelaah. Itu juga penting,” tegas guru besar Universitas Paramadina itu. (*/luq)

Kehidupan sosial masyarakat Madura memicu Abdul Hadi menyukai sastra. Cerita lisan, nyanyian, dan tembang macapat kerap didengar pada masa kecil. Dia berharap generasi muda diberi panggung.

MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

KEPULANGAN Prof Dr Abdul Hadi WM beberapa hari lalu meninggalkan PR besar untuk generasi muda. Yakni, problem sejarah dan kebudayaan yang ujungnya berkaitan dengan seni dan sastra.


Masa muda Abdul Hadi dihabiskan di Sumenep. Masa-masa pendidikan dasar hingga menengah. Kemudian, hijrah ke Surabaya saat menginjak sekolah menengah atas (SMA). Dia adalah putra ketiga dari sepuluh bersaudara. Kedua kakak dan empat adiknya wafat pada usia muda.

Minatnya terhadap seni, sastra, dan filsafat tumbuh sejak Hadi masih kecil. Karya-karya macam filsuf Plato, Socrates, Imam Ghazali, dan sastrawan Rabindranath Tagore dilahapnya kala itu. Dalam satu kesempatan pada 2017, dia bercerita, dulu ada banyak seniman dari Barat dan Eropa yang singgah di rumahnya. ”Banyak seniman dari luar itu ke sini,” tuturnya.

Sementara dalam karier akademisnya, ayah tiga anak perempuan ini dikenal sebagai cendekiawan muslim bersahaja. Karya-karya ilmiahnya, terutama dalam bidang filsafat dan tasawuf, menjadi referensi penting.

Baca Juga :  Membaca (Ulang) Sejarah Madura

Abdul Hadi menempuh pendidikan di fakultas sastra dan filsafat di Universitas Gadjah Mada Jogjakarta. Hingga akhirnya keliling di beberapa negara, salah satunya Jerman, untuk mendalami filsafat. Beberapa tahun dia pernah tinggal di Iowa, Amerika Serikat, mengikuti International Writing Program.

- Advertisement -

Kecintaannya terhadap sastra tidak pernah surut. Meskipun karya-karyanya, terutama puisi, diakui oleh berbagai kalangan, sikapnya tetap rendah hati. Bahkan, tidak terlalu senang disanjung dan dinomorsatukan.

”Saya sudah tua. Yang muda-muda itu loh harus diberi panggung,” tegas lelaki yang pada 1977 diganjar penghargaan oleh Dewan Kesenian Jakarta atas buku puisinya berjudul Meditasi yang terbit 1976.

Salah satu hal yang melatarbelakangi minatnya terhadap sastra yakni kehidupan sosial masyarakat Madura. Selain religius, kaya dengan kearifan lokal yang kental. Misalnya, cerita-cerita lisan, nyanyian, dan tembang-tembang macapat yang kerap didengarkannya sewaktu masih kecil.

”Saya tidak bisa berbohong bahwa saya menyukai sastra. Dulu di desa saya tiap hari tiap malam selalu ada pembacan macapat. Sekarang sudah mulai jarang,” terang suami Tejawati ini.

Baca Juga :  Siswa Terancam, Guru dan Wali Murid Ketar-ketir

Kondisi itu memantik perhatian Prof Hadi. Menurut dia, kebudayaan di Madura, termasuk Sumenep, mulai luntur karena berkurangnya ruang kreativitas bagi seniman dan budayawan. Kalau pun ada, ruang untuk apresiasi karya masih minim.

Dalam dunia seni dan sastra, lanjut lelaki yang oleh Pemerintah Kerajaan Thailand melalui Putra Mahkota di Bangkok dianugerahi Hadiah Sastra ASEAN pada 1985 atas karyanya berjudul Tergantung pada Angin (kumpulan sajak, 1983) ini, yang paling penting adalah karya. Bukan kelompok. Wajar jika kemudian penulis-penulis dari Madura, khususnya Sumenep, tumbuh dan besar di luar.

Dia berharap, ruang diskusi, baik seni, sastra, budaya, maupun sejarah tercipta di Sumenep dengan intens. Sebab, dengan cara seperti itu karakteristik orang Madura akan dikenal dan menguat kembali.

”Ciptakan ruang yang kreatif dan dialektis. Tapi, jangan lupa juga untuk terus membaca, meneliti, dan menelaah. Itu juga penting,” tegas guru besar Universitas Paramadina itu. (*/luq)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Lima Raperda Siap Dibahas

/