alexametrics
26.3 C
Madura
Friday, September 30, 2022

Prof Dr Abdul Hadi WM, Sastrawan dan Filsuf Asal Sumenep Bicara Madura (1)

Ada Sejarah yang Terputus dan Dikaburkan

Nama Prof Dr Abdul Hadi WM tidak asing lagi di kalangan seniman, pemerhati sejarah, dan budaya. Penulis buku Tasawuf yang Tertindas (Kajian Hermeneutik terhadap Karya-Karya Hamzah Fansuri) itu membagikan pengetahuannya tentang Madura.

MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

SEJUMLAH seniman, pegiat sejarah, dan pemerhati budaya berkumpul di salah satu kafe di Sumenep pada Selasa malam (2/8). Mereka tengah menunggu kedatangan sosok penting yang tidak asing dalam pergulatan sastra, budaya, filsafat di Indonesia. Yakni, Prof Dr Abdul Hadi WM.

Sekitar pukul 21.00 sosok yang ditunggu datang. Dia datang bersama penyair asal Sumenep yang khas dengan rambut klimis dan kacamatanya, yakni Ibnu Hajar. Prof Dr Abdul Hadi WM sudah tidak muda lagi. Bahkan, seluruh rambutnya tampak memutih.

Tetapi, perhatiannya kepada Madura seolah tak termakan usia. Layaknya karya-karya yang dilahirkannya. Segar, penuh perhitungan, dan sangat relevan. Abdul Hadi WM dikenal oleh banyak orang sebagai sastrawan Indonesia asal Sumenep, Madura.

Orang-orang yang berkumpul di kafe itu, satu per satu berupaya menyalaminya. Mereka tampak begitu dekat dengan orang yang terkenal dengan sajak Tuhan Kita Begitu Dekat. Namun karena waktu cukup singkat, Ibnu Hajar langsung mengarahkan ke tempat duduk agar diskusi malam itu dimulai. Sebab, keesokan harinya, sang profesor itu akan mengisi sebuah seminar kebudayaan di salah satu kampus di Sumenep.

Tidak banyak bicara, pria yang pada malam itu mengenakan baju batik tersebut langsung memulai diskusi sejarah Madura, khususnya Sumenep sebagai pembahasan utamanya. Prof Hadi (sapaan akrabnya), seolah terlihat gelisah jika membahas Madura, lebih-lebih Sumenep.

Hal itu dikuatkan dengan status-statusnya di media sosial, yang dalam beberapa tahun terakhir selalu bicara tentang tanah kelahirannya. Baik dalam aspek sosial dan politik, budaya, lebih-lebih sejarah. Hal ini tentu memunculkan pertanyaan besar.

Dalam satu kesempatan, tepatnya tahun 2017, ketika pulang bersama penyair dan cerpenis kelahiran Legung, Batang-Batang Mahwi Air Tawar, Prof Hadi pernah berujar, ”Sudah sering saya menyinggung soal Sumenep di media sosial, tapi kok tidak ada respons untuk berdiskusi lebih panjang, ya?”

Baca Juga :  Siswa Terancam, Guru dan Wali Murid Ketar-ketir

Pernyataan itu tentu memunculkan rasa penasaran. Namun, pelan-pelan, malam itu sedikit teruraikan. Dengan tegas, di hadapan sejumlah peserta diskusi, Prof Hadi mengatakan, ada sejarah yang terputus. Sebab, selama ini pembahasan sejarah mengenai Madura, di bangku-bangku akademis selalu dimulai dari Arya Wiraraja.

”Lalu, sebelum Arya Wiraraja ke mana? Ini yang perlu diungkap. Sejarah kita terputus di sana,” kata Prof Hadi memulai dikusi malam itu.

Bahkan, fase-fase penting sejarah Sumenep itu, kata Prof Hadi dikaburkan. Dia mencontohkan tentang sejarah pada masa Pangeran Secoadiningrat III alias Joko Tole. Terutama tentang pertempurannya dengan Dempo Awang, atau kata Prof Hadi adalah Sam Po Kong. Dempo Awang hidup pada awal abad ke-15, bertepatan dengan masa akhir Sayyid Makdum Ibrahim As-Samarqandy, yang selanjutnya masyhur dengan sebutan Maulana Malik Ibrahim Sunan Gresik.

”Sedangkan Dempo Awang yang hidup pada masa Joko Tole itu akhir abad ke-15. Ini tidak sinkron, dan ini saya rasa sengaja dikacaukan,” tegasnya.

Penegasan Prof Hadi itu sekaligus merupakan kritik dan koreksi atas buku Babad Sumenep karangan R. Werdisastra. Dia menyebut bahwa penulisan buku itu dituntun langsung oleh kolonial Belanda. Hal ini adalah satu dari indikasi kekacauan sejarah itu.

”Ini tidak jauh berbeda dengan penulisan serat Cempala di Jawa. Kita ingat kan zaman Orde Baru, apa-apa harus mengikuti Orde Baru. Jadi seperti itu, dibuat dan direkayasa,” katanya sekaligus membuat para penyimak sedikit terperangah.

Rasa penasaran yang semakin dalam pun mulai muncul dari wajah-wajah peserta yang duduk melingkar di atas kursi. Tak terasa, sepuluh menit lebih Prof Hadi memberi pencerahan, temuan, dan pengetahuan baru bagi mereka. Namun, para audiens masih semangat mendengarkan pencerahannya.

Pendapat Prof Hadi kian lengkap ketika indikasi kedua kekaburan sejarah Joko Tole dikatakan. Yakni, keterangan yang mengatakan bahwa raja juga dikenal dengan nama Arya Jaran Panole itu punya peran besar dalam sejarah pembangunan gerbang utama Majapahit.

Menurut Prof Hadi, hal itu bukan Majapahit awal. Sebab, pintu gerbang kerajaan yang dipimpin Raden Wijaya itu dibangun sekitar abad 13. Setelah melakukan sebuah penelitian ditemukan bahwa peristiwa ini terjadi pada akhir abad ke-15, pasca runtuhnya kepemimpinan Girindrawardhana akibat perang Paregreg.

Perang Paregreg, lanjut Prof Hadi adalah perang antara Majapahit wilayah barat dan timur. ”Wilayah timur itu antara lain Bali dan Blambangan. Karena itu, ada perang antara Joko Tole dengan Bali. Kita, Madura ini, masuk dalam wilayah Majapahit barat,” ungkapnya.

Baca Juga :  Erlycha, Ketua GenRe Jatim Asal Bangkalan yang Bertabur Prestasi

Dari dua keterangan yang disampaikan Prof Hadi ini, tidak berlebihan jika problem sejarah Madura, khususnya Sumenep begitu komplet. Tidak sederhana, dan butuh satu penelitian ketat, yang tentu saja punya kemampuan dalam lintas disiplin keilmuan. Misalnya, geografi, bahasa asing, filologi, dan tentu saja ilmu sejarah itu sendiri.

Selanjutnya, Guru Besar Universitas Paramadina Jakarta itu mengungkapkan, kekaburan ini juga terjadi pada sejarah-sejarah berikutnya. Kali ini, penyampaian Prof Hadi lebih universal, namun tetap seputar Madura.

”Sejarah-sejarah berikutnya itu juga kabur. Apa yang terjadi sebetulnya setelah Mataram pada tahun 1642 ketika menaklukkan Bangkalan dan Sumenep? Ini semacam kolonisasi, atau pemaksaan kebudayaan Mataram atas Madura, terutama Sumenep dan Bangkalan sendiri,” terangnya.

Hal ini, kata Prof Hadi membutuhkan penelitian lebih lanjut. Dia mengingatkan bahwa meneliti sejarah tidak hanya cukup dengan mengungkapkan kapan peristiwa itu terjadi, melainkan harus dilengkapi dengan fakta sejarah. Fakta sejarah bisa diterima apabila di dalamnya terdapat bukti yang kuat. ”Ini sebenarnya yang ingin saya sampaikan,” tegasnya.

Pria kelahiran 1946 itu menyatakan, temuan yang disampaikannya adalah salah satu bentuk koreksi terhadap sejarah yang selama ini diproduksi oleh masyarakat Sumenep. Sebab, sebagai pengetahuan, sejarah selalu membutuhkan koreksi untuk mencapai validitas dan otentisitasnya. Sebagaimana sifat ilmu pengetahuan, bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar mutlak dan selalu ada bukti-bukti baru, utamanya dalam sejarah.

”Jadi itu yang ingin saya sampaikan, meskipun tidak secara definitif. Jadi sejarah itu perlu dikoreksi terus-menerus,” pungkas lelaki yang juga pernah menulis naskah drama berjudul Ranggalawe itu. (*/han)

Nama Prof Dr Abdul Hadi WM tidak asing lagi di kalangan seniman, pemerhati sejarah, dan budaya. Penulis buku Tasawuf yang Tertindas (Kajian Hermeneutik terhadap Karya-Karya Hamzah Fansuri) itu membagikan pengetahuannya tentang Madura.

MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

SEJUMLAH seniman, pegiat sejarah, dan pemerhati budaya berkumpul di salah satu kafe di Sumenep pada Selasa malam (2/8). Mereka tengah menunggu kedatangan sosok penting yang tidak asing dalam pergulatan sastra, budaya, filsafat di Indonesia. Yakni, Prof Dr Abdul Hadi WM.


Sekitar pukul 21.00 sosok yang ditunggu datang. Dia datang bersama penyair asal Sumenep yang khas dengan rambut klimis dan kacamatanya, yakni Ibnu Hajar. Prof Dr Abdul Hadi WM sudah tidak muda lagi. Bahkan, seluruh rambutnya tampak memutih.

Tetapi, perhatiannya kepada Madura seolah tak termakan usia. Layaknya karya-karya yang dilahirkannya. Segar, penuh perhitungan, dan sangat relevan. Abdul Hadi WM dikenal oleh banyak orang sebagai sastrawan Indonesia asal Sumenep, Madura.

Orang-orang yang berkumpul di kafe itu, satu per satu berupaya menyalaminya. Mereka tampak begitu dekat dengan orang yang terkenal dengan sajak Tuhan Kita Begitu Dekat. Namun karena waktu cukup singkat, Ibnu Hajar langsung mengarahkan ke tempat duduk agar diskusi malam itu dimulai. Sebab, keesokan harinya, sang profesor itu akan mengisi sebuah seminar kebudayaan di salah satu kampus di Sumenep.

Tidak banyak bicara, pria yang pada malam itu mengenakan baju batik tersebut langsung memulai diskusi sejarah Madura, khususnya Sumenep sebagai pembahasan utamanya. Prof Hadi (sapaan akrabnya), seolah terlihat gelisah jika membahas Madura, lebih-lebih Sumenep.

- Advertisement -

Hal itu dikuatkan dengan status-statusnya di media sosial, yang dalam beberapa tahun terakhir selalu bicara tentang tanah kelahirannya. Baik dalam aspek sosial dan politik, budaya, lebih-lebih sejarah. Hal ini tentu memunculkan pertanyaan besar.

Dalam satu kesempatan, tepatnya tahun 2017, ketika pulang bersama penyair dan cerpenis kelahiran Legung, Batang-Batang Mahwi Air Tawar, Prof Hadi pernah berujar, ”Sudah sering saya menyinggung soal Sumenep di media sosial, tapi kok tidak ada respons untuk berdiskusi lebih panjang, ya?”

Baca Juga :  Erlycha, Ketua GenRe Jatim Asal Bangkalan yang Bertabur Prestasi

Pernyataan itu tentu memunculkan rasa penasaran. Namun, pelan-pelan, malam itu sedikit teruraikan. Dengan tegas, di hadapan sejumlah peserta diskusi, Prof Hadi mengatakan, ada sejarah yang terputus. Sebab, selama ini pembahasan sejarah mengenai Madura, di bangku-bangku akademis selalu dimulai dari Arya Wiraraja.

”Lalu, sebelum Arya Wiraraja ke mana? Ini yang perlu diungkap. Sejarah kita terputus di sana,” kata Prof Hadi memulai dikusi malam itu.

Bahkan, fase-fase penting sejarah Sumenep itu, kata Prof Hadi dikaburkan. Dia mencontohkan tentang sejarah pada masa Pangeran Secoadiningrat III alias Joko Tole. Terutama tentang pertempurannya dengan Dempo Awang, atau kata Prof Hadi adalah Sam Po Kong. Dempo Awang hidup pada awal abad ke-15, bertepatan dengan masa akhir Sayyid Makdum Ibrahim As-Samarqandy, yang selanjutnya masyhur dengan sebutan Maulana Malik Ibrahim Sunan Gresik.

”Sedangkan Dempo Awang yang hidup pada masa Joko Tole itu akhir abad ke-15. Ini tidak sinkron, dan ini saya rasa sengaja dikacaukan,” tegasnya.

Penegasan Prof Hadi itu sekaligus merupakan kritik dan koreksi atas buku Babad Sumenep karangan R. Werdisastra. Dia menyebut bahwa penulisan buku itu dituntun langsung oleh kolonial Belanda. Hal ini adalah satu dari indikasi kekacauan sejarah itu.

”Ini tidak jauh berbeda dengan penulisan serat Cempala di Jawa. Kita ingat kan zaman Orde Baru, apa-apa harus mengikuti Orde Baru. Jadi seperti itu, dibuat dan direkayasa,” katanya sekaligus membuat para penyimak sedikit terperangah.

Rasa penasaran yang semakin dalam pun mulai muncul dari wajah-wajah peserta yang duduk melingkar di atas kursi. Tak terasa, sepuluh menit lebih Prof Hadi memberi pencerahan, temuan, dan pengetahuan baru bagi mereka. Namun, para audiens masih semangat mendengarkan pencerahannya.

Pendapat Prof Hadi kian lengkap ketika indikasi kedua kekaburan sejarah Joko Tole dikatakan. Yakni, keterangan yang mengatakan bahwa raja juga dikenal dengan nama Arya Jaran Panole itu punya peran besar dalam sejarah pembangunan gerbang utama Majapahit.

Menurut Prof Hadi, hal itu bukan Majapahit awal. Sebab, pintu gerbang kerajaan yang dipimpin Raden Wijaya itu dibangun sekitar abad 13. Setelah melakukan sebuah penelitian ditemukan bahwa peristiwa ini terjadi pada akhir abad ke-15, pasca runtuhnya kepemimpinan Girindrawardhana akibat perang Paregreg.

Perang Paregreg, lanjut Prof Hadi adalah perang antara Majapahit wilayah barat dan timur. ”Wilayah timur itu antara lain Bali dan Blambangan. Karena itu, ada perang antara Joko Tole dengan Bali. Kita, Madura ini, masuk dalam wilayah Majapahit barat,” ungkapnya.

Baca Juga :  Wisata Arsip Masyarakat (Wamas) Satu-satunya di Madura

Dari dua keterangan yang disampaikan Prof Hadi ini, tidak berlebihan jika problem sejarah Madura, khususnya Sumenep begitu komplet. Tidak sederhana, dan butuh satu penelitian ketat, yang tentu saja punya kemampuan dalam lintas disiplin keilmuan. Misalnya, geografi, bahasa asing, filologi, dan tentu saja ilmu sejarah itu sendiri.

Selanjutnya, Guru Besar Universitas Paramadina Jakarta itu mengungkapkan, kekaburan ini juga terjadi pada sejarah-sejarah berikutnya. Kali ini, penyampaian Prof Hadi lebih universal, namun tetap seputar Madura.

”Sejarah-sejarah berikutnya itu juga kabur. Apa yang terjadi sebetulnya setelah Mataram pada tahun 1642 ketika menaklukkan Bangkalan dan Sumenep? Ini semacam kolonisasi, atau pemaksaan kebudayaan Mataram atas Madura, terutama Sumenep dan Bangkalan sendiri,” terangnya.

Hal ini, kata Prof Hadi membutuhkan penelitian lebih lanjut. Dia mengingatkan bahwa meneliti sejarah tidak hanya cukup dengan mengungkapkan kapan peristiwa itu terjadi, melainkan harus dilengkapi dengan fakta sejarah. Fakta sejarah bisa diterima apabila di dalamnya terdapat bukti yang kuat. ”Ini sebenarnya yang ingin saya sampaikan,” tegasnya.

Pria kelahiran 1946 itu menyatakan, temuan yang disampaikannya adalah salah satu bentuk koreksi terhadap sejarah yang selama ini diproduksi oleh masyarakat Sumenep. Sebab, sebagai pengetahuan, sejarah selalu membutuhkan koreksi untuk mencapai validitas dan otentisitasnya. Sebagaimana sifat ilmu pengetahuan, bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar mutlak dan selalu ada bukti-bukti baru, utamanya dalam sejarah.

”Jadi itu yang ingin saya sampaikan, meskipun tidak secara definitif. Jadi sejarah itu perlu dikoreksi terus-menerus,” pungkas lelaki yang juga pernah menulis naskah drama berjudul Ranggalawe itu. (*/han)

Artikel Terkait

Most Read

ASDP Sediakan Tiga Kapal

PT Sumber Daya Siap Kelola Migas

Ribuan Tanah Pemkab Belum Bersertifikat

Artikel Terbaru

Lima Raperda Siap Dibahas

/