alexametrics
24.1 C
Madura
Wednesday, August 10, 2022

Tak Ingin Gagal, Arsipkan Semua Kegiatan Selama 12 Tahun

Slaman Wakili Jatim pada Lomba Wana Lestari Tingkat Nasional

Pengalaman mengikuti penilaian Kalpataru kategori perintis linkungan pada 2008 menjadi pelajaran bagi Slaman. Dia gagal berangkat ke tingkat nasional gara-gara dokumen yang mendukung terhadap penilaian tidak terarsip dengan baik.

ANIS BILLAH, Jawa Pos Radar Madura, Pamekasan

AKTIVITAS sehari-hari Slaman banyak dihabiskan di pesisir Pantai Lembung yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Selain punya tanggung jawab mengelola wisata mangrove, Slaman terpanggil menjaga lingkungan pesisir. Terutama, pelestarian tanaman bakau yang sudah puluhan tahun dia jaga dan rawat.

Namun, warga Desa Lembung Utara, Kecamatan Galis, Pamekasan, itu terlihat santai di rumahnya bersama keluarga kemarin (2/8). Dia mempersilakan Jawa Pos Radar Madura. ”Kebetulan hari ini (kemarin) tidak ke pantai karena ada urusan ke Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Sumenep,” katanya memulai pembicaraan.

Saat ini Slaman sedang mengikuti lomba wana lestari tingkat nasional. Pria kelahiran 14 Desember 1970 itu menjadi perwakilan Provinsi Jawa Timur setelah berhasil terpilih sebagai juara pertama. Kategori lomba yang diikuti yakni kader konservasi alam (KKA) yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Penilaian sudah dilakukan oleh tim dari kementerian beberapa waktu lalu. Tim juri, kata Slaman, tidak hanya menilai dari materi presentasi yang dipaparkan. Tapi, juga melakukan verifikasi ke lapangan. Termasuk, bukti fisik berupa dokumen selama aktif sebagai KKA.

Baca Juga :  Lulusan Tidak Memiliki Ijazah

Beruntung, ketua KTH Sabuk Hijau itu sudah terbiasa mengarsipkan dokumen kegiatan yang dilakukan. Misalnya, mengisi kegiatan seminar, melakukan penyuluhan, pendampingan kepada mahasiswa, serta kegiatan yang lain. Termasuk, saat dirinya mengikuti diklat dari pemerintah.

”Meski hanya daftar hadir saya simpan untuk arsip. Mungkin karena sudah terbiasa, jadi sekecil apa pun kegiatannya tetap saya dokumentasikan,” tutur pria 52 tahun itu.

Kebiasaan mengarsip kegiatan dilakukan Slaman sejak 12 tahun, tepatnya 2010. Hal itu dilakukan karena dia pernah gagal meraih prestasi di tingkat nasional pada lomba Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup 2008.

Saat itu, usaha Slaman hanya berbuah piagam penghargaan dari gubernur Jawa Timur sebagai terbaik II katagori perintis lingkungan. Dia gagal mewakili Provinsi Jatim karena masalah arsip dokumen yang tidak lengkap. Kejadian itu menjadi pelajaran berarti baginya.

Ketua Pokdarwis Ekowisata Mangrove Lembung itu menyadari arsip dokumen tersebut sangat penting. ”Mungkin saja kalau dokumen saya lengkap, tidak juara dua, tapi juara satu,” canda Slaman.

Baca Juga :  5 Tips Memilih Aplikasi invoice yang Harus Diperhatikan

Slaman mengungkapkan, dia terbiasa bercengkerama dengan laut sejak 1986. Saat itu, tidak pernah terpikirkan untuk lomba apa pun. Karena itu, Slaman tidak terlalu peduli dengan masalah administrasi dan dokumentasi.

”Tahun 2008 menyadarkan saya pentingnya administrasi dan dokumentasi. Saya baru sadar, semua akan percuma kalau tidak dicatat atau direkam,” ucapnya.

Dengan pengalaman 2008 itu, Slaman merasa lebih siap mengikuti lomba wana lestari tingkat nasional. Dia berkeyakinan akan menang dalam lomba tersebut. Sebab, tidak ada satu pun soal yang terlewati saat penialaian dari tim kementerian.

Dia menyebutkan, ada enam indikator yang menjadi pokok penilaian. Antara lain, pemanfaatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem. Termasuk pembuatan karya tulis ilmiah.

Slaman menjelaskan, dirinya sudah berhasil membuat alat pemecah ombak (APO) yang memiliki banyak fungsi. Antara lain sebagai pelindung area pesisir dan mangrove dari empasan ombak.

”Sementara ini belum ada pengumuman resmi dari panitia. Kabarnya nanti penghargaan akan diberikan langsung oleh presiden,” tandasnya. (*/han)

Pengalaman mengikuti penilaian Kalpataru kategori perintis linkungan pada 2008 menjadi pelajaran bagi Slaman. Dia gagal berangkat ke tingkat nasional gara-gara dokumen yang mendukung terhadap penilaian tidak terarsip dengan baik.

ANIS BILLAH, Jawa Pos Radar Madura, Pamekasan

AKTIVITAS sehari-hari Slaman banyak dihabiskan di pesisir Pantai Lembung yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Selain punya tanggung jawab mengelola wisata mangrove, Slaman terpanggil menjaga lingkungan pesisir. Terutama, pelestarian tanaman bakau yang sudah puluhan tahun dia jaga dan rawat.


Namun, warga Desa Lembung Utara, Kecamatan Galis, Pamekasan, itu terlihat santai di rumahnya bersama keluarga kemarin (2/8). Dia mempersilakan Jawa Pos Radar Madura. ”Kebetulan hari ini (kemarin) tidak ke pantai karena ada urusan ke Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Sumenep,” katanya memulai pembicaraan.

Saat ini Slaman sedang mengikuti lomba wana lestari tingkat nasional. Pria kelahiran 14 Desember 1970 itu menjadi perwakilan Provinsi Jawa Timur setelah berhasil terpilih sebagai juara pertama. Kategori lomba yang diikuti yakni kader konservasi alam (KKA) yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Penilaian sudah dilakukan oleh tim dari kementerian beberapa waktu lalu. Tim juri, kata Slaman, tidak hanya menilai dari materi presentasi yang dipaparkan. Tapi, juga melakukan verifikasi ke lapangan. Termasuk, bukti fisik berupa dokumen selama aktif sebagai KKA.

Baca Juga :  Ini Dia Kepala Madrasah Asal Madura, Berprestasi Tingkat Nasional

Beruntung, ketua KTH Sabuk Hijau itu sudah terbiasa mengarsipkan dokumen kegiatan yang dilakukan. Misalnya, mengisi kegiatan seminar, melakukan penyuluhan, pendampingan kepada mahasiswa, serta kegiatan yang lain. Termasuk, saat dirinya mengikuti diklat dari pemerintah.

”Meski hanya daftar hadir saya simpan untuk arsip. Mungkin karena sudah terbiasa, jadi sekecil apa pun kegiatannya tetap saya dokumentasikan,” tutur pria 52 tahun itu.

Kebiasaan mengarsip kegiatan dilakukan Slaman sejak 12 tahun, tepatnya 2010. Hal itu dilakukan karena dia pernah gagal meraih prestasi di tingkat nasional pada lomba Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup 2008.

Saat itu, usaha Slaman hanya berbuah piagam penghargaan dari gubernur Jawa Timur sebagai terbaik II katagori perintis lingkungan. Dia gagal mewakili Provinsi Jatim karena masalah arsip dokumen yang tidak lengkap. Kejadian itu menjadi pelajaran berarti baginya.

Ketua Pokdarwis Ekowisata Mangrove Lembung itu menyadari arsip dokumen tersebut sangat penting. ”Mungkin saja kalau dokumen saya lengkap, tidak juara dua, tapi juara satu,” canda Slaman.

Baca Juga :  5 Tips Memilih Aplikasi invoice yang Harus Diperhatikan

Slaman mengungkapkan, dia terbiasa bercengkerama dengan laut sejak 1986. Saat itu, tidak pernah terpikirkan untuk lomba apa pun. Karena itu, Slaman tidak terlalu peduli dengan masalah administrasi dan dokumentasi.

”Tahun 2008 menyadarkan saya pentingnya administrasi dan dokumentasi. Saya baru sadar, semua akan percuma kalau tidak dicatat atau direkam,” ucapnya.

Dengan pengalaman 2008 itu, Slaman merasa lebih siap mengikuti lomba wana lestari tingkat nasional. Dia berkeyakinan akan menang dalam lomba tersebut. Sebab, tidak ada satu pun soal yang terlewati saat penialaian dari tim kementerian.

Dia menyebutkan, ada enam indikator yang menjadi pokok penilaian. Antara lain, pemanfaatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem. Termasuk pembuatan karya tulis ilmiah.

Slaman menjelaskan, dirinya sudah berhasil membuat alat pemecah ombak (APO) yang memiliki banyak fungsi. Antara lain sebagai pelindung area pesisir dan mangrove dari empasan ombak.

”Sementara ini belum ada pengumuman resmi dari panitia. Kabarnya nanti penghargaan akan diberikan langsung oleh presiden,” tandasnya. (*/han)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/