21.6 C
Madura
Friday, December 9, 2022

Menerapkan Kemerdekaan dalam Memilih Kurikulum

Cara Seniman Hidayat Raharja Tingkatkan Daya Berpikir Kritis Siswa

”Kami tidak menerapkan Kurikulum Merdeka (KM). Tetapi, sudah menerapkan kemerdekaan dalam memilih kurikulum. Karena kami harus menyesuaikan dengan apa yang diinginkan oleh anak-anak. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki,” kata Hidayat Raharja.

FADIL, Sampang, Jawa Pos Radar Madura

LOKASI SMAN 4 Sampang agak masuk ke dalam perkampungan. Jauh dari pinggir jalan perkotaan. Fasilitas di sekolah sangat terbatas. Jumlah murid juga terbatas. Di sanalah Hidayat Raharja mengabdi untuk mendidik dan mencerdaskan anak bangsa.

Secara administrasi, SMAN 4 Sampang berada di Jalan Kramat Agung, Kelurahan Karang Dalem, Kecamatan Kota Sampang. Berdasarkan data pokok pendidikan (dapodik), jumlah siswa sebanyak 50 orang. Saking sedikitnya jumlah murid, pernah disebut sekolah hantu.

Meski serba terbatas, Hidayat Raharja tetap semangat mendidik generasi bangsa. Guru biologi sejak 1987 di SMAN 1 Sumenep itu meyakini bahwa setiap anak punya potensi yang perlu diangkat kepermukaan.

Menurut Hidayat Raharja, jika siswa sudah paham dengan dirinya sendiri, paham dengan kepribadiannya, otomatis tidak ada kesulitan untuk mengajak mereka berprestasi. Hal itulah yang menjadi targetnya saat dipercaya memimpin SMAN 4 Sampang pada Mei 2020 lalu. Namun, tidak bisa diterapkan langsung karena pandemi Covid-19.

Selain mengajar, dia juga aktif menulis dan menghasilkan beberapa karya buku. Hidayat Raharja juga aktif membuat sketsa sejak 1990. Dia  juga pernah bergabung dengan Kelompok Seni Rupa Bermain (KSRB). Komunitas tersebut merupakan sebuah aktivitas sosial budaya yang bergerak dalam bidang pendidikan, dan merespons peristiwa sosial budaya melalui kesenian.

Baca Juga :  Mengenal Toilet Portabel BioRich Dan Cara Kerjanya

Darah seni itu kemudian dituangkan ke sekolah yang dipimpinnya. Dalam setiap aktivitas seni, Hidayat Raharja melibatkan murid-muridnya. Tujuannya, untuk menyadarkan siswa bahwa keberadaan mereka sangat berharga baginya.

Setelah pandemi berakhir, Hidayat Raharja dan semua guru-guru sharing tentang apa yang akan dilakukan. Akhirnya disepakati mengedepankan karakteristik anak. Yakni, berdasar pada kemampuan dan bakat yang dimiliki siswa.

Menurut Hidayat Raharja, jumlah siswa di SMAN 4 sangat sedikit. Namun, dari yang sedikit itu dirinya bisa melihat ada potensi yang bisa dikembangkan. Para siswa diberi pilihan, apakah akan menggeluti olahraga, seni suara, tari, menggambar, dan terakhir fotografi.

Dalam berkarya, mereka diajarkan agar tidak bergantung pada alat. Tetapi, harus bisa memaksimalkan alat yang dimiliki. Seperti memaksimalkan fungsi kamera di handphone untuk karya fotografi. Kemudian, pihaknya membuat pameran di sekolah sebagai apresiasi terhadap karya siswa.

”Saya ke teman-teman menyampaikan untuk mengeksplorasi kegiatan itu dalam bentuk pameran. Apa pun bentuk karya anak-anak, harus diapresiasi. Karena mereka sudah berkarya, berusaha, tugas guru hanya mengevaluasi,” katanya.

Pihaknya punya keinginan menggelar pameran di luar sekolah pada November atau Desember mendatang. Rencananya akan digelar di Aula Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Sampang.

Menurut dia, sekolahnya belum menerapkan Kurikulum Merdeka (KM). Tetapi, sudah mengaplikasikan kemerdekaan dalam memilih kurikulum menyesuaikan dengan apa yang diinginkan siswa di tengah keterbatasan sarana dan prasarana.

Baca Juga :  7 Beasiswa Luar Negeri Dengan Benefit Paling Lengkap

Hidayat Raharja selalu mendampingi anak asuhnya dalam berkarya. Dia tidak memosisikan dirinya sebagai guru. Tapi, lebih ke rekan diskusi untuk memancing potensi siswa. Misal dalam menggambar, dia sering bertanya kenapa memilih ini, apa yang kamu tahu tentang ini dan bagaimana cara menggambarkannya?

”Nah, di situ terjadi dialog. Seperti penempatan tanda tangan dalam gambar yang kurang tepat. Sehingga kurang enak dipandang. Jadi hal kecil seperti itu yang saya pantau. Sehingga, mereka jadi mengerti,” uacpnya.

Setelah anak-anak bisa menggambar, ada diskusi tentang isi. Serta dialog yang terus berkelanjutan. Dari sana akan muncul daya kritis pada diri anak. Contohnya, saat anak menggambar tikus, ternyata yang dipikirkan adalah kasus korupsi. Mereka menggambar berdasarkan pengalaman dan yang ditemui di lingkungannya.

Selain menggambar, tiap hari Jumat sekolah mengadakan forum literasi. Biasanya, guru yang harus membaca dan siswa mendengarkan. Namun, ada sebagian anak yang menawarkan diri untuk bercerita. Ada juga yang mengajak guru untuk mendiskusikan sebuah buku. Seperti membahas bahasa Madura.

Sekali-kali mengajak anak menonton film perjuangan. Di sana mereka diajak untuk menanggapi, dan pendapat murid harus direspons dengan baik. Harus dihargai pendapatnya, karena setiap anak punya batasan kemampuan. (*/han)

”Kami tidak menerapkan Kurikulum Merdeka (KM). Tetapi, sudah menerapkan kemerdekaan dalam memilih kurikulum. Karena kami harus menyesuaikan dengan apa yang diinginkan oleh anak-anak. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki,” kata Hidayat Raharja.

FADIL, Sampang, Jawa Pos Radar Madura

LOKASI SMAN 4 Sampang agak masuk ke dalam perkampungan. Jauh dari pinggir jalan perkotaan. Fasilitas di sekolah sangat terbatas. Jumlah murid juga terbatas. Di sanalah Hidayat Raharja mengabdi untuk mendidik dan mencerdaskan anak bangsa.


Secara administrasi, SMAN 4 Sampang berada di Jalan Kramat Agung, Kelurahan Karang Dalem, Kecamatan Kota Sampang. Berdasarkan data pokok pendidikan (dapodik), jumlah siswa sebanyak 50 orang. Saking sedikitnya jumlah murid, pernah disebut sekolah hantu.

Meski serba terbatas, Hidayat Raharja tetap semangat mendidik generasi bangsa. Guru biologi sejak 1987 di SMAN 1 Sumenep itu meyakini bahwa setiap anak punya potensi yang perlu diangkat kepermukaan.

Menurut Hidayat Raharja, jika siswa sudah paham dengan dirinya sendiri, paham dengan kepribadiannya, otomatis tidak ada kesulitan untuk mengajak mereka berprestasi. Hal itulah yang menjadi targetnya saat dipercaya memimpin SMAN 4 Sampang pada Mei 2020 lalu. Namun, tidak bisa diterapkan langsung karena pandemi Covid-19.

Selain mengajar, dia juga aktif menulis dan menghasilkan beberapa karya buku. Hidayat Raharja juga aktif membuat sketsa sejak 1990. Dia  juga pernah bergabung dengan Kelompok Seni Rupa Bermain (KSRB). Komunitas tersebut merupakan sebuah aktivitas sosial budaya yang bergerak dalam bidang pendidikan, dan merespons peristiwa sosial budaya melalui kesenian.

Baca Juga :  Gagalkan Penyelundupan Berbuah Penghargaan
- Advertisement -

Darah seni itu kemudian dituangkan ke sekolah yang dipimpinnya. Dalam setiap aktivitas seni, Hidayat Raharja melibatkan murid-muridnya. Tujuannya, untuk menyadarkan siswa bahwa keberadaan mereka sangat berharga baginya.

Setelah pandemi berakhir, Hidayat Raharja dan semua guru-guru sharing tentang apa yang akan dilakukan. Akhirnya disepakati mengedepankan karakteristik anak. Yakni, berdasar pada kemampuan dan bakat yang dimiliki siswa.

Menurut Hidayat Raharja, jumlah siswa di SMAN 4 sangat sedikit. Namun, dari yang sedikit itu dirinya bisa melihat ada potensi yang bisa dikembangkan. Para siswa diberi pilihan, apakah akan menggeluti olahraga, seni suara, tari, menggambar, dan terakhir fotografi.

Dalam berkarya, mereka diajarkan agar tidak bergantung pada alat. Tetapi, harus bisa memaksimalkan alat yang dimiliki. Seperti memaksimalkan fungsi kamera di handphone untuk karya fotografi. Kemudian, pihaknya membuat pameran di sekolah sebagai apresiasi terhadap karya siswa.

”Saya ke teman-teman menyampaikan untuk mengeksplorasi kegiatan itu dalam bentuk pameran. Apa pun bentuk karya anak-anak, harus diapresiasi. Karena mereka sudah berkarya, berusaha, tugas guru hanya mengevaluasi,” katanya.

Pihaknya punya keinginan menggelar pameran di luar sekolah pada November atau Desember mendatang. Rencananya akan digelar di Aula Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Sampang.

Menurut dia, sekolahnya belum menerapkan Kurikulum Merdeka (KM). Tetapi, sudah mengaplikasikan kemerdekaan dalam memilih kurikulum menyesuaikan dengan apa yang diinginkan siswa di tengah keterbatasan sarana dan prasarana.

Baca Juga :  Argo Beno Lutfi Saputra, Atlet Perbakin Peraih Dua Medali Emas

Hidayat Raharja selalu mendampingi anak asuhnya dalam berkarya. Dia tidak memosisikan dirinya sebagai guru. Tapi, lebih ke rekan diskusi untuk memancing potensi siswa. Misal dalam menggambar, dia sering bertanya kenapa memilih ini, apa yang kamu tahu tentang ini dan bagaimana cara menggambarkannya?

”Nah, di situ terjadi dialog. Seperti penempatan tanda tangan dalam gambar yang kurang tepat. Sehingga kurang enak dipandang. Jadi hal kecil seperti itu yang saya pantau. Sehingga, mereka jadi mengerti,” uacpnya.

Setelah anak-anak bisa menggambar, ada diskusi tentang isi. Serta dialog yang terus berkelanjutan. Dari sana akan muncul daya kritis pada diri anak. Contohnya, saat anak menggambar tikus, ternyata yang dipikirkan adalah kasus korupsi. Mereka menggambar berdasarkan pengalaman dan yang ditemui di lingkungannya.

Selain menggambar, tiap hari Jumat sekolah mengadakan forum literasi. Biasanya, guru yang harus membaca dan siswa mendengarkan. Namun, ada sebagian anak yang menawarkan diri untuk bercerita. Ada juga yang mengajak guru untuk mendiskusikan sebuah buku. Seperti membahas bahasa Madura.

Sekali-kali mengajak anak menonton film perjuangan. Di sana mereka diajak untuk menanggapi, dan pendapat murid harus direspons dengan baik. Harus dihargai pendapatnya, karena setiap anak punya batasan kemampuan. (*/han)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/