alexametrics
24.1 C
Madura
Wednesday, August 10, 2022

Memilih Senjata yang Menonjolkan Identitas Madura

Syarief Hidayatullah Raih Medali Emas World Pencak Silat Championship 2022

Perguruan Pencak Silat Jokotole tidak pernah kehabisan stok atlet untuk dikontestasikan. Salah satunya Syarief Hidayatullah Suhaimi. Dia berhasil mempersembahkan medali emas kejuaraan tingkat dunia.

JUPRI, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

KIPRAH Syarief Hidayatullah Suhaimi di dunia pencak silat tidak perlu diragukan. Berbagai event telah dia ikuti. Sederet prestasi tingkat regional dan nasional telah diraih. Contohnya, meraih perak di Kejurnas Silat Prabowo 2019, medali perunggu di Singapore Open 2019, emas pada Kejurnas Mahasiswa 2019 dan Kejurda Jatim 2021.

Terbaru, dia meraih medali emas di World Pencak Silat Championship 2022 di Melaka, Malaysia. Dia berhasil menyingkirkan wakil tuan rumah di babak final pada kategori seni di event tingkat dunia tersebut.

Perjalanan Syarief untuk bisa membawa medali dari World Pencak Silat Championship 2022 itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dia bersaing dengan atlet-atlet nasional untuk bisa tampil di ajang bergengsi tersebut.

Pria yang akrab dipanggil Bagus itu menceritakan, kesempatan untuk berlaga di World Pencak Silat Championship bermula dari evaluasi PB IPSI terhadap pencapaiannya di SEA Games 2022. Dari evaluasi itu, PB IPSI memutuskan untuk melakukan seleksi nasional (seleknas).

Ketua Umum PB IPSI Prabowo Subianto mengusulkan agar seleksi itu juga melibatkan prajurit TNI AD. Dari seratus lebih anggota yang berpartisipasi, hanya 21 orang yang terjaring dalam seleksi internal TNI AD. Lalu, kemampuan 21 anggota TNI AD itu kemudian diseleksi dengan atlet pencak silat yang tergabung dalam pemusatan latihan nasional (pelatnas).

Di seleknas tersebut hanya empat prajurit TNI yang lolos, termasuk Bagus. ”Dari seleksi itu akhirnya kami bisa bergabung dengan atlet pelatnas,” ucap Bagus kemarin (31/7).

Baca Juga :  Berhasil Raih Predikat Cum Laude

Persiapan yang dilakukan untuk menghadapi event itu terbilang cukup singkat. Hanya dua bulan. Namun, berkat kerja keras dan pembinaan intensif dari pelatih, dia bisa tampil maksimal. Sehingga, mampu membawa pulang medali emas dari kategori seni solo kreatif tunggal putra.

Bagus tidak hanya bergantung pada program latihan pelatnas. Tapi juga dibina langsung oleh pelatih seni dari perguruannya, yaitu Agus Bindara Suhaimi, yang tidak lain kakak kandungnya. Di Porprov VII Jawa Timur dia mampu mengantarkan Bangkalan sebagai juara umum dan Pamekasan sebagai juara kedua.

Dalam dua pencak silat, atlet yang diturunkan di seni solo kreatif itu diberikan kebebasan menampilkan gerakan terbaik masing-masing. Meski begitu, itu jauh lebih sulit dibandingkan seni baku. Sebab, gerakan yang ditampilkan harus dikomparasikan dengan berbagai jenis jurus dan teknik dalam pencak silat. Sehingga, penampilannya harus menyatukan antara wiraka, wirama, dan wiraga.

Sementara seni solo kreatif yang dibawakan di event itu kental dengan aroma budaya Madura. Alat yang digunakan yaitu celurit dan pecut. Pemilihan dua senjata itu memang direncanakan demi menonjolkan Madura ke dunia.

”Setelah saya tampil, banyak (orang asing) yang menghampiri saya, bertanya itu nama senjatanya apa dan dari mana? Bahkan, ada yang mau belajar cara menggunakan pecut,” kata pria asal Kecamatan Kamal, Bangkalan, itu.

Di event itu, seni yang dipertontonkan memang mendapat banyak perhatian dari orang asing. Namun, Bagus sendiri juga terkesan pada gerakan-gerakan seni pesilat peserta dari negara lain. Karena gerakan seni silat yang ditampilkan dikomparasikan dengan teknik-teknik bela diri lainnya.

Baca Juga :  Bagaimana Sejarah dari Sistem Aplikasi Pajak Online, dan Apa Saja Layanannnya?

Utamanya atlet-atlet yang berasal dari benua Eropa dan Amerika Latin. Itu menandakan perkembangan pencak silat di dunia semakan besar. Hal tersebut membuat Bagus terkagum-kagum. Kesan itu harus ditiru oleh semua perguruan pencak silat.

”Kalau dulu, Eropa itu gerakan silatnya berkiblat ke Indonesia. Ternyata sekarang sudah tidak, mereka memadukan gerakan silat dengan bela diri lain,” katanya.

Suami Atika Husna itu menambahkan, penilaian World Pencak Silat Championship berbeda dengan kebanyakan event di tanah air. Karena sistem pertandingannya layaknya kategori tanding. Yakni, dua atlet akan bersaing untuk menampilkan kemampuannya di hadapan dewan juri.

Atlet dengan nilai lebih tinggi akan lolos ke babak berikutnya. Sementara sistem penilaian yang sering diterapkan pada setiap event di Indonesia yaitu, atlet diminta untuk tampil secara bergantian. Sedangkan yang lolos atau yang berhak menang yaitu peraih nilai tertinggi. ”Ke depan, sistem penilaian di kategori seni itu akan sama dengan tanding. Jadi diadu dua-dua,” ujarnya.

Putra pasangan Dwi Setiyaningsih dan Suhaimi itu butuh tiga kali tampil untuk bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya di atas podium utama. Pertama, dia berkontestasi dengan atlet dari Amerika Serikat (AS). Setelah menang, Bagus bersaing dengan atlet dari India. Sedangkan di partai puncak, dia bersaing dengan atlet tuan rumah, Malaysia. ”Saya sangat bersyukur sekali bisa membawa pulang medali,” katanya. (*/luq)

 

Perguruan Pencak Silat Jokotole tidak pernah kehabisan stok atlet untuk dikontestasikan. Salah satunya Syarief Hidayatullah Suhaimi. Dia berhasil mempersembahkan medali emas kejuaraan tingkat dunia.

JUPRI, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

KIPRAH Syarief Hidayatullah Suhaimi di dunia pencak silat tidak perlu diragukan. Berbagai event telah dia ikuti. Sederet prestasi tingkat regional dan nasional telah diraih. Contohnya, meraih perak di Kejurnas Silat Prabowo 2019, medali perunggu di Singapore Open 2019, emas pada Kejurnas Mahasiswa 2019 dan Kejurda Jatim 2021.


Terbaru, dia meraih medali emas di World Pencak Silat Championship 2022 di Melaka, Malaysia. Dia berhasil menyingkirkan wakil tuan rumah di babak final pada kategori seni di event tingkat dunia tersebut.

Perjalanan Syarief untuk bisa membawa medali dari World Pencak Silat Championship 2022 itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dia bersaing dengan atlet-atlet nasional untuk bisa tampil di ajang bergengsi tersebut.

Pria yang akrab dipanggil Bagus itu menceritakan, kesempatan untuk berlaga di World Pencak Silat Championship bermula dari evaluasi PB IPSI terhadap pencapaiannya di SEA Games 2022. Dari evaluasi itu, PB IPSI memutuskan untuk melakukan seleksi nasional (seleknas).

Ketua Umum PB IPSI Prabowo Subianto mengusulkan agar seleksi itu juga melibatkan prajurit TNI AD. Dari seratus lebih anggota yang berpartisipasi, hanya 21 orang yang terjaring dalam seleksi internal TNI AD. Lalu, kemampuan 21 anggota TNI AD itu kemudian diseleksi dengan atlet pencak silat yang tergabung dalam pemusatan latihan nasional (pelatnas).

Di seleknas tersebut hanya empat prajurit TNI yang lolos, termasuk Bagus. ”Dari seleksi itu akhirnya kami bisa bergabung dengan atlet pelatnas,” ucap Bagus kemarin (31/7).

Baca Juga :  Bagaimana Sejarah dari Sistem Aplikasi Pajak Online, dan Apa Saja Layanannnya?

Persiapan yang dilakukan untuk menghadapi event itu terbilang cukup singkat. Hanya dua bulan. Namun, berkat kerja keras dan pembinaan intensif dari pelatih, dia bisa tampil maksimal. Sehingga, mampu membawa pulang medali emas dari kategori seni solo kreatif tunggal putra.

Bagus tidak hanya bergantung pada program latihan pelatnas. Tapi juga dibina langsung oleh pelatih seni dari perguruannya, yaitu Agus Bindara Suhaimi, yang tidak lain kakak kandungnya. Di Porprov VII Jawa Timur dia mampu mengantarkan Bangkalan sebagai juara umum dan Pamekasan sebagai juara kedua.

Dalam dua pencak silat, atlet yang diturunkan di seni solo kreatif itu diberikan kebebasan menampilkan gerakan terbaik masing-masing. Meski begitu, itu jauh lebih sulit dibandingkan seni baku. Sebab, gerakan yang ditampilkan harus dikomparasikan dengan berbagai jenis jurus dan teknik dalam pencak silat. Sehingga, penampilannya harus menyatukan antara wiraka, wirama, dan wiraga.

Sementara seni solo kreatif yang dibawakan di event itu kental dengan aroma budaya Madura. Alat yang digunakan yaitu celurit dan pecut. Pemilihan dua senjata itu memang direncanakan demi menonjolkan Madura ke dunia.

”Setelah saya tampil, banyak (orang asing) yang menghampiri saya, bertanya itu nama senjatanya apa dan dari mana? Bahkan, ada yang mau belajar cara menggunakan pecut,” kata pria asal Kecamatan Kamal, Bangkalan, itu.

Di event itu, seni yang dipertontonkan memang mendapat banyak perhatian dari orang asing. Namun, Bagus sendiri juga terkesan pada gerakan-gerakan seni pesilat peserta dari negara lain. Karena gerakan seni silat yang ditampilkan dikomparasikan dengan teknik-teknik bela diri lainnya.

Baca Juga :  Tim Voli STKIP PGRI Raih Prestasi Nasional

Utamanya atlet-atlet yang berasal dari benua Eropa dan Amerika Latin. Itu menandakan perkembangan pencak silat di dunia semakan besar. Hal tersebut membuat Bagus terkagum-kagum. Kesan itu harus ditiru oleh semua perguruan pencak silat.

”Kalau dulu, Eropa itu gerakan silatnya berkiblat ke Indonesia. Ternyata sekarang sudah tidak, mereka memadukan gerakan silat dengan bela diri lain,” katanya.

Suami Atika Husna itu menambahkan, penilaian World Pencak Silat Championship berbeda dengan kebanyakan event di tanah air. Karena sistem pertandingannya layaknya kategori tanding. Yakni, dua atlet akan bersaing untuk menampilkan kemampuannya di hadapan dewan juri.

Atlet dengan nilai lebih tinggi akan lolos ke babak berikutnya. Sementara sistem penilaian yang sering diterapkan pada setiap event di Indonesia yaitu, atlet diminta untuk tampil secara bergantian. Sedangkan yang lolos atau yang berhak menang yaitu peraih nilai tertinggi. ”Ke depan, sistem penilaian di kategori seni itu akan sama dengan tanding. Jadi diadu dua-dua,” ujarnya.

Putra pasangan Dwi Setiyaningsih dan Suhaimi itu butuh tiga kali tampil untuk bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya di atas podium utama. Pertama, dia berkontestasi dengan atlet dari Amerika Serikat (AS). Setelah menang, Bagus bersaing dengan atlet dari India. Sedangkan di partai puncak, dia bersaing dengan atlet tuan rumah, Malaysia. ”Saya sangat bersyukur sekali bisa membawa pulang medali,” katanya. (*/luq)

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/