PAMEKASAN, RadarMadura.id – Butuh sekitar 25 menit dari pusat Kota Pamekasan untuk sampai ke kebun milik Nolo Garjito.
Terik matahari menemani perjalanan menuju lokasi di Desa Panaguan, Kecamatan Larangan.
Sepanjang perjalanan melewati Pasar Keppo. Sekitar 100 meter ada gang ke kiri, 10 menit kemudian sampai di lokasi.
Sesampainya di lokasi, mata disambut pemandangan ratusan pohon jeruk yang tumbuh di lahan berkisar satu hektare itu.
Sang pemilik Nolo Garjito berada di kebun tersebut sambil lalu mengecek tanaman jeruk siam yang sudah enam tahun dia rawat.
”Di sini ada 668 pohon jeruk siam yang terus berbuah setiap tahun. Karena ini bukan tanaman musiman, jadi setiap waktu panennya,” katanya.
Pada awal tanam membutuhkan waktu tiga tahun untuk bisa berbuah. Jeruk siam cocok ditanam pada jenis tanah berbatu. Dengan kedalaman tanah 30 cm dan jarak tanam antarpohon 3×4 meter.
Pada masa awal menanam, penyiraman cukup dilakukan sehari satu kali, pagi atau sore.
Sedangkan ketika pohon jeruk siam tersebut sudah pernah berproduksi atau berbuah, tidak ada takaran untuk menyiram tanaman dengan nama ilmiah Citrus tangerina itu.
”Kalau sudah pernah berbuah kayak gini, airnya itu lebih banyak agar nutrisinya sampai pada buahnya,” jelas Nolo.
Nolo biasa memberi pupuk setiap bulan. Yakni, cukup memakai NPK dan phonska apabila sudah pernah berbuah.
Tanda-tanda jeruk siam tersebut sudah matang yakni berwarna hijau mengilap dan empuk.
Bahkan, menurut Nolo, jeruk yang berwarna kuning itu tidak sehat dan biasanya dibuat minuman.
Nolo menegaskan, yang terpenting pada jeruk siam ini agar pertumbuhannya tidak terhambat, yakni dalam satu pohon buahnya tidak boleh banyak.
Hal tersebut karena akan merusak produktivitas jeruk siam tersebut. Juga, berdampak buruk terhadap tanaman itu.
Bila itu terjadi, biasanya ukuran jeruk yang dihasilkan lebih kecil, produksinya lamban, bahkan pohonnya bisa mati.
Menurut Nolo, hal itu karena nutrisi dari akar menuju buah tidak cukup akibat buah terlalu banyak.
”Jadi tidak cukup. Mau disiram atau dikasih pupuk tiap bulan kalau jeruknya itu tidak ada yang diambil atau dikurangi, pasti hasilnya seperti itu, jelek,” jelasnya.
Menurutnya, mungkin pemikiran beberapa petani yang lain eman karena buahnya yang lebat. Namun, hal itu yang akan memperburuk perkembangan jeruk siam.
Hama atau penyakit pada jeruk siam juga harus diperhatikan, seperti serangga. Sedangkan penyakitnya ada blendok atau pada pohon keluar getah dan mengkristal.
Bahkan menurut Nolo, ada yang merekomendasikan pada pohon tersebut maksimal satu tangkai ada dua buah jeruk.
”Kalau di Malang dan kota-kota lain yang memang fokus pada jeruk siam, memang seperti itu,” terangnya.
Pria yang menjabat Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pamekasan ini menegaskan, dalam menanam suatu tanaman harus paham teknik khusus.
Hal tersebut agar tanaman yang dihasilkan bisa berbuah dan berkembang sesuai yang diinginkan.
”Tidak boleh malas kalau sudah menjadi petani. Harus banyak-banyak menyerap ilmu juga,” katanya. (ail/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti