SAMPANG, RadarMadura.id – Julukan santripreneur layak disematkan kepada Nurul Bashiroh Ghozali. Perempuan berlatar belakang santri tersebut cakap dalam mengelola bisnis.
Meski memiliki bisnis, kehidupan Nurul Bashiroh Ghozali tidak bisa dilepaskan dari pesantren. Dia adalah putri Pengasuh Ponpes Al Mubarok Lanbulan KH Ahmad Ghozali.
Yaitu, lembaga pesantren salafiyah ternama yang berada di Desa Baturasang, Kecamatan Tambelangan, Sampang. Meski begitu, tidak menyurutkan niatnya terjun ke bisnis.
Namun, lingkungan pesantren salaf tidak membatasi Nurul Bashiroh untuk terjun dalam dunia bisnis.
Karena baginya, tidak ada larangan bagi umat Islam untuk berbisnis. Sedangkan keinginannya untuk berwirausaha didasari atas ketertarikannya sendiri.
Awalnya, Nurul Bashiroh hanya berdagang kecil-kecilan dengan menjual buku, buah durian, dan produk kecantikan.
Pelan tapi pasti, bisnis yang dikembangkan semakin meluas. Kini ibu dua anak tersebut mulai mengepakkan sayap bisnisnya di bidang properti, arsitektur, dan interior.
Pahit dan manisnya dunia entrepreneur sudah pernah dirasakan oleh Nurul Bashiroh.
Apalagi, bisnis yang dikembangkan tanpa teori di bangku pendidikan formal. Praktis, kiprahnya di dunia entrepreneur dimiliki secara otodidak.
”Latar bekalang pendidikan saya pesantren dan tidak pernah kuliah jurusan bisnis,” terangnya.
”Namun, saya banyak mencari referensi dari membaca buku atau mencari di internet. Saya selalu belajar juga kepada orang yang sudah berpengalaman,” imbuhnya.
Bisnis gurita yang dikembangkan Nurul Bashiroh berada di bawah naungan Zenaide Design. Yaitu, unit usaha yang bergerak di bidang properti, arsitektur, dan interior.
Sedangkan rintangan yang dihadapi untuk sampai pada titik seperti sekarang tidak sedikit.
”Tetapi, saya yakin pebisnis yang tidak putus karena gagal punya peluang untuk lebih sukses,” ujarnya.
Di awal merintis usaha yang dikembangkan, Nurul Bashiroh tidak mendapatkan keuntungan. Sebab, keuntungannya hanya cukup untuk membayar pekerja.
Pihaknya berharap, bisnis yang dikelolanya sekarang menjadi peluang bagi santrinya.
”Saya termotivasi saat melihat santri kesulitan mendapat pekerjaan. Saya tergerak agar bisa membuka lowongan bagi santri dan itu bisa dicapai dengan memiliki bisnis sendiri,” katanya. (jun/jup)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Berta SL Danafia