alexametrics
20.7 C
Madura
Saturday, June 25, 2022

Kurangi Impor, Ini Empat Strategi Dirut PT Garam

JAKARTA – PT Garam berancang-ancang mau mengurangi impor garam. Direktur Utama (Dirut) PT Garam Budi Sasongko menyiapkan empat strategi atau pendekatan penting yang akan dilakukan untuk mengurangi impor di tahun-tahun mendatang.

Pertama, melakukan revitalisasi lahan eksisting dan perluasan lahan di daerah potensial penghasil garam untuk meningkatkan volume produksi. ”Langkah mendesak yang akan dilakukan ke depan adalah membuka lahan baru,” katanya.

”Sekarang yang paling potensial di daerah NTT (Nusa Tenggara Timur). Ini setelah dilakukan berbagai kajian secara komprehensif,” imbuh Budi saat menjadi pembicara dalam focus group discussion (FGD) bertajuk Proyeksi Swasembada Pangan: Kesejahteraan Petani vs Garam Impor yang diselenggarakan PT Garam bekerja sama dengan Front Pemuda Madura di Hotel Holiday, Jakarta, Senin, (18/10).

Selain penambahan lahan, PT Garam melakukan revitalisasi lahan. Seperti lahan di Madura yang luasnya 5.000 hektare. Budi yakin, paling tidak bisa mempunyai 300 hektare lahan yang menjadi revitalisasi untuk pengembangan.

Jika revitalisasi berhasil, PT Garam akan memiliki tambahan produksi 30 ribu–50 ribu ton garam. Saat ini total produksi PT Garam 350 ribu ton per tahun dari luas lahan garam 5 ribu hektare.

Baca Juga :  Impor Garam, DPRD Pamekasan Temui DPR RI

Kedua, lanjut Budi, PT Garam akan meningkatkan bantuan teknologi geomembran atau bipolo agar petani garam dapat meningkatkan kualitas dan volume produksi. ”PT Garam akan mengenalkan teknologi yang dapat menunjang kegiatan produksi garam petani. Ini bagian dari skema untuk meningkatkan produksi,” terang mantan Direktur Produksi PT Garam tersebut.

Saat ini kebutuhan garam nasional 4,2 juta ton. Perinciannya, untuk konsumsi 2,7 juta ton dan sisanya garam industri. Budi membeberkan, khusus garam konsumsi sudah mencukupi. Sebab kebutuhan rumah tangga hanya 1,2 juta ton, aneka pangan 450 ribu ton, dan sisanya murni untuk industri kimia dasar seperti kaca, bahan baku plastik, dan lainnya.

Ketiga, Budi berjanji, PT Garam akan melakukan pendampingan intensif kepada para petambak garam rakyat. ”Pendampingan terhadap petani merupakan bagian dari komitmen PT Garam untuk menyelamatkan nasib petani garam dalam negeri. Melalui pendampingan, diharapkan petani dapat meningkatkan produksinya,” terangnya.

Baca Juga :  Upaya Mendongkrak Stabilitas Harga Garam di Madura

Keempat, PT Garam akan menyerap garam hasil produksi para petani lokal dengan harga yang menguntungkan petani. Budi mengakui, jumlah petani garam semakin menurun karena selain rendahnya serapan garam juga harga beli garam petani yang terlalu murah.

”Melalui skema ini, tujuan PT Garam di 2019 mendatang Indonesia tidak impor lagi. Termasuk mewujudkan swasembada dan ketahanan garam nasional,” tukas Budi.

Sementara itu, Ketua Umum Front Pemuda Madura (FPM) Asep Irama menyambut positif rencana jangka panjang PT Garam untuk mengurangi impor. Sebab selama ini pemerintah mengambil jalan pintas untuk mencukupi kebutuhan garam nasional.

”Pak Budi sosok visioner yang layak memimpin PT Garam. Beliau punya rencana yang jelas untuk mensejahterakan petani garam,” kata Asep.

Asep mengapresiasi rencana kerja yang disusun Budi Sasongko dalam mengurangi impor garam. Rencana tersebut tidak lepas dari pengalaman Budi sebagai Direktur Produksi sebelum ditunjuk menjadi Dirut PT Garam oleh Kementrian BUMN.

JAKARTA – PT Garam berancang-ancang mau mengurangi impor garam. Direktur Utama (Dirut) PT Garam Budi Sasongko menyiapkan empat strategi atau pendekatan penting yang akan dilakukan untuk mengurangi impor di tahun-tahun mendatang.

Pertama, melakukan revitalisasi lahan eksisting dan perluasan lahan di daerah potensial penghasil garam untuk meningkatkan volume produksi. ”Langkah mendesak yang akan dilakukan ke depan adalah membuka lahan baru,” katanya.

”Sekarang yang paling potensial di daerah NTT (Nusa Tenggara Timur). Ini setelah dilakukan berbagai kajian secara komprehensif,” imbuh Budi saat menjadi pembicara dalam focus group discussion (FGD) bertajuk Proyeksi Swasembada Pangan: Kesejahteraan Petani vs Garam Impor yang diselenggarakan PT Garam bekerja sama dengan Front Pemuda Madura di Hotel Holiday, Jakarta, Senin, (18/10).


Selain penambahan lahan, PT Garam melakukan revitalisasi lahan. Seperti lahan di Madura yang luasnya 5.000 hektare. Budi yakin, paling tidak bisa mempunyai 300 hektare lahan yang menjadi revitalisasi untuk pengembangan.

Jika revitalisasi berhasil, PT Garam akan memiliki tambahan produksi 30 ribu–50 ribu ton garam. Saat ini total produksi PT Garam 350 ribu ton per tahun dari luas lahan garam 5 ribu hektare.

Baca Juga :  Produksi Garam Baru 280 Ribu Ton

Kedua, lanjut Budi, PT Garam akan meningkatkan bantuan teknologi geomembran atau bipolo agar petani garam dapat meningkatkan kualitas dan volume produksi. ”PT Garam akan mengenalkan teknologi yang dapat menunjang kegiatan produksi garam petani. Ini bagian dari skema untuk meningkatkan produksi,” terang mantan Direktur Produksi PT Garam tersebut.

Saat ini kebutuhan garam nasional 4,2 juta ton. Perinciannya, untuk konsumsi 2,7 juta ton dan sisanya garam industri. Budi membeberkan, khusus garam konsumsi sudah mencukupi. Sebab kebutuhan rumah tangga hanya 1,2 juta ton, aneka pangan 450 ribu ton, dan sisanya murni untuk industri kimia dasar seperti kaca, bahan baku plastik, dan lainnya.

Ketiga, Budi berjanji, PT Garam akan melakukan pendampingan intensif kepada para petambak garam rakyat. ”Pendampingan terhadap petani merupakan bagian dari komitmen PT Garam untuk menyelamatkan nasib petani garam dalam negeri. Melalui pendampingan, diharapkan petani dapat meningkatkan produksinya,” terangnya.

Baca Juga :  Harga Garam Kembali Naik

Keempat, PT Garam akan menyerap garam hasil produksi para petani lokal dengan harga yang menguntungkan petani. Budi mengakui, jumlah petani garam semakin menurun karena selain rendahnya serapan garam juga harga beli garam petani yang terlalu murah.

”Melalui skema ini, tujuan PT Garam di 2019 mendatang Indonesia tidak impor lagi. Termasuk mewujudkan swasembada dan ketahanan garam nasional,” tukas Budi.

Sementara itu, Ketua Umum Front Pemuda Madura (FPM) Asep Irama menyambut positif rencana jangka panjang PT Garam untuk mengurangi impor. Sebab selama ini pemerintah mengambil jalan pintas untuk mencukupi kebutuhan garam nasional.

”Pak Budi sosok visioner yang layak memimpin PT Garam. Beliau punya rencana yang jelas untuk mensejahterakan petani garam,” kata Asep.

Asep mengapresiasi rencana kerja yang disusun Budi Sasongko dalam mengurangi impor garam. Rencana tersebut tidak lepas dari pengalaman Budi sebagai Direktur Produksi sebelum ditunjuk menjadi Dirut PT Garam oleh Kementrian BUMN.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/