24 C
Madura
Wednesday, June 7, 2023

Potret Nyata Pengelolaan Sampah Terpadu di Desa BRILiaN Jatihurip, Tasikmalaya

TASIKMALAYA, RadarMadura.id  Melalui program tanggung jawab sosial lingkungan (TJSL), BRI berinisiatif membantu mengatasi masalah sampah melalui program BRI Peduli Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST)” yang terintegrasi dengan program-program BRI lainnya. 

Program tersebut antara lain berupa pengolahan sampah di desa-desa yang menjadi bagian dari program Desa BRILiaN. Salah satunya diimplementasikan di Desa Jatihurip yang berlokasi di Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. 

Desa Jatihurip merupakan bagian dari Desa BRILiaN 2020 yang merupakan program pemberdayaan desa yang bertujuan menghasilkan role model dalam pengembangan desa melalui implementasi praktik kepemimpinan desa yang unggul dengansemangat kolaborasi untuk mengoptimalkan potensi desa berbasis SDG’s.

Berdasarkan Dinas Lingkungan Hidup (2019), rata-rata sampah yang dihasilkan masyarakat Tasikmalaya adalah 3,63 liter/orang/hari atau 0,44 kg/orang/hari (DLH, 2017). Alhasil, kini timbullah sampah Kabupaten Tasikmalaya mencapai lebih dari 291 ribu kg/hari.

Menilik data tersebut, program BRI Peduli TPST di Desa Jatihurip perlu dilakukan untuk mengurangi volume sampah Desa Jatihurip.

Kepala Desa Jatihurip Dadang Mursyid, 46,mengatakan awal mula program dibuka dengan adanya keunggulan yang dimiliki Desa Jatihurip. Salah satunya adalah pengembangbiakan ikan. Dari situ, BRI melihat potensi agar menjadikan desa tersebut sebagai wisata edukasi budi daya ikan.

Baca Juga :  Kinerja Cemerlang Dorong Kepercayaan Investor, Saham BBRI Cetak All Time High

Budi daya ikan tersebut didukung dengan banyaknya aliran sungai. Namun masalahnya, masih banyak sampah berserakan karena tidak ada tempat pembuangan di desa. Jika perilaku buang sampah sembarangan terusmenerus dilakukan, apalagi ke sungai, dipastikan kian mencemari sumber air untuk budi daya ikan.

Akhirnya pada 2020, BRI merespons dan memberikan bantuan berupa tempat pembuangan sampah atau bank sampah. Dengan begitu, sampah-sampah di sekitar Desa Jatihurip bisa ditampung, kemudian dipilah.

”Sampah menjadi masalah besar bagi masyarakat kami. Kami berpikir harus menyelesaikan masalah sampah ini sehingga saya komunikasikan ke BRI dan mereka merespons cara mengatasi sampah ini,” ujarnya.

Sebelumnya, kata Dadang, banyak warga Desa Jatihurip yang tidak peduli terhadap sampah. Namun berkat program pelatihan pengelolaan sampah terpadu dari BRI, tingkat kesadaran masyarakat meningkat.

Adapun program BRI Peduli TPST terdiri atas pelatihan pilah sampah dan pelatihan penguatan kelembagaan serta manajemen bisnis Bank Sampah di Desa Jatihurip. BRI juga memberikan bantuan berupa mesin penghancur sampah anorganik. Dengan alat tersebut, pihak desa memiliki pendapatan tambahan. Sebab,sampah anorganik yang telah diolah bisa dijual kepada pengepul. Pendapatan tersebut digunakan untuk kepentingan operasional pengelolaan sampah seperti membayar upah pengangkut sampah.

Baca Juga :  Hyundai Motors Indonesia Hadirkan Rangkaian Program Penjualan dan Purna Jual

Dalam kesempatan berbeda, koordinator pengelolaan sampah di Desa Jatihurip MuMunaja, 43, menambahkan, warga dilatih  memilah sampah menjadi sampah organik dan anorganik. Sampah anorganik akan diolah dan dijual. Sementara sampah organik dijadikan budi daya maggot.

Plastik ini kami jual ke pengepul Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per kilogram. Uangnya kami gunakan untuk operasional. Nanti itu dikumpulkan dalam kas desa. Pengelola sampah juga harus mendapat upah atas kerja mereka,” ujarnya.

Sependapat dengan Kepala Desa Munajat, sebelumnya warga di Desa Jatihurip bersikap apatis terhadap sampah. Namun, berkat program yang dicanangkan BRI terkait pelatihan pengelolaan sampah, kini masyarakat lebih patuh membuang sampah.

Sementara itu, Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto menambahkan bahwa integrasi program TJSL yang dilaksanakan BRI tidak hanya berdampak terhadap pemberdayaan ekonomi desa. Tetapi, juga berperan mendorong kesadaran masyarakat untuk menjaga keseimbangan alam dan kebersihan lingkungan melalui pengolahan sampah yang tepat.

Di Desa BRILiaN, program BRI Peduli TPST akan mendorong kesadaran masyarakat tentang pengolahan sampah sehingga menjadi desa teladan dan inspirasi bagi desa sekitar,” terangnya. (*/daf/par)

TASIKMALAYA, RadarMadura.id  Melalui program tanggung jawab sosial lingkungan (TJSL), BRI berinisiatif membantu mengatasi masalah sampah melalui program BRI Peduli Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST)” yang terintegrasi dengan program-program BRI lainnya. 

Program tersebut antara lain berupa pengolahan sampah di desa-desa yang menjadi bagian dari program Desa BRILiaN. Salah satunya diimplementasikan di Desa Jatihurip yang berlokasi di Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. 

Desa Jatihurip merupakan bagian dari Desa BRILiaN 2020 yang merupakan program pemberdayaan desa yang bertujuan menghasilkan role model dalam pengembangan desa melalui implementasi praktik kepemimpinan desa yang unggul dengansemangat kolaborasi untuk mengoptimalkan potensi desa berbasis SDG’s.


Berdasarkan Dinas Lingkungan Hidup (2019), rata-rata sampah yang dihasilkan masyarakat Tasikmalaya adalah 3,63 liter/orang/hari atau 0,44 kg/orang/hari (DLH, 2017). Alhasil, kini timbullah sampah Kabupaten Tasikmalaya mencapai lebih dari 291 ribu kg/hari.

Menilik data tersebut, program BRI Peduli TPST di Desa Jatihurip perlu dilakukan untuk mengurangi volume sampah Desa Jatihurip.

Kepala Desa Jatihurip Dadang Mursyid, 46,mengatakan awal mula program dibuka dengan adanya keunggulan yang dimiliki Desa Jatihurip. Salah satunya adalah pengembangbiakan ikan. Dari situ, BRI melihat potensi agar menjadikan desa tersebut sebagai wisata edukasi budi daya ikan.

Baca Juga :  6.000 Kartu TapCash Suramadu Ludes

Budi daya ikan tersebut didukung dengan banyaknya aliran sungai. Namun masalahnya, masih banyak sampah berserakan karena tidak ada tempat pembuangan di desa. Jika perilaku buang sampah sembarangan terusmenerus dilakukan, apalagi ke sungai, dipastikan kian mencemari sumber air untuk budi daya ikan.

- Advertisement -

Akhirnya pada 2020, BRI merespons dan memberikan bantuan berupa tempat pembuangan sampah atau bank sampah. Dengan begitu, sampah-sampah di sekitar Desa Jatihurip bisa ditampung, kemudian dipilah.

”Sampah menjadi masalah besar bagi masyarakat kami. Kami berpikir harus menyelesaikan masalah sampah ini sehingga saya komunikasikan ke BRI dan mereka merespons cara mengatasi sampah ini,” ujarnya.

Sebelumnya, kata Dadang, banyak warga Desa Jatihurip yang tidak peduli terhadap sampah. Namun berkat program pelatihan pengelolaan sampah terpadu dari BRI, tingkat kesadaran masyarakat meningkat.

Adapun program BRI Peduli TPST terdiri atas pelatihan pilah sampah dan pelatihan penguatan kelembagaan serta manajemen bisnis Bank Sampah di Desa Jatihurip. BRI juga memberikan bantuan berupa mesin penghancur sampah anorganik. Dengan alat tersebut, pihak desa memiliki pendapatan tambahan. Sebab,sampah anorganik yang telah diolah bisa dijual kepada pengepul. Pendapatan tersebut digunakan untuk kepentingan operasional pengelolaan sampah seperti membayar upah pengangkut sampah.

Baca Juga :  Bermodal Rp 10 Juta, Sunarti Sukes Jadi Agen BRILink

Dalam kesempatan berbeda, koordinator pengelolaan sampah di Desa Jatihurip MuMunaja, 43, menambahkan, warga dilatih  memilah sampah menjadi sampah organik dan anorganik. Sampah anorganik akan diolah dan dijual. Sementara sampah organik dijadikan budi daya maggot.

Plastik ini kami jual ke pengepul Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per kilogram. Uangnya kami gunakan untuk operasional. Nanti itu dikumpulkan dalam kas desa. Pengelola sampah juga harus mendapat upah atas kerja mereka,” ujarnya.

Sependapat dengan Kepala Desa Munajat, sebelumnya warga di Desa Jatihurip bersikap apatis terhadap sampah. Namun, berkat program yang dicanangkan BRI terkait pelatihan pengelolaan sampah, kini masyarakat lebih patuh membuang sampah.

Sementara itu, Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto menambahkan bahwa integrasi program TJSL yang dilaksanakan BRI tidak hanya berdampak terhadap pemberdayaan ekonomi desa. Tetapi, juga berperan mendorong kesadaran masyarakat untuk menjaga keseimbangan alam dan kebersihan lingkungan melalui pengolahan sampah yang tepat.

Di Desa BRILiaN, program BRI Peduli TPST akan mendorong kesadaran masyarakat tentang pengolahan sampah sehingga menjadi desa teladan dan inspirasi bagi desa sekitar,” terangnya. (*/daf/par)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/