alexametrics
21.9 C
Madura
Tuesday, May 24, 2022

Manusia dan Alam

DI penghujung tahun ini, serangkaian peristiwa bencana alam seperti tanah longsor, banjir bandang, dan erupsi gunung merapi datang silih berganti menimpa negeri kita. Hal ini semakin menandaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang sejatinya rawan bencana. Meskipun demikian, penting bagi kita untuk memahami pola terjadinya bencana alam dan bersama-sama merumuskan kebijakan yang paling tepat setiap kali terjadi bencana alam. Hal tersebut untuk mengurangi jumlah korban jiwa serta dampak kerusakan akibatnya.

Namun, di samping itu, terjadinya bencana alam tidak terlepas dari akibat kegagalan proyek manusia modern yang selama ini menekankan pada industrialisasi. Dalam hal ini, alam pemikiran modern telah membuat manusia tidak hanya teralienasi dengan Tuhannya, melainkan juga dengan alam. Penolakan manusia terhadap metafisik entah Tuhan, norma, atau moral telah membuat manusia menjadikan alam sebagai objek. Kehidupan yang demikian pada akhirnya mengakibatkan pelbagai kerusakan yang semakin tak berkesudahan.

Dengan kata lain, atas nama pembangunan moralitas tak kuasa lagi mengatur perilaku manusia. Di sini manusia yang hidup dalam iklim kebebasan ingin mengatur alam sekehendak hatinya. Bagi mereka, moralitas akan membatasi kehendak bebas manusia. Kehidupan di planet bumi dipandang sebatas kebetulan—bukan sebagai khalifatullah atau wakil Allah yang bertugas untuk melestarikan alam.

Dogma Modernitas

Max Horkheimer percaya bahwa masa depan dunia bergantung pada sikap kritis manusia saat ini. Dengan kata  lain, kalau ingin masa depan yang lebih baik, kita harus keluar dari kungkungan ideologi dan dogma. Dalam hal moralitas, merujuk Jürgen Habermas, sah atau tidaknya suatu pandangan moral bergantung pada kesepakatan (diskursus) bersama sepanjang tak ada tekanan dan paksaan. Dalam konsep ini, bagi manusia modern, benar atau tidaknya suatu pandangan moral tolok ukurnya adalah rasionalitas manusia—bukan pandangan keagamaan.

Baca Juga :  Banggar Kecewa APBD 2019 Baru Terserap 67 Persen

Dua pemikir tersebut mencerminkan pemberontakan manusia modern terhadap konsep ketuhanan (ilahiah) dan moralitas (akhlak). Mereka percaya bahwa kebahagiaan dapat diraih melalui kematangan pikiran. Rasa cemas tentang kehancuran alam semesta dapat diatasi dengan konsep pembangunan berkelanjutan. Baik buruknya perbuatan seseorang dikembalikan pada kesepakatan bersama.

Namun, pada situasi yang demikian, apakah kepuasan batin manusia cukup dengan menuruti hawa nafsu dan pikiran? Tentu saja tidak! Manusia berbeda dengan binatang—tidak memiliki konflik batin. Manusia, sekali dua kali (mungkin) mampu bertahan menghadapi goncangan jiwa meskipun bencana alam datang bertubi-tubi. Namun, ketika mekanisme penyesuaian dirinya hilang, dalam kondisi demikian, kecerdasan spiritual (emotional spiritual quotient) terbukti jauh lebih ampuh dibanding kecerdasan intelektual (intelligence quotient). Dalam kaitan ini, akal manusia bagaimanapun tak mampu mengobati jiwa-jiwa yang resah dan keputusasaan. Pada titik inilah pemikiran Barat gagal memberikan ketenangan, ketenteraman, dan kedamaian lahir-batin.

Jalan Pulang

Sebagai bangsa Timur, lalu apa makna dogma modernitas bagi kita? Modernitas telah melupakan sejatining urip manusia di jagat semesta ini. Marginalisasi nilai-nilai agama menjadikan kita sebagai pemuja fisik-material. Pencerabutan norma agama membuat sistem kehidupan kita menjadi kehilangan rujukan. Tentang ini, seolah-olah kita seperti anak kecil yang keasyikan bermain mengejar layang-layang, sehingga terlampau jauh berlari dan akibatnya lupa jalan pulang. Dalam kaitannya dengan kerusakan alam, pada surah Ar-Rum ayat 41 Allah SWT telah memberikan alarm kepada kita tentang adanya kerusakan, baik di lautan maupun di daratan karena akibat perbuatan manusia, dan kemudian Allah menurunkan musibah sebagai akibatnya agar manusia kembali ke jalan yang benar.

Baca Juga :  Wartawan, Stigma, dan Potensi Menyimpang

Oleh karenanya, kita sebagai khalifatullah di muka bumi memiliki tugas untuk memakmurkannya, bukan justru sebaliknya, mengeksploitasi alam sekendak hati. Alam semesta ini Allah ciptakan dengan keteraturan, maka manusia sebagai wakil Allah mendapatkan tugas untuk menata dan melestarikan demi menjaga terpeliharanya keteraturan atau keseimbangan sunatullah terhadap alam.

Pada konteks di atas, fenomena kerusakan alam memiliki pengaruh terhadap perubahan iklim yang telah menjadi permasalahan abad ini. Pelanggaran terhadap sunatullah (hukum kausalitas), di antaranya telah menimbulkan pemusnahan pelbagai keberagaman hayati, terjadinya krisis air bersih, meningkatnya polusi udara, dan menyebabkan terjadinya emisi gas rumah kaca. Melihat kenyataan tersebut, maka upaya yang dapat kita lakukan untuk mengurangi laju kerusakan alam semesta ini setidaknya bisa dilakukan melalui dua hal, yaitu struktural dan kultural.

Pertama, pencegahan secara struktural dapat dilakukan. Misalya, dengan tidak gampang memberikan izin eksploitasi pada titik-titik wilayah yang rawan bencana. Pada contoh ini kita bisa melihat terhadap kasus lumpur Lapindo. Sejak 2006 sampai detik ini telah menjadi petaka bagi warga Porong (Sidoarjo). Kedua, pendekatan secara kultural dapat dilakukan dengan dimulai dari unit yang terkecil, yakni rumah tangga. Misalnya, dengan tidak menebang pohon, mengurangi penggunaan kantong plastik, tidak membuang sampah sembarangan, dan kebiasaan-kebiasaan kecil lainnya yang memiliki dampak negatif terhadap lingkungan.

*) Anggota Komisi D DPRD Bangkalan

DI penghujung tahun ini, serangkaian peristiwa bencana alam seperti tanah longsor, banjir bandang, dan erupsi gunung merapi datang silih berganti menimpa negeri kita. Hal ini semakin menandaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang sejatinya rawan bencana. Meskipun demikian, penting bagi kita untuk memahami pola terjadinya bencana alam dan bersama-sama merumuskan kebijakan yang paling tepat setiap kali terjadi bencana alam. Hal tersebut untuk mengurangi jumlah korban jiwa serta dampak kerusakan akibatnya.

Namun, di samping itu, terjadinya bencana alam tidak terlepas dari akibat kegagalan proyek manusia modern yang selama ini menekankan pada industrialisasi. Dalam hal ini, alam pemikiran modern telah membuat manusia tidak hanya teralienasi dengan Tuhannya, melainkan juga dengan alam. Penolakan manusia terhadap metafisik entah Tuhan, norma, atau moral telah membuat manusia menjadikan alam sebagai objek. Kehidupan yang demikian pada akhirnya mengakibatkan pelbagai kerusakan yang semakin tak berkesudahan.

Dengan kata lain, atas nama pembangunan moralitas tak kuasa lagi mengatur perilaku manusia. Di sini manusia yang hidup dalam iklim kebebasan ingin mengatur alam sekehendak hatinya. Bagi mereka, moralitas akan membatasi kehendak bebas manusia. Kehidupan di planet bumi dipandang sebatas kebetulan—bukan sebagai khalifatullah atau wakil Allah yang bertugas untuk melestarikan alam.


Dogma Modernitas

Max Horkheimer percaya bahwa masa depan dunia bergantung pada sikap kritis manusia saat ini. Dengan kata  lain, kalau ingin masa depan yang lebih baik, kita harus keluar dari kungkungan ideologi dan dogma. Dalam hal moralitas, merujuk Jürgen Habermas, sah atau tidaknya suatu pandangan moral bergantung pada kesepakatan (diskursus) bersama sepanjang tak ada tekanan dan paksaan. Dalam konsep ini, bagi manusia modern, benar atau tidaknya suatu pandangan moral tolok ukurnya adalah rasionalitas manusia—bukan pandangan keagamaan.

Baca Juga :  Bupati Ra Latif Kukuhkan Paskibraka

Dua pemikir tersebut mencerminkan pemberontakan manusia modern terhadap konsep ketuhanan (ilahiah) dan moralitas (akhlak). Mereka percaya bahwa kebahagiaan dapat diraih melalui kematangan pikiran. Rasa cemas tentang kehancuran alam semesta dapat diatasi dengan konsep pembangunan berkelanjutan. Baik buruknya perbuatan seseorang dikembalikan pada kesepakatan bersama.

Namun, pada situasi yang demikian, apakah kepuasan batin manusia cukup dengan menuruti hawa nafsu dan pikiran? Tentu saja tidak! Manusia berbeda dengan binatang—tidak memiliki konflik batin. Manusia, sekali dua kali (mungkin) mampu bertahan menghadapi goncangan jiwa meskipun bencana alam datang bertubi-tubi. Namun, ketika mekanisme penyesuaian dirinya hilang, dalam kondisi demikian, kecerdasan spiritual (emotional spiritual quotient) terbukti jauh lebih ampuh dibanding kecerdasan intelektual (intelligence quotient). Dalam kaitan ini, akal manusia bagaimanapun tak mampu mengobati jiwa-jiwa yang resah dan keputusasaan. Pada titik inilah pemikiran Barat gagal memberikan ketenangan, ketenteraman, dan kedamaian lahir-batin.

Jalan Pulang

Sebagai bangsa Timur, lalu apa makna dogma modernitas bagi kita? Modernitas telah melupakan sejatining urip manusia di jagat semesta ini. Marginalisasi nilai-nilai agama menjadikan kita sebagai pemuja fisik-material. Pencerabutan norma agama membuat sistem kehidupan kita menjadi kehilangan rujukan. Tentang ini, seolah-olah kita seperti anak kecil yang keasyikan bermain mengejar layang-layang, sehingga terlampau jauh berlari dan akibatnya lupa jalan pulang. Dalam kaitannya dengan kerusakan alam, pada surah Ar-Rum ayat 41 Allah SWT telah memberikan alarm kepada kita tentang adanya kerusakan, baik di lautan maupun di daratan karena akibat perbuatan manusia, dan kemudian Allah menurunkan musibah sebagai akibatnya agar manusia kembali ke jalan yang benar.

Baca Juga :  Duo Cantik Huawei

Oleh karenanya, kita sebagai khalifatullah di muka bumi memiliki tugas untuk memakmurkannya, bukan justru sebaliknya, mengeksploitasi alam sekendak hati. Alam semesta ini Allah ciptakan dengan keteraturan, maka manusia sebagai wakil Allah mendapatkan tugas untuk menata dan melestarikan demi menjaga terpeliharanya keteraturan atau keseimbangan sunatullah terhadap alam.

Pada konteks di atas, fenomena kerusakan alam memiliki pengaruh terhadap perubahan iklim yang telah menjadi permasalahan abad ini. Pelanggaran terhadap sunatullah (hukum kausalitas), di antaranya telah menimbulkan pemusnahan pelbagai keberagaman hayati, terjadinya krisis air bersih, meningkatnya polusi udara, dan menyebabkan terjadinya emisi gas rumah kaca. Melihat kenyataan tersebut, maka upaya yang dapat kita lakukan untuk mengurangi laju kerusakan alam semesta ini setidaknya bisa dilakukan melalui dua hal, yaitu struktural dan kultural.

Pertama, pencegahan secara struktural dapat dilakukan. Misalya, dengan tidak gampang memberikan izin eksploitasi pada titik-titik wilayah yang rawan bencana. Pada contoh ini kita bisa melihat terhadap kasus lumpur Lapindo. Sejak 2006 sampai detik ini telah menjadi petaka bagi warga Porong (Sidoarjo). Kedua, pendekatan secara kultural dapat dilakukan dengan dimulai dari unit yang terkecil, yakni rumah tangga. Misalnya, dengan tidak menebang pohon, mengurangi penggunaan kantong plastik, tidak membuang sampah sembarangan, dan kebiasaan-kebiasaan kecil lainnya yang memiliki dampak negatif terhadap lingkungan.

*) Anggota Komisi D DPRD Bangkalan

- Advertisement -

Artikel Terkait

Lebaran Ajang Perkuat Ukhuwah

Madura Darurat Radikalisme

Desa Organik: Harapan atau Peluang

Puasa dan Etika Lingkungan

Serupa PHP

Most Read

Artikel Terbaru

/