
Oleh Imam Buchari, S.E.*
MELAKONI dunia pers, dengan nyanggong di Radar Madura sebagai wartawan, menjadikan saya lebih utuh memahami dunia tulis-menulis. Dulu ketika masih di kampus tahun 90-an, saya sering menulis makalah, artikel dan tulisan ilmiyah lainnya. Tapi, menulis berita ketika itu baru sebatas pembelajaran. Sekadar memuaskan hasrat ingin tahu. Apa itu yang disebut berita?
Secara sederhana akhirnya saya tahu, bahwa berita itu adalah laporan atau informasi mengenai peristiwa, fakta, atau kejadian terbaru (hangat), penting, menarik, dan relevan bagi publik. Penyajian penulisannya menggunakan rumus 5 W 1 H. Sesederhana itu saya memahaminya. Dan, kata kuncinya, wartawan itu harus netral.
Tapi ternyata setelah saya terjun langsung di tengah masyarakat sebagai wartawan, terutama saat menjadi wartawan Radar Madura antara tahun 2000–2001, kesederhanaan pemahaman saya berbalik 160 derajat. Karena setiap orang yang ditemui untuk diwawancarai dapat dipastikan ingin penulisan berita itu berpihak kepadanya.
Keinginan itu dilakukan melalui berbagai cara. Dari cara merajuk, marah, iming-iming, bahkan sampai menggunakan cara ancaman. Harapan mereka bermacam-macam, saya diminta memotong kalimat, menambah opini dan bahkan menggagalkan penerbitan sebuah berita. Tujuannya satu, agar pemberitaan menguntungkan diri mereka.
Pernah suatu ketika saya mewawancarai sumber berita salah seorang kepala OPD. Belum kelar dua pertanyaan disodorkan, tiba-tiba raut mukanya memerah penuh amarah, dan berkata, “Mas, saya juga bisa mendatangkan massa puluhan truk dalam waktu yang tidak terlalu lama,” ungkapnya kepada saya.
“Loh, apa hubungannya dengan pertanyaan saya,” gumam saya dalam hati. Seharusnya sumber berita itu jangan mengawali jawaban dengan cara mengancam. Pahami dulu rangkaian pertanyaan, sehingga kemudian bisa menangkap apa yang dimaksud. Karena bisa jadi sikapnya kontra produktif dengan apa yang ia harapkan.
Untungnya saya tidak balik marah dan membentak. Saya teruskan pertanyaan dengan intonasi datar, tidak larut dalam emosi. Ternyata lambat laun, karena amarahnya terus membentur “tembok” dan tidak mendapat reaksi serupa, kepala OPD itu secara perlahan menurunkan tensi suaranya. Lalu menerangkan apa yang sesungguhnya terjadi, menurut versinya.
Pernah juga dalam satu wawancara saya mau dijadikan saksi oleh seorang Kapolres. Ketika itu saya tengah mengonfirmasi analisis atau temuan seorang tokoh masyarakat bahwa Madura akan menjadi target rusuh. Menanggapi pertanyaan saya itu, sepontan Kapolres marah dan memanggil salah satu Kasi untuk menjadikan saya sebagai saksi.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




