
Oleh Moh. Subhan
"APA penyesalanmu yang paling besar hari ini?” tanya si Fulan kepada dirinya sendiri, saat takbir mulai dikumandangkan di masjid, musala dan surau-surau di kampung.
"Gagal menjadi tuan rumah yang baik,” jawabnya lirih. Sementara dadanya terasa sempit oleh sesal yang tak sempat terucap.
Ramadan telah datang ke rumahnya. Dia tidak datang sebagai bulan biasa, melainkan sebagai tamu agung yang membawa cahaya, ampunan, dan kesempatan hidup yang baru.
Pada sepuluh hari pertama, tamu itu datang dengan pakaian rahmat. Dia mengetuk pintu si Fulan dengan lembut: lewat azan yang merdu, lewat ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca, lewat panggilan salat dan ajakan berbagi.
Baca Juga: Spirit Memburu ”THR” di Sepanjang Ramadan
Namun si Fulan hanya membukakan pintu sedikit. Dia masih sibuk menghitung untung-rugi dunia. Masjid dia datangi sekadarnya, Al-Qur’an dia sentuh bila sempat, doa dia panjatkan sambil tergesa.
Fulan menyambut tamu itu, tetapi tidak memuliakannya. Lalu datanglah sepuluh hari kedua: fase magfirah, fase pengampunan.
Ramadan kembali mengetuk lebih kuat. Seolah berkata: "Masih ada waktu untuk memperbaiki diri.” Tetapi, si Fulan berpura-pura tuli. Dia menganggap Ramadan seperti tamu biasa: datang, singgah, lalu pergi.
Dia lupa bahwa setiap sujud dilipatgandakan nilainya. Setiap doa lebih dekat pada langit. Setiap air mata lebih mudah menghapus dosa.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


