26.9 C
Madura
Saturday, January 28, 2023

Mencurigai Nama Orang India di Madura

oleh AH HASMIDI*

MEMBERIKAN sebuah nama bagi sebagian banyak orang tua tentunya yang baik-baik dan memiliki makna yang baik pula. Tidak hanya itu, selain nama yang baik tersebut, paling tidak memiliki panggilan yamg cantik dan enak untuk dipanggil dalam sehari-hari. Tidak jarang orang tua mengikuti nama-nama yang bersangkut paut dengan nama artis, misalnya mengikuti nama panggilan di sinetron yang sedang digandrungi ibu-ibu atau penggemar lainnya.

Keterangan lain yang dapat diungkap adalah adanya pengaruh dari luar selain sinetron dan televisi. Keberadaan agama juga menyokong pemberian nama pada anak. Hal ini pasti juga sebagai penanda dan pengharapan berkah atas nama yang diberikan pada si anak. Contohnya nama Muhammad yang banyak digunakan untuk anak laki-laki di lingkup agama Islam. Maka, tidak menutup kemungkinan juga kaitannya nama-nama dari sumber kepercayaan lain.

Perkembangan waktu yang terus berjalan secara dinamis sangat memengaruhi pemberian nama kepada anak. Jika ditelisik dari pendahulu kita (tiga generasi di atas kita saat ini yang sudah memiliki usia 30-an) sekitar tahun 50-an, akan sangat berbeda dengan nama-nama dan panggilan untuk anak kita. Bahkan sebelum itu, misalnya 20–40 tahun sebelumnya mungkin dapat kita jumpai nama-nama yang hanya berpatokan pada hal-hal di sekitar kita. Pernah saya menjumpai nama Rombu, Carang, atau Gus Lanceng. Nama-nama selain yang telah saya ungkap mungkin akan banyak dijumpai dan didengar yang dinisbatkan pada benda-benda di sekitar kita.

Masuknya Hindu di Indonesia juga memberikan warna yang berbeda dalam pemberian nama. Saya di sini masih memiliki keyakinan bahwa Hindu dibawa oleh orang-orang atau saudagar dari India. Selain membawa barang dagangan, mereka juga membawa keyakinan untuk diikuti oleh masyarakat di Indonesia, khususnya di Madura. Sehingga, pemberian nama untuk anak-anak di Madura sedikit juga mengambil dari nama-nama di India. Misal nama Sonia, yang kemudian disadur ke dalam bahasa Madura menjadi Saniya. Secara jelas, proses penyaduran ini tidak bisa dideteksi secara gamblang. Bisa jadi, nama Saniya dimodif agar dapat diterima dengan lidah atau pengucapan orang Madura yang dikenal ”keras”.

Baca Juga :  Bank Sampang Buka Kantor Kas di Mandangin

Pemberian label keras bagi orang Madura mungkin tidak hanya dilihat dari segi luarnya saja, dalam pengucapan masih banyak ditemui kata-kata yang harus diucapkan dengan keras atau berat. Kata gaja yang harus diucapkan dengan berat (berra, Madura) sebagai acuan untuk nama hewan yang memiliki belalai, telinga lebar, dan berbadan besar.

Kembali pada nama, kecurigaan saya mengenai campur tangan orang India dalam pemberian nama tersebut dapat ditelusuri dari nama-nama yang berawalan huruf s atau kata-kata yang tidak bisa dimaknai dalam bahasa Madura. Suketi, Sumanto, Sahwidi, atau Siyami adalah nama yang mungkin disadur dari bahasa Sanskerta. Kita tahu betul dari mana bahasa Sanskerta tersebut muncul dan ada.

Supiya adalah (mungkin) nama lain dari Sofia yang kemudian diubah untuk disesuaikan dengan lidah pengucapan orang Madura. Perubahan ini jika ditelusuri dari cara kebahasaan di Madura, akan dijumpai dengan melihat proses perubahannya. Tidak akan bisa menyatu dalam pengucapan antara konsonan alos (halus) dengan vokal tajem (tajam) pun juga sebaliknya. Konsonan alos dan vokal tajem tidak akan berada dan bertemu dalam satu kata. Jika dijumpai kata yang menganut keterangan tersebut, dapat dipastikan bahwa kata tersebut merupakan kata saduran atau kata dari daerah lain yang kemudian diadopsi ke dalam bahasa Madura.

Makanya kata asal Sofia kemudian ditarik menjadi bahasa Madura dengan mengubah vokal o pada vokal u dan konsonan f juga mengalami perubahan pada konsonan p. Sedangkan konsonan y diperlukan sebagai sowara palancar (sebagai huruf untuk memberikan efek kelancaran dalam pengucapan) karena ada dua vokal, yaitu vokal i dengan vokal a.

Parwati, nama ini sangat saya curigai memang berasal dari nama orang India. Terlebih berkenaan dengan sosok perempuan yang mendambakan buah hati dengan melakukan meditasi selama 12 tahun atau lebih. Sosok ini dikenal dengan sebutan nama Parvati yang telah mendapat panggilan ibu dari Ganesha. Manusia yang terlahir dari bentuk yang menyerupai seekor gajah. Kurang lebih cerita tentang Parvati begitu, dan kaitannya dengan pengadopsian nama tersebut oleh orang Madura, saya kurang paham betul kisahnya. Saya hanya bisa mengira-ngira dengan kecurigaan yang tidak masuk dalam nalar pemikiran yang sebenarnya. Entah hal ini memang betul adanya atau hanya asumsi kecurigaan semata dengan melihat kesamaan bentuk atau sekadar menyerupai susunan kata yang kemudian disematkan sebagai nama dari orang-orang Madura.

Baca Juga :  Berdamai dengan Raperda Agraria DPRD Sumenep (?)

Kaitannya dengan ketiga nama tersebut di atas, saya pun masih mencurigai masih banyak nama-nama yang diambil dari nama-nama orang India. Hal ini akan sangat menarik jika ditelaah secara serius dan teliti mengenai proses penggunaan nama yang hampir menyerupai atau bahkan sangat mirip dengan nama yang digunakan oleh orang-orang India. Anggapan saya dengan nama-nama tersebut tidak hanya bersandar pada terkaan belaka tanpa didasari dengan bukti nyata yang ada, karena sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia saja masih ada hubungan yang sangat dekat, yaitu dengan sokongan dukungan pengakuan yang juga dilontarkan oleh pemerintah India dalam arah pengambilan keputusan untuk memerdekakan diri dari penjajah.

Akhirnya, masih banyak nama yang pernah digunakan untuk menamai keluarga di Madura selain dari tiga contoh yang telah saya ungkap di atas. Saya juga mengajak untuk kita semua menelaah dan menelusuri akan kebenaran yang sah mengenai pola nama yang ada di Madura, khususnya pola yang hampir dan bahkan sama dengan pola nama yang bersumber dari negara India. Selain itu pula, pola nama yang digunakan pada saat ini sudah banyak dipengaruhi oleh faktor luar. Selain faktor keagamaan dan juga faktor hubungan yang sedang tren di masyarakat, juga dipengaruhi oleh faktor ketentuan yang dikeluarkan oleh pemerintah sendiri. (*)

*)Mengajar di SMAN 1 Bluto, Sumenep

oleh AH HASMIDI*

MEMBERIKAN sebuah nama bagi sebagian banyak orang tua tentunya yang baik-baik dan memiliki makna yang baik pula. Tidak hanya itu, selain nama yang baik tersebut, paling tidak memiliki panggilan yamg cantik dan enak untuk dipanggil dalam sehari-hari. Tidak jarang orang tua mengikuti nama-nama yang bersangkut paut dengan nama artis, misalnya mengikuti nama panggilan di sinetron yang sedang digandrungi ibu-ibu atau penggemar lainnya.

Keterangan lain yang dapat diungkap adalah adanya pengaruh dari luar selain sinetron dan televisi. Keberadaan agama juga menyokong pemberian nama pada anak. Hal ini pasti juga sebagai penanda dan pengharapan berkah atas nama yang diberikan pada si anak. Contohnya nama Muhammad yang banyak digunakan untuk anak laki-laki di lingkup agama Islam. Maka, tidak menutup kemungkinan juga kaitannya nama-nama dari sumber kepercayaan lain.


Perkembangan waktu yang terus berjalan secara dinamis sangat memengaruhi pemberian nama kepada anak. Jika ditelisik dari pendahulu kita (tiga generasi di atas kita saat ini yang sudah memiliki usia 30-an) sekitar tahun 50-an, akan sangat berbeda dengan nama-nama dan panggilan untuk anak kita. Bahkan sebelum itu, misalnya 20–40 tahun sebelumnya mungkin dapat kita jumpai nama-nama yang hanya berpatokan pada hal-hal di sekitar kita. Pernah saya menjumpai nama Rombu, Carang, atau Gus Lanceng. Nama-nama selain yang telah saya ungkap mungkin akan banyak dijumpai dan didengar yang dinisbatkan pada benda-benda di sekitar kita.

Masuknya Hindu di Indonesia juga memberikan warna yang berbeda dalam pemberian nama. Saya di sini masih memiliki keyakinan bahwa Hindu dibawa oleh orang-orang atau saudagar dari India. Selain membawa barang dagangan, mereka juga membawa keyakinan untuk diikuti oleh masyarakat di Indonesia, khususnya di Madura. Sehingga, pemberian nama untuk anak-anak di Madura sedikit juga mengambil dari nama-nama di India. Misal nama Sonia, yang kemudian disadur ke dalam bahasa Madura menjadi Saniya. Secara jelas, proses penyaduran ini tidak bisa dideteksi secara gamblang. Bisa jadi, nama Saniya dimodif agar dapat diterima dengan lidah atau pengucapan orang Madura yang dikenal ”keras”.

Baca Juga :  Memburu Malam Lailatul Qadar

Pemberian label keras bagi orang Madura mungkin tidak hanya dilihat dari segi luarnya saja, dalam pengucapan masih banyak ditemui kata-kata yang harus diucapkan dengan keras atau berat. Kata gaja yang harus diucapkan dengan berat (berra, Madura) sebagai acuan untuk nama hewan yang memiliki belalai, telinga lebar, dan berbadan besar.

Kembali pada nama, kecurigaan saya mengenai campur tangan orang India dalam pemberian nama tersebut dapat ditelusuri dari nama-nama yang berawalan huruf s atau kata-kata yang tidak bisa dimaknai dalam bahasa Madura. Suketi, Sumanto, Sahwidi, atau Siyami adalah nama yang mungkin disadur dari bahasa Sanskerta. Kita tahu betul dari mana bahasa Sanskerta tersebut muncul dan ada.

- Advertisement -

Supiya adalah (mungkin) nama lain dari Sofia yang kemudian diubah untuk disesuaikan dengan lidah pengucapan orang Madura. Perubahan ini jika ditelusuri dari cara kebahasaan di Madura, akan dijumpai dengan melihat proses perubahannya. Tidak akan bisa menyatu dalam pengucapan antara konsonan alos (halus) dengan vokal tajem (tajam) pun juga sebaliknya. Konsonan alos dan vokal tajem tidak akan berada dan bertemu dalam satu kata. Jika dijumpai kata yang menganut keterangan tersebut, dapat dipastikan bahwa kata tersebut merupakan kata saduran atau kata dari daerah lain yang kemudian diadopsi ke dalam bahasa Madura.

Makanya kata asal Sofia kemudian ditarik menjadi bahasa Madura dengan mengubah vokal o pada vokal u dan konsonan f juga mengalami perubahan pada konsonan p. Sedangkan konsonan y diperlukan sebagai sowara palancar (sebagai huruf untuk memberikan efek kelancaran dalam pengucapan) karena ada dua vokal, yaitu vokal i dengan vokal a.

Parwati, nama ini sangat saya curigai memang berasal dari nama orang India. Terlebih berkenaan dengan sosok perempuan yang mendambakan buah hati dengan melakukan meditasi selama 12 tahun atau lebih. Sosok ini dikenal dengan sebutan nama Parvati yang telah mendapat panggilan ibu dari Ganesha. Manusia yang terlahir dari bentuk yang menyerupai seekor gajah. Kurang lebih cerita tentang Parvati begitu, dan kaitannya dengan pengadopsian nama tersebut oleh orang Madura, saya kurang paham betul kisahnya. Saya hanya bisa mengira-ngira dengan kecurigaan yang tidak masuk dalam nalar pemikiran yang sebenarnya. Entah hal ini memang betul adanya atau hanya asumsi kecurigaan semata dengan melihat kesamaan bentuk atau sekadar menyerupai susunan kata yang kemudian disematkan sebagai nama dari orang-orang Madura.

Baca Juga :  Yang Tak Terlupakan dan Tak Akan Pernah Kembali

Kaitannya dengan ketiga nama tersebut di atas, saya pun masih mencurigai masih banyak nama-nama yang diambil dari nama-nama orang India. Hal ini akan sangat menarik jika ditelaah secara serius dan teliti mengenai proses penggunaan nama yang hampir menyerupai atau bahkan sangat mirip dengan nama yang digunakan oleh orang-orang India. Anggapan saya dengan nama-nama tersebut tidak hanya bersandar pada terkaan belaka tanpa didasari dengan bukti nyata yang ada, karena sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia saja masih ada hubungan yang sangat dekat, yaitu dengan sokongan dukungan pengakuan yang juga dilontarkan oleh pemerintah India dalam arah pengambilan keputusan untuk memerdekakan diri dari penjajah.

Akhirnya, masih banyak nama yang pernah digunakan untuk menamai keluarga di Madura selain dari tiga contoh yang telah saya ungkap di atas. Saya juga mengajak untuk kita semua menelaah dan menelusuri akan kebenaran yang sah mengenai pola nama yang ada di Madura, khususnya pola yang hampir dan bahkan sama dengan pola nama yang bersumber dari negara India. Selain itu pula, pola nama yang digunakan pada saat ini sudah banyak dipengaruhi oleh faktor luar. Selain faktor keagamaan dan juga faktor hubungan yang sedang tren di masyarakat, juga dipengaruhi oleh faktor ketentuan yang dikeluarkan oleh pemerintah sendiri. (*)

*)Mengajar di SMAN 1 Bluto, Sumenep

Artikel Terkait

Urgensi Perpanjangan Masa Jabatan Kades

Enigma Penegak Hukum

Pesantren dan Khazanah Arabo-Indofonie

Maroko dan Kedigdayaan Salawat Nariyah

Most Read

Artikel Terbaru

/