alexametrics
25.3 C
Madura
Friday, September 30, 2022

Selamat Jalan Wings Air-Citilink

Oleh Dafir Falah*

Selamat jalan Wings Air, juga selamat jalan Citilink. Sumenep memang tidak sebaik yang dibayangkan. Jangan kapok ya untuk kembali lagi ke Kota Keris.

AWAL Agustus lalu saya sendiri cukup kaget. Tiba-tiba dengan waktu bersamaan, maskapai Wings Air dan Citilink cabut dari Bandar Udara (Bandara) Trunojoyo Sumenep.

Alasannya klise, sepi penumpang. Tapi, itu benar adanya. Fakta bukan mengada-ada. Kondisinya memang begitu.

Sebagai perusahan yang bergerak di bidang jasa penerbangan, jelas untung rugi diperhitungkan. Mungkin saja, selama ini belum menghasilkan dari sisi hitung-hitungan bisnis. Karena itu, Wings Air dan Citilink kompak pamitan.

Keputusan yang sulit. Tetapi, itu yang terjadi. Dua maskapai itu resmi hengkang dari Sumenep.

Padahal, baru empat bulan lalu dua maskapai itu mengudara di langit Sumenep. Itu pun setelah Presiden RI Jokowi meresmikan Bandara Trunojoyo Sumenep pada 20 April 2022.

Tiba-tiba tepat 29 April, sembilan hari pasca diresmikan, penerbangan komersial akhirnya dibuka rute Sumenep-Surabaya. Begitu pun sebaliknya (PP).

Horeeee…. Anggap itu kabar baik. Tetapi, sedihnya kabar baik itu tidak berlangsung lama. Hanya bertahan empat bulan.

Lantas, mengapa itu terjadi? Pikiran jelek saya, jangan-jangan dibukanya jalur penerbangan komersial, karena sungkan dengan presiden lantaran baru meresmikan Bandara Trunojoyo Sumenep.

Atau, jangan-jangan hanya ingin membuat presiden senang? Lalu, urusan sepi penumpang diabaikan. Tidak jadi soal.

Baca Juga :  Hari Libur, Bupati Ra Latif Bantu Korban Kebakaran

Jika begitu, tidak salah Wings Air dan Citilink memutuskan cancel flight dari Bandara Trunojoyo, Sumenep. Mungkin merasa terpaksa.

Ditambah, bentuk dukungan dari Pemkab Sumenep juga setengah hati. Kesannya kurang serius. Sebab, kalau serius tidak mungkin dua maskapai itu cabut.

Kita tahu selama ini Pemkab Sumenep memang terlihat mendukung adanya bandara. Dukungan itu, salah satunya diwujudkan dengan menginstruksikan semua pejabat dan pengawai negeri sipil (PNS), jika ada tugas ke luar kota, disarankan untuk naik pesawat.

Apakah instruksi itu dijalankan? Tidak juga. Banyak kok kendaraan pelat merah bernopol Sumenep melintas di Sampang, Bangkalan, dan bahkan di Surabaya.

Berarti dukungan itu hanya di mulut saja. Tidak benar-benar diterapkan. Bulshit bukan?
Anehnya lagi, ketika Pemkab Sumenep getol promosikan objek wisata, sampai-sampai salah satu menteri datang ke kabupaten paling ujung timur Pulau Madura.

Singkat cerita. Pak menteri itu datang dan diajak untuk melihat desa keris, yaitu di Desa Aeng Tong-Tong Kecamatan Saronggi. Dengan harapan, agar menarik wisatawan berkunjung ke Sumenep menggunakan jasa transportasi udara.

Namun, ide bagus itu hanya buang-buang energi. Bagaimana wisatawan mau berkunjung ke Sumenep. Selama fasilitas pendukung lainnya tidak dipikirkan. Semisal, perihal pengadaan bus kota atau sejenisnya. Itu dibutuhkan sekali untuk antar wisatawan jelajahi objek wisata di Sumenep.

Baca Juga :  Dukung Program Wirausaha Baru

Setidaknya, saat wisatawan tiba di Bandara Trunojoyo Sumenep, tidak bingung mau naik apa. Mau ke desa keris, misalnya. Sudah ada yang siap mengantar. Terus mau ke pulau oksigen, Pulau Gili Iyang, juga tidak bingung. Sebab, ada bus kota yang kapan saja dibutuhkan.

Selama ini kan tidak begitu. Wisatawan harus cari kendaraan sendiri untuk sampai ke tempat tujuan wisata. Ya kalau dari kota, masih ada Grab atau Gojek. Termasuk, dari bandara mau ke hotel. Ojek online (ojol) bisa mengatasi.

Lalu, sebaliknya jika dari Saronggi (desa keris), Batang-Batang (Pantai Lombang), Dungkek (pulau oksigen), dan tempat wisata lainnya. Apakah menggunakan ojol masih memungkinkan? Jelas tidak.

Karena itu, tidak keliru kalau wisatawan kurang tertarik datang ke Sumenep. Selama fasilitas pendukung berupa akses transportasi antarkota tidak disiapkan. Mustahil pariwisata di Sumenep bisa berkembang.

Lebih baik, urungkan dan kubur dalam-dalam program kepariwisataan. Karena percuma juga, wisawatan tidak bakal melirik. Kalau pun ada (wisatawan), itu bisa dihitung. Saya yakin begitu.

Daripada tidak jelas buang anggaran besar untuk program kepariwisataan, mending dialihkan untuk kegiatan yang lain. Kegiatan yang lebih bermanfaat. Kecuali, anggaran itu buat bancakan. Lain lagi ceritanya. Sekian. (*)

*) Jurnalis Muda JPRM

Oleh Dafir Falah*

Selamat jalan Wings Air, juga selamat jalan Citilink. Sumenep memang tidak sebaik yang dibayangkan. Jangan kapok ya untuk kembali lagi ke Kota Keris.

AWAL Agustus lalu saya sendiri cukup kaget. Tiba-tiba dengan waktu bersamaan, maskapai Wings Air dan Citilink cabut dari Bandar Udara (Bandara) Trunojoyo Sumenep.

Alasannya klise, sepi penumpang. Tapi, itu benar adanya. Fakta bukan mengada-ada. Kondisinya memang begitu.


Sebagai perusahan yang bergerak di bidang jasa penerbangan, jelas untung rugi diperhitungkan. Mungkin saja, selama ini belum menghasilkan dari sisi hitung-hitungan bisnis. Karena itu, Wings Air dan Citilink kompak pamitan.

Keputusan yang sulit. Tetapi, itu yang terjadi. Dua maskapai itu resmi hengkang dari Sumenep.

Padahal, baru empat bulan lalu dua maskapai itu mengudara di langit Sumenep. Itu pun setelah Presiden RI Jokowi meresmikan Bandara Trunojoyo Sumenep pada 20 April 2022.

Tiba-tiba tepat 29 April, sembilan hari pasca diresmikan, penerbangan komersial akhirnya dibuka rute Sumenep-Surabaya. Begitu pun sebaliknya (PP).

- Advertisement -

Horeeee…. Anggap itu kabar baik. Tetapi, sedihnya kabar baik itu tidak berlangsung lama. Hanya bertahan empat bulan.

Lantas, mengapa itu terjadi? Pikiran jelek saya, jangan-jangan dibukanya jalur penerbangan komersial, karena sungkan dengan presiden lantaran baru meresmikan Bandara Trunojoyo Sumenep.

Atau, jangan-jangan hanya ingin membuat presiden senang? Lalu, urusan sepi penumpang diabaikan. Tidak jadi soal.

Baca Juga :  Wartawan, Stigma, dan Potensi Menyimpang

Jika begitu, tidak salah Wings Air dan Citilink memutuskan cancel flight dari Bandara Trunojoyo, Sumenep. Mungkin merasa terpaksa.

Ditambah, bentuk dukungan dari Pemkab Sumenep juga setengah hati. Kesannya kurang serius. Sebab, kalau serius tidak mungkin dua maskapai itu cabut.

Kita tahu selama ini Pemkab Sumenep memang terlihat mendukung adanya bandara. Dukungan itu, salah satunya diwujudkan dengan menginstruksikan semua pejabat dan pengawai negeri sipil (PNS), jika ada tugas ke luar kota, disarankan untuk naik pesawat.

Apakah instruksi itu dijalankan? Tidak juga. Banyak kok kendaraan pelat merah bernopol Sumenep melintas di Sampang, Bangkalan, dan bahkan di Surabaya.

Berarti dukungan itu hanya di mulut saja. Tidak benar-benar diterapkan. Bulshit bukan?
Anehnya lagi, ketika Pemkab Sumenep getol promosikan objek wisata, sampai-sampai salah satu menteri datang ke kabupaten paling ujung timur Pulau Madura.

Singkat cerita. Pak menteri itu datang dan diajak untuk melihat desa keris, yaitu di Desa Aeng Tong-Tong Kecamatan Saronggi. Dengan harapan, agar menarik wisatawan berkunjung ke Sumenep menggunakan jasa transportasi udara.

Namun, ide bagus itu hanya buang-buang energi. Bagaimana wisatawan mau berkunjung ke Sumenep. Selama fasilitas pendukung lainnya tidak dipikirkan. Semisal, perihal pengadaan bus kota atau sejenisnya. Itu dibutuhkan sekali untuk antar wisatawan jelajahi objek wisata di Sumenep.

Baca Juga :  Berorientasi pada Pengenalan Sejarah dan Kebudayaan

Setidaknya, saat wisatawan tiba di Bandara Trunojoyo Sumenep, tidak bingung mau naik apa. Mau ke desa keris, misalnya. Sudah ada yang siap mengantar. Terus mau ke pulau oksigen, Pulau Gili Iyang, juga tidak bingung. Sebab, ada bus kota yang kapan saja dibutuhkan.

Selama ini kan tidak begitu. Wisatawan harus cari kendaraan sendiri untuk sampai ke tempat tujuan wisata. Ya kalau dari kota, masih ada Grab atau Gojek. Termasuk, dari bandara mau ke hotel. Ojek online (ojol) bisa mengatasi.

Lalu, sebaliknya jika dari Saronggi (desa keris), Batang-Batang (Pantai Lombang), Dungkek (pulau oksigen), dan tempat wisata lainnya. Apakah menggunakan ojol masih memungkinkan? Jelas tidak.

Karena itu, tidak keliru kalau wisatawan kurang tertarik datang ke Sumenep. Selama fasilitas pendukung berupa akses transportasi antarkota tidak disiapkan. Mustahil pariwisata di Sumenep bisa berkembang.

Lebih baik, urungkan dan kubur dalam-dalam program kepariwisataan. Karena percuma juga, wisawatan tidak bakal melirik. Kalau pun ada (wisatawan), itu bisa dihitung. Saya yakin begitu.

Daripada tidak jelas buang anggaran besar untuk program kepariwisataan, mending dialihkan untuk kegiatan yang lain. Kegiatan yang lebih bermanfaat. Kecuali, anggaran itu buat bancakan. Lain lagi ceritanya. Sekian. (*)

*) Jurnalis Muda JPRM

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Lima Raperda Siap Dibahas

/