alexametrics
25.5 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

Dampak Pembelajaran Daring di Masa Pandemi

Oleh MUHAMMAD IDRIS NUR HIDAYAT*

PANDEMI Covid-19 sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia secara global. Salah satu yang paling terdampak adalah aspek pendidikan. Dalam hal ini, yang merasakan imbasnya bukan hanya peserta didik, guru, lembaga pendidikan, ataupun segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan sekolah saja, tetapi juga terjadi secara psikologis yang dialami anak dan remaja, sebagai seorang individu, juga sebagai seseorang yang sedang menempuh pendidikan.

Dilansir dari unicef.org.id bahwa 80 juta anak Indonesia mengalami sebuah tantangan kehidupan normal yang baru (era new normal), memengaruhi kehidupan sehari-hari mereka. Di antaranya kegiatan pendidikan yang terganggu, perubahan layanan kesehatan, gizi, maupun perlindungan lainnya. Orang tua juga harus berjuang mempertahankan diri dalam hal finansial, pendampingan pendidikan daring, perlindungan kesehatan anak-anak mereka, juga harus bertahan memenuhi kebutuhan lainnya.

Berdasarkan beberapa analisis atas respons berbagai kebijakan serta temuan penelitian, UNESCO telah membuat sebuah dokumen berkaitan dengan dampak pandemi. Yaitu: 1) Kemiskinan; 2) Pembelajaran; 3) Kesehatan; 4) Kesehatan mental pengasuhan dan perlindungan anak; 5) Gizi, dan; 6) Akses mendapatkan layanan air bersih, sanitasi, dan kebersihan. Dari enam aspek tersebut, salah satunya adalah dalam hal kegiatan pembelajaran. Pada lingkup ini yang paling terlibat dan merasakan dampaknya adalah guru dan siswa.

Permasalahan muncul seiring dengan datang dan meningkatnya pandemi dalam kurun waktu tertentu, yang tentunya sangat memengaruhi kualitas layanan pendidikan oleh guru dan objek pendidikan itu sendiri, yakni siswa. Tak hanya tentang kualitas proses transformasi ilmu maupun upaya memberikan pendidikan karakter yang memisahkan guru-siswa karena pandemi sehingga ketercapaiannya jauh dari yang diharapkan, akan tetapi ada hal-hal lain yang bisa survive dari pandemi ini, yakni individu yang memiliki motivasi tinggi berjuang menjaga kesehatan, mengembangkan diri, tidak menyerah belajar, dan siap menghadapi berbagai kesulitan-kesulitan baru.

Baca Juga :  Kiprah Santri Membangun Negeri

Di balik bencana pandemi Covid-19 ada keberkahan bagi yang ”mau belajar” dari masalah dan tantangan zaman. Kualitas pendidikan akan terus teruji dengan peningkatan kualitas para guru yang diikuti para siswanya. Di era disrupsi ini, sudah tidak zaman jika ada guru gaptek (gagap teknologi). Selama pandemi, para guru ”dipaksa” mampu mengajar di grup kelas dunia maya, membuat media berbasis teknologi hingga menulis rapor menggunakan aplikasi.

Lantas, apakah masalah teratasi dengan melek teknologi? Ternyata tidak. Masih banyak miskonsepsi pendidikan yang perlu dibenahi. Sejalan dengan konsep ”Merdeka Belajar” yang Mas Menteri Pendidikan canangkan, guru mestinya memahami makna dua kata itu yang selanjutnya diterapkan. Bagaimana bisa paham bila guru tidak mau belajar. Bagaimana pula guru bisa ”memerdekakan” diri dan siswanya jika masih menggunakan model pengajaran secara konvensional? Beberapa hal masih menunjukkan adanya ”keengganan” para pendidik pada cara-cara lama, merasa tidak perlu merespons perubahan, dan motivasi yang rendah untuk mau belajar dan mengembangkan diri seperti berikut.

Pertama, guru tidak pernah melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Kedua, mengajar tanpa tahu kemauan dan keinginan siswa. Ketiga, mengajar demi menuntaskan konten materi sesuai kurikulum. Keempat, memberi banyak tugas tanpa tahu pencapaian kemajuan siswa, sudah maju apa belum. Kelima, hobi melakukan penilaian akademik (ulangan) demi isi nilai rapor yang belum tentu itu nilai asli, dan mungkin masih banyak lagi.

Baca Juga :  Dilema Korupsi Politisi Muda

Mengutip tulisan Indy Hardono di Kompas.com, makna konsep Merdeka Belajar itu tentang pentingnya seorang siswa memiliki ruang yang luas untuk mengolah apa yang ia lihat dan pahami secara bebas untuk dianalisis dan ia ekstraksikan menjadi sebuah ilmu (kompetensi). Pertanyaannya, bagaimana siswa bisa mewujudkan konsep Merdeka Belajar tersebut kalau gurunya sendiri belum ”merdeka”? Untuk memerdekakan diri, sebagai guru Merdeka Belajar perlu melakukan perubahan pola pikir, di antaranya guru belajar dari keinginan diri sendiri karena merasa butuh belajar, guru bisa belajar dari siapa saja bahkan sesama guru (tidak harus dari pakar pendidikan) melalui berbagi praktik baik pengajaran, guru belajar memahami karakter siswanya (bukan hanya belajar How To Strategi, inovasi, media pembelajaran apa), guru memahami belajar butuh proses (bukan belajar secara instan), dan terakhir, guru butuh komunitas belajar (saling berkolaborasi bukan berkompetisi).

Memang tidak ada guru yang sempurna. Yang ada hanyalah guru yang mau merefleksi, mau berubah, dan benar-benar menerapkan untuk diri dan anak didiknya ke arah lebih baik. Dengan adanya itu, kita berharap siswa-siswa kita pun memiliki pemahaman konsep belajar yang benar bahwa belajar itu tidak hanya pada saat ujian dan belajar itu untuk bisa mengatasi masalah, dan belajar itu disiapkan untuk masa depan. (*)

*)Mahasiswa Universias Airlangga

Oleh MUHAMMAD IDRIS NUR HIDAYAT*

PANDEMI Covid-19 sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia secara global. Salah satu yang paling terdampak adalah aspek pendidikan. Dalam hal ini, yang merasakan imbasnya bukan hanya peserta didik, guru, lembaga pendidikan, ataupun segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan sekolah saja, tetapi juga terjadi secara psikologis yang dialami anak dan remaja, sebagai seorang individu, juga sebagai seseorang yang sedang menempuh pendidikan.

Dilansir dari unicef.org.id bahwa 80 juta anak Indonesia mengalami sebuah tantangan kehidupan normal yang baru (era new normal), memengaruhi kehidupan sehari-hari mereka. Di antaranya kegiatan pendidikan yang terganggu, perubahan layanan kesehatan, gizi, maupun perlindungan lainnya. Orang tua juga harus berjuang mempertahankan diri dalam hal finansial, pendampingan pendidikan daring, perlindungan kesehatan anak-anak mereka, juga harus bertahan memenuhi kebutuhan lainnya.


Berdasarkan beberapa analisis atas respons berbagai kebijakan serta temuan penelitian, UNESCO telah membuat sebuah dokumen berkaitan dengan dampak pandemi. Yaitu: 1) Kemiskinan; 2) Pembelajaran; 3) Kesehatan; 4) Kesehatan mental pengasuhan dan perlindungan anak; 5) Gizi, dan; 6) Akses mendapatkan layanan air bersih, sanitasi, dan kebersihan. Dari enam aspek tersebut, salah satunya adalah dalam hal kegiatan pembelajaran. Pada lingkup ini yang paling terlibat dan merasakan dampaknya adalah guru dan siswa.

Permasalahan muncul seiring dengan datang dan meningkatnya pandemi dalam kurun waktu tertentu, yang tentunya sangat memengaruhi kualitas layanan pendidikan oleh guru dan objek pendidikan itu sendiri, yakni siswa. Tak hanya tentang kualitas proses transformasi ilmu maupun upaya memberikan pendidikan karakter yang memisahkan guru-siswa karena pandemi sehingga ketercapaiannya jauh dari yang diharapkan, akan tetapi ada hal-hal lain yang bisa survive dari pandemi ini, yakni individu yang memiliki motivasi tinggi berjuang menjaga kesehatan, mengembangkan diri, tidak menyerah belajar, dan siap menghadapi berbagai kesulitan-kesulitan baru.

Baca Juga :  Yakin Sampang Masih Hijau?

Di balik bencana pandemi Covid-19 ada keberkahan bagi yang ”mau belajar” dari masalah dan tantangan zaman. Kualitas pendidikan akan terus teruji dengan peningkatan kualitas para guru yang diikuti para siswanya. Di era disrupsi ini, sudah tidak zaman jika ada guru gaptek (gagap teknologi). Selama pandemi, para guru ”dipaksa” mampu mengajar di grup kelas dunia maya, membuat media berbasis teknologi hingga menulis rapor menggunakan aplikasi.

Lantas, apakah masalah teratasi dengan melek teknologi? Ternyata tidak. Masih banyak miskonsepsi pendidikan yang perlu dibenahi. Sejalan dengan konsep ”Merdeka Belajar” yang Mas Menteri Pendidikan canangkan, guru mestinya memahami makna dua kata itu yang selanjutnya diterapkan. Bagaimana bisa paham bila guru tidak mau belajar. Bagaimana pula guru bisa ”memerdekakan” diri dan siswanya jika masih menggunakan model pengajaran secara konvensional? Beberapa hal masih menunjukkan adanya ”keengganan” para pendidik pada cara-cara lama, merasa tidak perlu merespons perubahan, dan motivasi yang rendah untuk mau belajar dan mengembangkan diri seperti berikut.

Pertama, guru tidak pernah melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Kedua, mengajar tanpa tahu kemauan dan keinginan siswa. Ketiga, mengajar demi menuntaskan konten materi sesuai kurikulum. Keempat, memberi banyak tugas tanpa tahu pencapaian kemajuan siswa, sudah maju apa belum. Kelima, hobi melakukan penilaian akademik (ulangan) demi isi nilai rapor yang belum tentu itu nilai asli, dan mungkin masih banyak lagi.

Baca Juga :  Kiprah Santri Membangun Negeri

Mengutip tulisan Indy Hardono di Kompas.com, makna konsep Merdeka Belajar itu tentang pentingnya seorang siswa memiliki ruang yang luas untuk mengolah apa yang ia lihat dan pahami secara bebas untuk dianalisis dan ia ekstraksikan menjadi sebuah ilmu (kompetensi). Pertanyaannya, bagaimana siswa bisa mewujudkan konsep Merdeka Belajar tersebut kalau gurunya sendiri belum ”merdeka”? Untuk memerdekakan diri, sebagai guru Merdeka Belajar perlu melakukan perubahan pola pikir, di antaranya guru belajar dari keinginan diri sendiri karena merasa butuh belajar, guru bisa belajar dari siapa saja bahkan sesama guru (tidak harus dari pakar pendidikan) melalui berbagi praktik baik pengajaran, guru belajar memahami karakter siswanya (bukan hanya belajar How To Strategi, inovasi, media pembelajaran apa), guru memahami belajar butuh proses (bukan belajar secara instan), dan terakhir, guru butuh komunitas belajar (saling berkolaborasi bukan berkompetisi).

Memang tidak ada guru yang sempurna. Yang ada hanyalah guru yang mau merefleksi, mau berubah, dan benar-benar menerapkan untuk diri dan anak didiknya ke arah lebih baik. Dengan adanya itu, kita berharap siswa-siswa kita pun memiliki pemahaman konsep belajar yang benar bahwa belajar itu tidak hanya pada saat ujian dan belajar itu untuk bisa mengatasi masalah, dan belajar itu disiapkan untuk masa depan. (*)

*)Mahasiswa Universias Airlangga

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/