alexametrics
28.4 C
Madura
Tuesday, August 16, 2022

Spirit Ketauhidan dalam Pendidikan Keluarga

Oleh ALI IBNU ANWAR*

HARI ini (10/7), gema takbir berkumandang di mana-mana. Terus-menerus dilantunkan oleh lebih dari 1,9 miliar muslim di seluruh belahan dunia, tiada henti. Takbir itu terus bergema dan menggelegar, sambung-menyambung dari satu negeri ke negeri lain. Hati siapakah yang tidak tergetar mendengar kumandang keagungan dan kebesaran Allah. Hanya hati yang telah mengeras bagai batu belaka yang tak tergerak akan kumandang kebesaran Allah itu.

Setiap kali sampai pada momen Idul Adha, kita selalu diingatkan kembali akan kisah agung keluarga Ibrahim. Kisah masyhur, sejak 5000 tahun silam, yang penuh teladan bagi segenap manusia sepanjang zaman. Keluarga Ibrahim, yang telah berhasil membangun dan menanamkan tauhid pada segenap anggota keluarganya. Ibrahim, Hajar, dan Ismail adalah potret anggota keluarga sempurna dalam mengabdi dan menghamba kepada Allah. Setiap anggota dalam keluarga ini benar-benar menunjukkan kualitas ketauhidan yang luar biasa.

Setelah Allah menganugerahi Ibrahim keturunan, Ismail, melalui rahim Hajar, Allah memerintahkan untuk menyembelih Ismail. Ketika itu, Ismail tengah tumbuh dengan segala potensinya, dan masa depan gemilang menantinya. Ibrahim pun menghadapi dua pilihan: mengikuti perasaannya dengan ”menyelamatkan” Ismail, atau, menaati perintah Allah dengan ”mengorbankan” putra kesayangannya.

Namun, kebimbangan Ibrahim, justru dimantapkan oleh Ismail. Putra kesayangannya turut mendorong ayahnya untuk menjalankan kewajiban yang deperintahkan Allah. Sehingga, dengan penuh keyakinan, Ibrahim pun mengambil keputusan, mengorbankan putranya, Ismail, untuk ia sembelih. Dan ketika pedang Ibrahim menyentuh kulit leher Ismail, Allah menggantinya dengan seekor domba. Itulah tingkat ketauhidan yang telah ditunjukkan oleh keluarga Ibrahim.

 

Makna Cinta dalam Pendidikan Tauhid

Situasi yang terjadi pada Ibrahim, hampir dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika seseorang dikaruniai anak, ia mengatakan, ”ini adalah karunia Allah.” Namun pada kenyataannya, sebagian besar orang tua merasa menjadi ”pemilik” atas karunia itu.

Begitu cintanya orang tua pada anaknya, hingga rela berbuat apa saja demi kesenangan anaknya. Lebih-lebih, orang tua lalai dalam mengajarkan pengetahuan agama, hanya karena sibuk memikirkan jenjang pendidikan anak, yang bermuara pada: memperoleh pekerjaan dan kehidupan dunia yang layak.

Baca Juga :  Kiai ”Mukasyafah”

Sebagai orang tua, jangan sampai terjebak dalam persoalan mencintai anak. Orang tua harus benar-benar memerhatikan dan menanamkan pendidikan tauhid, agar anak-anak dapat menjalankan ajaran agama dengan jujur. Orang tua perlu menanamkan betapa pentingnya menjadi seorang hamba yang ikhlas dalam melakukan perintah Allah. Inilah makna cinta dalam pendidikan tauhid.

Pendidikan tauhid, sangat penting bagi keluarga. Kesadaran bertauhid perlu dibiasakan kepada anak-anak sejak usia dini. Dan orang tua harus bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya. Bukan sekadar menyuruh, tapi juga mengajak anak-anaknya untuk beribadah. Jika lalai, orang tua akan terjebak pada cinta semu yang dapat menyebabkan seseorang membuat pilihan keliru. Alih-alih semakin mendekatkan diri kepada Allah, justru dapat membutakan hati belaka.

Anak, istri, keluarga, sejatinya hanyalah titipan Allah. Jika cinta akan semua itu, melebihi cinta seseorang kepada Allah, maka sungguh akan menjauhkannya dari nilai ketauhidan. Sikap yang demikian, hanya akan membuat seseorang menjadi tuhan-tuhan kecil, yang seakan menandingi bebesaran dan kekuasaan Allah.

Iblis percaya bahwa tuhannya adalah Allah. Bahkan, iblis juga mengakui keesaan dan kemahakuasaan Allah, dengan meminta sebuah permintaan agar diizinkan mengganggu hamba-hamba Allah yang tidak beriman. Kaum jahiliah kuno juga meyakini bahwa Allah adalah tuhan yang menciptakan manusia dan pemelihara alam semesta. Namun, kepercayaan dan keyakinan mereka belumlah menjadikan mereka sebagai makhluk yang beriman kepada Allah, karena sifat sombong dan merasa jadi pemilik atas semua yang mereka miliki.

 

Menanamkan Spirit Ketauhidan

Kisah agung Ibrahim, merupakan kisah yang kaya akan spirit ketauhidan. Betapa luar biasanya Ibrahim dan Ismail menempatkan diri sebagai seorang ayah dan anak. Ibrahim menyadari bahwa anak hanyalah titipan. Sementara Ismail, sebagai seorang anak telah menunjukkan kualitas keimanannya. Tauhid telah terpatri dengan sangat kokoh di dadanya, di usianya yang sedang tumbuh.

Baca Juga :  Pesawat Di Langit Warna Kuning Di MCC

Sebagai orang tua maupun anak, perlu menanamkan kesadaran dalam diri, dengan meneladani ketauhidan dan keikhlasan Ibrahim dan Ismail. Dengan berbagai cara, orang tua perlu terus berjuang untuk menanamkan spirit ketauhidan dengan mengajarkan pengetahuan agama kepada anaknya. Terutama, dalam urusan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Kalaupun tidak mampu, orang tua perlu memerhatikan pendidikan anak dengan menitipkan anak-anaknya ke lembaga pendidikan berbasis agama. Boleh madrasah ataupun pesantren.

Ketika orang tua berjuang dengan jalan menitipkan anak-anaknya di pesantren, yang harus kali pertama ditumbuhkan yakni rasa ikhlas. Ikhlas berpisah dalam sementara waktu. Ikhlas mendoakan anak-anaknya. Bila kadar keikhlasan orang tua berkurang, akan memengaruhi ketenangan anak-anak yang sedang menjalani proses belajar.

Begitu pula sebagai anak, harus ikhlas berpisah dari orang tuanya untuk memperdalam ilmu agama dan pengetahuan lainnya. Sehingga, memperoleh kemulian dan menambah kualitas keimanan dan ketauhidannya, sebagaimana yang Allah berikan kepada Ismail.

Perintah Allah kepada Ibrahim untuk menyembelih Ismail kecil, dan perintah Allah kepada para orang tua untuk mendidik anak-anaknya, bukankah sama-sama perintah yang harus dijalankan dengan penuh keikhlasan?

Keluarga adalah madrasah pertama bagi seorang anak. Mulailah menanamkan spirit ketauhidan itu dari lingkungan keluarga. Peran orang tua untuk memberikan uswah sangat dibutuhkan, baik dalam hal menanamkan kebaikan dan menghindari yang tidak baik. Saat itulah anak-anak akan menemukan teladan.

Jikalau merenungi segala bentuk keikhlasan di atas, dengan bermuhasabah ke dalam diri, niscaya akan terbangun lingkungan keluarga yang diridai Allah. Semoga spirit ketauhidan Ibrahim dan Ismail bukan sekadar menjadi momentum tahunan untuk diulang-ulang, tetapi menjadi spirit yang dapat dijadikan teladan dalam lingkungan keluarga dan kehidupan sehari-hari. Jika tidak, Idul Adha hanya akan menjadi momen selebrasi tahunan yang membuat perut kenyang dan jiwa tetap gersang. Allahu akbar, walillahilhamdu! (*)

 

*)Pegiat seni budaya, guru bahasa dan sastra Indonesia di TMI Al-Amien Prenduan

Oleh ALI IBNU ANWAR*

HARI ini (10/7), gema takbir berkumandang di mana-mana. Terus-menerus dilantunkan oleh lebih dari 1,9 miliar muslim di seluruh belahan dunia, tiada henti. Takbir itu terus bergema dan menggelegar, sambung-menyambung dari satu negeri ke negeri lain. Hati siapakah yang tidak tergetar mendengar kumandang keagungan dan kebesaran Allah. Hanya hati yang telah mengeras bagai batu belaka yang tak tergerak akan kumandang kebesaran Allah itu.

Setiap kali sampai pada momen Idul Adha, kita selalu diingatkan kembali akan kisah agung keluarga Ibrahim. Kisah masyhur, sejak 5000 tahun silam, yang penuh teladan bagi segenap manusia sepanjang zaman. Keluarga Ibrahim, yang telah berhasil membangun dan menanamkan tauhid pada segenap anggota keluarganya. Ibrahim, Hajar, dan Ismail adalah potret anggota keluarga sempurna dalam mengabdi dan menghamba kepada Allah. Setiap anggota dalam keluarga ini benar-benar menunjukkan kualitas ketauhidan yang luar biasa.


Setelah Allah menganugerahi Ibrahim keturunan, Ismail, melalui rahim Hajar, Allah memerintahkan untuk menyembelih Ismail. Ketika itu, Ismail tengah tumbuh dengan segala potensinya, dan masa depan gemilang menantinya. Ibrahim pun menghadapi dua pilihan: mengikuti perasaannya dengan ”menyelamatkan” Ismail, atau, menaati perintah Allah dengan ”mengorbankan” putra kesayangannya.

Namun, kebimbangan Ibrahim, justru dimantapkan oleh Ismail. Putra kesayangannya turut mendorong ayahnya untuk menjalankan kewajiban yang deperintahkan Allah. Sehingga, dengan penuh keyakinan, Ibrahim pun mengambil keputusan, mengorbankan putranya, Ismail, untuk ia sembelih. Dan ketika pedang Ibrahim menyentuh kulit leher Ismail, Allah menggantinya dengan seekor domba. Itulah tingkat ketauhidan yang telah ditunjukkan oleh keluarga Ibrahim.

 

Makna Cinta dalam Pendidikan Tauhid

- Advertisement -

Situasi yang terjadi pada Ibrahim, hampir dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika seseorang dikaruniai anak, ia mengatakan, ”ini adalah karunia Allah.” Namun pada kenyataannya, sebagian besar orang tua merasa menjadi ”pemilik” atas karunia itu.

Begitu cintanya orang tua pada anaknya, hingga rela berbuat apa saja demi kesenangan anaknya. Lebih-lebih, orang tua lalai dalam mengajarkan pengetahuan agama, hanya karena sibuk memikirkan jenjang pendidikan anak, yang bermuara pada: memperoleh pekerjaan dan kehidupan dunia yang layak.

Baca Juga :  Menggelorakan Wisata Syariah

Sebagai orang tua, jangan sampai terjebak dalam persoalan mencintai anak. Orang tua harus benar-benar memerhatikan dan menanamkan pendidikan tauhid, agar anak-anak dapat menjalankan ajaran agama dengan jujur. Orang tua perlu menanamkan betapa pentingnya menjadi seorang hamba yang ikhlas dalam melakukan perintah Allah. Inilah makna cinta dalam pendidikan tauhid.

Pendidikan tauhid, sangat penting bagi keluarga. Kesadaran bertauhid perlu dibiasakan kepada anak-anak sejak usia dini. Dan orang tua harus bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya. Bukan sekadar menyuruh, tapi juga mengajak anak-anaknya untuk beribadah. Jika lalai, orang tua akan terjebak pada cinta semu yang dapat menyebabkan seseorang membuat pilihan keliru. Alih-alih semakin mendekatkan diri kepada Allah, justru dapat membutakan hati belaka.

Anak, istri, keluarga, sejatinya hanyalah titipan Allah. Jika cinta akan semua itu, melebihi cinta seseorang kepada Allah, maka sungguh akan menjauhkannya dari nilai ketauhidan. Sikap yang demikian, hanya akan membuat seseorang menjadi tuhan-tuhan kecil, yang seakan menandingi bebesaran dan kekuasaan Allah.

Iblis percaya bahwa tuhannya adalah Allah. Bahkan, iblis juga mengakui keesaan dan kemahakuasaan Allah, dengan meminta sebuah permintaan agar diizinkan mengganggu hamba-hamba Allah yang tidak beriman. Kaum jahiliah kuno juga meyakini bahwa Allah adalah tuhan yang menciptakan manusia dan pemelihara alam semesta. Namun, kepercayaan dan keyakinan mereka belumlah menjadikan mereka sebagai makhluk yang beriman kepada Allah, karena sifat sombong dan merasa jadi pemilik atas semua yang mereka miliki.

 

Menanamkan Spirit Ketauhidan

Kisah agung Ibrahim, merupakan kisah yang kaya akan spirit ketauhidan. Betapa luar biasanya Ibrahim dan Ismail menempatkan diri sebagai seorang ayah dan anak. Ibrahim menyadari bahwa anak hanyalah titipan. Sementara Ismail, sebagai seorang anak telah menunjukkan kualitas keimanannya. Tauhid telah terpatri dengan sangat kokoh di dadanya, di usianya yang sedang tumbuh.

Baca Juga :  Serupa PHP

Sebagai orang tua maupun anak, perlu menanamkan kesadaran dalam diri, dengan meneladani ketauhidan dan keikhlasan Ibrahim dan Ismail. Dengan berbagai cara, orang tua perlu terus berjuang untuk menanamkan spirit ketauhidan dengan mengajarkan pengetahuan agama kepada anaknya. Terutama, dalam urusan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Kalaupun tidak mampu, orang tua perlu memerhatikan pendidikan anak dengan menitipkan anak-anaknya ke lembaga pendidikan berbasis agama. Boleh madrasah ataupun pesantren.

Ketika orang tua berjuang dengan jalan menitipkan anak-anaknya di pesantren, yang harus kali pertama ditumbuhkan yakni rasa ikhlas. Ikhlas berpisah dalam sementara waktu. Ikhlas mendoakan anak-anaknya. Bila kadar keikhlasan orang tua berkurang, akan memengaruhi ketenangan anak-anak yang sedang menjalani proses belajar.

Begitu pula sebagai anak, harus ikhlas berpisah dari orang tuanya untuk memperdalam ilmu agama dan pengetahuan lainnya. Sehingga, memperoleh kemulian dan menambah kualitas keimanan dan ketauhidannya, sebagaimana yang Allah berikan kepada Ismail.

Perintah Allah kepada Ibrahim untuk menyembelih Ismail kecil, dan perintah Allah kepada para orang tua untuk mendidik anak-anaknya, bukankah sama-sama perintah yang harus dijalankan dengan penuh keikhlasan?

Keluarga adalah madrasah pertama bagi seorang anak. Mulailah menanamkan spirit ketauhidan itu dari lingkungan keluarga. Peran orang tua untuk memberikan uswah sangat dibutuhkan, baik dalam hal menanamkan kebaikan dan menghindari yang tidak baik. Saat itulah anak-anak akan menemukan teladan.

Jikalau merenungi segala bentuk keikhlasan di atas, dengan bermuhasabah ke dalam diri, niscaya akan terbangun lingkungan keluarga yang diridai Allah. Semoga spirit ketauhidan Ibrahim dan Ismail bukan sekadar menjadi momentum tahunan untuk diulang-ulang, tetapi menjadi spirit yang dapat dijadikan teladan dalam lingkungan keluarga dan kehidupan sehari-hari. Jika tidak, Idul Adha hanya akan menjadi momen selebrasi tahunan yang membuat perut kenyang dan jiwa tetap gersang. Allahu akbar, walillahilhamdu! (*)

 

*)Pegiat seni budaya, guru bahasa dan sastra Indonesia di TMI Al-Amien Prenduan

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/