alexametrics
25.3 C
Madura
Friday, September 30, 2022

Surat Kabarku (Oleh: HAZMI BASYIR*)

Pada Rabu, 27 Juli lalu Jawa Pos Radar Madura memperingati hari ulang tahunnya yang ke-23. Jika tulisan ini hanya dimaksudkan sebagai media untuk mengucapkan ”selamat” maka bisa dikatakan momentum itu sudah lewat. Tapi jika diniati sebagai bahan introspeksi dan motivasi menghadapi masa depan, selalu ada waktu untuk disampaikan kapan pun saja.

JAWA Pos Radar Madura adalah terbitan ”sisipan” lokal dari surat kabar Jawa Pos yang diterbitkan sesuai zonasi yang sudah ditetapkan. Maka ada Radar Jember, Radar Jombang, Radar Bali, dll.

Bicara Jawa Pos Radar Madura, secara umum tidak akan bisa terlepas dari Jawa Pos sebagai induknya. Sepanjang pengetahuan penulis, Jawa Pos mulanya adalah surat kabar regional yang asal terbitnya di Jawa Timur, didirikan oleh The Chung Shen. Dan, seiring perjalanan waktu, perusahaan itu kini berkembang menjadi konglomerat media massa yang berskala nasional dan memiliki sekitar 150 penerbitan surat kabar di penjuru Nusantara di bawah bendera Jawa Pos Group.

Penulis memiliki nostalgia dengan Jawa Pos (dan akhirnya juga dengan Jawa Pos Radar Madura) yang menjadi bagian dari semacam ikatan emosional sepanjang masa hingga saat ini. Pada akhir tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an penulis tinggal di Jogjakarta untuk kepentingan belajar. Sebelum tinggal di Jogja, penulis sudah membaca Jawa Pos yang merupakan bacaan utama keluarga besar di rumah. Maka ketika sudah merantau, kebutuhan untuk tetap membaca Jawa Pos tak bisa dihindari. Kebetulan penulis tinggal di rumah kontrakan bersama dengan sesama mahasiswa dari (Madura) Jawa Timur, sehingga kloplah selera kami dalam urusan menentukan nama surat kabar langganan kami. Memang di sana sudah ada Kedaulatan Rakyat yang seolah menjadi menu bacaan wajib bagi warga Jogja, juga ada Kompas yang sudah lebih awal masuk di dunia persuratkabaran nasional. Tapi, Jawa Pos tetap memiliki tempat tersendiri, karena hanya surat kabar itulah yang memberikan porsi lebih banyak untuk berita regional Jawa Timur dibanding surat kabar lainnya. Masih sangat segar dalam ingatan penulis bagaimana setianya setiap hari menunggu kedatangan loper mengantar Jawa Pos demi segera membaca informasi tentang Persebaya dengan Green Force-nya, misalnya.

Baca Juga :  PPP Jadi Kunci, Poros Baru atau Koalisi

Jawa Pos juga pernah punya trik jitu menggaet kalangan mahasiswa untuk menjadi pembaca setianya, yaitu dengan cara memberi rubrik khusus bagi mereka untuk menyampaikan buah pikiran secara singkat sesuai tema yang berganti-ganti secara rutin.

Pada gilirannya, seiring perjalanan waktu, Jawa Pos Radar Madura juga menunjukkan langkah menarik yang layak diapresiasi pula, yaitu memfasilitasi para pembaca untuk menulis artikel, cerpen serta puisi berbahasa Indonesia dan Madura, sehingga menggugah semua kalangan untuk berpartisipasi, tak terkecuali para santri di pesantren yang jumlahnya di Madura tidak sedikit.

Ketika penulis pulang kampung dan melanjutkan karir di dunia politik, Jawa Pos Radar Madura –sekaligus Jawa Pos sebagai satu kesatuan– menjadi surat kabar langganan wajib di kantor dan rupanya cukup memadai untuk dijadikan referensi informasi, khususnya terkait perkembangan situasi politik lokal. Hingga saat ini pun, kesetiaan membaca Jawa Pos Radar Madura tetap bertahan, bahkan sejak sekitar dua tahun terakhir penulis bisa memberikan kontribusi dalam bentuk artikel dan cerita pendek.

*

Satu hal yang pasti membanggakan adalah bahwa surat kabar ini bisa bertahan hingga saat ini. Padahal, tantangannya sungguh luar biasa berat karena teknologi informasi dan komunikasi sudah sedemikian maju dan berkembang begitu cepat dibanding masa-masa sebelumnya. Internet telah begitu rakus mengambil alih peran media massa cetak yang sudah ada jauh sebelumnya.

Baca Juga :  Menyoal Demokrasi Kita

Padahal, sebagaimana yang disampaikan oleh Prof Azyumardi Azra, surat kabar tidak boleh dibiarkan mati dengan beberapa alasan, di antaranya: surat kabar adalah sumber berita yang kredibel dan otoritatif karena penulis, pengasuh, dan jurnalisnya jelas, ia juga merupakan sumber informasi yang bertahan lebih lama karena datanya bersifat fisik, dan ia lebih berperan penting dalam membangun literasi berkeadaban (Jawa Pos, Jumat 1 Juli 2022).

Maka, surat kabar ini harus terus membangun fondasi yang kokoh sebagai pijakan untuk tetap bertahan melawan kemajuan teknologi yang sulit diprediksi. Modal awal sudah di tangan, yaitu pengalaman yang sudah cukup lama (Jawa Pos 73 tahun, Jawa Pos Radar Madura 23 tahun) yang mungkin tak dimiliki oleh kebanyakan media massa cetak yang lain. Harus terus diupayakan inovasi cerdas yang mampu mengikat minat dan daya tarik para pembaca.

Menutup tulisan ini, penulis hendak mengingat kembali salah satu berita olahraga Jawa Pos yang dulu dikemas begitu apik, yaitu berupa liputan balap Formula 1 yang ditulis secara rutin oleh Azrul Ananda. Setiap ada balapan di akhir pekan, ada liputan secara terperinci dimulai sejak sesi latihan, kualifikasi hingga balapan hari H, sehingga tiga hari berturut-turut liputannya menghiasi rubrik olahraga. Artinya, ciri khas menarik yang dibuat oleh Azrul itu terbukti membuat citra yang sulit dilupakan. Dan itulah contoh kreativitas yang patut jadi inspirasi bagi para jurnalis penerusnya. (*)

 

*Tinggal di PP Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep

Pada Rabu, 27 Juli lalu Jawa Pos Radar Madura memperingati hari ulang tahunnya yang ke-23. Jika tulisan ini hanya dimaksudkan sebagai media untuk mengucapkan ”selamat” maka bisa dikatakan momentum itu sudah lewat. Tapi jika diniati sebagai bahan introspeksi dan motivasi menghadapi masa depan, selalu ada waktu untuk disampaikan kapan pun saja.

JAWA Pos Radar Madura adalah terbitan ”sisipan” lokal dari surat kabar Jawa Pos yang diterbitkan sesuai zonasi yang sudah ditetapkan. Maka ada Radar Jember, Radar Jombang, Radar Bali, dll.

Bicara Jawa Pos Radar Madura, secara umum tidak akan bisa terlepas dari Jawa Pos sebagai induknya. Sepanjang pengetahuan penulis, Jawa Pos mulanya adalah surat kabar regional yang asal terbitnya di Jawa Timur, didirikan oleh The Chung Shen. Dan, seiring perjalanan waktu, perusahaan itu kini berkembang menjadi konglomerat media massa yang berskala nasional dan memiliki sekitar 150 penerbitan surat kabar di penjuru Nusantara di bawah bendera Jawa Pos Group.


Penulis memiliki nostalgia dengan Jawa Pos (dan akhirnya juga dengan Jawa Pos Radar Madura) yang menjadi bagian dari semacam ikatan emosional sepanjang masa hingga saat ini. Pada akhir tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an penulis tinggal di Jogjakarta untuk kepentingan belajar. Sebelum tinggal di Jogja, penulis sudah membaca Jawa Pos yang merupakan bacaan utama keluarga besar di rumah. Maka ketika sudah merantau, kebutuhan untuk tetap membaca Jawa Pos tak bisa dihindari. Kebetulan penulis tinggal di rumah kontrakan bersama dengan sesama mahasiswa dari (Madura) Jawa Timur, sehingga kloplah selera kami dalam urusan menentukan nama surat kabar langganan kami. Memang di sana sudah ada Kedaulatan Rakyat yang seolah menjadi menu bacaan wajib bagi warga Jogja, juga ada Kompas yang sudah lebih awal masuk di dunia persuratkabaran nasional. Tapi, Jawa Pos tetap memiliki tempat tersendiri, karena hanya surat kabar itulah yang memberikan porsi lebih banyak untuk berita regional Jawa Timur dibanding surat kabar lainnya. Masih sangat segar dalam ingatan penulis bagaimana setianya setiap hari menunggu kedatangan loper mengantar Jawa Pos demi segera membaca informasi tentang Persebaya dengan Green Force-nya, misalnya.

Baca Juga :  Menyoal Demokrasi Kita

Jawa Pos juga pernah punya trik jitu menggaet kalangan mahasiswa untuk menjadi pembaca setianya, yaitu dengan cara memberi rubrik khusus bagi mereka untuk menyampaikan buah pikiran secara singkat sesuai tema yang berganti-ganti secara rutin.

Pada gilirannya, seiring perjalanan waktu, Jawa Pos Radar Madura juga menunjukkan langkah menarik yang layak diapresiasi pula, yaitu memfasilitasi para pembaca untuk menulis artikel, cerpen serta puisi berbahasa Indonesia dan Madura, sehingga menggugah semua kalangan untuk berpartisipasi, tak terkecuali para santri di pesantren yang jumlahnya di Madura tidak sedikit.

Ketika penulis pulang kampung dan melanjutkan karir di dunia politik, Jawa Pos Radar Madura –sekaligus Jawa Pos sebagai satu kesatuan– menjadi surat kabar langganan wajib di kantor dan rupanya cukup memadai untuk dijadikan referensi informasi, khususnya terkait perkembangan situasi politik lokal. Hingga saat ini pun, kesetiaan membaca Jawa Pos Radar Madura tetap bertahan, bahkan sejak sekitar dua tahun terakhir penulis bisa memberikan kontribusi dalam bentuk artikel dan cerita pendek.

- Advertisement -

*

Satu hal yang pasti membanggakan adalah bahwa surat kabar ini bisa bertahan hingga saat ini. Padahal, tantangannya sungguh luar biasa berat karena teknologi informasi dan komunikasi sudah sedemikian maju dan berkembang begitu cepat dibanding masa-masa sebelumnya. Internet telah begitu rakus mengambil alih peran media massa cetak yang sudah ada jauh sebelumnya.

Baca Juga :  Atas Jumlah Kontribusi Penerimaan Negara di Bidang Cukai

Padahal, sebagaimana yang disampaikan oleh Prof Azyumardi Azra, surat kabar tidak boleh dibiarkan mati dengan beberapa alasan, di antaranya: surat kabar adalah sumber berita yang kredibel dan otoritatif karena penulis, pengasuh, dan jurnalisnya jelas, ia juga merupakan sumber informasi yang bertahan lebih lama karena datanya bersifat fisik, dan ia lebih berperan penting dalam membangun literasi berkeadaban (Jawa Pos, Jumat 1 Juli 2022).

Maka, surat kabar ini harus terus membangun fondasi yang kokoh sebagai pijakan untuk tetap bertahan melawan kemajuan teknologi yang sulit diprediksi. Modal awal sudah di tangan, yaitu pengalaman yang sudah cukup lama (Jawa Pos 73 tahun, Jawa Pos Radar Madura 23 tahun) yang mungkin tak dimiliki oleh kebanyakan media massa cetak yang lain. Harus terus diupayakan inovasi cerdas yang mampu mengikat minat dan daya tarik para pembaca.

Menutup tulisan ini, penulis hendak mengingat kembali salah satu berita olahraga Jawa Pos yang dulu dikemas begitu apik, yaitu berupa liputan balap Formula 1 yang ditulis secara rutin oleh Azrul Ananda. Setiap ada balapan di akhir pekan, ada liputan secara terperinci dimulai sejak sesi latihan, kualifikasi hingga balapan hari H, sehingga tiga hari berturut-turut liputannya menghiasi rubrik olahraga. Artinya, ciri khas menarik yang dibuat oleh Azrul itu terbukti membuat citra yang sulit dilupakan. Dan itulah contoh kreativitas yang patut jadi inspirasi bagi para jurnalis penerusnya. (*)

 

*Tinggal di PP Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Lima Raperda Siap Dibahas

/