
JAKARTA – Kabinet Indonesia Maju di bawah kepimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin telah berjalan sejak tahun 2019. Program prioritas yang dijalankan oleh Kabinet Indonesia Maju yakni pembangunan SDM, pembangunan insfrastruktur, penyederhanaan regulasi, penyederhanaan birokrasi, dan transformasi ekonomi.
Salah satu capaian pemerintah dalam dua tahun terakhir di bidang ekonomi adalah berhasil menahan kontraksi ekonomi di tahun 2020 yang hanya sebesar -2,07 persen year on year (yoy). Dengan demikian, Indonesia menempati peringkat ke-4 di antara negara G20. Capaian tersebut tentunya tidak lepas dari upaya pemerintah mengendalikan pandemi Covid-19.
Memasuki 2021, penguatan pengendalian pandemi juga berhasil mendorong ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 7,07 persen (yoy) di triwulan II-2021. Pertumbuhan tersebut tertinggi dalam 16 tahun terakhir. Pemerintah memegang peranan aktif mendongkrak pertumbuhan ekonomi selama pandemi, termasuk di triwulan II-2021.
Pulihnya permintaan domestik telah mendorong perbaikan aktivitas produksi. Dengan demikian, seluruh sektor mengalami pertumbuhan positif di triwulan II-2021. Pemulihan terjadi di berbagai sektor utama. Misalnya, sektor industri pengolahan, perdagangan, konstruksi, serta transportasi dan pergudangan. Hal itu mencerminkan aktivitas ekonomi mulai bangkit kembali.
Daya beli masyarakat selama pandemi terjaga karena inflasi stabil di level rendah. Upaya pengendalian inflasi yang melibatkan pemerintah dan seluruh stakeholder terkait berhasil menjaga inflasi di level 1,68 persen (yoy) pada 2020. Hingga September 2021, inflasi masih rendah dan stabil di level 1,60 persen (yoy). Jika menilik 5 tahun ke belakang, capaian inflasi Indonesia menurun. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari komitmen pemerintah dalam membenahi fundamental ekonomi. Salah satunya melalui perbaikan infrastruktur.
Sementara dalam hal investasi, baik penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA) mengalami kenaikan. ”PMDN dan PMA semester I 2021 masing-masing bisa naik 3,5 persen dan 16,8 persen. Ini tentu akibat transformasi perekonomian melalui UU Cipta Kerja,” ujar Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam wawancara dengan Berita Satu di program Hot Economy, Rabu (20/10).
Menjelang akhir Q3-2021, berbagai leading indicator menunjukkan prospek yang baik. Dampak lonjakan kasus varian Delta berhasil dimitigasi. Dengan begitu, aktivitas ekonomi kembali menguat dan tecermin dari indeks PMI manufaktur Indonesia yang kembali di level ekspansif. Indeks keyakinan konsumen (IKK) juga kembali meningkat pada September 2021.
Dari sisi kemiskinan dan pengangguran yang sempat meningkat akibat Covid-19 juga berhasil diturunkan. Angka kemiskinan menurun dari 10,19 persen pada September 2020 menjadi 10,14 persen pada Maret 2021. Sedangkan angka pengangguran turun dari 9,77 juta orang atau 7,07 persen pada Agustus 2020 menjadi 8,75 juta orang atau 6,26 persen pada Februari 2021.
Sementara itu, peningkatan harga komoditas global dan pemulihan permintaan global turut mendorong komponen ekspor dan impor tumbuh signifikan. Upaya pemerintah meningkatkan aktivitas ekspor impor membantu industri berorientasi ekspor untuk memanfaatkan peluang peningkatan harga komoditas global selama pandemi. Hal itu membuat kinerja neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus selama 17 bulan berturut-turut.
Kinerja yang impresif dari neraca perdagangan ini menjadi penopang kinerja transaksi berjalan Indonesia. Defisit transaksi berjalan di tahun 2020 dan Semester I-2021 berhasil dijaga di level rendah, yakni di bawah 1 persen PDB. Selain itu, neraca pembayaran Indonesia juga berhasil mempertahankan surplusnya di tahun 2020 (meski pandemi Covid-19 melanda). Kondisi tersebut turut berkontribusi terhadap ketahanan sektor eksternal Indonesia.
Dari sektor keuangan pun, indeks jarga saham gabungan (IHSG) telah mengalami rebound ke level yang lebih tinggi dibanding level pra-pandemi. Di saat yang sama, nilai tukar mengalami tren apresiasi menuju level pra-pandemi. Upaya pemerintah dalam menjaga optimisme investor juga berhasil membuat aliran modal kembali masuk ke Indonesia. Itu dapat memperkuat fundamental pasar modal Indonesia.
Perbaikan di sisi ekonomi terus diiringi dengan perbaikan di sisi kesehatan. Upaya penguatan dari sisi hulu hingga hilir telah berhasil menekan laju persebaran virus Covid-19. Terlihat dari turunnya kasus aktif di Indonesia menjadi 16.697 per 19 Oktober 2021. Jumlah tersebut lebih rendah dibanding India, AS, Brasil, Jerman, Prancis, dan Inggris.
Di saat yang sama, tingkat kesembuhan pasien Covid-19 di Indonesia telah mencapai 96,2 persen atau lebih tinggi daripada tingkat kesembuhan global sebesar 90,6 persen. Sedangkan angka positif rate Indonesia berada di bawah 0,5 persen dengan reproduction rate di bawah 1 persen.
Selain melalui strategi pembatasan mobilitas masyarakat, akselerasi vaksinasi juga menjadi kunci dalam menekan laju persebaran virus Covid-19. Per 19 Oktober 2021, total dosis vaksinasi yang telah dilakukan di Indonesia telah mencapai 174 juta dosis. Sehingga, menjadikan Indonesia berada di posisi ke-5 di dunia.
Sebagai langkah memulihkan kepercayaan masyarakat dalam melakukan aktivitas ekonomi, pemerintah berkomitmen terus mempercepat proses vaksinasi. Di antaranya melalui kerja sama dengan pihak swasta dalam mendorong percepatan program vaksinasi gotong royong.
Airlangga Hartarto menyampaikan, syarat mutlak agar ekonomi Indonesia dapat pulih, harus dilakukan pencegahan agar tidak terjadi gelombang ketiga Covid-19. ”Pada akhir tahun, 80 persen masyarakat diharapkan sudah divaksinasi. Dosis kedua bisa diselesaikan pada kuartal pertama 2022,” pungkasnya. (ag/fsr/par)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

