Selasa, 26 Oct 2021
Radar Madura
Home / Sumenep
icon featured
Sumenep

Herlina, Aktivis Pesantren Perempuan Asal Guluk-Guluk

Sandang Gelar Magister dalam 19 Bulan

03 Oktober 2021, 19: 58: 49 WIB | editor : Abdul Basri

Herlina, Aktivis Pesantren Perempuan Asal Guluk-Guluk

INSPIRING: Selain menggagas pesantren perempuan dengan kawan-kawannya, Herlina juga dinobatkan sebagai wisudawan terbaik program Magister Pendidikan Agama Islam UIN Suka DIY. (HERLINA for RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Dalam beberapa hal, perempuan harus merdeka. Haknya setara dengan laki-laki. Utamanya di bidang pendidikan. Itu yang dibuktikan Herlina, wisudawan tercepat dan terbaik Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga (Suka) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) asal Kecamatan Guluk-Guluk.

Selama ini mungkin terlalu banyak kasus yang mendiskreditkan perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk di bidang pendidikan, ruang kerja, bahkan urusan yang paling privat sekalipun.

Tetapi, cara pandang seperti itu tidak lantas membuat Herlina mengubur mimpi dan cita-citanya. Perempuan kelahiran 1993 ini tetap berpandangan, perempuan dan pendidikan tidak bisa dipisahkan. Pendidikan bukan hanya milik laki-laki saja. Perempuan juga berhak.

Baca juga: Proyek Jalan Angon-Angon Pakai Tandem Roller 6 Ton

”Keinginan kuat saya untuk menempuh S-2 itu juga didorong ibu dan ayah. Meskipun, lingkungan memandang negatif. Nasihat ibu, meskipun saya perempuan, impian di masa depan harus tercapai,” katanya ketika diwawancarai Jawa Pos Radar Madura (JPRM) kemarin (2/10).

Herlina berpendapat, perempuan juga bisa melakukan apa saja. Termasuk menempuh studi setinggi-tingginya. ”Keinginan saya sederhana, harus berpendidikan,” ujarnya.

Menurut Herlina, pendidikan sangat bermanfaat dan penting. Nantinya juga bisa menjadi bekal ketika menjalani peran sebagai ibu rumah tangga dan lingkungan sekitar. Jika berpendidikan, perempuan tidak lagi dipandang sebagai sosok yang rendah dan dinomorduakan. ”Dalam hal pendidikan, saya kira laki-laki dan perempuan itu sama, kan?” tegasnya.

Herlina memiliki keinginan kuat untuk mengubah pandangan publik Madura. Di mana, budaya patriarki cenderung dijadikan alasan dan perempuan dianggap sebagai sosok yang inferior.

”Saya hidup di lingkungan yang memandang laki-laki lebih berhak atas perempuan. Di ruang publik peran perempuan terbatas. Tak jarang saya mendapat pertanyaan dan prasangka, jangan-jangan kuliah di luar hanya untuk mencari kebebasan semata?” tambah Herlina.

Herlina berupaya keras menepis stigma tersebut. Karena itu, belajar dan kerja keras adalah jalan yang harus dilaluinya. ”Saya bukan dari golongan keluarga mapan. Tapi, alhamdulillah saya mendapat predikat terbaik dan tercepat karena menuntaskan studi pendidikan agama Islam dalam 1,7 tahun,” imbuhnya.

Semasa di luar kampus, Herlina aktif dalam berbagai kegiatan. Termasuk literasi. Baginya, perempuan juga harus mengenal dan ambil bagian dalam literasi. Terkhusus tulis-menulis. Sebab, kecerdasan manusia, termasuk perempuan juga bisa diasah melalui membaca.

”Saya aktif berkegiatan di literasi. Tapi, literasi itu kan luas. Saya sambil lalu belajar di pesantren perempuan. Sebuah lembaga yang mengakomodasi perempuan dalam bidang literasi,” tambahnya.

Dijelaskan, pesantren perempuan merupakan sebuah platform studi. Di mana sehari-harinya turut menyebar dan merespons isu-isu yang berkaitan dengan perempuan. Selama di pesantren perempuan, melakukan studi dengan tokoh-tokoh perempuan. Mulai tokoh lokal hingga internasional.

”Banyak tuh perempuan dengan karya-karyanya yang patut kita jadikan contoh. Dari situ, saya menyimpulkan bahwa perempuan harus berkarya. Menulis salah satunya,” papar salah satu aktivis pesantren perempuan ini.

Herlina memandang perempuan beda dengan wanita. Baginya, wanita cenderung dipandang sebagai yang negatif. ”Makanya, melalui  pesantren perempuan ini, kami berupaya mendefinisikan hak-hak perempuan. Mungkin mengintervensi definisi yang sudah mengakar dalam masyarakat Madura,” kata Herlina.

Dia berharap perempuan-perempuan Madura, meskipun sosial-politiknya tidak begitu memihak, tapi tetap berjuang keras. Tidak membatasi impiannya. ”Sebab, manusia tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok,” ingatnya. (c3)

(mr/yan/bas/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia