Minggu, 28 Nov 2021
Radar Madura
Home / Pamekasan
icon featured
Pamekasan

Semangat Vaksin agar Sekolah Normal

Cara Tidak Humanis Menambah Beban Psikis

14 Oktober 2021, 17: 50: 04 WIB | editor : Abdul Basri

Semangat Vaksin agar Sekolah Normal

INGIN SEKOLAH: Hanif Qolby divaksin dosis kedua di SMPN 3 Pamekasan kemarin. (ONGKY ARISTA UA./RadarMadura.id)

Share this      

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Ruang kelas VIII D SMPN 3 Pamekasan berganti suasana kemarin (13/10). Bukan lagi ruang belajar, tapi ruang vaksinasi. Kursi yang biasa ditempati siswa berubah formasi. Dari berjejer rapi menjadi melingkar.

Duduk pada kursi baris kiri dan kanan anggota kepolisian berseragam. Beberapa juga tidak berseragam. Di atas meja mereka ada beberapa komputer dan alat print dokumen. Mereka sibuk mengecek data dan mencetak dokumen sertifikat vaksin.

Di kursi baris tengah, siswa-siswi menunggu giliran untuk maju ke meja pemeriksaan sebelum disuntik. Sementara di kursi depan, tepat di depan papan tulis, duduk para tenaga kesehatan (nakes) perempuan.

Baca juga: Lahir dari Obrolan Santai, Kini Jadi Kafe Favorit Mahasiswa

Satu di antaranya, yang duduk di kursi paling kanan, mengeluarkan jarum suntik dari sebuah kotak. Lalu, memperhatikan jarumnya. Dialah yang menyuntik para siswa SMPN 3 Pamekasan.

Di antara barisan siswa-siswi yang mengantre itu, tampak seorang pelajar berseragam sekolah. Dia paling kecil. Namanya Hanif Qolby. Dia baru berumur 12 tahun pada Februari 2021.

Dari raut wajahnya, dia seperti tidak sabar untuk menuju ke meja vaksin. Namun, dia tetap duduk di kursi. Hingga namanya dipanggil, dia maju ke meja pemeriksaan. Selesai, barulah dia menuju ke kursi vaksin.

Vaksinator sudah memegang jarum suntik. Hanif menarik lengan bajunya. Dia memejamkan mata. Dalam beberapa detik, cairan vaksin itu masuk dan Hanif kembali memejamkan matanya. ”Tidak sakit, tidak ada efek apa-apa,” katanya kepada Jawa Pos Radar Madura.

Dia tidak takut pada jarum suntik dan vaksin. Salah satu motivasinya, karena ingin masuk ke sekolah. ”Ingin sekolah,” terang anak lulusan SDN Nyalabu Laok 2 itu.

Wakil Kepala SMPN 3 Pamekasan Mohammad Nur Hidayat mengatakan, vaksinasi sebagai syarat utama sekolah bisa menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) tidak terbatas. Pihaknya memotivasi siswa ikut vaksin agar bisa masuk sekolah secara normal. ”Alhamdulillah siswa-siswi berkenan, walau awal-awal banyak orang tua menolak,” katanya.

Vaksinasi di satu lembaga harus mencapai angka 50 persen dari jumlah warga sekolah. Dari 545 siswa SMPN 3 Pamekasan, 380 murid sudah vaksin. ”Jadi, lebih dari 50 persen,” katanya.

Namun, SMPN 3 Pamekasan belum menerima rekomendasi untuk melaksanakan PTM dari dinas pendidikan dan kebudayaan (disdikbud). Selama SE itu belum turun, maka siswa masuk dengan sistem genap-ganjil.

Sementara itu, oknum TNI bersitegang dengan warga di depan RSUD Waru Selasa (12/10). Dandim 0826/Pamekasan Letkol Inf. Tedjo Baskoro menerangkan, insiden tersebut bukan bentrok. ”Itu salah paham saja,” terangnya saat dihubungi Jawa Pos Radar Madura kemarin (13/10).

Menurut Tedjo, insiden itu merupakan dialog atau tanya-menanya tentang dasar hukum vaksinasi. Tidak ada pemaksaan untuk mempercepat vaksinasi agar yang belum divaksin segera divaksin.

Keterangan berbeda disampaikan seorang warga di Kecamatan Pasean berinisial N, 29. Dia mengaku pernah dicegat petugas di wilayah Waru. Ada kesan memaksa meski akhirnya dia diloloskan petugas dan tidak divaksin. ”KTP saya sempat disita, namun akhirnya dikembalikan,” katanya.

Tedjo menegaskan tidak ada pemaksaan. ”Jika ada yang mengatakan pemaksaan, itu hoaks,” tegasnya. Jika ada warga yang lewat, lalu dicegat petugas, maka petugas tidak boleh memaksa.

Dugaan pemaksaan juga dialami AN, 31, warga Kecamatan Pakong di Desa Tlagah, Kecamatan Pegantenan. Warga diberhentikan untuk divaksin. Jika tidak mau, KTP warga diminta. ”Ya kesannya memaksa, kalau tidak kan seharusnya diberi pilihan,” katanya.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan Khairul Umam menyayangkan jika terjadi pemaksaan proses vaksinasi. Kinerja TNI-Polri, dishub, pemkab yang berusaha keras menaikkan angka vaksinasi patut diapresiasi. ”Yang penting, edukasinya, bukan hanya vaksin masuk tubuh, karena penyakit tidak hanya medis, tapi juga psikologis,” terangnya.

Dia mengatakan, vaksinasi yang dilakukan dengan cara tidak humanis akan menambah beban psikis. Bahkan, bisa menambah penyakit kepada masyarakat. Dia berharap pihak yang berperan menggandeng tokoh.

(mr/gky/luq/bas/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia