alexametrics
23.2 C
Madura
Thursday, January 20, 2022

Sabun Minyak Jelantah Punya Peluang Bisnis

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Limbah minyak goreng bukan tidak berguna. Yomi Windri Asni, warga Jambidan, Kecamatan Banguntapan, Bantul, itu berhasil mengubah minyak jelantah menjadi barang ekonomis. Dia berhasil menunjukkan manfaat minyak bekas pemakaian rumah tangga tersebut. Dari ide kreatifnya, lahir produk sabun untuk mencuci pakaian.

Yomi menyampaikan, sejak awal dia bergerak di bidang Bank Sampah Berdikari Sejahtera Banguntapan. Sebagai pencinta lingkungan, dia tergerak untuk mengolah minyak bekas. Apalagi, di sektitarnya banyak minyak bekas yang tidak dimanfaatkan.

”Saya melihat potensi minyak jelantah di lingkungan kami banyak. Dari situ kami berpikir agar bisa diolah lebih ekonomis,” tuturnya usai mengisi kegiatan Pekan Ngaji di Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata Putri kemarin (13/1).

Dalam proses pembuatan, Yomi tidak bergerak sendirian. Dia dibantu oleh anggota yang tergabung dalam Bank Sampah Berdikari Sejahtera Banguntapan di Kabupaten Bantul. Begitu juga dalam proses pengumpulan minyak jelantah untuk bahan baku pembuatan sabun pencuci noda.

Baca Juga :  Peserta Pelatihan Tak Dibekali Fasilitas

Sabun yang diproduksi tersebut berguna untuk mencuci pakaian. Saat ini Yomi sudah memproduksi dalam tiga bentuk, yakni sabun batang, cair, dan bubuk. Proses produksi masing-masing bentuk berbeda.

”Proses pembuatan mudah. Minyak tinggal dijernihkan dulu dan dicampur dengan soda api. Minyaknya kita sortir agar produksinya bagus,” jelasnya.

Yomi mengutarakan, masing-masing bentuk sabun noda memiliki keunggulan berbeda. Sabun batang biasanya digunakan untuk membersihkan noda bandel. Sabun cair dipakai untuk mencuci batik agar tidak luntur. Sementara sabun berbentuk bubuk bisa digunakan untuk mesin cuci.

”Selama ini, menurut konsumen, ampuh dalam membersihkan noda pakaian. Sebagian masyarakat sudah banyak yang beralih ke sabun jelantah,” ujar pemilik Langis sabun itu.

Baca Juga :  Mendes Dorong Geliatkan Ekonomi Desa

Pemasaran sabun jelantah tersebut sudah meluas. Konsumen tidak hanya anggota bank sampah, tapi sudah meluas ke daerah Jakarta dan Surabaya. Sementara pihaknya memanfaatkan pemasaran secara daring.

Selain itu, pihaknya memanfaatkan jaringan sesama pencinta linkungan. Sebab, dalam proses produksinya ada nilai untuk menjaga lingkungan. Penggunaan sabun tersebut juga lebih ramah linkungan karena tidak pakai deterjen.

”Kami berusaha menggerakkan masyarakat agar tidak merusak lingkungan sehingga minyak jelantah ini bisa diolah,” paparnya.

Yomi menambahkan, saat ini pihaknya juga mengembangkan proses produksi sabun dari limbah lain. Di antaranya, sabun dari ampas kelapa, kopi, jeruk, dan lainnya. ”Produknya juga sudah ada. Tinggal dikembangkan,” tandasnya. (bil/luq)

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Limbah minyak goreng bukan tidak berguna. Yomi Windri Asni, warga Jambidan, Kecamatan Banguntapan, Bantul, itu berhasil mengubah minyak jelantah menjadi barang ekonomis. Dia berhasil menunjukkan manfaat minyak bekas pemakaian rumah tangga tersebut. Dari ide kreatifnya, lahir produk sabun untuk mencuci pakaian.

Yomi menyampaikan, sejak awal dia bergerak di bidang Bank Sampah Berdikari Sejahtera Banguntapan. Sebagai pencinta lingkungan, dia tergerak untuk mengolah minyak bekas. Apalagi, di sektitarnya banyak minyak bekas yang tidak dimanfaatkan.

”Saya melihat potensi minyak jelantah di lingkungan kami banyak. Dari situ kami berpikir agar bisa diolah lebih ekonomis,” tuturnya usai mengisi kegiatan Pekan Ngaji di Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata Putri kemarin (13/1).

Dalam proses pembuatan, Yomi tidak bergerak sendirian. Dia dibantu oleh anggota yang tergabung dalam Bank Sampah Berdikari Sejahtera Banguntapan di Kabupaten Bantul. Begitu juga dalam proses pengumpulan minyak jelantah untuk bahan baku pembuatan sabun pencuci noda.

Baca Juga :  MTQ XXIX di Pamekasan Terapkan Prokes Ketat

Sabun yang diproduksi tersebut berguna untuk mencuci pakaian. Saat ini Yomi sudah memproduksi dalam tiga bentuk, yakni sabun batang, cair, dan bubuk. Proses produksi masing-masing bentuk berbeda.

”Proses pembuatan mudah. Minyak tinggal dijernihkan dulu dan dicampur dengan soda api. Minyaknya kita sortir agar produksinya bagus,” jelasnya.

Yomi mengutarakan, masing-masing bentuk sabun noda memiliki keunggulan berbeda. Sabun batang biasanya digunakan untuk membersihkan noda bandel. Sabun cair dipakai untuk mencuci batik agar tidak luntur. Sementara sabun berbentuk bubuk bisa digunakan untuk mesin cuci.

”Selama ini, menurut konsumen, ampuh dalam membersihkan noda pakaian. Sebagian masyarakat sudah banyak yang beralih ke sabun jelantah,” ujar pemilik Langis sabun itu.

Baca Juga :  Pengembangan Hotel Front One Terhambat

Pemasaran sabun jelantah tersebut sudah meluas. Konsumen tidak hanya anggota bank sampah, tapi sudah meluas ke daerah Jakarta dan Surabaya. Sementara pihaknya memanfaatkan pemasaran secara daring.

Selain itu, pihaknya memanfaatkan jaringan sesama pencinta linkungan. Sebab, dalam proses produksinya ada nilai untuk menjaga lingkungan. Penggunaan sabun tersebut juga lebih ramah linkungan karena tidak pakai deterjen.

”Kami berusaha menggerakkan masyarakat agar tidak merusak lingkungan sehingga minyak jelantah ini bisa diolah,” paparnya.

Yomi menambahkan, saat ini pihaknya juga mengembangkan proses produksi sabun dari limbah lain. Di antaranya, sabun dari ampas kelapa, kopi, jeruk, dan lainnya. ”Produknya juga sudah ada. Tinggal dikembangkan,” tandasnya. (bil/luq)

Most Read

Artikel Terbaru