alexametrics
20.9 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

Tokoh Lintas Agama Serukan Kewaspadaan

PANDEMI coronavirus disease (Covid-19) jadi masalah bersama. Butuh peran semua pihak untuk memutus rantai persebaran virus itu. Tokoh lintas agama di Madura pun menyerukan agar kita semua tetap waspada.

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) telah mengeluarkan surat edaran (SE) pada 17 Maret atau 22 Rajab lalu tentang kesiapsiagaan dalam upaya pencegahan Covid-19. Ada lima poin dalam SE tersebut.

Yakni, meminta masyarakat Sampang agar tidak terlalu panik tanpa meninggalkan kewaspadaan. Lalu, menginstruksikan seluruh pimpinan perangkat organisasi agar menghentikan sementara kegiatan masal atau yang melibatkan peserta dalam jumlah besar. Selanjutnya, mengajak segenap masyarakat untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.

Kemudian, mengimbau kepada pengasuh dan pimpinan pondok pesantren untuk menjaga pola hidup sehat dan bersih serta berkoordinasi dengan instansi kesehatan terkait. Terakhir, meminta Dinas Kesehatan Sampang untuk melakukan sosialisasi cara pencegahan persebaran Covid-19 ke semua pesantren di Kota Bahari.

Namun kenyataannya, masih ada warga yang belum mematuhi imbauan, baik dari PC NU Sampang ataupun pemerintah kabupaten. Hal itu diungkapkan Ketua Tanfidziyah PC NU Sampang KH Mohammad Itqon Busyiri kemarin (29/3).

”Hasil kesepakatan pemerintah dengan alim ulama, dianjurkan masyarakat untuk berikhtiar dalam menyelamatkan diri. Salah satunya dengan menjaga jarak, menerapkan pola hidup sehat, kemudian menjaga kesehatan dengan mencuci tangan,” katanya.

Karena itu, pihaknya meminta masyarakat agar membatasi peserta. Maksimal diikuti 10 orang. Di samping itu, jangan berdekatan. Paling tidak jaraknya sekitar 1,5 meter. ”Kalau membaca burdah ramai-ramai itu yang berbahaya. Makanya dianjurkan untuk menjaga jarak dan tidak berkerumun,” imbaunya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) Syarikat Islam (SI) Cabang Pamekasan Sayuri menyambut baik terhadap segala upaya yang dilakukan pemerintah dalam mencegah Covid-19 selama ini. Hal itu dapat dilihat dari menyemprotkan disinfektan dan pembubaran keramaian yang merupakan langkah antisipatif untuk meminimalkan wabah korona.

Sayuri meminta masyarakat untuk turut responsif terhadap segala upaya pencegahan yang telah dilakukan pemerintah. Dia berharap masyarakat juga mengurangi aktivitas di luar rumah, mengingat persebaran Covid-19 sangat cepat.

Baca Juga :  Puskesmas Tanjung Tutup Sepekan

”Sesuai anjuran pemerintah, kami meminta masyarakat agar tidak keluar rumah kecuali sangat mendesak,” pintanya.

Sayuri juga meminta pemerintah lebih meningkatkan kewaspadaan mengenai pandemi Covid-19 yang semakin meluas di tanah air, khususnya Jawa Timur (Jatim). Apalagi semakin banyak perantau asal Pulau Garam yang pulang kampung sejak wabah Covid-19 meluas di kota-kota besar.

”Masyarakat yang hendak masuk ke Madura perlu mendapat perhatian serius. Khususnya yang datang dari zona-zona merah,” sarannya.

Dia mendesak pemerintah di empat kabupaten di Madura menyediakan ruang isolasi bagi perantau yang pulang dari luar daerah, khususnya dari daerah-daerah yang masuk zona merah. Kata Sayuri, mereka bagian dari orang dengan risiko (ODR) yang perlu diperlakukan khusus sebelum tiba di kampung halamannya.

”Bagi kami (SI) bagaimana caranya masyarakat yang dari luar daerah ditahan dulu (menjalani isolasi) selama 14 hari sesuai dengan mekanisme yang berlaku,” sarannya.

DPD FPI Madura juga meminta Pemprov Jatim dan kepala daerah di empat kabupaten di Madura untuk terus meningkatkan kewaspadaan. Bahkan, FPI sudah sudah membuat surat yang rencananya akan dikirim ke gubernur Jatim dan empat bupati di Madura.

”Kami minta ada tempat karantina, physical distancing harus diketatkan lagi, bahkan kalau perlu dilakukan lockdown,” desak Sekretaris Umum DPD FPI Madura Suherman.

Imbauan kewaspadaan juga datang dari Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bangkalan H. Tamar Djaja kemarin. Maklumat yang dikeluarkan oleh pengurus pusat Muhammadiyah sudah diterapkan dan diharapkan dipatuhi oleh jamaah Muhammadiyah khususnya, serta masyarakat Bangkalan pada umumnya.

”Kami memutuskan untuk mengutamakan kesehatan dan keselamatan daripada kemaslahatan umat. Makanya kami minta jamaah untuk tetap mengikuti aturan pemerintah,” jelasnya.

Perihal ibadah tentunya setiap agama dan kepercayaan memiliki cara masing-masing. Pihaknya memilih untuk mematuhi segala keputusan pemerintah, membantu menerapkan aturan pemerintah mengenai social distancing dan mengikuti imbauan dinas kesehatan dalam menjaga diri dan kesehatan.

Baca Juga :  Pasien Kelima Covid-19 di Sumenep Karyawan Bank

”Kami sudah menyebarkan maklumat itu ke seluruh pimpinan cabang untuk diikuti dan diberlakukan di setiap daerah yang mereka tempati,” terangnya.

Tokoh Kristen Pantekosta Bangkalan Jefta Wahyudi menyampaikan, dirinya sudah melakukan social distancing perihal ibadah dan berumah tangga. Sejak aturan dan protokol pemerintah tentang social distancing itu dilakukan, tidak ada ibadah yang dilakukan di gereja-gereja. ”Kami sudah meminta seluruh pimpinan jemaat untuk melakukan khotbah secara online melalui media sosial,” jelasnya.

Kerugian yang dirasakan oleh umat kristiani nyatanya juga dialami semua pihak. Baik perekonomian, aktivitas kesenian, kerohanian semuanya terganggu, tapi ini demi kebaikan bersama. ”Mungkin Bangkalan lebih baik di-lockdown saja. Terlebih, jika tidak ada hal penting atau mendesak,” katanya.

Di tempat terpisah, Ketua Yayasan Kelenteng Tri Dharma Pao Sian Lin Kong Seno menyampaikan, sejak wabah Covid-19 diketahui merambat di Indonesia, aktivitas peribadatan di Kelenteng Pao Sian Lin Kong sudah tidak dilakukan secara berasama-sama. Semuanya sudah diimbau untuk beribadah secara bergantian. Bahkan, saat sembahyang sudah tidak diperkenankan menggunakan dupa.

Hal itu untuk menghindari persebaran virus itu melalui berang-barang yang disentuh. Imbauan dengan lisan juga sudah disampaikan, walaupun secara umum, umat Tri Dharma (Konghucu, Buddha, Tao) sudah mengerti. Misalnya, mencuci tangan dan menggunakan hand sanitizer yang sudah disediakan.

”Ibadah kita itu tidak lantas menjadi batal karena tidak menggunakan dupa. Justru yang paling inti saat beribadah itu kekhusyukan hati kita,” jelasnya.

Menurut Seno, untuk melawan Covid-19 harus meningkatkan solidaritas. Saling menjaga dan menyadari bahwa kebijakan yang dilakukan pemerintah itu untuk keselamatan bersama. Kalaupun perlu, ada sanksi tegas untuk masyarakat yaang enggan ditertibkan.

Misalnya, memberi sanksi kepada warga yang tidak berkenan diperiksa kesehatan. Mengingat, tindakan tersebut mampu menimbulkan penyakit kepada masyarakat umum. ”Negara yang berhasil bebas dari wabah Covid-19 itu negara yang tegas dengan solidaritas tinggi,” tandasnya. (bil/jup/hel/jun)

PANDEMI coronavirus disease (Covid-19) jadi masalah bersama. Butuh peran semua pihak untuk memutus rantai persebaran virus itu. Tokoh lintas agama di Madura pun menyerukan agar kita semua tetap waspada.

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) telah mengeluarkan surat edaran (SE) pada 17 Maret atau 22 Rajab lalu tentang kesiapsiagaan dalam upaya pencegahan Covid-19. Ada lima poin dalam SE tersebut.

Yakni, meminta masyarakat Sampang agar tidak terlalu panik tanpa meninggalkan kewaspadaan. Lalu, menginstruksikan seluruh pimpinan perangkat organisasi agar menghentikan sementara kegiatan masal atau yang melibatkan peserta dalam jumlah besar. Selanjutnya, mengajak segenap masyarakat untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.


Kemudian, mengimbau kepada pengasuh dan pimpinan pondok pesantren untuk menjaga pola hidup sehat dan bersih serta berkoordinasi dengan instansi kesehatan terkait. Terakhir, meminta Dinas Kesehatan Sampang untuk melakukan sosialisasi cara pencegahan persebaran Covid-19 ke semua pesantren di Kota Bahari.

Namun kenyataannya, masih ada warga yang belum mematuhi imbauan, baik dari PC NU Sampang ataupun pemerintah kabupaten. Hal itu diungkapkan Ketua Tanfidziyah PC NU Sampang KH Mohammad Itqon Busyiri kemarin (29/3).

”Hasil kesepakatan pemerintah dengan alim ulama, dianjurkan masyarakat untuk berikhtiar dalam menyelamatkan diri. Salah satunya dengan menjaga jarak, menerapkan pola hidup sehat, kemudian menjaga kesehatan dengan mencuci tangan,” katanya.

Karena itu, pihaknya meminta masyarakat agar membatasi peserta. Maksimal diikuti 10 orang. Di samping itu, jangan berdekatan. Paling tidak jaraknya sekitar 1,5 meter. ”Kalau membaca burdah ramai-ramai itu yang berbahaya. Makanya dianjurkan untuk menjaga jarak dan tidak berkerumun,” imbaunya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) Syarikat Islam (SI) Cabang Pamekasan Sayuri menyambut baik terhadap segala upaya yang dilakukan pemerintah dalam mencegah Covid-19 selama ini. Hal itu dapat dilihat dari menyemprotkan disinfektan dan pembubaran keramaian yang merupakan langkah antisipatif untuk meminimalkan wabah korona.

Sayuri meminta masyarakat untuk turut responsif terhadap segala upaya pencegahan yang telah dilakukan pemerintah. Dia berharap masyarakat juga mengurangi aktivitas di luar rumah, mengingat persebaran Covid-19 sangat cepat.

Baca Juga :  Dampak Pagebluk Korona terhadap Para Penarik Becak

”Sesuai anjuran pemerintah, kami meminta masyarakat agar tidak keluar rumah kecuali sangat mendesak,” pintanya.

Sayuri juga meminta pemerintah lebih meningkatkan kewaspadaan mengenai pandemi Covid-19 yang semakin meluas di tanah air, khususnya Jawa Timur (Jatim). Apalagi semakin banyak perantau asal Pulau Garam yang pulang kampung sejak wabah Covid-19 meluas di kota-kota besar.

”Masyarakat yang hendak masuk ke Madura perlu mendapat perhatian serius. Khususnya yang datang dari zona-zona merah,” sarannya.

Dia mendesak pemerintah di empat kabupaten di Madura menyediakan ruang isolasi bagi perantau yang pulang dari luar daerah, khususnya dari daerah-daerah yang masuk zona merah. Kata Sayuri, mereka bagian dari orang dengan risiko (ODR) yang perlu diperlakukan khusus sebelum tiba di kampung halamannya.

”Bagi kami (SI) bagaimana caranya masyarakat yang dari luar daerah ditahan dulu (menjalani isolasi) selama 14 hari sesuai dengan mekanisme yang berlaku,” sarannya.

DPD FPI Madura juga meminta Pemprov Jatim dan kepala daerah di empat kabupaten di Madura untuk terus meningkatkan kewaspadaan. Bahkan, FPI sudah sudah membuat surat yang rencananya akan dikirim ke gubernur Jatim dan empat bupati di Madura.

”Kami minta ada tempat karantina, physical distancing harus diketatkan lagi, bahkan kalau perlu dilakukan lockdown,” desak Sekretaris Umum DPD FPI Madura Suherman.

Imbauan kewaspadaan juga datang dari Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bangkalan H. Tamar Djaja kemarin. Maklumat yang dikeluarkan oleh pengurus pusat Muhammadiyah sudah diterapkan dan diharapkan dipatuhi oleh jamaah Muhammadiyah khususnya, serta masyarakat Bangkalan pada umumnya.

”Kami memutuskan untuk mengutamakan kesehatan dan keselamatan daripada kemaslahatan umat. Makanya kami minta jamaah untuk tetap mengikuti aturan pemerintah,” jelasnya.

Perihal ibadah tentunya setiap agama dan kepercayaan memiliki cara masing-masing. Pihaknya memilih untuk mematuhi segala keputusan pemerintah, membantu menerapkan aturan pemerintah mengenai social distancing dan mengikuti imbauan dinas kesehatan dalam menjaga diri dan kesehatan.

Baca Juga :  Puskesmas Tanjung Tutup Sepekan

”Kami sudah menyebarkan maklumat itu ke seluruh pimpinan cabang untuk diikuti dan diberlakukan di setiap daerah yang mereka tempati,” terangnya.

Tokoh Kristen Pantekosta Bangkalan Jefta Wahyudi menyampaikan, dirinya sudah melakukan social distancing perihal ibadah dan berumah tangga. Sejak aturan dan protokol pemerintah tentang social distancing itu dilakukan, tidak ada ibadah yang dilakukan di gereja-gereja. ”Kami sudah meminta seluruh pimpinan jemaat untuk melakukan khotbah secara online melalui media sosial,” jelasnya.

Kerugian yang dirasakan oleh umat kristiani nyatanya juga dialami semua pihak. Baik perekonomian, aktivitas kesenian, kerohanian semuanya terganggu, tapi ini demi kebaikan bersama. ”Mungkin Bangkalan lebih baik di-lockdown saja. Terlebih, jika tidak ada hal penting atau mendesak,” katanya.

Di tempat terpisah, Ketua Yayasan Kelenteng Tri Dharma Pao Sian Lin Kong Seno menyampaikan, sejak wabah Covid-19 diketahui merambat di Indonesia, aktivitas peribadatan di Kelenteng Pao Sian Lin Kong sudah tidak dilakukan secara berasama-sama. Semuanya sudah diimbau untuk beribadah secara bergantian. Bahkan, saat sembahyang sudah tidak diperkenankan menggunakan dupa.

Hal itu untuk menghindari persebaran virus itu melalui berang-barang yang disentuh. Imbauan dengan lisan juga sudah disampaikan, walaupun secara umum, umat Tri Dharma (Konghucu, Buddha, Tao) sudah mengerti. Misalnya, mencuci tangan dan menggunakan hand sanitizer yang sudah disediakan.

”Ibadah kita itu tidak lantas menjadi batal karena tidak menggunakan dupa. Justru yang paling inti saat beribadah itu kekhusyukan hati kita,” jelasnya.

Menurut Seno, untuk melawan Covid-19 harus meningkatkan solidaritas. Saling menjaga dan menyadari bahwa kebijakan yang dilakukan pemerintah itu untuk keselamatan bersama. Kalaupun perlu, ada sanksi tegas untuk masyarakat yaang enggan ditertibkan.

Misalnya, memberi sanksi kepada warga yang tidak berkenan diperiksa kesehatan. Mengingat, tindakan tersebut mampu menimbulkan penyakit kepada masyarakat umum. ”Negara yang berhasil bebas dari wabah Covid-19 itu negara yang tegas dengan solidaritas tinggi,” tandasnya. (bil/jup/hel/jun)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/