alexametrics
22.8 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Aksi Tolak RUU Kontroversial Ricuh

Aksi penolakan rancangan undang-undang (RUU) kontroversial berlanjut. Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus di Kabupaten Pamekasan turun jalan kemarin (27/9). Ironisnya, aksi kaum intelektual itu berujung ricuh.

TUNTUTAN mahasiswa sama dengan aksi di berbagai daerah. Yakni, menolak RKUHP yang dinilai mengandung sejumlah masalah. Mereka juga mendesak Presiden Jokowi menerbitkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) UU KPK.

Undang-undang baru tentang KPK dinilai melemahkan upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Menurut mahasiswa, pengentasan korupsi harus dikuatkan melalui regulasi, bukan justru dilemahkan. ”Tolak RKUHP,” kata orator dari mobil komando.

Massa aksi memaksa masuk halaman Kantor DPRD Pamekasan. Mereka akan menyampaikan orasi di halaman kantor wakil rakyat. Permintaan mahasiswa diterima dengan syarat hanya perwakilan. Namun, tawaran itu ditolak. Ribuan mahasiswa bersikukuh masuk.

Sejumlah anggota dewan yang menemui massa di luar halaman tidak digubris. Negosiasi yang dilakukan aparat kepolisian berlangsung alot. Tidak ada kesepakatan. Mahasiswa bersikukuh masuk kantor parlemen.

Tensi semakin memanas. Aksi saling dorong terjadi. Anggota DPRD Pamekasan Muhammad Sahur dan beberapa anggota dewan lain mencoba menenangkan massa menggunakan pengeras suara milik polisi. Alih-alih didengarkan, wakil rakyat itu justru dilempari batu.

Baca Juga :  Pengembangan Hotel Front One Terhambat

Polisi yang dilengkapi tameng ditempatkan di barisan terdepan. Mahasiswa tetap tidak mengubah keputusan. Sekitar pukul 10.30 terjadi puncak kerusuhan. Percobaan menembus blokade polisi dibalas semprotan water canon.

Mahasiswa marah. Polisi dilempari batu dan air mineral. Tindakan anarkisme itu dibalas dengan tembakan gas air mata. Mahasiswa semakin kalap. Pot bunga di sepanjang jalan protokol itu dirusak. Lampu hias di Taman Aspirasi Rakyat juga jadi sasaran perusakan.

Satbrimob bergeser pada posisi pengamanan terdepan. Mahasiswa dipukul mundur. Terdapat mahasiswa terluka. Bahkan, salah satu jurnalis yang meliput aksi itu harus dilarikan ke puskesmas lantaran sesak napas usai menghirup gas air mata.

Muhammad Sahur mengatakan, sebenarnya dewan sangat terbuka menerima mahasiswa. Namun, permintaannya tidak bisa dipenuhi dengan alasan keamanan. Dengan demikian, massa aksi diberi tawaran hanya perwakilan yang boleh masuk.

Namun, tawaran tersebut ditolak. Negosiasi buntu. Akibatnya, terjadi kericuhan. Menurut Sahur, kericuhan dalam aksi demonstrasi biasa terjadi. Tetapi, seharusnya jika bisa dibicarakan dengan baik, anarkisme tidak perlu terjadi.

Baca Juga :  Tolak Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Sempat Ricuh

Apalagi, tindakan tersebut merugikan masyarakat. Ratusan pot bunga di sepanjang jalan protokol itu dirusak. ”Kami apresiasi sikap kritis adik-adik mahasiswa. Masalah pot rusak, akan segera dikoordinasikan dengan eksekutif untuk segera diganti,” katanya.

Kapolres AKBP Teguh Wibowo mengatakan, semula aksi berjalan lancar dan damai. Namun, menjelang siang, aksi pelemparan batu terjadi. Polisi bergerak sesuai standar operasional prosedur (SOP) pengamanan.

Sebelum ricuh, tim pengendalian masyarakat (dalmas) ditempatkan di garda terdepan. Pasca ada pelemparan batu, dalmas digeser digantikan Satbrimob dan water cannon. Polisi juga terpaksa mengeluarkan tembakan gas air mata.

Teguh memastikan tidak ada korban dalam aksi demonstrasi itu. Bahkan, suasana di Kantor DPRD Pamekasan aman kondusif pasca massa aksi membubarkan diri. ”Semuanya sudah sesuai SOP,” tandasnya.

Kepala DLH Pamekasan Amin Jabir langsung mengecek kondisi pot bunga yang dirusak massa. Seratus lebih pot yang dibeli dengan uang rakyat itu rusak. ”Jumlahnya seratus lebih yang rusak,” katanya.

 

 

- Advertisement -

Aksi penolakan rancangan undang-undang (RUU) kontroversial berlanjut. Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus di Kabupaten Pamekasan turun jalan kemarin (27/9). Ironisnya, aksi kaum intelektual itu berujung ricuh.

TUNTUTAN mahasiswa sama dengan aksi di berbagai daerah. Yakni, menolak RKUHP yang dinilai mengandung sejumlah masalah. Mereka juga mendesak Presiden Jokowi menerbitkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) UU KPK.

Undang-undang baru tentang KPK dinilai melemahkan upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Menurut mahasiswa, pengentasan korupsi harus dikuatkan melalui regulasi, bukan justru dilemahkan. ”Tolak RKUHP,” kata orator dari mobil komando.


Massa aksi memaksa masuk halaman Kantor DPRD Pamekasan. Mereka akan menyampaikan orasi di halaman kantor wakil rakyat. Permintaan mahasiswa diterima dengan syarat hanya perwakilan. Namun, tawaran itu ditolak. Ribuan mahasiswa bersikukuh masuk.

Sejumlah anggota dewan yang menemui massa di luar halaman tidak digubris. Negosiasi yang dilakukan aparat kepolisian berlangsung alot. Tidak ada kesepakatan. Mahasiswa bersikukuh masuk kantor parlemen.

Tensi semakin memanas. Aksi saling dorong terjadi. Anggota DPRD Pamekasan Muhammad Sahur dan beberapa anggota dewan lain mencoba menenangkan massa menggunakan pengeras suara milik polisi. Alih-alih didengarkan, wakil rakyat itu justru dilempari batu.

Baca Juga :  Mahasiswa Sodorkan Lima Persoalan

Polisi yang dilengkapi tameng ditempatkan di barisan terdepan. Mahasiswa tetap tidak mengubah keputusan. Sekitar pukul 10.30 terjadi puncak kerusuhan. Percobaan menembus blokade polisi dibalas semprotan water canon.

Mahasiswa marah. Polisi dilempari batu dan air mineral. Tindakan anarkisme itu dibalas dengan tembakan gas air mata. Mahasiswa semakin kalap. Pot bunga di sepanjang jalan protokol itu dirusak. Lampu hias di Taman Aspirasi Rakyat juga jadi sasaran perusakan.

Satbrimob bergeser pada posisi pengamanan terdepan. Mahasiswa dipukul mundur. Terdapat mahasiswa terluka. Bahkan, salah satu jurnalis yang meliput aksi itu harus dilarikan ke puskesmas lantaran sesak napas usai menghirup gas air mata.

Muhammad Sahur mengatakan, sebenarnya dewan sangat terbuka menerima mahasiswa. Namun, permintaannya tidak bisa dipenuhi dengan alasan keamanan. Dengan demikian, massa aksi diberi tawaran hanya perwakilan yang boleh masuk.

Namun, tawaran tersebut ditolak. Negosiasi buntu. Akibatnya, terjadi kericuhan. Menurut Sahur, kericuhan dalam aksi demonstrasi biasa terjadi. Tetapi, seharusnya jika bisa dibicarakan dengan baik, anarkisme tidak perlu terjadi.

Baca Juga :  Menko Airlangga Dorong Mahasiswa UMJ Berjiwa Wirausaha

Apalagi, tindakan tersebut merugikan masyarakat. Ratusan pot bunga di sepanjang jalan protokol itu dirusak. ”Kami apresiasi sikap kritis adik-adik mahasiswa. Masalah pot rusak, akan segera dikoordinasikan dengan eksekutif untuk segera diganti,” katanya.

Kapolres AKBP Teguh Wibowo mengatakan, semula aksi berjalan lancar dan damai. Namun, menjelang siang, aksi pelemparan batu terjadi. Polisi bergerak sesuai standar operasional prosedur (SOP) pengamanan.

Sebelum ricuh, tim pengendalian masyarakat (dalmas) ditempatkan di garda terdepan. Pasca ada pelemparan batu, dalmas digeser digantikan Satbrimob dan water cannon. Polisi juga terpaksa mengeluarkan tembakan gas air mata.

Teguh memastikan tidak ada korban dalam aksi demonstrasi itu. Bahkan, suasana di Kantor DPRD Pamekasan aman kondusif pasca massa aksi membubarkan diri. ”Semuanya sudah sesuai SOP,” tandasnya.

Kepala DLH Pamekasan Amin Jabir langsung mengecek kondisi pot bunga yang dirusak massa. Seratus lebih pot yang dibeli dengan uang rakyat itu rusak. ”Jumlahnya seratus lebih yang rusak,” katanya.

 

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/