alexametrics
22.8 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Airlangga Ingatkan Bangun Talenta dan Tingkatkan Literasi Digital

JAKARTA – Pengendalian pandemi Covid-19 yang dilakukan pemerintah melalui penerapan PPKM menunjukkan keberhasilan. Hal ini terlihat dari jumlah kasus harian pada 24 Oktober yang jauh lebih rendah daripada negara lain. Hanya terdapat 2,72 kasus per 1 juta penduduk.

Angka preproduction rate (Rt) pada 22 Oktober sebesar 0,71 menjadi angka Rt yang relatif lebih rendah dibanding negara lainnya dan dalam kategori terkendali. Penurunan angka Rt hingga di bawah 1 atau di kisaran 1 itu menandakan adanya penurunan angka infeksi di komunitas sekaligus memperlihatkan pandemi mulai terkendali.

Dengan keberhasilan mengatasi peningkatan kasus baru dalam dua bulan terakhir, diharapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2021 akan dapat menyusul angka pertumbuhan di triwulan sebelumnya. Pada triwulan II 2021 lalu, perekonomian Indonesia berhasil mencatatkan pertumbuhan tertinggi sejak krisis sub-prime mortgage yakni mencapai 7,07 persen (YoY).

Pertumbuhan cukup tinggi tersebut juga didorong oleh permintaan yang meningkat pada sektor informasi dan komunikasi. Sebab, terjadi pergeseran perilaku masyarakat ke arah ekonomi digital. Terrutama di masa pandemi yang mengharuskan masyarakat membatasi kegiatannya di luar rumah. Situasi ini menjadi peluang untuk akselerasi transformasi digital di berbagai sektor ekonomi yang akan mempercepat PEN.

”Hal ini ditunjukkan oleh aktivitas ekonomi digital di Indonesia yang terus meningkat. Bahkan, total transaksi ekonomi digital ASEAN selama 2020 sebesar 41,9 persen berasal dari Indonesia yang mencapai US$ 44 miliar. Pada 2025 diproyeksikan mencapai US$ 124 miliar,” ucap Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara The 1st International Conference on Humanities and Social Sciences (ICHSS) 2021.

Baca Juga :  Airlangga dan Habib Syeikh Jadi Tuan Rumah Haul Ki Ageng Gribig

Kegiatan tersebut mengusung tema ”The Opportunities of Crisis: International Experiences and Best Practices in the Time of Covid-19 and Beyond in Society 5.0”. Acara tersebut diselenggarakan oleh President University secara virtual pada Selasa lalu (26/10).

Teknologi digital digunakan dalam berbagai sektor ekonomi dan bisnis. Misalnya seperti fintech, e-commerce, layanan kesehatan/pendidikan/transportasi online, maupun Internet of Things (IoT). Khusus untuk layanan kesehatan dan pendidikan, diprediksi akan menjadi sangat besar kontribusinya dalam ekonomi digital ke depan.

”Namun, untuk sekarang, e-commerce adalah sektor utama yang mendukung ekonomi digital di Indonesia. Sebanyak 72,73 persen dari total transaksi ekonomi digital di Indonesia berasal dari e-commerce. Pada 2020, nilai e-commerce mencapai US$ 32 miliar dan diproyeksikan akan mencapai US$ 83 miliar pada 2025,” jelas Airlangga Hartarto.

Menurut Airlangga, Indonesia memiliki bonus demografi yang mendukung pembentukan ekosistem digital yang berkelanjutan. Mayoritas penduduk Indonesia adalah Generasi Z dan milenial berusia 8-39 tahun yang memiliki tingkat adopsi digital tinggi. Sementara, terdapat 37 persen konsumen baru ekonomi digital yang muncul selama pandemi Covid-19. Lalu 93 persen di antaranya akan tetap memanfaatkan produk ekonomi digital pasca pandemi Covid-19 (Google, Bain, Temasek; 2020).

Peran dari para anak muda yang termasuk Generasi Z dan milenial dalam era digital antara lain sebagai talenta digital, wirausahawan digital, ataupun konsumen potensial dari produk-produk domestik. Namun, dunia wirausaha di Indonesia yang didominasi oleh pengusaha milenial (25-34 tahun) tersebut juga mencatat rasio wirausaha yang masih rendah yakni 3,30 persen pada 2019 dan 3,47 persen pada di 2020 (Kemenkop UKM tahun 2020).

Baca Juga :  Dampak Gadget terhadap Kesehatan Mata Anak dan Cara Menanggulanginya

Pemerintah juga telah berupaya mengakselerasi pembentukan talenta digital dan pengembangan ekonomi digital dengan melakukan pembangunan infrastruktur. Misalnya seperti akses internet 5G dan data center dan melakukan pelatihan melalui Program Kartu Prakerja dan Digital Leadership Academy. Termasuk, mengeluarkan regulasi UU Cipta Kerja dan aturan pelaksanaannya, mengembangkan ekosistem UMKM digital, serta menyediakan fasilitas pembiayaan untuk membantu perusahaan rintisan (start-up) di bidang teknologi digital.

Indonesia pun harus siap menghadapi perubahan menjadi Society 5.0. Di mana sebagian besar informasi dari sensor wilayah fisik diakumulasikan ke dalam wilayah maya (cyberspace). Dalam cyberspace, big data dianalisis oleh Artificial Intelligence (AI), dan hasilnya akan dikembalikan ke wilayah fisik untuk dimanfaatkan oleh masyarakat. ”Kuncinya adalah kita harus tetap membangun talenta digital dan meningkatkan literasi digital kepada masyarakat,” imbuh Airlangga Hartarto.

Airlangga Hartarto menambahkan, semua pemangku kepentingan mempunyai peran penting dalam pengembangan kewirausahaan dan ekosistem digital. Termasuk lembaga pendidikan tinggi atau universitas.

”Kita menggunakan konsep pentahelix yang di dalamnya terdapat unsur pemerintah, komunitas, akademisi, pengusaha, dan media. Di sini, pemerintah juga menjadi fasilitator juga regulator. Sementara akademisi menjadi pencetus kurikulum kewirausahaan yang bagus dan pendorong penciptaan lebih banyak lagi perusahaan start-up yang dimulai dari inovasi mahasiswa,” pungkas Airlangga Hartarto. (rep/fsr/par)

- Advertisement -

JAKARTA – Pengendalian pandemi Covid-19 yang dilakukan pemerintah melalui penerapan PPKM menunjukkan keberhasilan. Hal ini terlihat dari jumlah kasus harian pada 24 Oktober yang jauh lebih rendah daripada negara lain. Hanya terdapat 2,72 kasus per 1 juta penduduk.

Angka preproduction rate (Rt) pada 22 Oktober sebesar 0,71 menjadi angka Rt yang relatif lebih rendah dibanding negara lainnya dan dalam kategori terkendali. Penurunan angka Rt hingga di bawah 1 atau di kisaran 1 itu menandakan adanya penurunan angka infeksi di komunitas sekaligus memperlihatkan pandemi mulai terkendali.

Dengan keberhasilan mengatasi peningkatan kasus baru dalam dua bulan terakhir, diharapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2021 akan dapat menyusul angka pertumbuhan di triwulan sebelumnya. Pada triwulan II 2021 lalu, perekonomian Indonesia berhasil mencatatkan pertumbuhan tertinggi sejak krisis sub-prime mortgage yakni mencapai 7,07 persen (YoY).


Pertumbuhan cukup tinggi tersebut juga didorong oleh permintaan yang meningkat pada sektor informasi dan komunikasi. Sebab, terjadi pergeseran perilaku masyarakat ke arah ekonomi digital. Terrutama di masa pandemi yang mengharuskan masyarakat membatasi kegiatannya di luar rumah. Situasi ini menjadi peluang untuk akselerasi transformasi digital di berbagai sektor ekonomi yang akan mempercepat PEN.

”Hal ini ditunjukkan oleh aktivitas ekonomi digital di Indonesia yang terus meningkat. Bahkan, total transaksi ekonomi digital ASEAN selama 2020 sebesar 41,9 persen berasal dari Indonesia yang mencapai US$ 44 miliar. Pada 2025 diproyeksikan mencapai US$ 124 miliar,” ucap Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara The 1st International Conference on Humanities and Social Sciences (ICHSS) 2021.

Baca Juga :  Universitas Muhammadiyah Malang Ngaji Bareng Gus Baha’

Kegiatan tersebut mengusung tema ”The Opportunities of Crisis: International Experiences and Best Practices in the Time of Covid-19 and Beyond in Society 5.0”. Acara tersebut diselenggarakan oleh President University secara virtual pada Selasa lalu (26/10).

Teknologi digital digunakan dalam berbagai sektor ekonomi dan bisnis. Misalnya seperti fintech, e-commerce, layanan kesehatan/pendidikan/transportasi online, maupun Internet of Things (IoT). Khusus untuk layanan kesehatan dan pendidikan, diprediksi akan menjadi sangat besar kontribusinya dalam ekonomi digital ke depan.

”Namun, untuk sekarang, e-commerce adalah sektor utama yang mendukung ekonomi digital di Indonesia. Sebanyak 72,73 persen dari total transaksi ekonomi digital di Indonesia berasal dari e-commerce. Pada 2020, nilai e-commerce mencapai US$ 32 miliar dan diproyeksikan akan mencapai US$ 83 miliar pada 2025,” jelas Airlangga Hartarto.

Menurut Airlangga, Indonesia memiliki bonus demografi yang mendukung pembentukan ekosistem digital yang berkelanjutan. Mayoritas penduduk Indonesia adalah Generasi Z dan milenial berusia 8-39 tahun yang memiliki tingkat adopsi digital tinggi. Sementara, terdapat 37 persen konsumen baru ekonomi digital yang muncul selama pandemi Covid-19. Lalu 93 persen di antaranya akan tetap memanfaatkan produk ekonomi digital pasca pandemi Covid-19 (Google, Bain, Temasek; 2020).

Peran dari para anak muda yang termasuk Generasi Z dan milenial dalam era digital antara lain sebagai talenta digital, wirausahawan digital, ataupun konsumen potensial dari produk-produk domestik. Namun, dunia wirausaha di Indonesia yang didominasi oleh pengusaha milenial (25-34 tahun) tersebut juga mencatat rasio wirausaha yang masih rendah yakni 3,30 persen pada 2019 dan 3,47 persen pada di 2020 (Kemenkop UKM tahun 2020).

Baca Juga :  Bupati Baddrut Tamam Mohon Warga Tetap di Rumah, Ini Alasannya

Pemerintah juga telah berupaya mengakselerasi pembentukan talenta digital dan pengembangan ekonomi digital dengan melakukan pembangunan infrastruktur. Misalnya seperti akses internet 5G dan data center dan melakukan pelatihan melalui Program Kartu Prakerja dan Digital Leadership Academy. Termasuk, mengeluarkan regulasi UU Cipta Kerja dan aturan pelaksanaannya, mengembangkan ekosistem UMKM digital, serta menyediakan fasilitas pembiayaan untuk membantu perusahaan rintisan (start-up) di bidang teknologi digital.

Indonesia pun harus siap menghadapi perubahan menjadi Society 5.0. Di mana sebagian besar informasi dari sensor wilayah fisik diakumulasikan ke dalam wilayah maya (cyberspace). Dalam cyberspace, big data dianalisis oleh Artificial Intelligence (AI), dan hasilnya akan dikembalikan ke wilayah fisik untuk dimanfaatkan oleh masyarakat. ”Kuncinya adalah kita harus tetap membangun talenta digital dan meningkatkan literasi digital kepada masyarakat,” imbuh Airlangga Hartarto.

Airlangga Hartarto menambahkan, semua pemangku kepentingan mempunyai peran penting dalam pengembangan kewirausahaan dan ekosistem digital. Termasuk lembaga pendidikan tinggi atau universitas.

”Kita menggunakan konsep pentahelix yang di dalamnya terdapat unsur pemerintah, komunitas, akademisi, pengusaha, dan media. Di sini, pemerintah juga menjadi fasilitator juga regulator. Sementara akademisi menjadi pencetus kurikulum kewirausahaan yang bagus dan pendorong penciptaan lebih banyak lagi perusahaan start-up yang dimulai dari inovasi mahasiswa,” pungkas Airlangga Hartarto. (rep/fsr/par)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/