Kamis, 09 Dec 2021
Radar Madura
Home / Berita Kota
icon featured
Berita Kota

Forkopimda Jatim Perkuat Kesiapsiagaan dan Mitigasi Bencana

26 Oktober 2021, 03: 43: 06 WIB | editor : Haryanto

Forkopimda Jatim Perkuat Kesiapsiagaan dan Mitigasi Bencana

LAKUKAN INSPEKSI: Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengendarai buggy car untuk mengecek kesiapan personel. (Pemprov Jatim for RadarMadura.id)

Share this      

SURABAYA - Fenomena La Nina diprediksi akan melanda Indonesia mulai Oktober 2021 hingga Februari 2022. Hal itu akan memicu bencana hidrometeorologi. Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa meminta seluruh pemkab dan pemkot memperkuat kesiapsiagaan dan mitigasi bencana guna menghadapi ancaman bencana tersebut.

Hal itu disampaikan Khofifah saat memimpin Apel Gelar Pasukan dan Peralatan Penanggulangan Bencana Alam tahun 2021, di Lapangan Makodam V/Brawijaya, Senin (25/10). “Meski BMKG menyebut fenomena La Nina lemah, namun mitigasi dari hulu ke hilir oleh Forkopimda Jatim dan kabupaten/kota  harus tetap dilakukan. Jangan sampai sudah kejadian, baru kebingungan,” terangnya.

Menurut dia, BMKG memrediksi curah hujan di Indonesia meningkat pada November sampai Desember 2021 dan Januari 2022. Beberapa daerah  mengalami peningkatan curah hujan berkisar 20 hingga 70 persen. Di antaranya, Sumatera bagian Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian Selatan, dan Sulawesi bagian Selatan.

Baca juga: Presiden Jokowi Apresiasi Penanganan Pandemi di Indonesia Membaik

“Efek fenomena ini ditandai dengan peningkatan curah hujan secara drastis dan diikuti dengan bencana. Misalnya seperti banjir, angin kencang, puting beliung, tanah longsor, dan lain sebagainya. Untuk daerah-daerah rawan bencana tolong segera lakukan antisipasi,” ucapnya.

Khofifah mengatakan, pemerintah daerah harus rutin update data dan informasi cuaca dan iklim dari BMKG. Setiap peringatan dini harus cepat direspon dan disebarluaskan. Masyarakat juga harus diberi pemahaman dan tetap waspada. Sehingga, bisa melakukan langkah penyelamatan atau evakuasi jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam.

Dijelaskan, rerdapat delapan poin yang disampikan dalam apel. Yakni, peningkatan sinergitas antar stakeholder, penyiapan rencana kontijensi, menyiapkan lokasi pengungsian dan jalur evakuasi. Kemudian, melakukan pendekatan secara pre-emptif kepada masyarakat. Semua satgas dapat menyiapkan mental dan fisik prima. Termasuk, berkomitmen melakukan pelatihan secara intens dan terpadu.

"Harus selalu melakukan pengecekan intens dan berkala terhadap seluruh peralatan SAR untuk menjaga kesiapsiagaan dalam penanganan bencana alam. Semua personil harus melaksanakan tugas sesuai protokol kesehatan (prokes) ketat," ingatnya.

Khofifah berharap, delapan poin yang disampaikan diterapkan dengan baik. Sebab, bencana alam bisa berdampak pada meningkatnya kemiskinan hingga 80 persen. Juga berimbas pada rusaknya infrastruktur dan tempat tinggal. “Bencana tidak bisa ditolak, tapi dampak dan akibatnya bisa diminimalisir dengan kesiapsiagaan dan mitigasi yang kuat,” pungkasnya. (bam)

(mr/*/yan/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia