alexametrics
22.9 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Wakil Rakyat Surati Pabrikan

PEMERINTAH kabupaten (pemkab) dan DPRD Sumenep mulai turun tangan untuk mengatasi persoalan yang meresahkan petani tembakau. Pemerintah mengaku sudah berkoordinasi dengan pihak pabrikan. Sementara wakil rakyat bersurat kepada pabrikan.

Bupati Sumenep A. Busyro Karim menyampaikan, pemkab sudah bertemu dan membicarakan permasalahan tersebut dengan pihak pabrikan. Sekaligus bersurat untuk kembali melakukan pembelian tembakau di Kota Keris.

Mantan ketua DPRD Sumenep itu mengaku juga sudah membentuk tim khusus yang bergerak mencari solusi ke gudang-gudang di luar Madura. Salah satunya mencari ke daerah Malang. Mengingat, tembakau petani banyak menumpuk dan tidak terjual.

”Selain di luar Madura, kami juga upayakan agar yang di Madura ini juga kembali melakukan penyerapan,” kata Busyro kemarin (22/9).

Baca Juga :  Pilkades Pamaroh Mengalami Kebuntuan

Sementara itu, Ketua Sementara DPRD Sumenep Abd. Hamid Ali Munir menegaskan, pihaknya tidak tinggal diam menanggapi jeritan petani tembakau. Dewan sudah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke salah satu gudang di Sumenep untuk mengetahui kondisi dan menyerap aspirasi.

”Kami juga sudah bersurat ke pabrik-pabrik agar kembali membeli tembakau dari petani,” tuturnya.

Menurut Hamid, anjloknya harga tembakau karena tidak adanya pembelian dari pabrikan. Dengan demikian, tengkulak mengambil harga rendah untuk mengantisipasi besarnya kerugian.

Di samping itu, Hamid menyebut ada indikasi permainan dari pedagang tembakau. Ditutupnya pembelian dari pabrikan dimanfaatkan untuk menawar tembakau petani dengan harga miring.

Setelah itu, tembakau ditimbun untuk dijual saat pabrik kembali membuka pembelian. Tentu dengan harga lebih tinggi dibandingkan saat ini.

Baca Juga :  Prihatin Ketidakdisiplinan Wakil Rakyat

”Jadi orang-orang yang punya uang itu membeli ke petani dengan harga murah. Ditimbun untuk dijual saat pabrik mulai buka lagi,” ungkap mantan ketua Komisi I DPRD Sumenep periode itu.

Hamid menambahkan, pedagang seperti ini rela menunggu sampai awal tahun depan. Antara Maret sampai April 2020. Sebab, diperkirakan pada bulan-bulan tersebut pabrik akan kembali memiliki modal untuk melakukan penyerapan tembakau.

Pihaknya akan terus berupaya agar tembakau petani bisa terserap semua tahun ini. Termasuk mengupayakan agar pabrikan membeli dengan harga lebih layak.

”Kami juga berkoordinasi dengan DPRD provinsi untuk mengawal persoalan ini. Karena masalah ini tidak hanya di Madura. Tapi, berbagai daerah penghasil tembakau,” tukasnya.

- Advertisement -

PEMERINTAH kabupaten (pemkab) dan DPRD Sumenep mulai turun tangan untuk mengatasi persoalan yang meresahkan petani tembakau. Pemerintah mengaku sudah berkoordinasi dengan pihak pabrikan. Sementara wakil rakyat bersurat kepada pabrikan.

Bupati Sumenep A. Busyro Karim menyampaikan, pemkab sudah bertemu dan membicarakan permasalahan tersebut dengan pihak pabrikan. Sekaligus bersurat untuk kembali melakukan pembelian tembakau di Kota Keris.

Mantan ketua DPRD Sumenep itu mengaku juga sudah membentuk tim khusus yang bergerak mencari solusi ke gudang-gudang di luar Madura. Salah satunya mencari ke daerah Malang. Mengingat, tembakau petani banyak menumpuk dan tidak terjual.


”Selain di luar Madura, kami juga upayakan agar yang di Madura ini juga kembali melakukan penyerapan,” kata Busyro kemarin (22/9).

Baca Juga :  Komitmen Empat Pemkab setelah Meraih Opini WTP

Sementara itu, Ketua Sementara DPRD Sumenep Abd. Hamid Ali Munir menegaskan, pihaknya tidak tinggal diam menanggapi jeritan petani tembakau. Dewan sudah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke salah satu gudang di Sumenep untuk mengetahui kondisi dan menyerap aspirasi.

”Kami juga sudah bersurat ke pabrik-pabrik agar kembali membeli tembakau dari petani,” tuturnya.

Menurut Hamid, anjloknya harga tembakau karena tidak adanya pembelian dari pabrikan. Dengan demikian, tengkulak mengambil harga rendah untuk mengantisipasi besarnya kerugian.

Di samping itu, Hamid menyebut ada indikasi permainan dari pedagang tembakau. Ditutupnya pembelian dari pabrikan dimanfaatkan untuk menawar tembakau petani dengan harga miring.

Setelah itu, tembakau ditimbun untuk dijual saat pabrik kembali membuka pembelian. Tentu dengan harga lebih tinggi dibandingkan saat ini.

Baca Juga :  Petani Tuntut PT Garam Bayar Tunggakan

”Jadi orang-orang yang punya uang itu membeli ke petani dengan harga murah. Ditimbun untuk dijual saat pabrik mulai buka lagi,” ungkap mantan ketua Komisi I DPRD Sumenep periode itu.

Hamid menambahkan, pedagang seperti ini rela menunggu sampai awal tahun depan. Antara Maret sampai April 2020. Sebab, diperkirakan pada bulan-bulan tersebut pabrik akan kembali memiliki modal untuk melakukan penyerapan tembakau.

Pihaknya akan terus berupaya agar tembakau petani bisa terserap semua tahun ini. Termasuk mengupayakan agar pabrikan membeli dengan harga lebih layak.

”Kami juga berkoordinasi dengan DPRD provinsi untuk mengawal persoalan ini. Karena masalah ini tidak hanya di Madura. Tapi, berbagai daerah penghasil tembakau,” tukasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/